Pria 500 Juta

Pria 500 Juta
Bab 23. Tujuan Yang Sama


Sifa baru saja keluar dari kamarnya. Wanita tersebut telah rapi dengan setelannya, bersiap untuk berangkat bekerja.


Ia melihat Fahri yang datang menghampiri. Tatapan pria itu sangat lembut dan menenangkan, membuat Sifa merasa tak tega setelah melakukan dosa yang begitu besar semalam. Perbuatannya sangat tidak bisa diampuni.


"Ayo kita sarapan dulu. Mas udah masakin makanan untuk kamu,"ajak Fahri.


Sifa hanya menimpali ucapan suaminya dengan sebuah anggukan pelan. Wanita itu pun berjalan di belakang Fahri yang saat ini membawanya menuju ke dapur.


Fajri bersikap manis, menarik kursi untuk Sifa. Dengan telaten, Fahri menyiapkan makanan untuk Sifa, yanh seharusnya hal tersebut menjadi tugasnya.


"Cicipilah! Mas masak bahan yang ada di kulkas. Entahlah rasanya sesuai atau tidak," ujar Fahri mempersilahkan pada sang istri.


Perlahan Sifa mengangkat sendoknya. Hingga sup ayam tersebut mampir di mulutnya dan langsung masuk ke dalam tenggorokannya.


"Enak?" tanya Fahri.


Sifa mengangguk pelan. Pria itu kembali mengulas senyumnya, lalu kemudian mengecap masakan buatannya sendiri.


"Rasanya tidak buruk," ujarnya seraya mengembangkan senyum.


Sifa menyantap makanannya. Sesekali ia menatap Fahri. Rasa bersalah itu semakin besar saat melihat suaminya masih tersenyum padanya. Entah mengapa ada rasa penyesalan dalam diri Sifa saat melihat Fahri yang bersikap demikian.


"Mas, a-aku ...."


"Istriku, aku tahu bahwa kamu mengkhawatirkan tentang hutangmu pada Elena. Tentang hal itu, biarlah menjadi urusanku karena kamu adalah istriku. Tidak usah terlalu dipikirkan, hmmm?" bujuk Fahri menyela pembicaraan Sifa.


Fahri salah besar! Bukan itu yang ingin dikatakan oleh Sifa. Wanita tersebut hendak mengakui kesalahannya yang telah berselingkuh di belakang Fahri. Namun, ia mengurungkan niatnya saat Fahri mengatakan sesuatu yang berbeda tentang dirinya.


Sifa mengangguk, seakan mengiyakan ucapan Fahri. Keduanya pun kembali menyantap sarapannya dengan tenang.


....


Di lain tempat, Arumi tengah memarkirkan mobilnya tepat di sebuah restoran kecil. Dengan kacamata hitam yang masih bertengger di batang hidungnya, ia memasuki tempat tersebut.


Gadis itu melepaskan kacamata yang ia kenakan, lalu mengedarkan pandangannya, melihat sekeliling tempat di mana pria yang akan ia temui saat itu.


Matanya menemukan sosok tersebut. Lalu kemudian menghampiri pria yang saat itu tengah duduk di sudut, tepatnya di samping jendela kaca.


"Ada apa kamu ingin bertemu denganku?" tanya Arumi seraya menjatuhkan bokongnya pada kursi yang ada di hadapannya.


Pria tersebut mendorong sesuatu dari dalam genggamannya. Ia memberikan kunci mobil yang dipinjamnya pada Arumi.


"Aku ingin mengembalikannya. Niatku merusak rumah tangga mereka bukan karena hal ini. Tapi karena aku memang mencintai Sifa," tutur pria tersebut.


"Cinta? Mengapa aku meragukannya," ujar Arumi terkekeh.


"Aku bersungguh-sungguh!" tegas Aldo dengan tatapan nyalang, menatap Arumi begitu tajam.


Beberapa hari yang lalu, keduanya memang bertemu untuk membahas masalah mobil yang dipinjam Aldo. Arumi meminta agar Aldo tetap menjadi kekasih dari Sifa dan menghancurkan pernikahan itu.


Sehingga, ia akan dengan mudah masuk dalam kehidupan Fahri. Lagi pula Arumi melakukan hal tersebut tidaklah salah. Sifa telah lebih dulu berselingkuh di belakang Fahri. Dan gadis itu, berniat untuk menyelamatkan Fahri dari wanita yang tak seharusnya diperjuangkan.


Mata Arumi beradu dengan mata Aldo. Ia dapat menangkap bahwa Aldo memang mencintai Sifa. Gadis itu menarik segaris senyum di bibirnya. Ia melipat kedua tangannya ke depan.


Arumi kembali memakai kacamatanya. Gadis itu beranjak dari tempat duduk tersebut. " ku harap akan ada kabar baik dalam waktu dekat ini. Selamat memperjuangkan cintamu," ucap gadis itu yang kemudian melangkah pergi meninggalkan Aldo.


Arumi mengembangkan senyum liciknya, saat ia berbalik dan menjauh dari kursinya. "Saatnya untuk memainkan peran penting. Mulai sekarang, angin kencang akan berhembus kencang pada rumah tangga mereka. Dan aku harus memainkan peranku dengan semaksimal mungkin untuk mendapatkan Fahri. Aku akan datang dan menyelamatkannya dari wanita yang tak tahu diuntung itu. " gumam Arumi tersenyum smirk.


Sepeninggal Arumi, ponsel Aldo berbunyi. Ia melihat panggilan tersebut tak lain dari Samuel. Pria tersebut menggeser layar ponselnya, lalu kemudian menempelkan benda persegi itu di salah satu telinganya.


"Ada apa?" tanya Aldo tanpa berbasa-basi. Ia masih kesal kejadian yang lalu, dimana Samuel menceramahinya agar tidak menjalin hubungan dengan Sifa.


"Apakah mobil itu masih ada padamu?"


"Iya. Aku baru saja bertemu dengan pemiliknya. Tapi dia menghadiahkan mobil itu padaku. Sepertinya kami memiliki tujuan yang sama," ucap Aldo pada pria yang ada di seberang telepon.


"Apa?! Arumi mengatakan itu padamu?"


"Iya. Aku berencana mengembalikan mobilnya. Akan tetapi ia menolaknya dan menghadiahkan benda itu padaku," ujar Aldo.


Tak lama kemudian, panggilan terputus. Aldo memandangi layar ponselnya saat melihat panggilan tersebut di akhiri lebih dulu oleh Samuel.


"Sepertinya dia menyukai bosnya sendiri. Ini sangat menarik! Apakah kami akan saling mengejar nantinya?" gumam Aldo mengembangkan senyumnya.


Arumi tengah mengemudikan kendaraannya menuju ke kantor. Akhir-akhir ini, ia lebih sering mengunjungi kantor dan membuat Indra sangat resah.


Alasan ia datang ke kantor bukan karena hal itu saja. Melainkan adanya Fahri yang bekerja di kantor tersebut.


Drrrtt ...


Ponsel Arumi bergetar. Ia memasangkan earphone yang telah terhubung pada ponselnya, lalu mengangkat panggilan tersebut melalu earphone yang ia kenakan.


"Kamu di mana?"


"Aku sedang dalam perjalanan ke kantor. Mungkin aku tidak akan singgah ke tempatmu. Jadi, kamu naik taksi saja!" ujar Arumi.


"Baiklah. Aku akan menyusul ke sana. Ada yang ingin ku bicarakan padamu,"


"Apa? Kamu menemukan hal baru yang dapat menjatuhkan Indra?"


"Nanti saja. Aku akan memberitahumu setelah kita bertemu,"


Setelah panggilan telepon usai, Arumi mempercepat laju kendaraannya. Ia sudah tak sabar ingin melihat pria dambaannya.


Arumi tiba di kantor. Beberapa karyawan tersenyum saat berpapasan dengannya. Gadis itu melangkah dengan anggun masuk ke dalam gedung tersebut. Ia melihat sekelilingnya, mencari keberadaan pria yang menjadi incarannya saat ini.


Dengan dalih, berkeliling kantor untuk melihat-lihat kinerja para karyawan, Arumi menelusuri setiap ruangan yang ada. Dan ia pun menemukan Fahri yang saat itu sibuk dengan layar komputernya.


Arumi mengulum senyum, saat telah menemukan keberadaan Fahri. Ia kembali menyembunyikan senyum itu, ketika sadar ada karyawan yang melihatnya.


"Bisakah kamu ikut denganku sebentar?" tanya suara berat dari arah belakang.


Arumi berbalik, ia melihat Samuel yang saat ini tengah menatap ke arahnya. "Baiklah," timpal Arumi yang mengiyakan ucapan Samuel. Keduanya pun berjalan beriringan menuju ke tempat yang dimaksudkan oleh pria itu.


Bersambung ...