Pria 500 Juta

Pria 500 Juta
Bab 149. Rasa Yang Hampir Membunuhku


Keesokan harinya, Fahri kembali menjalani rutinitasnya seperti biasa. Pria itu tengah mematut dirinya di depan cermin, memeriksa penampilannya yang dirasa sudah cukup.


Sementara Arumi, wanita itu sedari tadi berada di dapur, memperhatikan para pelayan yang tengah memasak sarapan pagi ini.


Berselang beberapa lama kemudian, ia mendengar suara langkah kaki yang menuruni anak tangga. Arumi pun bergegas menuju ke sana, melihat Fahri yang baru saja turun dari tangga tersebut.


"Selamat pagi, Suamiku." Arumi menghambur ke pelukan Fahri, menyambut pria itu dengan tersenyum ramah.


"Pagi juga, Istriku." Fahri mengusap puncak kepala sang istri.


"Sayang, tunggu sebentar ya. Sarapannya masih dimasak sama bibi," ujar Arumi.


"Kamu tidak masak?" tanya Fahri seraya menjengit.


Arumi mengusap tengkuknya. "Tadi masak, tapi ...."


"Ada apa?" tanya Fahri yang seakan tidak sabar mendengar kalimat Arumi selanjutnya.


"Itu ... Kemarin Mas Fahri pasti bohong," ujar Arumi tertunduk.


"Bohong apa, Sayang?"


"Anu Mas, ..."


"Pagi-pagi jangan bahas anu dulu. Mas udah rapi loh mau berangkat kerja," celetuk Fahri yang langsung memotong ucapan istrinya.


Mendengar hal tersebut, Arumi langsung memukul pelan lengan suaminya.


"Bukan itu, Mas. Kemarin pas aku masak, kata Mas Fahri masakan aku enak. Tapi kenapa pagi ini aku masak menu yang sama, dengan takaran bumbu yang sama rasanya sangat tidak enak," ujar Arumi.


Fahri terkekeh sembari menutup mulutnya." Memangnya rasa apa?"


"Asin Mas. Rasa asin omelette nya serasa ingin membunuhku," timpal Arumi bercerita sembari membulatkan matanya.


Melihat istrinya itu sangat serius menceritakan peristiwa rasa masakannya itu, membuat Fahri kembali terkekeh. Kali ini, pria itu bahkan memegangi perutnya karena merasa benar-benar lucu.


"Kemarin masakanku apakah rasanya seperti itu juga Mas?" tanya Arumi serius.


Fahri menganggukkan kepalanya.


"Kalau tidak enak, kenapa Mas harus bilang enak! Lagi pula Mas juga sanggup habiskan semuanya. Aku makan satu suap saja langsung muntah," gerutu Arumi.


Fahri langsung memeluk istrinya. Raut wajah wanita itu berubah menjadi murung karena menyadari bahwa Fahri kemarin memang membohonginya.


"Apapun rasa masakanmu, Mas pasti akan makan. Karena Mas tahu, kamu membuatnya dengan susah payah. Untuk pertanyaan tentang rasa masakanmu, Mas sengaja menutupinya, karena Mas takut jika nanti kamu akan kecewa," tutur Fahri lembut sembari mengusap puncak kepala Arumi.


"Tetap saja, Mas. Kalau memberikan review untuk masakan pada seseorang yang baru belajar, ada baiknya Mas katakan sejujurnya saja. Justru aku lebih kecewa jika Mas berbohong seperti ini," gerutu Arumi.


"Iya, Mas minta maaf ya," ujar Fahri.


Tak lama kemudian, pelayan yang sedari tadi berkutat di dapur pun menghampiri kedua pasangan suami istri itu.


"Tuan, Nyonya, sarapannya sudah siap," ucap pelayan tersebut.


"Ayo kita sarapan!" ajak Fahri.


Arumi mengangguk, ia pun mengikuti Fahri yang membawanya menuju ke meja makan. Mereka pun menikmati sarapan pagi itu dengan tenang.


Setelah menghabiskan sarapannya, Fahri berpamitan untuk berangkat ke kantor. Arumi mengantarkan Fahri sampai ke depan.


"Mas berangkat dulu. Kamu di rumah saja, tidak usah kemana-mana," ujar Fahri.


"Mas, aku bosan jika di rumah terus. Bagaimana jika aku memiliki kebutuhan mendesak, apakah aku harus membatalkannya?" ucap Arumi yang merasa keberatan.


"Ya sudah, kalau begitu nanti minta diantar dengan Pak Rahmat saja, jangan pergi sendirian. Bila perlu, bawa salah satu bibi yang ada di rumah untuk menemanimu," tukas Fahri memperingati sang istri.


Arumi mengangguk patuh meskipun ia merasa keberatan dengan peraturan yang dibuat oleh Fahri akhir-akhir ini. Entah mengapa, Arumi merasa ada yang aneh dengan suaminya itu. Fahri yang seolah memperketat ruang gerak Arumi.


Arumi menatap suaminya yang mulai masuk ke dalam mobil. Perlahan Fahri pun melajukan kendaraannya. Arumi melambaikan tangannya, menatap mobil yang dikendarai oleh Fahri hingga hilang dari pandangannya.


"Mas Fahri terlalu mengkhawatirkan ku, tapi ... aku merasa terkekang karena hal itu," keluh Arumi sembari menghela napas beratnya. Wanita itu pun kembali masuk ke dalam rumah.


"Aku ingin keluar, menghirup udara segar, shopping," gerutu Arumi membeberkan semua yang akan menghilangkan rasa bosannya.


"Ah iya, alasanku untuk keluar rumah karena ingin membeli peralatan si baby," gumam Arumi yang baru saja mendapatkan ide untuk menghilangkan rasa suntuknya. Wanita itu mengusap perutnya yang mulai terlihat sedikit membuncit.


"Sayang, kita jalan-jalan keluar ya. Sekalian beli beberapa peralatan untukmu nanti meskipun mama belum tahu kamu itu perempuan atau laki-laki," ujar Arumi bermonolog.


Arumi segera bersiap untuk pergi ke luar. Ia menorehkan sedikit make up pada wajah cantiknya, lalu kemudian mengambil tas jinjingnya dan pergi keluar dari kamar.


Arumi menuruni anak tangga, ia memanggil Pak Rahmat untuk mengantarkannya ke tempat yang hendak ia tuju.


"Pak Rahmat, antarkan saya ke mall. Saya mau mencuci mata sembari berbelanja," ujar Arumi.


"Siap, Nyonya."


Pak Rahmat pun langsung membukakan pintu mobil untuk Arumi. Wanita hamil itu langsung melenggang masuk ke dalam mobil tersebut. Tak lama kemudian, kendaraan itu pun melaju ke jalanan.


Saat di perjalanan, Arumi menatap ke luar jendela. Wanita itu menurunkan jendela kaca mobil, lalu kemudian menikmati angin yang berhembus menerpa wajahnya.


"Pak, kalau suami saya bertanya apakah saya pergi keluar, bilang saja kalau saya berada di dalam rumah dan tidak pergi kemana-mana," titah Arumi.


"Begini Nyonya ...."


"Ada apa?" tanya Arumi menatap curiga.


Terdengar suara ponselnya berdering. Arumi mengeluarkan benda pipih itu dari dalam tasnya. Dan ia pun memutar bola matanya melihat siapa yang saat ini tengah meneleponnya.


"Apakah Pak Rahmat memberitahukannya pada suamiku?" tanya Arumi.


"Tidak, Nyonya. Saya sedari tadi memegang setir, tidak memegang ponsel," timpal Pak Rahmat.


"Bagaimana bisa kebetulan sekali," gumam Arumi.


Arumi berdeham sedikit, membuat suaranya terdengar serak. Lalu kemudian mengangkat panggilan dari suaminya itu.


"Hmmm ... Kenapa Mas? Aku lagi tidur," ujar Arumi berbohong.


Pak Rahmat yang tengah mengemudikan mobil tersebut, berusaha untuk menahan tawanya karena sandiwara dari Nyonya mudanya itu.s


"Benarkah kamu sedang tidur?" tanya Fahri dari seberang telepon.


"Iya, Mas. Suaraku ... apakah kamu tidak mendengarnya? Suaraku ini khas orang yang sedang bangun tidur," ucap Arumi memperdalam sandiwaranya.


"Bukankah kamu sedang dalam perjalanan saat ini?" tanya Fahri.


"Hah? Bagaimana bisa Mas mengetahuinya?" Arumi melihat ke kiri dan ke kanan jalan.


"Aku tahu semuanya, Sayang. Jadi jangan mencoba untuk membohongi ku," tukas Fahri.


Arumi mendengus kesal."Aku ingin cuci mata dulu, Mas. Suntuk di rumah terus," ujar Arumi.


"Kemarin kan Mas ajak keluar kota."


"Ya tetap saja. Kemarin Mas lebih banyak mengurus pekerjaan dari pada bersantai," gerutu Arumi.


"Baiklah. Mas nanti luangkan waktu untuk kita berdua," ujar Fahri.


"Hmmm ... kalau begitu, aku tutup dulu ya Mas telepon nya. Sebentar lagi mau sampai."


"Ya sudah. Di sana cuci mata jangan lirik-lirik yang lebih tampan ya ...," ucap Fahri memperingati istrinya.


"Iya suamiku sayang."


Arumi pun langsung mematikan sambungan telepon dari Fahri.


Di waktu yang bersamaan, Fahri mengernyitkan keningnya karena istrinya itu mematikan panggilannya begitu saja. Fahri mengetahui bahwa Arumi tengah berada di perjalanan, karena saat istrinya tidur, Fahri sempat mengaktifkan GPS pada ponsel istrinya dan dihubungkan langsung ke ponselnya.


Semua itu bukan tanpa alasan yang hanya mengandalkan rasa cemburu semata. Lebih tepatnya demi keselamatan istrinya, karena bagaimana pun juga Dewi masih belum ditemukan keberadaannya. Jika suatu saat nanti terjadi sesuatu pada istrinya, Fahri bisa dengan cepat menemukan wanita pujaannya itu.


Bersambung ...