
Pagi ini, Arumi dan Fahri sedang berada dalam perjalanan. Keduanya hendak memeriksa kandungan Arumi terlebih dahulu, dan pergi ke kantor sedikit terlambat.
Arumi membuka jendela kacanya, lalu kemudian membiarkan wajahnya di terpa oleh angin. Sinar matahari yang mulai tampak, menghangatkan pagi itu.
"Sayang, apakah kamu sudah memberitahu Doni bahwa kita akan datang sedikit terlambat?" tanya Arumi.
"Iya. Sebelum berangkat, aku meneleponnya terlebih dahulu," timpal Fahri yang masih fokus menatap ke arah jalanan.
Pagi itu tampak terdengar bising. Semua orang berlalu lalang menggunakan kendaraan untuk melakukan aktivitasnya. Entah itu bekerja, atau pun mengantarkan anak ke sekolah. Ada juga yang berjalan kaki, menyusuri jalanan yang hendak mereka tuju.
Arumi tersenyum memperhatikan aktivitas semua orang yang ada di jalanan tersebut. Tak terasa, ia pun sudah tiba di rumah sakit.
Fahri langsung memarkirkan mobilnya. Lalu kemudian membantu sang istri membukakan sabuk pengaman yang masih terpasang di tubuh wanita cantik itu.
Keduanya turun dari mobil, lalu kemudian menyusuri koridor rumah sakit hendak menuju ruangan dokter obgyn. Sesampainya di sana, kedatangan Fahri dan Arumi di sambut oleh dokter wanita yang sangat ramah.
Dokter tersebut menginstruksikan kepada Arumi untuk berbaring telentang. Selanjutnya dokter pun mengoleskan gel khusus, guna menghindari terjadinya gesekan antara kulit dan transduser.
Dokter mulai menempelkan transduser ke bagian perut Arumi. Hingga menampilkan gambar di layar monitor.
Baik Arumi, ataupun Fahri menatap layar tersebut dengan seksama. Fahri begitu bahagia saat melihat calon penerusnya melalui layar itu.
"Mau dengar detak jantungnya?" tawar dokter tersebut.
Fahri dan Arumi mengangguk serentak. Dokter pun sedikit mengatur alat yang digunakan untuk USG, supaya dapat mendengarkan detak jantung sang anak dengan jelas.
Detak jantung itu sangat terdengar nyaring. Fahri dan Arumi saling bersitatap. Mata Arumi berkaca-kaca saat mendengar suara detak jantung yang berasal dari anak yang ada di dalam rahimnya itu.
Begitu pula dengan Fahri. Ia sudah begitu lama menantikan sang buah hati. Dan kini, suara detak jantung itu terdengar begitu nyata. Hingga mata Fahri memerah, menangis karena terlalu bahagia dengan apa yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa.
"Untuk Bu Arumi, saya sarankan agar tidak terlalu banyak pikiran. Saya lihat kandungan ibu cukup lemah," ujar dokter tersebut.
"Baik, Dok."
Setelah selesai melakukan USG, dokter pun langsung membersihkan gel yang dioleskan tadi. Dokter memberikan obat penguat kandungan, beserta vitamin pada Arumi.
Setelah melakukan pemeriksaan, Arumi dan Fahri pun keluar dari ruangan tersebut. Keduanya berjalan menuju ke parkiran, lalu kemudian masuk ke dalam mobil.
Di dalam mobil, Fahri tak berhenti menatap foto sang buah hati yang diberikan oleh dokter tadi. Sesekali Fahri tersenyum saat menatap foto tersebut.
Arumi yang menyaksikan hal itu, juga ikut bahagia. Ka Kali ini, Arumi benar-benar merasa menjadi wanita yang sangat sempurna. Di cintai oleh sang suami yang ia kejar hatinya. Dan menjadi seorang ibu dari anak pria yang di dambakannya sejak lama.
Fahri melemparkan pandangannya ke arah sang istri yang sedari tadi ikut mengulas senyum. "Terima kasih, Sayang. Karena kamu telah memberikanku seorang anak. Aku mencintaimu," ujar Fahri.
" Aku juga mencintaimu, Mas."
Fahri mengusap rahang Arumi dengan lembut, lalu kemudian tersenyum. Pria itu pun mengeluarkan dompetnya. Memasukkan foto hasil USG tersebut di dalam dompetnya.
Setelah itu, Fahri pun mencium foto tersebut berkali-kali. "Sehat-sehat ya, Nak. Mama dan papa sangat menantikan kehadiranmu," gumam Fahri.
Arumi tersenyum, melihat Fahri yang begitu sangat bahagia. "Ya sudah, Mas. Ayo kita berangkat ke kantor," ujar Arumi.
"Baiklah."
Fahri kembali menyimpan dompetnya ke dalam saku. Lalu kemudian, ia pun menghidupkan mesin mobilnya, Dan melajukan kendaraan roda empat tersebut menuju ke jalanan.
Sesampainya di kantor, Fahri tak henti-hentinya mengulas senyum. Ia benar-benar terlihat bahagia setelah menatap foto anaknya tadi.
Arumi sesekali memperhatikan suaminya itu. Wanita tersebut terkekeh karena Fahri yang tampak begitu lucu, selalu mengulas senyumnya sedari tadi.
Di lain tempat, pasangan suami istri lainnya tengah berada di kamar. Sifa melemparkan tatapan tajam pada Aldo yang telah membuatnya seperti ini.
"Sampai kapan aku diperlakukan seperti ini?" tanya Sifa yang mulai kesal dengan jalan hidupnya yang tidak pernah mulus. Selalu saja berbelok dan berliku.
"Sampai kamu benar-benar menuruti ucapan ku tanpa harus membantahnya," ujar Aldo.
Sifa mendengkus kesal. Wanita tersebut langsung membuang muka mendengarkan ucapan Aldo yang terdengar begitu memuakkan.
"Jika kamu memang ingin dituruti, setidaknya kamu memperlakukanku dengan baik. Bagaimana aku bisa patuh terhadapmu jika kamu membuatku layaknya seekor hewan," cecar Sifa.
Tak lama kemudian, terdengar suara pintu diketuk. Seorang pelayan yang baru dipekerjakan oleh Aldo pun masuk sembari membawa nampan yang berisi makanan.
"Letakkan saja di sana," ujar Aldo sembari menunjuknya dengan mulutnya.
Pelayan itu pun meletakkan makanan Sifa di atas nakas, sesuai dengan perintah yang dikatakan oleh Aldo tadi. Setelahnya, pelayan itu pamit undur diri. Dan segera keluar dari kamar tersebut.
"Ck, pelayan baru lagi," cecar Sifa dengan tersenyum remeh.
"Aku membutuhkan seseorang yang patuh denganku, yang mau menuruti aturan ku. Jika tidak, maka aku tidak segan-segan untuk mencari yang baru," ujar Aldo sembari mengambil piring yang berisi nasi dan lauk-pauk.
"Aturanmu terlalu melelahkan untuk diikuti," cecar Sifa.
Aldo mengabaikan ucapan istrinya itu. Pria tersebut menyendokkan nasi, lalu membawanya tepat di depan mulut Sifa.
"Makanlah terlebih dahulu. Lihatlah tubuhmu mulai kurus," ujar Aldo.
Sifa memalingkan wajahnya. Seakan tak sudi menerima suapan dari suaminya itu. "Makan saja sendiri. Lagi pula, aku kurus seperti ini karena ulahmu sendiri," tukas Sifa.
Aldo memilih untuk memasukkan saja sendok ke dalam mulut sang istri. Sifa langsung memberontak. Lalu kemudian menyemburkan nasi yang ada di dalam mulutnya itu di wajah Aldo.
Setelah melakukan hal tersebut, Sifa langsung menyeringai. Ia merasa puas karena telah berbuat demikian.
Aldo membersihkan wajahnya yang ditempeli oleh beberapa butir nasi tersebut. Melihat Sifa yang menertawainya, membuat Aldo naik pitam.
PLAKKK ...
Pria itu melayangkan tangannya tepat di pipi istrinya. "Apa kamu senang karena telah bersikap kurang ajar seperti itu?" tanya Aldo dengan wajah yang merah padam karena mencoba menahan amarahnya.
"Kamu pantas mendapatkannya, Aldo!" seru Sifa.
Aldo pun kembali menampar sisi lain dari wajah istrinya itu.
"Dasar pria gila!!" ketus Sifa.
"Aku gila karena kamu. Aku sangat waras jika kamu tak bertindak nekat. Sadarlah Sifa, pria itu sudah memiliki istri!" balas Aldo.
"Setidaknya, dia lebih waras dibandingkan kamu yang seperti ini," tukas Sifa.
Aldo langsung beranjak dari tempat duduknya. Dari pada ia harus mendengar ocehan istrinya yang selalu membandingkan dirinya dengan Fahri.
Bersambung ...
Gengs, kalau ada typo, langsung di komen aja ya. Harap maklum karena aku ngetiknya dipaksa-paksain aja, soalnya mata dari tadi udah ngantuk berat.
Hari Senin nih. Jangan lupa vote sama giftnya ya 😁