
"Apakah ada sesuatu yang kamu takutkan? Misalnya dengan kepulanganku, aku bisa mengambil alih kembali perusahaan," pancing Arumi seraya memperlihatkan senyum smirk.
Indra terdiam, tangannya mengepal dengan erat di bawah meja. Namun, ia berusaha semaksimal mungkin untuk terlihat tenang.
"Ayolah sepupuku. Aku tidak ingin terlalu banyak berdebat. Lagi pula jika penyakitmu kambuh, aku yang akan kembali mengambil alih perusahaan, bukan? Tante memang ahli warismu," tutur Indra.
"Namun, sayang sekali. Tante pastinya tetap akan menyuruhku untuk mengelola semua ini. Dan pada akhirnya, akulah yang jadi pemenangnya," lanjutnya seraya menungging kan senyum licik.
Arumi hanya terkikik mendengar ucapan Indra. "Apakah kamu sedang mengancam ku? Ayolah! Kedatanganku kemari hanya untuk melihat-lihat saja. Bukan langsung merebut semuanya dari tanganmu," ujar Arumi dengan santai.
Tak lama kemudian, seseorang mengetuk pintu. Lalu kemudian masuk dengan membawa dua gelas teh untuk Arumi.
"Benarkah? Kalau begitu sebaiknya diminum dulu suguhan teh dari kami," ucap Indra.
"Terima kasih atas suguhannya, tapi sayangnya aku tidak haus. Kalau begitu, bisakah kamu menggantikannya?" sindir Arumi pada Indra seraya melirik teh tersebut.
Indra sudah berusaha menahan diri semaksimal mungkin agar ia tak meledak di depan Arumi.
Sedangkan wanita yang baru saja melontarkan sindirian tersebut, beranjak dari tempat duduknya. "Sepertinya aku harus pergi, karena kepulanganku dari rumah sakit membuatku sedikit sibuk akhir-akhir ini," ucap Arumi dengan santai.
Arumi dan Samuel berjalan menuju pintu keluar. Namun, baru beberapa langkah, Arumi kembali berbalik menatap Indra yang masih mematung di sofa.
"Sebaiknya kamu mempersiapkan diri. Aku biasanya melakukan segala sesuatu dengan cara mendadak dan tak terduga," ujar Arumi yang kemudian benar-benar meninggalkan tempat tersebut.
Arumi melangkah keluar dari ruangan Indra dengan senyum liciknya. Gadis itu terhenti sejenak di depan ruangan yang telah tertutup rapat tersebut.
"Satu ... dua ... tiga ...," gumamnya menghitung.
Prangggg ...
Dan benar saja, ia mendengar sesuatu yang pecah dari dalam ruangan tersebut.
"Perangainya tidak berubah sama sekali," gumam Arumi. Ia memakai kaca mata hitamnya, lalu kemudian melanjutkan langkahnya yang tertunda.
Saat menyusuri jalan menuju ke lift, beberapa pegawai yang ada di sana menundukkan kepalanya. Semua orang seakan menyorot pergerakan Arumi, menatap gadis itu dengan kagum. Kecuali satu orang, yang sedari tadi hanya terfokus pada pekerjaannya. Membuat laporan yang akan ia serahkan nantinya pada sang atasan.
Arumi dan Samuel keluar dari pintu utama. Keduanya menuju ke parkiran, masuk ke dalam kendaraan tersebut.
"Apakah seharusnya kita mulai bersiap besok? Aku rasa pria itu akan mencari cara untuk menggagalkan semuanya," ucap Samuel.
"Jangan! Lebih baik kita bermain santai terlebih dahulu dengan hasil yang memuaskan," sergah Arumi.
"Yang dikatakannya tadi memang benar. Pada akhirnya perusahaan masih akan jatuh ke tangannya jika sesuatu terjadi kepadaku," lanjutnya.
"Maksudmu?"
"Dia bisa membuat dokumen palsu tentang penyakitku. Dan dari situ ia akan kembali menguasai semuanya," papar Arumi.
"Jadi ... apa yang harus kita lakukan?" tanya Samuel.
"Mencari ahli waris yang baru," celetuk Arumi.
Samuel terkekeh geli mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh Arumi. "Yang benar saja! Hanya ada satu cara dan itu sangat mustahil untuk kamu lakukan," ujar Samuel.
"Aku akan mencari pria yang ingin ku nikahi dan memberikan aku seorang keturunan," ucap Arumi dengan mantap.
"Princess, sebaiknya dipikir saja dulu. Kamu tidak bisa tergesa-gesa mengambil keputusan ini," ujar Samuel memberikan saran.
Samuel tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya menggelengkan kepalanya dengan pelan sembari menatap Arumi yang saat ini tengah melajukan kendaraannya.
Di lain tempat, Fahri baru saja menyelesaikan tugasnya. Pria itu pun langsung menyerahkan beberapa dokumen yang diminta perbaiki oleh atasannya itu.
Setelah menyerahkan dokumen tersebut, Fahri pun keluar dari ruangan itu. Ia berjalan menuju meja kerjanya. Seketika ruangan itu tampak sunyi karena saat itu tepat jam makan siang, tentunya semua orang keluar untuk mengisi perutnya.
Fahri berjalan menuju pantry, seperti biasa, pria itu menyeduh kopi untuk menghilangkan penatnya. Dengan berwadahkan paper cup, Fahri membawa kopi itu keluar dari kantor.
Pria tersebut memilih berbincang pada satpam yang saat ini tengah berada di depan.
"Tidak ikut makan sama rombongan, Pak?" tanya Satpam tersebut.
"Tidak, Pak." Fahri menimpalinya dengan singkat seraya mengulas senyum.
"Pak Fahri punya teman yang sedang membutuhkan pekerjaan tidak? Kalau ada, anak saya yang bekerja di toserba, dia bilang di sana sedang buka lowongan, tapi untuk berjaga dari jam 7 hingga jam 11 malam," papar satpam tersebut.
"Pekerja paruh waktu?" tanya Fahri seraya menyesap kopinya.
"Iya, kalau masalah gaji, saya kurang tahu. Mungkin teman Bapak ada yang berminat, silakan langsung ke toko," ucap satpam itu.
.....
Malam harinya, Fahri pulang dari kantor langsung menuju ke toserba yang dimaksudkan oleh satpam tadi.
Setelah menempuh perjalanan cukup lama dengan berjalan kaki, pria tersebut saat ini berada di depan toserba. Ia mendapatkan alamat toko itu dari Pak Satpam yang menawarkan pekerjaan tersebut.
Fahri memasuki toserba itu, ia berencana hendak bekerja di sana setelah pulang dari kantor. Untuk memenuhi keuangan yang dikatakan oleh Sifa masih kurang. Setidaknya Fahri memiliki tambahan sedikit walaupun anggaran yang dikeluarkan oleh Sifa sangat besar.
Setelah berbincang dan bernegosiasi dengan pemilik toko, Fahri pun diterima bekerja di tempat tersebut. Ia langsung mengirimi pesan singkat pada sang istri, bahwa dirinya akan pulang terlambat malam ini.
Di lain tempat, Sifa yang saat itu berada di sebuah restoran mewah, tengah menyantap hidangannya. Tak lama kemudian, notifikasi pesan dari ponselnya berbunyi. Wanita tersebut langsung meraih benda pipih itu.
Aku akan pulang terlambat malam ini. Alasannya nanti saja aku ceritakan saat tiba di rumah.
Setelah membaca pesan tersebut, Sifa pun membalas pesan suaminya ala kadarnya. Ia kembali meletakkan ponselnya ke atas meja.
"Siapa?" terdengar suara pria yang berada di hadapannya. Benar saja, saat ini Sifa tengah menikmati makan malamnya dengan Aldo, mantan kekasihnya dulu.
"Suamiku," timpal Sifa dengan singkat.
Pria itu memperhatikan Sifa dengan seksama, lalu kemudian ia menyunggingkan senyumnya. "Sepertinya kamu tak begitu bahagia dengan pernikahanmu," pancing Aldo.
"Entahlah! Aku tak bisa mengatakannya. Antara bahagia dan sedikit kecewa," timpal Sifa.
"Kenapa?" tanya Aldo lagi.
Gadis itu menghirup napasnya, lalu kemudian menghembuskannya dengan kasar. "Aku hanya merasa bahwa ekspetasiku tak sesuai dengan realita yang ada," tutur Sifa.
"Syukurlah," celetuk Aldo.
"Kenapa kamu berkata seperti itu?" tanya Sifa dengan raut wajah yang kesal.
"Dengan begitu, aku akan berusaha untuk membuatmu nyaman lagi bersamaku."
Bersambung ....