
Aldo keluar dari mobilnya. Lalu kemudian pria tersebut berdiri tepat di hadapan kekasihnya. Dan menarik tengkuk Sifa, memagut bibir manis milik wanita tersebut dengan cukup lama.
Tanpa keduanya sadari, ada sepasang mata yang tengah memandang perbuatan tak senonoh itu. Namun, sepasang mata itu bukan memancarkan sebuah kemarahan, melainkan rasa tak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat.
Ia masih mengintip di balik pohon yang ada di tempat tersebut. Sifa tampak tersenyum bahagia, gadis itu melambaikan tangannya seraya melihat mobil Aldo yang mulai berjalan meninggalkan tempat itu.
Saat ini Sifa berjalan dengan bersenandung kecil. Tiba-tiba ia merasakan ada suara langkah kaki yang sedang mendekatinya. Wanita itu langsung menoleh ke belakang. Ia pun mengelus dadanya karena cukup terkejut melihat seseorang yang ada di belakangnya.
"Ibu membuatku terkejut saja," keluh Sifa.
Wanita paruh baya itu terkekeh. Lalu kemudian berjalan lebih dekat pada sang anak.
"Kamu dan Aldo ...."
"Maaf, Bu. Tapi aku benar-benar menyukainya, cetus Sifa.
PLAKKK ...
Wanita paruh baya itu langsung memukul lengan sofa seraya mengembangkan senyumnya. "Dasar anak bodoh! Ibu lebih mendukung kamu bersama pria itu dari pada kamu mempertahankan suamimu yang payah itu!" ujar Kartika, ibunya Sifa.
"Ayo! Sekarang kita masuk dulu dan ceritakan semuanya secara rinci dengan ibu," sambungnya.
Kedua wanita itu pun berjalan masuk menuju ke huniannya. Sifa merasa lega, karena sang ibu yang mendukungnya tanpa melarang dirinya berhubungan dengan Aldo.
Mereka telah masuk ke dalam apartemen. Kartika langsung membawa Sifa menuju ke kursi yang ada di ruang tengah. Hendak mendengarkan penjelasan yang lebih dari sang anak.
Kartika menjatuhkan bokongnya di sofa ruang tengah, diikuti oleh Sifa yang juga melakukan hal yang sama dengan sang ibu.
"Ayo! Bicaralah! Mama ingin mendengarkan cerita kamu secara rinci. Bagaimana awal kamu bertemu dengannya dan kembali menjalin hubungan?"tanya Kartika.
"Ya ... sewaktu itu dia mengirimkan pesan padaku untuk mengajak bertemu. Aku menyetujuinya dan kami bertemu. Dari situ, kami memutuskan untuk kembali menjalin hubungan. Dia dapat menerimaku kembali walaupun aku sudah memiliki seorang suami," papar Sifa dengan panjang lebar.
"Ibu melihat di depan tadi, kalian sedang ...." Kartika memperagakan orang yang tengah berciuman menggunakan tangannya.
Melihat hal itu, Sifa langsung membelalakan matanya. Wajahnya bersemu, ia sangat malu karena kedapatan langsung oleh orang tuanya sendiri.
"Lantas, kalian sudah sebatas mana saja?" selidik Kartika.
Sifa mulai bingung, ia tidak mungkin menjelaskannya secara rinci pada sang ibu bahwa mereka sudah sampai tahap saling memuaskan di ranjang.
"Anu ...." Sifa gugup. Ia takut jika ibunya marah karena ulahnya.
"Katakanlah!!" desak Kartika.
"Tapi ibu jangan memarahiku," cicit Sifa.
"Baiklah. Aku tidak akan marah padamu. Sekarang katakanlah!!"
"Kami sudah melakukannya," ujar Sifa sedikit ragu.
Kartika bukannya marah. Matanya justru berbinar mendengar ucapan anak gadisnya itu. "Kamu sangat bodoh! Mustahil jika ibu marah karena kalian telah melakukan hal itu. Bukankah sudah ibu katakan, bahwa ibu mendukungmu bersama dengan Aldo. Ibu sangat tidak sabar, hendak menjadikan Aldo menantuku," ucap Kartika.
"Apakah suamimu sudah mengetahuinya?" tanya Kartika lagi.
Sifa pun menggelengkan kepalanya dengan pelan. "Ck, kalau begitu kamu harus minum dulu obat penunda kehamilan itu, supaya apa yang kalian lakukan sebelumnya tidak langsung menjadi janin..Dan satu lagi, ada baiknya jika kamu berhenti mempertahankan suamimu itu. Ibu sangat tidak menyukainya!" ketus Kartika sembari melipat kedua tangannya ke depan
"Tunggu saja, Bu. Aku masih mempertahankannya bukan karena cinta, melainkan ada hal yang harus ia lakukan sebelum kami benar-benar berpisah," gumam Sifa.
....
Saat di perjalanan, ia mendengar suara nyaring seperti seruling. Pria itu dapat menebaknya, jika suara tersebut adalah suara yang dihasilkan oleh penjual putu yang tengah berkeliling sembari mendorong gerobaknya.
Melihat penjual putu tersebut, membuat Fahri teringat akan sang istri di rumah. Wanita itu sangat menyukai jajanan tersebut.
Fahri meraba sakunya. Ia mengambil selembar uang yang didapatnya saat bekerja tadi. Fahri sangat bersyukur bahwa bosnya di toserba mau menggaji dirinya perhari. Setidaknya pria itu memiliki pegangan walaupun jumlahnya tak cukup banyak.
"Kue!! Beli Bang!!" seru Fahri seraya berlarian kecil untuk menghampiri gerobak penjual kue tersebut.
"Berapa, Den?" tanya penjual tersebut setelah Fahri datang menghampirinya.
"Dua puluh ribu, Bang."
Sang penjual pun langsung mewadahi pesanan Fahri. Aroma wangi dari daun pandan serta parutan kelapa muda, tercium begitu menyengat di indera penciuman pria tersebut.
Setelah pesanannya selesai, Fahri pun langsung membayarnya. "Terima kasih," ujar penjual tersebut seraya memberikan uang kembalian.
"Sama-sama, Bang."
Fahri berjalan, melangkahkan kakinya kembali menuju ke rumahnya dengan membawa kue putu yang ada di tangannya. Pria itu mengulas senyum, karena sang istri akan sangat senang jika dibawakan kue ini. Kue putu adalah makanan kesukaan Sifa. Seketika rasa lelah Fahri menguap begitu saja saat mengingat wajah sang istri.
Cukup lama ia berjalan menyusuri gelapnya malam di ibukota, Fahri pun akhirnya tiba di apartemennya. Ia memasukkan kode akses masuk. Setelah pintu terbuka, ia melihat dua pasang sandal wanita yang berserakan di sana. Fahri sudah bisa menebak, bahwa sepasang dari sandal tersebut adalah milik mertuanya.
Pria itu mengambil sandal yang berserakan tadi, lalu kemudian menyusunnya di rak yang ada di sana. Fahri melangkah masuk, ia membuka pintu kamarnya. Matanya melihat Sifa yang tengah tertidur sembari memeluk ibunya.
Fahri melihat kembali kue putu yang ia bawa. "Nanti saja. Ia akan memakannya setelah terbangun," gumam pria itu.
Ia pun dengan berhati-hati, berjalan menuju ke lemari pakaiannya. Mengambil baju yang hendak di kenakannya, lalu kemudian melangkah menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelahnya, Fahri berjalan keluar dari kamar tersebut. Merebahkan dirinya di sofa yang ada di ruang tengah. Memejamkan mata, larut dalam alam bawah sadarnya.
....
Keesokan harinya, Fahri merasakan tubuhnya diguncang. Ia pun bangun daei tidurnya. Saat membuka mata, ia melihat wajah cantik istrinya tengah menyapa paginya.
"Sayang, ...." Fahri menarik Sifa hingga tubuh wanita tersebut terjembab di atasnya. Fahri hendak mendaratkan sebuah ciuman di bibir tipis nan merah sang istri, akan tetapi Sifa langsung memalingkan wajahnya.
"Aku sudah siap berangkat bekerja. Jangan merusak riasanku, Mas." Sifa berdalih. Wanita tersebut langsung bangkit dari posisinya.
"Bangunlah! Hari sudah siang," lanjut Sifa yang kemudian meninggalkan Fahri begitu saja.
"Bagaimana hidup kalian berkecukupan kalau kamu punya suami yang sangat malas."
Fahri dapat mendengar ocehan dari sang mertua yang mengkritik bahwa dirinya adalah seorang pria yang malas. Ia pun bangkit dari tidurnya. Lalu kemudian menuju ke dapur untuk mengambil segelas air minum.
Saat tengah menuangkan air minum, Fahri melihat makanan yang ia beli semalam sudah tak ada lagi di atas meja. "Apakah Sifa sudah memakannya hingga habis?" gumam Fahri.
Setelah menenggak air minumnya, Fahri meletakkan gelas di wastafel. Namun, matanya menangkap plastik yang berisi kue putu dibelinya semalam sudah berada di kotak sampah.
Pria tersebut memaksakan dirinya untuk tetap tersenyum meskipun jauh dari lubuk hatinya, ia memendam kekecewaan.
"Mungkin karena sudah terlalu lama, hingga rasanya sudah tidak enak. Wajar jika dia membuangnya," gumam Fahri.
Bersambung ...