Pria 500 Juta

Pria 500 Juta
Bab 15. Dia Berselingkuh?


"Totalnya seratus tiga puluh tujuh ribu rupiah," ujar Fahri.


Arumi tak menggubris ucapan Fahri. Ia sibuk menatap lekat pria itu.


"Maukah kamu menjadikanku istri ke dua?"


Fahri tertegun melihat gadis yang ada di hadapannya sedari tadi menatap dirinya dengan begitu lekat. "Mbak?" Fahri melambaikan tangannya tepat di hadapan Arumi beberapa kali. Hingga membuat gadis itu tersadar dari lamunannya.


"Ah iya. Totalnya berapa?" tanya Arumi.


"Seratus tiga puluh tujuh rupiah." Fahri mengulangi ucapannya tadi.


Arumi pun langsung memberikan uang cash. Ia kembali memandangi wajah Fahri saat pria itu tengah menghitung uang kembalian Arumi.


"Bahkan aku sempat berpikir untuk dijadikan yang kedua. Aku benar-benar tidak waras!" rutuk Arumi dalam hatinya. Ucapan untuk menjadi yang kedua hanyalah ada dalam angannya. Ia belum memiliki keberanian untuk hal itu. Di tambah lagi Fahri yang sepertinya menutup diri untuk orang lain.


"Terima kasih," ujar Fahri yang langsung memberikan uang kembalian itu pada Arumi sekaligus nota belanjaannya.


"Tidak sekalian catat nomor teleponnya, Mas?" Arumi mencoba untuk mendekatkan diri pada Fahri dengan memberikan sedikit gurauan.


Fahri tersenyum lalu kemudian menggelengkan kepalanya dengan pelan. "Maaf, tapi saya adalah pria yang sudah beristri," jelas Fahri.


"Ah iya, saya hanya bercanda, Mas. Tidak usah dianggap serius," ujar Arumi seraya tertawa renyah. Meskipun ia sudah tahu bahwa Fahri adalah pria yang beristri, akan tetapi Arumi masih merasakan sakitnya. Secara tidak langsung, gadis itu sudah ditolak oleh pria yang ada di hadapannya.


Fahri kembali melebarkan senyumnya saat mendengar penuturan dari Arumi.


"Tidak! Jangan tersenyum seperti itu. Nanti saya terkena diabetes," sergah Arumi.


"Bagus Arumi, tetaplah seperti ini. Tetaplah percaya diri walaupun itu sedikit memalukan. Setidaknya ia usaha pendekatan terlebih dahulu, baru mengambil hatinya," batin Arumi yang mengatai dirinya sendiri.


Saat Fahri masih menyunggingkan senyumnya. Arumi langsung membawa belanjaannya dan berjalan keluar dari toserba tersebut. Ia segera masuk ke dalam mobilnya, lalu meletakkan plastik belanjaannya ke kursi penumpang.


"Apa aku sudah gila? Bagaimana bisa aku begitu nekat untuk mendapatkan pria itu?" ujar Arumi seraya memukul setir mobilnya.


Drrrttt ....


Ponsel Arumi bergetar. Ia mengeluarkan ponsel tersebut dari dalam tas jinjingnya. Gadis itu melihat nama Samuel yang tertera di layar ponsel tersebut.


"Ada apa?" tanya Arumi dengan malas menerima panggilan itu.


"Baby, dimana kamu? Apakah kamu melupakan aku? Ini sudah malam hari dan kamu masih juga belum kembali," oceh Samuel dari seberang telepon.


"Jika kamu mau pulang, pulang saja sana!" ketus Arumi.


"Baiklah, aku akan pulang karena aku merasa sudah tak dibutuhkan,"


Arumi menghela napasnya panjang. Ia tahu jika Samuel memang pandai dalam memainkan perannya. Membuat Arumi merasa tak enak hati pada pria itu.


"Bukan begitu maksudku. Kamu sangat aku butuhkan. Bisakah untuk berhenti merajuk seperti itu," jelas Arumi yang mencoba membujuk Samuel.


"Bisa, tapi besok kamu harus mentraktirku makan di restoran mewah."


Arumi memutar bola matanya dengan malas. "Kamu memang pandai menghabiskan uangku," keluh Arumi, lalu kemudian ia pun mematikan sambungan teleponnya.


Arumi menghidupkan mesin mobilnya, lalu kemudian melajukan kendaraan roda empat tersebut menuju ke jalanan.


Saat mobil Arumi melaju, Fahri sempat melirik ke arah Arumi sejenak. Hingga Fahri kembali mengalihkan pandangannya saat salah satu pelanggan yang ada di toserba tersebut menanyakan sesuatu yang hendak ia beli akan tetapi tidak dapat menemukannya. Pria itu meninggalkan meja kasirnya sejenak untuk mencarikan barang yang dibutuhkan oleh pelanggan.


Keesokan harinya, Arumi menepati ucapannya. Malam ini ia tengah berada dalam perjalanan, mengajak Samuel ke salah satu restoran mewah hanya untuk mentraktir pria itu, karena sebelumnya Arumi sudah berjanji pada Samuel.


Samuel mengemudikan mobil Arumi. Pria itu pun memberhentikan kendaraan tersebut tepat di depan sebuah restoran mewah yang ada di kota itu.


"Kita sudah sampai," ujar Samuel melepaskan sabuk pengaman yang melilit tubuhnya.


"Apa kamu merasa senang?!" gerutu Arumi sedikit meninggikan suaranya.


"Tentu saja, Princess. Aku sangat senang karena kamu mengabulkan permintaanku. Lain kali buatlah aku kesal lagi, supaya aku mendapatkan traktiran lagi dan lagi," ujar Samuel terkekeh.


Arumi mendecak kesal. Gadis itu memilih untuk segera keluar dari mobilnya dari pada mendengarkan ocehan Samuel yang cukup membosankan.


Keduanya berjalan beriringan memasuki restoran tersebut. Samuel bersikap manis, ia bahkan menarikkan kursi untuk Arumi seraya mengulas senyum.


"Terima kasih karena telah bermurah hati," ujar Arumi seraya menjatuhkan bokongnya.


"Sama-sama," timpal Samuel sembari mengerlingkan matanya.


"Ck, yang benar saja!" gerutu Arumi melihat tingkah pria yang ada di hadapannya itu dengan sedikit geli.


Salah seorang pelayan resto membawakan daftar menu. Baik Arumi maupun Samuel memilah menu yang ada dalam daftar tersebut. Mereka pun menyebutkan pesanannya, sang pelayan mencatat pesanan keduanya lalu kemudian berjalan menuju ke dapur untuk menyiapkan pesanan tersebut.


Samuel mengedarkan pandangannya. Ia melihat pria yang beberapa hari ini dicarinya berada di tempat itu juga. Namun, Samuel tertegun saat melihat sosok wanita yang sedang bersama dengan pria tersebut.


"Apakah dia berselingkuh?" gumam Samuel.


Arumi yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya, tiba-tiba memperhatikan Samuel saat mendengar kalimat yang lolos begitu saja di bibir pria itu. Arumi mengarahkan pandangannya, sejurus dengan pandangan Samuel yang menatap sedikit heran.


Gadis itu mengernyitkan keningnya. Ia melihat dengan mata dan kepalanya sendiri bahwa seorang wanita yang telah bersuami saling menggenggam tangan serta tertawa bahagia bersama dengan pria lain.


"Bukankah dia adalah istri pria toserba itu?" tanya Samuel pada Arumi. Namun, gadis itu tak menimpali ucapan Samuel. Ia masih sibuk memperhatikan Sifa yang tengah tersenyum menatap Aldo dengan penuh cinta. Sesekali Aldo mengecup punggung tangan Sifa, layaknya sepasang kekasih yang memang saling mencintai.


Arumi melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Waktu saat itu tengah menunjukkan pukul 8 malam, yang berarti saat itu juga Fahri tengah bekerja di toserba, memeras keringat hanya untuk menafkahi istrinya.


"Bagaimana bisa dia melakukan ini semua? Bukankah wanita itu sudah memiliki seorang pria yang luar biasa?" lirih Arumi yang masih memperhatikan keduanya.


Tak lama kemudian, seorang pelayan membawa nampan yang berisi pesanan Arumi dan Samuel. Gadis itu pun mengarahkan pandangannya pada makanan yang ada di atas meja.


Samuel mengambil garpu dan pisau kecil untuk memotong daging yang ada di hadapannya. Ia tampak menikmati makanan tersebut.


Sementara Arumi, ia terlihat tak berselera. Gadis itu sedari tadi hanya memandangi makanannya tanpa menyentuhnya sedikit pun.


"Ada apa? Kenapa kamu tidak makan?" tanya Samuel.


Arumi tetap diam. Namun, tak lama kemudian ia mengambil kartu kredit yang ada di dompetnya, lalu menyerahkannya pada Samuel.


"Ini untuk membayar makanannya nanti. Bukankah kamu sudah tahu pin nya?"


Samuel mengangguk pelan. "Kamu mau kemana?" tanya Samuel yang melihat Arumi langsung beranjak dari kursinya.


"Aku memiliki urusan mendadak," ujar Arumi yang langsung berjalan keluar dari ruangan itu.


Bersambung ...