Pria 500 Juta

Pria 500 Juta
Bab 105. Pria Asing


Fahri tengah berada di ruang rapat. Raganya berada di sana, akan tetapi pikirannya tertuju pada Arumi. Ia masih khawatir dengan kondisi Arumi. Biasanya Fahri mempercayakan Arumi pada mertuanya. Namun, saat mendapat kabar jika mertuanya itu pergi untuk sementara waktu, membuat Fahri sedikit risau. Di dalam isi kepalanya saat ini adalah mengerjakan tugas secepatnya, setelah itu pulang dan memeluk istrinya.


Setelah dua puluh menit berlalu, memastikan bahwa tidak ada lagi yang ingin dipertanyakan atau dibahas, Fahri pun langsung menyudahi rapat tersebut.


Pria itu bersama dengan sekretaris barunya, yang sengaja ia pilih adalah seorang pria. Karena sungguh tak nyaman bagi Fahri jika ia mendapat sekretaris seorang wanita.


"Siang ini, apakah ada agenda penting yang harus ku kerjakan?" tanya Fahri pada sekretarisnya tersebut. Keduanya tengah berdiri di depan pintu lift, menunggu lift di hadapannya terbuka.


"Untuk hari ini, tidak ada agenda yang begitu penting, Pak." Sekretaris tersebut menimpali ucapan Fahri.


Tinggg ...


Pintu lift terbuka, Fahri dan sekretarisnya langsung masuk ke dalam lift tersebut, yang mengantarkan keduanya menuju lantai di mana ruangan Fahri berada.


Fahri menyingkap lengan bajunya, melirik jam tangannya sejenak. "Mungkin aku akan pulang lebih awal hari ini. Ku rasa untuk hal selanjutnya, kamu bisa menanganinya. Aku mengkhawatirkan istriku saat ini," ucap Fahri.


"Baik, Pak." Sekretaris baru itu mengangguk patuh.


Tak lama kemudian, pintu lift kembali terbuka. Keduanya pun langsung bergegas keluar dari ruangan sempit tersebut, lalu kemudian menuju ke meja kerja masing-masing.


....


Di lain tempat, Arumi saat itu tengah duduk di teras rumah sembari membaca majalah fashion yang ada di tangannya. Tiba-tiba saja, salah seorang pelayan menghadap kepadanya.


"Ada apa?" tanya Arumi.


"Maaf, Nyonya. Di depan ada seseorang yang sedang menanyakan keberadaan Nyonya Dewi," ujar asisten rumah tangga itu.


Arumi mengernyitkan keningnya. "Siapa?" tanya wanita itu.


"Bibi kurang tahu, Nyonya. "


"Pria atau wanita?" tanya Arumi lagi.


"Pria Nyonya," timpal ART tersebut.


"Apakah dia pria yang pernah masuk ke ruang kerja itu? Pria yang menyerangmu pada malam hari?" batin Arumi.


"Ya sudah, kalau begitu suruh saja dia masuk!" Arumi memberikan perintah pada pelayan tersebut. Pelayan rumah itu pun mengangguk patuh, lalu kemudian berjalan menuju ke gerbang.


Sembari menunggu, Arumi kembali membolak-balik majalah yang ada di tangannya. Tak lama kemudian, seorang pria dengan tubuh yang sedikit pendek, berjalan mendekat ke arah Arumi.


"Selamat siang, Nyonya."


Mendengar sapaan tersebut, Arumi pun menutup majalahnya, lalu kemudian melemparkan pandangannya pada sosok yang ada di depannya.


"Bukan! Ku kira dia adalah pria itu. Lagi pula, dari segi ciri-ciri pun pria ini berbeda jauh dengan si jallang yang dipelihara oleh Mama," batin Arumi.


"Siang. Ada perlu apa?" tanya Arumi yang membalas sapaan tersebut disertai dengan sebuah pertanyaan.


"Maaf sebelumnya karena telah mengganggu ketenangan Nyonya. Tapi tujuan saya kemari untuk mencari Bu Dewi. Apakah beliau ada?" tanya pria itu.


"Mama sedang tidak ada di rumah," timpal Arumi.


"Oh, ya sudah kalau begitu katakan saja pada Nyonya tentang kedatangku kemari," ucap pria tersebut.


"Katakan saja Sugeng mencarinya ke sini. Kalau begitu saya permisi dulu," ucap pria itu yang mulai melangkahkan kakinya hendak pergi dari tempat tersebut.


Namun, baru beberapa langkah, kakinya pun terhenti dan kemudian berbalik menatap wanita yang ada di belakangnya.


"Ah iya, saya lupa. Apakah Nyonya yang bernama Arumi? Anak dari Tuan Fian Aryaduta?" tanya pria yang diketahui namanya adalah Sugeng.


"Iya. Ada apa?" Arumi berbalik bertanya. Ia menyipitkan matanya, menaruh sebuah kecurigaan dari pria yang saat ini menjadi lawan bicaranya.


"Tidak apa-apa. Saya hanya bertanya. Nyonya terlihat sangat mirip dengan Tuan Fian," timpal Sugeng.


Pria itu pun berbalik, lalu kemudian menyunggingkan senyum liciknya dan kembali melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda.


"Bersembunyi lah terus Dewi. Aku tidak main-main akan membongkar rahasiamu karena telah menyuruhku untuk membunuh ayah dari wanita itu," batin Sugeng sembari melangkah menuju ke luar dari lingkungan rumah tersebut.


Sepeninggal pria tadi, Arumi memicingkan matanya. Entah mengapa ia merasa bahwa pria tadi sedikit mencurigakan.


"Kenapa dia mencari mama? Ada urusan apalagi mama dengan orang asing itu?" batin Arumi bertanya-tanya.


Tak lama kemudian, wanita tersebut dikejutkan oleh ponsel yang tiba-tiba berdering. Ia melihat layar ponselnya, melihat siapa yang meneleponnya saat itu juga, membuat Arumi mengulas senyum. Ia pun segera mengangkat panggilan telepon itu.


"Halo Mas ...."


"Sayang, aku sedang dalam perjalanan pulang. Aku mengkhawatirkan mu," ucap Fahri dari seberang telepon.


"Mas pulang? Terus bagaimana dengan pekerjaan di kantor?" tanya Arumi.


"Urusan kantor mas serahkan pada sekretaris baru. Lagi pula tidak ada lagi yang terlalu penting. Jika ada apa-apa, dia bisa menghubungi mas nantinya," timpal Fahri.


Arumi menghela napasnya saat mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh suaminya itu. "Mas, ... dia masih baru, bukan seperti Samuel yang bisa ditinggalkan begitu saja. Bagaimana jika dia merasa kesulitan dengan pekerjaan yang mas limpahkan padanya?"


"Sayang, Mas pulang cepat karena mengkhawatirkan kamu. Sedari tadi mas tidak terlalu fokus dengan urusan kantor hanya karena sibuk memikirkan mu," tutur Fahri.


"Sudah, kamu tidak perlu khawatir urusan kantor. Aku yang akan bertanggung jawab jika ada kesalahan. Kali ini, izinkan aku untuk pulang ya ..."


"Karena Mas sudah ada di jalan, ya ... aku mengizinkan Mas Fahri pulang," ucap Arumi sembari mencebikkan bibirnya. Sebenarnya, ia juga tak ingin jauh dari Fahri.


Akan tetapi, Arumi mencoba menahannya, agar ia tak terlalu bergantung dengan pria itu. Dan kepulangan Fahri saat ini adalah hal yang menyenangkan baginya. Hanya saja, ia sedikit menahannya agar Fahri tetap terfokus pada urusan kantor juga.


"Kalau begitu, kamu mau titip apa istriku? Apakah ada yang ingin kamu makan?" tawar Fahri.


"Titip jeruk aja, Mas. Kebetulan aku lagi ingin sekali makan jeruk," ujar Arumi.


"Baiklah, Mas akan langsung belikan. Kamu tunggulah di sana, tidak usah kemana-mana sebelum Mas pulang,"


"Iya Mas."


Tak lama kemudian, panggilan pun terputus. Arumi langsung mengembangkan senyumnya saat mengetahui bahwa sebentar lagi Fahri akan pulang. Wanita tersebut kembali membuka majalah yang sempat ia lihat tadi sembari menunggu kedatangan pria yang amat ia cintai itu.


Tak lama kemudian, Arumi kembali melemparkan pandangannya ke arah gerbang. Hampir saja ia melupakan pria tadi, yang datang hendak menemui ibunya.


"Entahlah. Ku harap dia bukanlah orang jahat seperti yang ada di dalam pikiranku. Semoga saja tebakanku salah," gumam wanita itu yang kembali membolak-balikkan majalah yang ada di tangannya.


Bersambung ....