
Arumi tengah menatap lurus ke depan. Ia melirik Sifa yang ada di sampingnya. Aroma soto yang di beli oleh Sifa sangat menyengat, membuat Arumi pun mengarahkan pandangannya pada kantung plastik yang di pegang oleh Sifa.
"Maafkan aku. Apakah baunya terlalu mengganggu?" tanya Sifa.
"Tidak apa-apa," ujar Arumi sembari mengulas senyumnya.
"Ini pesanan temanku yang sedang sakit. Aku ingin menjenguknya karena dia tidak memiliki siapa-siapa di rumahnya," ucap Sifa yang mulai bercerita pada Arumi.
Arumi menjengit, ia pun memanfaatkan kesempatan ini untuk sesekali menanyai Sifa. "Teman?" tanya Sifa.
"Iya." Wanita itu mengulas senyumnya.
"Sebenarnya pria yang kamu lihat di parkiran sewaktu itu, dia adalah temanku," lanjut wanita tersebut.
Arumi tersenyum samar. Sifa adalah tipe yang tampaknya akan menceritakan segala sesuatu jika ia merasa nyaman. Dan ini, adalah kesempatan yang baik untuk Arumi.
"Temanmu? Aku kira dia suamimu," pancing Arumi lagi.
Semburat kemerahan langsung muncul di pipi kedua gadis tersebut. "Sebenarnya dia adalah kekasihku. Aku baru saja bercerai dari suamiku," ujar Sifa. Arumi mengangguk paham akan hal itu, berekspresi seolah dirinya memang baru mengetahui semuanya. Padahal, Arumi mengetahuinya sejak awal. Dan perceraian itu, tentunya ada campur tangannya dengan Arumi.
Arumi mencoba mencari cara untuk mengulik sedikit tentang Fahri. Pria itu terkadang terkesan lugu, terkadang ia juga terkesan dingin dan sedikit kasar. Namun, saat bersama dengan Sifa, mata pria tersebut tampak berbinar, menandakan bahwa ia sangat mencintai wanita yang saat ini bersama Sifa.
Arumi mencoba mencari tahu semua itu melalui Sifa. Dan yang paling utama, Arumi mencurigai Fahri yang menyerangnya. Mungkin dengan sedikit pancingan, Arumi dapat menemukan jawabannya.
"Oh iya, aku ingin memberikan hadiah pada pacarku. Kira-kira parfum apa ya yang cocok untuk pria?" tanya Arumi kembali membuat pancingan.
"Mengapa tidak menghadiahi parfum yang biasanya ia pakai?" Sifa balik bertanya.
"Mungkin kamu memiliki rekomendasi tentang parfum pria, atau lebih tepatnya parfum yang memiliki ciri khas tersendiri," pancing Arumi.
Sifa tampak berpikir sejenak. "Jika untuk wangi yang berkelas, biasanya leather lebih cocok. Biasanya wewangian ini agak smoky dan sensual. Tapi aku lebih menyukai aroma tobacco. Aroma ini terkesan lebih misterius dan macho," papar Sifa.
"Mantan suamiku dan kekasihku, mereka memakai aroma parfum yang sama," lanjut wanita tersebut.
Mendengar ucapan Sifa membuat kening Arumi berkerut. "Fahri dan Aldo memakai parfum dengan wangi yang sama?" batin Arumi.
"Apakah memang bukan Fahri pelakunya, melainkan Aldo?" ucap Arumi dalam hati.
Tak lama kemudian, Sifa meminta untuk Arumi berhenti. Ia pun melepas sabuk pengaman yang melingkar di bagian tubuhnya.
"Terima kasih atas tumpangannya, Nyonya." Sifa mengucapkan terima kasih pada Arumi.
"Iya, sama-sama." Arumi menimpalinya disertai dengan sebuah anggukan kecil.
"Hati-hati di jalan, Nyonya." Sifa pun melambaikan tangannya seraya mengulas senyum.
Arumi kembali melajukan mobilnya. Ia melihat dari spion mobilnya, Sifa yang mulai masuk ke dalam rumah itu.
Saat di perjalanan, Arumi masih memikirkan hal tadi. Di mana Fahri memiliki aroma yang sama dengan Aldo. Membuat Sifa harus berpikir keras dan menebak-nebak siapa pelaku dari penyerangan itu.
Arumi menepikan mobilnya setelah jaraknya cukup jauh dari rumah Aldo. Gadis itu membuka penutup wajahnya. Lukanya tidak terlalu jelas karena Arumi menutupi sebagian luka tersebut dengan make up. Namun, ada beberapa bagian yang masih tampak terlihat jelas.
Kembali muncul di pikiran Arumi tentang kejadian kemarin malam. Dan saat ini sudah ada dugaan yang lainnya. Ia sudah bisa menebak dalang dari semua ini. Akan tetapi, Arumi masih ingin mencari tahu siapa yang sebenarnya pria bertopeng pada malam itu. Karena bagaimana pun juga, Arumi sudah melukainya. Tentu saja orang itu suatu saat akan kembali dan menyerang Arumi lagi.
Arumi bisa saja melaporkan semuanya pada polisi. Namun, Arumi khawatir jika kasus ini tidak tuntas sepenuhnya. Apalagi saat ini, manusia seperti sangat mendewakan uang. Dan bahkan keadilan pun bisa saja dibeli.
"Hmmm ... Ada apa?" tanya Arumi yang tampak malas mengangkat panggilan tersebut.
"Bagaimana kondisimu, Nak? Mama dengar, ada pencuri yang masuk dan menyerangmu," ujar suara dari seberang telepon yang tak lain adalah Dewi, ibu dari Arumi.
"Tahu dari mana?" tanya Arumi.
"Mama mengetahuinya dari Bibi," ujar Dewi.
"Lantas bagaimana dengan kondisimu, Nak? Apakah kamu baik-baik saja?" sambung Dewi.
"Aku tidak apa."
"Mungkin besok atau lusa mama akan pulang untuk menjengukmu. Saat ini mama sedang sedikit sibuk, jadi mama harap kamu mengerti."
Arumi langsung memutuskan sambungan teleponnya tanpa menjawab ucapan dari ibunya. " Tidak usah seperti merasa sangat peduli padaku. Bukankah dia sibuk mengurusi jallang-jallang nya," ketus Arumi sembari memukul setirnya dengan kuat.
Arumi merasa kesal karena ibunya tak memperhatikannya. Sejak ayahnya meninggal, ibunya seakan membuang Arumi begitu saja.
"Sebaiknya tak usah pulang saja. Dia pulang hanya membuatku pusing," gerutu wanita tersebut. Ia pun kembali menghidupkan mesin mobilnya. Melajukan kendaraan roda empat tersebut.
Setelah cukup lama menempuh perjalanan, ia pun tiba di halaman depan rumahnya. Keamanan kali ini diperbanyak dan semakin diperketat setelah peristiwa yang menimpa Arumi kemarin.
Arumi melihat motor Samuel yang masih terparkir di depan rumahnya. "Apakah dia akan menginap lagi di sini?" gumam Arumi. Gadis itu pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah tersebut.
Sesampainya di ruang tengah, ia melihat Samuel yang saat itu sedang duduk sembari menatapnya dengan tajam.
"Ada apa denganmu? Berani sekali kamu memberikan tatapan seperti itu kepadaku?!" cecar Arumi dengan suara yang sedikit meninggi.
"Kamu dari mana saja? Kenapa baru pulang?"
tanya Samuel.
"Apa ini?" Arumi tertawa keras saat melihat Samuel yang memberikan serentetan pertanyaan itu.
"Tolong jawab aku!!" seru pria tersebut.
Arumi sedikit terlonjak mendengar Samuel yang berteriak kepadanya. "Ada apa denganmu? Kenapa kamu tiba-tiba marah seperti ini? Kemana pun aku, apa urusannya denganmu?!" balas Arumi yang juga dengan suara keras.
"Aku mengkhawatirkanmu! Seharusnya kejadian semalam menjadi pelajaran untukmu supaya kamu lebih berhati-hati lagi. Keluar rumah tanpa pengawasan, membuat aku takut, Arumi! Sedari tadi aku menghubungimu akan tetapi kamu memblokir nomorku!" ujar Samuel.
Sebelum berangkat menemui Fahri, Arumi memang lebih dulu memblokir nomor Samuel. Rencananya ia ingin berbincang berdua saja dengan Fahri tanpa diganggu oleh pria itu.
"Tolong, kamu dengarkan sedikit ucapanku. Jangan hanya mementingkan egomu saja, Arumi. Jika terjadi apa-apa padamu, aku lah orang yang pertama kali menyesal karena tidak bisa menjagamu dengan baik. Aku disini, untuk melindungimu. Tolong, mengerti Arumi," ucap Samuel. Kali ini pria tersebut berbicara dengan lembut. Ia sungguh takut jika kejadian kemarin sempat terulang lagi.
Arumi merasa bersalah. Ia menatap mata Samuel dengan dalam. Mata itu seakan menyiratkan kekecewaan sekaligus kekesalan dalam dirinya karena kejadian kemarin malam.
"Aku lelah," ujar Arumi yang juga mulai berucap lembut. Wanita itu pun berjalan menuju ke kamarnya.
Samuel melihat punggung Arumi yang semakin lama semakin menjauh. "Aku tidak bisa berucap bahwa aku amat mencintaimu, Arumi. Tapi aku melakukannya melalui tindakan. Setidaknya kamu menghargai hal itu, meskipun cintamu bukan untukku," batin Samuel.
Bersambung ....