
TOKKK ... TOKKK ...
Suara ketukan pintu terdengar. Sifa yang tengah berbaring sembari memainkan ponselnya pun langsung beranjak, membuka pintu kamarnya.
"Ada apa?" tanya Sifa membuka pintu tersebut. Bertanya kepada pelayan yang bekerja di rumah itu.
"Anu ... Nyonya. Ada Bu Kartika menunggu nyonya di ruang tengah," jelas pelayan tersebut.
"Baiklah," ucap Sifa yang kemudian keluar dari kamarnya.
Wanita itu pun bergegas menuju ke bawah untuk menemui ibunya. Dilihatnya Kartika yang saat itu tengah duduk di sofa sembari melihat-lihat isi rumah tersebut.
"Ibu, ..." Sifa berjalan menghampiri ibunya.
Kartika tersenyum menatap anaknya. Putrinya itu langsung duduk di sebelahnya.
"Dimana suamimu?" tanya Kartika.
"Tadi dia pergi ke luar karena ada urusan," jelas Sifa.
Kartika mengeluarkan sesuatu yang ada di dalam tasnya. Lalu kemudian mengambil telapak tangan Sifa, dan meletakkan benda tersebut tepat di atas telapak tangan putrinya.
"Ini yang kamu minta kemarin. Barangnya sudah jadi," ujar Kartika.
Sifa pun menatap kunci serap yang dibuatkan oleh Kartika. Matanya berbinar lalu kemudian mengulas senyumnya. "Terima kasih, Bu."
Kartika hanya menimpalinya dengan sebuah anggukan pelan. "Kalau begitu, ibu pulang dulu," ujar Kartika yang langsung beranjak dari tempat duduknya.
"Kenapa cepat sekali Bu?" tanya Sifa.
"Ibu mau kumpulan dulu. Biasa ... arisan," ujar Kartika sembari mengerlingkan matanya.
Sifa hanya menggeleng-gelengkan kepalanya pelan. Ia pun mengantar kepergian ibunya sampai di depan, dan menunggu Kartika hingga benar-benar pergi menggunakan taksi.
Setelah Kartika pergi, Sifa pun hendak kembali melangkah masuk ke dalam rumah. Namun, pandangannya tertuju pada gudang rahasia yang ada di halaman belakang, jika dari depan gudang itu juga tampak terlihat.
Sifa pun mengedarkan pandangannya sejenak. Melihat sekeliling di sana yang tampak sepi. Pelayan di rumah itu sepertinya sedang sibuk membersihkan rumah. Sementara Aldo juga sedang tidak ada di rumah.
Sifa melihat kunci yang ada di genggamannya. Ia pun tak ingin melewatkan kesempatan tersebut. Wanita itu langsung berjalan menuju ke gudang rahasia dengan sesekali memeriksa jika ada orang yang melihatnya.
Hingga akhirnya, Sifa berada tepat di depan pintu gudang. Wanita itu pun langsung memasukkan kunci yang diberikan oleh Kartika tadi dan ...
Ceklekk ...
Sifa tersenyum karena ia telah berhasil membuka pintu tersebut. Sifa kembali melancarkan aksinya, melihat sekeliling sebelum ia benar-benar masuk ke dalam ruangan itu.
Sifa masuk ke dalam ruangan tersebut, ia melihat-lihatnya beberapa kardus berukuran sedang yang tersusun rapi.
"Gudang ini seperti gudang penyimpanan. Banyak kardus yang masih terisi, dan juga kardus yang sudah bekas," ucap Sifa melihat tumpukan kardus bekas yang ada di ruangan tersebut.
Semua kardus yang ada di dalam sana memiliki merk yang sama. Sifa merasa penasaran, sebenarnya apa yang dirahasiakan oleh suaminya hingga ia tak diperbolehkan untuk masuk di ruangan ini.
Sifa mengambil salah satu kardus yang ada di susunan. Wanita itu pun duduk di salah satu kursi yang ada di sana, membuka kardus yang baru saja ia ambil tadi.
"Apa ini? Kenapa isinya hanya sampah-sampah kertas," gumam Sifa.
Sifa pun menumpahkan semua yang ada di dalam kardus tersebut. Hingga ada bungkusan dengan plastik bening berukuran sekitar sejengkal yang tiba-tiba jatuh ke lantai.
Sifa tertegun, wanita itu pun mengambil plastik bening yang berisi serbuk putih tersebut. Seketika tangan Sifa bergetar, menyadari apa yang saat ini ia pegang.
Sifa spontan langsung mengucilkan benda tersebut. Ia mulai bergidik ketakutan, sembari menggigit kuku jarinya.
"Jadi selama ini ... yang dibisniskan oleh Aldo adalah narkoba?" gumam Sifa dengan tubuh yang bergetar.
Sifa terlalu sibuk menatap benda yang ada di hadapannya dengan tubuh gemetaran, tanpa ia sadari ada sosok yang ada di belakangnya, sedari tadi memperhatikan wanita itu.
"Apa yang kamu lakukan!" ujar suara berat dari arah belakang.
Tubuh Sifa kembali bergetar hebat, ia pun perlahan menolehkan kepalanya. Melihat Aldo yang sudah berdiri di belakangnya sembari menatap Sifa dengan tatapan yang penuh amarah.
"A-aldo, ..." Suara Sifa tampak bergetar, wajahnya menjadi pucat saat kedapatan oleh Aldo bahwa dirinya masuk ke tempat ini secara diam-diam.
"Ku tanya sekali lagi. Apa yang kamu lakukan di sini!!" pria itu membentak Sifa.
Sifa semakin ketakutan. Ia benar-benar panik, tak tahu harus menghadapi sikap suaminya yang kembali kasar. Kilatan kemarahan di mata Aldo terlihat jelas, bak api yang akan menyambar kapan saja.
"Jawab!!" bentaknya lagi.
"A-aku ha-hanya ingin tahu tentang ruangan ini," ujar Sifa terbata-bata.
"Kamu ingin tahu? Baiklah. Aku akan memenuhi rasa keingintahuan mu itu," ucap Aldo.
Pria tersebut langsung melangkah menuju ke arah pintu. Lalu kemudian menutup pintu tersebut dan hendak menutupnya
Sifa menggelengkan kepalanya. Wanita itu pun langsung berlari ke arah Aldo, mencoba untuk mencegah Aldo agar tak mengunci pintu tersebut.
Aldo yang kala itu sedang risau dan bergegas ke gudang untuk menenangkan pikirannya, justru menemukan sang istri yang diam-diam masuk ke dalam gudang tersebut, dan hal itu semakin membuat Aldo pusing.
Aldo langsung membuka kembali pintu tersebut, akan tetapi ia mengurung dirinya bersama dengan sang istri di dalam gudang.
Aldo menarik paksa sang istri, mendudukkan Sifa di kursi. Ia mengambil tali yang tak jauh dari kursi tersebut, lalu kemudian mengikat tangan dan kaki Sifa agar tidak kemana-mana. Ia juga menyumpal mulut istrinya yang sedari tadi meraung-raung untuk meminta pertolongan kepada pelayan yang bekerja di rumah Aldo.
"Kamu telah membuatku seperti ini. Dan sekarang, nikmati saja rasa keingintahuan mu," ketus Aldo.
Ia berjalan menjauh dari Sifa. Mengambil benda terlarang yang sempat dibuka oleh Sifa tadi. Pria itu pun mencoba untuk menenangkan pikirannya, dengan menggunakan obat terlarang itu.
Air mata Sifa semakin mengucur deras. Kini ia bisa melihat apa yang mempengaruhi pikiran suaminya. Dan Sifa pun sadar, bahwa mantan suaminya itu berkali-kali lipat lebih baik dari pada suaminya saat ini.
Di dalam benaknya, Sifa menjerit. Ia benar-benar menyesal karena telah mencampakkan pria baik seperti Fahri hanya untuk monster yang satu ini.
Uang yang tiada henti, yang selalu memenuhi kebutuhannya adalah hasil penjualan narkoba, yang suatu saat kehidupannya yang makmur ini bisa saja tumbang seketika saat polisi telah menangkap suaminya.
"Ibu, ... tolong bantu aku, Bu. Aku tidak ingin berada di sini. Aku ingin pulang, Bu. Aku menyesal karena lebih memilih pria ini dari pada Fahri. Aku sangat menyesal, Bu!" jerit Sifa di dalam hati.
Bersambung ...