Pria 500 Juta

Pria 500 Juta
Bab 151. Hari-H


Hari demi hari pun telah berganti. Dan di hari ini, Elena tampak cantik dengan gaun pengantinnya. Namun, bukan mengulas senyum, justru gadis itu memperlihatkan wajah murungnya. Dalam hitungan jam, ia akan sah menyandang status menjadi istri, atau justru sebaliknya. Ia harus menanggung malu di beberapa jam kemudian.


Elena kembali mengingat obrolan yang pernah mereka bahas saat pertama kali di pertemukan di cafe. Saat itu Samuel tengah melihat mereka.


"Jujur saja, aku sangat tidak setuju dengan perjodohan ini. Aku telah memilih wanita yang ingin ku nikahi, akan tetapi semua itu menjadi hancur seketika akibat perjodohan yang diatur oleh kedua orang tua kita," keluh Tomi.


Elena hanya tersenyum sembari sesekali melirik ke arah Samuel yang sedari tadi memandanginya.


"Sepertinya kamu juga sangat mengharapkan perjodohan ini?" tanya Tomi.


"Aku? Hmmm ... tidak juga," timpal Elena sembari menghela napasnya.


"Alasan aku menerima perjodohan ini karena aku ingin berhenti memperjuangkan sesuatu. Namun, jika kamu tidak menyetujui perjodohan ini, sebaiknya kamu berterus terang pada orang tuamu," ucap Elena dengan bijak.


"Percuma, hanya ada satu cara untuk menggagalkan pernikahan ini, yaitu dengan cara aku meninggalkanmu pergi di hari pernikahan kita. Ku pastikan orang tuaku akan menyetujui permintaanku demi menutupi rasa malunya," ujar Tomi yang mementingkan rasa egoisnya.


Elena tersenyum perih, bagaimana bisa pria itu bisa mengatakannya secara langsung dan jelas seperti tadi.


"Ku rasa, bukan hanya orang tuamu saja yang malu. Akan tetapi orang tuaku juga merasakan hal yang sama. Namun, terserah padamu saja. Aku akan menghargai keputusanmu," ucap Elena yang masih berusaha mengembangkan senyumnya, seakan ia amat bahagia telah bertemu dengan pria seperti Tomi padahal justru sebaliknya. Elena melakukan semua itu karena pandangan Samuel yang tak kunjung lepas darinya.


"Baiklah, kalau begitu ku anggap bahwa kamu menyetujui keputusanku. Aku harap kamu tidak berubah pikiran setelah ini, karena aku tidak ingin wanita yang ku cintai merasa kecewa lagi padaku," tutur Tomi.


Elena hanya diam sembari tersenyum. Ia tak menimpali ucapan Tomi dengan sebuah kata-kata.


Dan mulai di hari itu, Elena sudah tahu bagaimana jalan pernikahannya kelak. Namun, ia masih berharap bahwa pernikahan itu akan tetap dilangsungkan. Bagaimana pun juga, Elena tidak ingin jika sampai orang tuanya malu karena pengantin pria melarikan diri dari pernikahan itu.


Seketika lamunan Elena buyar saat seseorang menyentuh bahunya dari belakang. Elena menolehkan kepalanya, ia melihat ibunya tersenyum menatap ke arahnya.


"Putriku cantik sekali," puji ibu dari Elena.


Elena mengulas senyummya. "Aku cantik karena mama juga cantik," ucap Elena.


Ibu Elena mengusap puncak kepala Elena dengan lembut. "Ku harap, kamu akan berbahagia bersama Tomi setelah ini," ucap ibu dari Elena.


Di waktu yang bersamaan, Arumi dan Fahri baru saja turun dari mobilnya. Pasangan suami istri itu tampak serasi dengan mengenakan setelan berwarna navy.


Fahri mengenakan jas berwarna navy serta dasi kupu-kupu yang mengikat di lehernya. Sementara Arumi, wanita itu mengenakan gaun berwarna navy, dengan taburan swarovski di bagian dada serta renda di bagian ujung lengan baju tersebut. Arumi tampak terlihat elegan dengan menggunakan gaun itu.


Arumi menggamit lengan Fahri, keduanya berjalan bersamaan memasuki gedung untuk menghadiri undangan dari Pak Beni.


Kedatangan keduanya tentu disambut hangat oleh Pak Beni. Fahri dan Pak Beni tampak berbincang-bincang, sementara Arumi mengedarkan pandangannya sedari tadi, seperti tengah mencari sesuatu.


"Ada apa?" bisik Fahri saat melihat istrinya sibuk mengedarkan pandangannya.


"Aku mencari Samuel. Kira-kira dia akan datang atau tidak," jawab Arumi yang juga ikut berbisik.


"Mungkin dia akan datang. Mustahil dia tidak datang kalau Elena sendiri adalah teman dekatnya," celetuk Fahri.


"Hmmm ... kamu tidak tahu saja," ujar Arumi.


Tak lama kemudian, datang istri dari Pak Beni, Bu Ani. Bu Ani juga menyambut hangat keduanya. Saat Fahri sibuk berbincang dengan kedua orang tersebut, Arumi permisi untuk melihat Elena.


Bu Ani pun menunjukkan tempat Elena berada. Setibanya di depan pintu, Arumi mengetuk pintu tersebut sejenak, lalu kemudian masuk ke dalam ruangan tersebut.


"Hai, ...." Arumi menyapa Elena dengan mengangkat satu tangannya.


"Hai ..." Elena membalas sapaan dari Arumi. Entah gadis itu harus kesal atau justru memilih memendamnya.


Bagaimana pun juga, Arumi adalah alasan kenapa Samuel tidak bisa melihatnya. Karena Samuel telah dibutakan oleh cintanya pada Arumi. Bahkan pria itu sanggup melakukan apapun untuk melindungi Arumi.


Elena menutup mulutnya sembari terkekeh geli. "Kamu bisa saja," ujar gadis tersebut.


Mata Elena menatap perut Arumi yang sudah mulai membuncit. Wanita itu pun menatap Arumi dengan seksama.


"Kamu juga semakin cantik saat hamil," tutur Elena.


"Benarkah? Aku rasa aku semakin jelek karena timbangan berat badan ku semakin hari semakin bertambah saja," ujar Arumi.


"Tidak apa-apa, yang penting ibu dan bayinya sehat," ucap Elena.


"Iya," ujar Arumi sembari mengusap perutnya.


"Ah iya, bolehkah aku mengambil beberapa foto bersamamu?" tanya wanita itu.


Elena pun langsung menyetujuinya. Arumi mengambil ponsel di dalam tasnya, lalu kemudian mengambil beberapa foto menggunakan kamera ponselnya.


"Terima kasih," ucap Arumi.


"Sama-sama," balas Elena.


Arumi menandai beberapa foto yang ia ambil tadi, lalu kemudian mengirimkan foto-foto tersebut kepada Samuel melalui pesan WhatsApp nya.


"Aku mengirimkan foto kita pada Samuel," ujar Arumi sembari terkekeh.


"Jangan!" sergah Elena.


"Sudah dilihat," ucap Arumi.


Elena menghela napasnya.


"Ada apa?" tanya Arumi menatap Elena dengan seksama.


"Dia tidak akan merasa sakit hati karena foto itu. Justru ia akan meledekku seakan meminta perhatian padanya," ucap Elena.


Arumi tersenyum, lalu kemudian ia memegang kedua bahu Elena. "Maaf jika aku salah. Namun, aku hanya sedikit membantu bahwa ia akan menyesal karena telah memilih untuk mengabaikanmu yang memiliki wajah secantik ini," tutur Arumi.


"Ku harap juga seperti itu," batin Elena. Gadis itu menarik kedua sudut bibirnya, membentuk sebuah lengkungan.


.....


Di waktu yang bersamaan, Samuel telah berada di depan gedung, dimana Elena akan melangsungkan pernikahannya.


Tak lama kemudian, ia merasa ponselnya bergetar. Samuel pun langsung merogoh ke dalam saku jasnya. Ia melihat sebuah pesan dari Arumi.


Saat Samuel membuka pesan tersebut, ia cukup terkejut melihat foto yang dikirimkan oleh Arumi. Wanita yang bersama Arumi membuatnya terpukau.


"Cantik!"


Tanpa sadar, Samuel berucap demikian. Pria itu cukup lama menatap wajah Elena yang ada di foto tersebut.


Setelah puas memandang foto itu, Samuel kembali menyimpan ponselnya ke tempat semula. Pria itu melangkahkan kakinya, memilih pergi dari tempat tersebut dan mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam.


"Jika aku masuk saat ini juga, aku bisa saja membuat kesalahan besar, menculik mempelai wanita dan membawanya kabur bersamaku. Maka dari itu, aku lebih memilih untuk tidak terlihat, karena aku takut pesta mu akan kacau karena ulahku," lanjut Samuel.


Bersambung ....