Pria 500 Juta

Pria 500 Juta
Bab 66. Permohonan


Indra tengah berada sendirian di kamarnya. Pria tersebut tengah menikmati segelas wine yang ada di hadapannya.


"Pengantin prianya adalah karyawan payah itu? Ck, yang benar saja!" ketus Indra yang kemudian menenggak minuman di dalam gelasnya hingga tandas.


Tak lama kemudian, ponsel Indra berdering. Pria tersebut langsung meraih ponselnya untuk mengangkat panggilan tersebut.


"Hei kamu, dasar sialan!! Kapan kamu akan mengirimkan barangnya? Uangnya sudah aku transfer dari kemarin!" cecar Indra pada seseorang yang ada di seberang telepon.


Indra menumpahkan semua kekesalannya pada orang tersebut. Yang tidak bersalah pun juga kena imbas darinya.


"Malam ini, salah satu anak buahku akan menuju ke sana."


Indra langsung memutuskan panggilan teleponnya setelah mendengar kalimat tersebut. Hanya barang itu yang Indra butuhkan untuk menenangkan pikirannya yang sedang kacau seperti saat ini.


Baru saja ia hendak meletakkan ponselnya, tiba-tiba benda pipih itu kembali berdering. Indra melihat layar tersebut, tertera nomor baru di sana. Ia pun langsung mengangkat panggilan itu.


"Mas, ini aku!"


Indra langsung mengernyitkan keningnya saat mendengar suara itu. Ia sangat hapal betul siapa pemilik suara tersebut. Wanita itu adalah sekretarisnya dulu, yang pernah ia gauli.


"Sudah ku katakan untuk tidak menghubungiku lagi!" ketus Indra.


"Mas, aku hamil."


"Apa?" Indra tercengang saat mendengar ucapan dari wanita yang ada di seberang telepon.


"Iya. Aku hamil."


Indra tertawa keras sembari memegangi perutnya. "Apakah kamu yakin itu adalah anakku? Jessi, sebaiknya kamu berhenti untuk menghubungiku lagi. Mau kamu hamil, ataupun mati aku tak peduli!!"


Setelah mengucapkan sumpah serapah tersebut, Indra langsung memutuskan panggilan teleponnya. Pria itu membanting ponselnya ke lantai hingga benda pipih tersebut hancur dan terdapat beberapa serpihan kecil dari pecahan layarnya.


"Semua wanita memang tidak ada yang waras. Semua menyebalkan!" geram Indra mengacak rambutnya dengan kasar.


...****************...


Di kamar, Arumi tak bisa tertidur. Gadis itu bak anak remaja yang baru mengenal cinta. Hatinya sangat berbunga-bunga mendapatkan hadiah kecil dari sang suami.


Arumi memilih untuk berjalan menuju ke dapur. Menyeduh segelas coklat hangat untuk menemani malamnya. Terdengar suara langkah yang juga menuruni anak tangga, Arumi pun langsung mengarahkan pandangannya ke sumber suara. Ia melihat Fahri yang baru saja menuruni anak tangga dan menuju ke dapur.


"Kamu belum tidur?" tanya Fahri saat menyadari keberadaan Arumi di sana.


"Iya. Aku sering insomnia jika dimalam hari," timpal Arumi sembari mengaduk minumannya menggunakan sendok teh.


"Kamu juga tidak bisa tidur?" Arumi balik bertanya pada suaminya.


"Iya. Mungkin karena aku terbiasa masuk malam saat bekerja, jadi untuk jam sekarang ini, mataku masih enggan untuk terpejam," sahut Fahri.


Keduanya terdiam cukup lama. Fahri seperti kebingungan hendak melakukan apa dan apa tujuan dirinya untuk pergi ke dapur.


"Mau minum apa? Biar aku buatkan untukmu," tawar Arumi.


"Tidak usah. Biar aku sendiri saja," tolak Fahri yang merasa tidak enak pada istrinya itu.


"Jangan sungkan! Sudah menjadi tugasku sebagai seorang istri melakukan hal ini," ujar Arumi.


Setelah berkata demikian, Arumi pun terdiam karena merasa malu. Sementara Fahri, pria itu hanya mengusap tengkuknya tanpa berucap apapun.


"Kalau begitu, aku buatkan coklat panas saja. Kamu mau?" tanya Arumi.


"I-iya," timpal Fahri dengan sedikit gugup.


Fahri memperhatikan Arumi. Kali ini piyama yang dikenakan oleh gadis itu tampak tertutup. Tak lama kemudian, Arumi pun memberikan secangkir coklat hangat tersebut pada suaminya.


"Terima kasih," ucap Fahri seraya meraih gelas tersebut.


"Bagaimana jika kita duduk di sana saja," tunjuk Arumi yang mengajak Fahri masuk ke area kolam renang.


"Baiklah."


Keduanya pun melangkahkan kaki pergi dari dapur. Mereka menepati kursi santai yang ada di kolam renang tersebut.


Arumi menengadahkan kepalanya, menatap langit malam yang dipenuhi oleh bintang-bintang. "Malam ini bintangnya sangat banyak," ujar Arumi.


Arumi mencoba menghitung bintang tersebut seraya menunjuknya satu persatu. "Satu ... dua ... tiga ... Ah, jumlahnya tidak terhitung lagi," sambung gadis itu.


"Aku sering kali membuat permohonan saat bintang jatuh. Apakah kamu juga pernah melakukanya?" tanya Arumi yang langsung melemparkan pandangannya pada Fahri.


Fahri tersenyum lalu kemudian menggelengkan kepalanya. "Aku pernah melakukannya, tapi itu dulu. Dan mulai saat ini, aku tidak ingin membuat permohonan lagi," tutur Fahri.


"Apalagi itu harus berharap pada sesuatu yang akhirnya tak dapat terwujud. Berharap pada manusia, itu sangat menyakitkan," lanjut Fahri.


Arumi menganggukkan kepalanya, mencoba untuk memahami ucapan dari suaminya. "Tapi tidak denganku. Bahkan hingga saat ini, kamu masih bagian dari permohonan ku. Aku berharap, suatu saat nanti kamu bisa melihatku seperti kamu melihatnya. Kamu bisa mencintaiku seperti kamu mencintainya dulu," batin Arumi.


Arumi menyesap coklat hangatnya. Menikmati malam itu bersama dengan Fahri, pria yang selalu ia harapkan akan membalas cintanya kelak.


"Besok, kamu yang mengajariku mengemudi?" tanya Fahri yang mencoba untuk membuka obrolan lagi.


"Iya. Lagi pula dalam satu Minggu ini, aku memilih untuk bersantai sejenak sebelum kembali bergelut dengan urusan kantor," timpal Arumi.


"Nanti kita berangkat bersama. Aku akan mengajarimu beberapa hal," lanjut Arumi.


Fahri tersenyum, meraih gelasnya dan menyesap coklat hangat itu. "Apakah kamu tidak merasa malu menikah denganku? Aku jauh berbeda dibandingkan dirimu. Kamu punya segalanya, sedangkan aku tak punya apa-apa. Terkadang aku berpikir, jika memang pernikahan ini hanya untuk saling menguntungkan, kenapa kamu harus memilih aku yang menjadi suamimu?" ucap Fahri panjang lebar.


"Karena aku merasa bahwa kamu lah yang cocok. Aku tidak suka melihat kamu direndahkan," ujar Arumi. Ia mencoba untuk tak berkata jujur. Terlalu malu bagi Arumi untuk mengatakannya terlebih dahulu. Apalagi dia memilih Fahri melainkan karena gadis itu memang menyukainya.


"Tapi, apakah kamu mengingatku?" tanya Arumi lagi.


Fahri mengernyitkan keningnya. "Mengingatmu? Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Fahri.


"Ah tidak. Lupakan! Aku hanya asal bicara saja," kilah gadis itu.


Fahri mengangguk paham, pria itu menatap lurus ke depan. Keduanya terdiam, larut dalam pikiran masing-masing.


Tak lama kemudian, Arumi pun memilih untuk beranjak lebih dulu dari tempat duduknya. "Hari sudah larut malam, kebetulan aku juga sudah mengantuk," ujar gadis tersebut.


"Aku masih belum mengantuk. Kamu tidurlah lebih dulu," ucap Fahri.


Arumi tersenyum, laku kemudian ia membawa langkah kakinya untuk meninggalkan sang suami.


"Tunggu dulu!!" sergah Fahri.


Arumi spontan langsung menghentikan langkahnya, dan berbalik menatap pria yang ada di belakangnya.


"Jika kamu membutuhkan pertolongan atau sesuatu padaku, ku harap kamu juga tidak sungkan," ucap pria tersebut sembari mengusap tengkuknya.


Arumi tersenyum lalu kemudian mengangguk pelan.


"Kalau begitu ... selamat malam, semoga mimpi indah," lanjut Fahri.


"Kamu juga," timpal Arumi.


Ia pun kembali melanjutkan langkahnya yang tertunda. "Semoga ini adalah awal yang baik. Semoga Tuhan juga mengabulkan permintaanku," gumam Arumi.


Bersambung ....