Pria 500 Juta

Pria 500 Juta
Bab 47. Berkunjung Ke Rumah Fahri


Arumi mengembangkan senyumnya, saat melihat mobil yang dikendarai oleh berada jauh di belakangnya. "Dimana tempatmu tinggal setelah bercerai dari istrimu?" tanya Arumi.


Fahri yang semula sibuk melihat ke luar jendela seraya melamun. Mendengar ucapan dari Arumi langsung membuyarkan lamunannya.


"Sebelum bercerai, aku kemang sudah tidak serumah lagu dengannya," ucap Fahri. Pria itu pun memberitahukan alamat tempat tinggalnya pada Arumi.


Arumi menginjak gas mobilnya lagi, untuk mempercepat laju kendaraannya. Sesekali ia melihat Fahri yang tampak beberapa kali melihat ke depan dengan tatapan yang kosong.


"Sepertinya kamu adalah pria paling bodoh yang pernah aku temui. Apakah kamu masih memikirkan tentang mantan istrimu?" ujar Arumi di dalam hati.


Setelah cukup lama menempuh perjalanan, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Arumi pun tiba di depan gerbang kontrakan Fahri.


"Terima kasih atas tumpangannya," ujar Fahri seraya melepaskan sabuk pengamannya.


Fahri hendak beranjak dari tempat duduknya untuk keluar dari mobil. Namun, tiba-tiba Arumi menghentikan pergerakan pria tersebut.


"Tunggu!!" cegah Arumi.


Fahri menautkan kedua alisnya. "Ada apa?" tanya pria tersebut dengan ekspresi wajah bingung.


"Bolehkah aku mampir sejenak di kontrakanmu? Hanya untuk menikmati secangkir teh hangat," ujar Arumi yang memang beralasan untuk dapat melihat tempat tinggal Fahri.


Fahri tampak berpikir sejenak, lalu kemudian menganggukkan kepalanya perlahan. "Boleh. Tapi jangan heran karena aku tidak memiliki peralatan lengkap di sini," ucap Fahri.


Arumi tersenyum samar. Ia sangat senang karena Fahri memperbolehkan dirinya untuk masuk ke dalam tempat tinggalnya. Dan mungkin bisa saja sebentar lagi Arumi juga bisa masuk ke dalam hal yang lebih penting lagi, yaitu hati pria itu.


Kedua orang tersebut menuruni mobil secara bersamaan. Arumi mengiringi langkah Fahri yang lebih dulu berjalan menuju ke salah satu rumah yang berukuran kecil bagi Arumi.


Keduanya berdiri tepat di depan pintu sembari menunggu Fahri membuka kunci pintu rumah tersebut.


"Silakan masuk!" ajak Fahri mempersilakan Arumi untuk masuk setelah berhasil membuka pintunya.


Arumi melangkah masuk ke dalam rumah tersebut. Ia melihat ruangan itu yang tampak kosong melompong tak memiliki perabotan di dalamnya.


"Bisakah kamu melepaskan sepatumu?" tegur Fahri yang melihat Arumi tetap mengenakan sepatunya saat memasuki kontrakan itu.


"Ah iya. Maafkan aku," ujar Arumi yang kembali berdiri di ambang pintu. Ia melepaskan sepatunya dan menyisakan stoking panjang berwarna kulit yang ia kenakan.


Ini pertama kalinya bagi Arumi masuk tanpa mengenakan alas kaki. Biasanya, saat wanita tersebut berada di rumah, Arumi tetap memakai alas kaki.


Arumi kembali menghampiri Fahri seraya mengulas senyumnya karena merasa tidak enak dengan pria tersebut.


"Maaf, aku tidak sengaja memakainya tadi." Arumi memberikan penjelasan kepada Fahri.


"Tidak apa-apa. Jangan terkejut karena rumah ini tidak memiliki peralatan yang lengkap," ia jar Fahri.


"Iya, tidak apa-apa."


Fahri berjalan menuju ke dapur, menyiapkan minuman untuk Arumi. Sementara gadis itu, matanya sibuk berkelana kesana dan kemari melihat tempat tinggal Fahri.


Selagi membuat minuman untuk Arumi, Fahri sesekali ia melihat gadis itu yang tengah mengitari pandangannya. Lalu tak lama kemudian, ia menuangkan air yang di panaskan di atas kompor. Hingga teh pun siap di sajikan.


Arumi terkejut karena keberadaan Fahri yang tiba-tiba. Pria tersebut menyerahkan mug yang berisi teh pada Arumi. Lalu kemudian ia pun duduk bersila di lantai.


"Maaf, tapi aku juga tidak memiliki kursi. Biasanya aku hanya duduk di lantai saja," jelas Fahri seraya mengusap tengkuknya.


Sebenarnya ia terlalu malu membawa Arumi ke rumahnya. Namun, Fahri merasa tidak enak pada gadis tersebut. Saat Arumi berucap bahwa ia merasa haus dan ingin meminum segelas teh, tidak mungkin Fahri mengatakan jangan pada wanita itu.


"Ah ... tidak apa-apa. Lagi pula aku bisa mengerti keadaanmu," ujar Arumi.


Gadis itu pun juga ikut duduk di lantai bersama dengan Fahri. Cukup lama keduanya terdiam tanpa pembicaraan apapun.


Arumi merasa canggung seketika. Ia pun meraih gelas tehnya. Lalu kemudian menyesapnya tanpa meniupnya terlebih dahulu.


"Awas panas!!"


"Awww ... Sialan!!"


Baru saja Fahri hendak menegur, akan tetapi air teh panas itu sudah mendarat di lidah Arumi terlebih dahulu. Membuat gadis tersebut mengucapkan kalimat umpatannya sembari mengibaskan tangannya karena merasa lidahnya terbakar.


Tak lama kemudian, Fahri datang sembari menggotong kipas angin. Arumi membelalakkan matanya saat melihat Fahri menghidupkan kipas tersebut dengan menekan tombol yang membuat angin dari kipas tersebut sangat deras.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Arumi dengan membelalakkan matanya.


"Aku membantumu untuk mengipasi lidahmu yang terbakar," jelas Fahri yang seperti tanpa dosa.


"Terkadang aku tidak menyangka, jatuh cinta pada pria sebodoh dia. Bukannya sembuh, yang ada aku masuk angin," batin Arumi.


"Aku tidak membutuhkannya. Lebih baik kamu matikan saja kipasnya," ujar Arumi.


Srettt .... Brakkk ...


Baru saja Fahri mencabut colokan kipas tersebut. Tiba-tiba pintu rumahnya tertutup rapat. Kedua orang tersebut saling memandang lalu kemudian mengedipkan matanya beberapa kali.


Dengan cepat, Fahri langsung membuka pintu tersebut. Ia mengambil batu besar dari halaman rumah untuk di ganjal di ujung pintu, supaya jika ada angin yang tertiup, pintu tidak akan tertutup.


"Ini supaya pintunya tidak tertutup. Takutnya nanti ada tetangga yang lihat dan akan menimbulkan fitnah," jelas Fahri.


Arumi hanya meresponnya dengan sebuah anggukan. Ia mengira bahwa dirinya akan sedikit nyaman jika berada lebih lama lagi di dekat Fahri. Namun, sepertinya untuk hari ini, kondisinya kurang memungkinkan. Suasana di sana tampaknya memang tidak bersahabat dengan Arumi.


Fahri kembali duduk di dekat Arumi. Pria itu tampaknya sedikit canggung dan merasa tidak nyaman. Arumi menyadari gerak-gerik Fahri yang seakan ingin dirinya lebih cepat pulang.


Arumi kembali meraih gelas tehnya. Kali ini ia meniupnya terlebih dahulu sebelum menyesapnya. Setelah meminum teh tersebut, Arumi pun menyingkap sedikit lengan bajunya. Melihat arloji yang melingkar dipergelangan tangan kirinya.


"Aku pamit pulang, karena harus mengerjakan sesuatu," ujar Arumi berbohong. Ia tak ingin jika keberadaanya membuat Fahri merasa tidak nyaman.


"Baiklah," ucap Fahri.


Arumi beranjak dari tempat duduknya. Lalu kemudian berjalan menuju ke arah pintu. Fahri mengantar kepergian Arumi sampai ke depan gerbang.


"Oh iya. Terima kasih atas suguhan tehnya. Aku sangat menikmatinya," ujar Arumi.


"Walaupun teh itu sedikit membuat lidahku melepuh," lanjutnya lagi.


Fahri hanya tersenyum sembari menunduk. Ia harus berbuat apa? Karena memang itu adalah kesalahan dari Arumi sendiri yang tidak meniup tehnya terlebih dahulu.


"Kalau begitu aku pulang," ujar Arumi.


Fahri menganggukkan kepalanya. Baru beberapa langkah Arumi berjalan, tiba-tiba Fahri menghentikannya.


"Tunggu dulu!" seru Fahri.


Arumi berbalik, lalu kemudian menatap pria tersebut. " Ada apa?" tanya Arumi.


"Dua Minggu yang akan datang, mari kita adakan pernikahan," ucap pria tersebut.


Bersambung ...


Bonus Visual


Fahri



Arumi



Sifa



Aldo