
Hari ini Arumi memilih untuk masuk ke kantor. Beberapa hari kemarin cukup baginya bepergian bersama dengan Fahri. Kali ini, Arumi memutuskan untuk masuk dan membawa Fahri ke kantor.
Bukan tanpa alasan Arumi melakukan hal tersebut. Tentu saja semua itu karena Arumi yang sering melihat Fahri diremehkan saat bekerja. Pria itu selalu menundukkan kepalanya dan mematuhi ucapan atasan maupun rekan kerja sesamanya.
Arumi terlalu geram saat mengetahui hal tersebut. Dan kali ini, ia akan mengubah pria yang dulunya mereka hina berubah seratus delapan puluh derajat menjadi pria yang disegani oleh banyak orang.
Pagi ini, ia disibukkan untuk menyiapkan perlengkapan untuk suaminya. Mulai setelan kantor, dasi, dan bahkan tatanan rambut. Arumi tak ingin jika Fahri di pandang sebelah mata lagi oleh orang-orang banyak. Kali ini, gadis itu ingin jika Fahri tampil beda, mengubah gaya berpakaian yang biasanya menjadi lebih berkelas lagi.
"Pakailah ini!" ujar Arumi memberikan setelan pakaiannya pada Fahri. Setelah memberikan setelan tersebut, Arumi keluar dari kamar suaminya sejenak, membiarkan Fahri mengenakan pakaiannya terlebih dahulu.
Setelah Fahri selesai mengenakan pakaiannya, Arumi kembali masuk. Ia mencocokkan dasi satu persatu yang ada di tangannya. Cukup lama Arumi memilah dasi yang cocok untuk suaminya. Sementara Fahri, pria itu diam-diam menatap wajah cantik Arumi karena jarak keduanya memang terbilang cukup dekat.
Saat Arumi baru saja hendak mendongak, melihat Fahri, dengan cepat pria itu langsung mengalihkan pandangannya. Seakan Fahri bersikap biasa saja dan tidak menatap Fahri sebelumnya.
"Yang ini saja," ujar Arumi memutuskan untuk memilih dasi yang berwarna abu-abu dengan sedikit motif bergaris-garis.
Fahri pun mengalungkan dasi tersebut pada lehernya. Ia mencoba memasang dasi sembari menatap dirinya di pantulan cermin.
"Kamu bisa memasangnya?" tanya Arumi.
Fahri mengangguk. "Tentu saja. Bukankah aku sering melakukan hal sebelum aku dipecat oleh Indra," ujar Fahri seraya memasang simpul pada dasi tersebut.
"Mulai sekarang, tidak ada satu pun orang yang berhak memecatmu. Kamu lah yang bisa memecat mereka semua yang pernah merendahkan mu dulu," ucap Arumi.
Fahri hanya mengilas senyumnya sembari menggeleng pelan saat mendengar ucapan Arumi. "Aku memang berstatus menjadi suamimu saat ini. Dan kamu memberikan aku kewenangan atas semua karyawan yang ada di kantor. Namun, bukan berarti aku bisa menyalahgunakan wewenang itu untuk membalaskan rasa dendam ku di masa lalu. Mereka bekerja karena menghidupi anak istrinya. Jadi, mustahil bagiku memecat mereka begitu saja, kecuali jika memang mereka sudah melakukan kesalahan yang amat fatal," ucap Fahri panjang lebar.
Ia memberikan sedikit sentuhan pada dasinya yang sudah selesai terpasang. Kini Arumi kembali memperhatikan Fahri.
Gadis itu berjalan menuju ke etalase, tempat beberapa koleksi jam tangan pria dengan merk ternama. Arumi pun mengambil salah satu yang ada di dalam etalase tersebut, lalu kemudian memberikannya pada Fahri.
"Pakailah yang ini!" titah wanita itu.
Setelah Fahri memakai jam yang ia berikan, Arumi pun kembali menatap Fahri. Ia merasa ada yang kurang menarik pada pria itu.
"Coba duduk dulu," ujar Arumi menyuruh Fahri duduk di kursi yang menghadap langsung ke cermin.
Gadis itu meraih Pomade yang ada di atas meja rias. Lalu kemudian mengoleskannya ke rambut Fahri. Menyisirnya sedikit, membiarkan kening pria itu sedikit terlihat.
"Nah, ini baru terlihat tampan dan memukau," ujar Arumi menatap Fahri.
"Bukankah aku memang selalu tampan?" tanya Fahri yang mencoba menggoda Arumi dengan sedikit gurauan.
Tiba-tiba saja wajah Arumi memerah. Terlihat semburat kemerahan di kedua pipi tirusnya. "K-kamu ... iya, kamu memang tampan. Tapi tidak memukau," ujar Arumi yang mencoba untuk mencari alasan menahan rasa malu.
"K-kalau sudah selesai, segeralah keluar kita sarapan!" lanjut gadis itu yang langsung berlalu dari hadapan Fahri.
Fahri terkekeh geli, ia menatap punggung Arumi yang sudah tak terlihat lagi. "Gadis yang lucu," gumam pria tersebut.
Saat menuju ke meja makan, Arumi memegangi pipinya yang memerah. "Apakah dia sedang menggodaku tadi?" gumam Arumi.
Setibanya di sana, Arumi melihat ibunya yang sudah lebih dulu berada di ruang makan. Wanita paruh baya tersebut tersenyum menatap kedatangan putrinya.
Arumi menjatuhkan bokongnya pada salah satu kursi yang ada di sana.
"Mana menantuku?" tanya Dewi.
Arumi hanya terdiam tak menjawab ucapan Dewi. Wanita paruh baya itu pun menatap putrinya dengan raut wajah yang sendu.
"Sampai kapan kamu akan membenci mama, Nak?" tanya Dewi.
"Aku tidak membenci mama," timpal Arumi yang terlihat acuh tak acuh.
Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki menuruni anak tangga. Dewi tersenyum melihat kedatangan menantunya.
"Menantuku, kamu sangat terlihat tampan hari ini," ujar Dewi seraya mengacungkan kedua ibu jarinya.
"Iya, Ma. Ini semua karena Arumi yang mempersiapkannya. Aku tidak terlalu pandai untuk memilih pakaian," timpal Fahri seraya mengulas senyumnya. Pria itu pun menarik kursi yang ada di samping istrinya, lalu menjatuhkan bokongnya.
Setelah datangnya Fahri, ketiga orang tersebut memilih untuk menikmati sarapannya. Terdengar suara sendok dan garpu yang saling beradu.
"Kapan mama akan pergi dari sini?" tanya Arumi.
Fahri terkejut mendengar pertanyaan yang lolos begitu saja dari mulut istrinya. "Jangan bertanya seperti itu," bisik Fahri seraya menyenggol sedikit lengan istrinya.
"Tidak apa-apa, Fahri. Mama sudah terbiasa mendapatkan pertanyaan seperti ini dari Arumi," ujar Dewi menarik segaris senyum di bibirnya.
"Mama akan pulang setelah menghabiskan sarapan mama. Maaf jika kehadiran mama sedikit mengganggu suasana romantis kalian," lanjut Dewi yang menimpali ucapan dari putrinya itu.
"Tidak, Ma. Aku dan Arumi tidak merasa terganggu sedikit pun," ucap Fahri yang merasa tidak enak mendengar apa yang dikatakan oleh mertuanya tadi.
Setelah menyelesaikan sarapan, Arumi pun langsung berjalan terlebih dahulu, hendak meninggalkan ibunya dan Fahri yang saat ini tengah berbincang.
Namun, tak lama kemudian, Fahri menyusul Arumi. Ia menggenggam tangan gadis tersebut, lalu kemudian membawanya kembali menghampiri sang mertua.
"Pamitan dulu," bisik Fahri.
Arumi pun hanya pasrah. Mengikuti kemana arah sang suami membawanya. Fahri menyalami punggung tangan mertuanya. Ia juga menyuruh Arumi untuk melakukan hal yang serupa.
"Kami berangkat bekerja dulu ya ma," ujar Fahri yang saat ini merangkul bahu Arumi. Ia sengaja melakukan hal itu agar sang istri tetap bersamanya untuk berpamitan kepada Dewi.
"Iya. Hati-hati di jalan nak," ucap Dewi.
Fahri pun langsung membawa istrinya untuk masuk ke dalam mobil. Sementara Arumi, gadis itu tersenyum saat menyadari bahwa kini, suaminya itu tengah merangkul dirinya.
"Ayo masuk!" ujar Fahri.
"Tidak bisakah ia merangkul ku lebih lama lagi?" batin Arumi menggerutu. Ia pun masuk ke dalam mobil tersebut. Begitu pula dengan Fahri.
Fahri melajukan kendaraan tersebut menuju ke jalanan. Kini ia siap memperlihatkan dirinya pada dunia, bahwa Fahri yang sekarang lebih memukau dibandingkan Fahri yang dulu.
Bersambung ...