Pria 500 Juta

Pria 500 Juta
Bab 101. Sandiwara Dewi


Sifa menjatuhkan bokongnya di sofa. Tekanan yang diberikan oleh Aldo, membuat dirinya sedikit kesusahan.


"Ada apa?" tanya Kartika menyadari putrinya yang terlihat menghela napas berulang kali.


"Ibu bisa lihat sendiri kan bagaimana sikap suamiku," ujar Sifa mendengkus kesal.


"Ada apa dengan Aldo? Ibu lihat dia adalah pria yang baik. Lagi pula, wajar jika Aldo marah. Ibu dengar kamu masih saja mengejar pria itu," ketus Kartika yang menyalahkan sikap putrinya sendiri.


Sifa memilih untuk diam. Ia tahu jika ibunya itu tentu saja lebih membela Aldo dari pada dirinya. Wanita itu pun teringat akan tujuannya kemari. Ia mengambil tas jinjing yang berada tak jauh darinya. Lalu kemudian mengeluarkan sabun batangan yang terdapat jiplakan bekas kunci gudang yang sempat ia ambil kemarin.


"Bu, aku minta tolong," ujar Sifa menyerahkan sabun tersebut pada Kartika.


"Apa ini?" tanya Kartika sembari meraih sabun yang ada di tangan putrinya.


"Aku menghilangkan kunci kamar peganganku. Bisakah ibu membantuku untuk membuatkan duplikatnya sesuai dengan yang tercetak di sini," ujar Sifa sembari menunjuk sabun yang di pegang oleh ibunya itu.


"Jika memang kunci mu benar-benar hilang, lantas bagaimana kamu mendapatkan jiplakan dari kunci kamarmu sendiri?" tanya Kartika penuh selidik.


"Itu ... karena aku diam-diam menjiplak kunci kamar yang dipegang oleh Aldo tanpa sepengetahuannya," ujar Sifa membuat alasan.


"Kenapa kamu tidak langsung katakan saja pada suamimu itu kalau kunci yang kamu pegang hilang."


"Bu ... Aldo akan marah jika tahu seperti itu. Tolong Bu, rahasiakan semuanya dari Aldo," ucap Sifa memelas.


" Ya sudah, nanti ibu akan pergi untuk menduplikat kuncimu," ujar Kartika yang langsung menyetujui ucapan ibunya.


Sifa pun tersenyum penuh arti. Beruntung ibunya itu mau diajak bekerja sama tanpa harus bertanya lebih jauh lagi.


.....


"Mas, sebaiknya kamu pergi ke kantor saja. Samuel sudah berhenti bekerja. Sekretaris yang baru masih belum bisa sepenuhnya mengurus semua urusan kantor," ujar Arumi baru saja meneguk obat yang dibawa oleh Fahri.


"Tapi kamu sedang sakit, Istriku. Aku seharusnya menjagamu di sini," bantah Fahri.


"Aku tidak apa-apa, Mas. Lagi pula di rumah ini ada bibi dan mama yang akan menjagaku. Jadi, kamu tenang saja," tutur Arumi.


Melihat Arumi yang kekeuh menyuruhnya untuk berangkat ke kantor, membuat Fahri mau tak mau menyetujui ucapan sang istri.


Fahri pun mengusap kepala Arumi sejenak, lalu kemudian bangkit dari sisi ranjang, berjalan menuju lemari pakaian untuk bergantian setelan ke kantor.


"Seandainya perut mu masih terasa mual juga dan kepalamu semakin pusing, segera hubungi aku. Aku akan langsung datang kemari dan kita pergi ke rumah sakit," ucap Fahri yang tampak sangat khawatir karena kondisi tubuh sang istri benar-benar lemas.


Arumi mengangguk pelan, bibir pucatnya membentuk sebuah senyuman manis. Ia menatap punggung lebar Fahri yang tengah mengenakan jas kantornya, berbalik mengancingkan jas tersebut.


Tak lama kemudian, Fahri pun sudah siap. Pria terlihat sangat tampan dengan setelan kantornya, serta rambut yang ditata dengan menggunakan pomade.


"Istriku, aku berangkat dulu. Jangan lupa yang aku katakan tadi. Jika kamu merasa semakin tidak enak badan, langsung kabari aku," tutur Fahri sembari mengecup kening sang istri dengan lembut.


"Iya, Mas. Hati-hati di jalan ya," ujar Arumi.


Fahri menganggukkan kepalanya. Pria itu pun keluar dari kamarnya. Fahri menuruni anak tangga, melihat mertuanya yang saat itu tengah menikmati sarapan di meja makan.


"Arumi kenapa?" tanya Dewi yang memang tidak tahu tentang anaknya saat ini.


"Arumi sedang tidak enak badan, Ma. Efek awal kehamilan. Sebentar lagi Mama akan menjadi nenek," jelas Fahri dengan mata yang berbinar.


"Uhuukk ...." Dewi langsung terbatuk-batuk saat mendengarkan kabar tersebut. Bukan apa-apa, baginya ini adalah sebuah petaka. Jika bayi yang dikandung oleh Arumi lahir, pupus sudah rencananya.


"Tidak bisa ... ini tidak boleh terjadi! Jika nanti bayi Arumi lahir, maka semua rencana ku gagal total. Aku harus mendapatkan dokumen penting perusahaan serta cap yang digunakan untuk pemindahan kekuasaan. Dengan begitu, aku bisa merebutnya tanpa harus menyingkirkan anak yang ada di dalam kandungan wanita itu," batin Dewi.


"Syukurlah. Mama ikut senang mendengarnya. Di mana Arumi? Masih di kamar?" tanya Dewi yang langsung menormalkan raut wajahnya, seolah ikut bahagia akan kehadiran sang cucu, padahal yang terjadi justru sebaliknya.


"Iya, Ma. Arumi ada di dalam kamar. Kalau begitu, Fahri berangkat dulu ya, Ma. Fahri titip Arumi," ucap pria tersebut.


"Iya, Nak. Kamu tenang saja, Arumi akan selalu aman bersama mama. Kamu hati-hati di jalan ya," ujar Dewi.


Fahri pun menganggukkan kepalanya, lalu kemudian berjalan ke luar rumah. Di luar, ia melihat beberapa asisten rumah tangga yang tengah menyapu dan menyirami bunga yang ada di halaman depan.


"Bi ... tolong rawat Arumi ya, nanti kalau ada apa-apa kabari saya secepatnya," titah Fahri.


"Baik, Tuan." pelayan itu menimpali majikannya dengan serentak.


Fahri pun langsung masuk ke dalam mobil. Melajukan kendaraan tersebut menuju jalanan.


Dewi melihat kepergian Fahri. Ia pun langsung naik ke atas, menuju kamar Arumi. Wanita itu mengetuk pintu kamar sejenak, lalu kemudian masuk ke dalam kamar putrinya.


Arumi yang ada di dalam kamar tersebut hanya melirik, tanpa mengatakan apapun. Dewi langsung menghampiri putrinya, dan duduk tepat di sisi ranjang.


"Sayang, apakah benar kabar yang dikatakan oleh suamimu tadi? Bahwa saat ini kamu sedang mengandung?" tanya Dewi sedikit berbasa-basi.


"Suamiku bukanlah pria yang suka menipu. Tentu saja apa yang dikatakan olehnya itu benar adanya," timpal Arumi yang terkesan dingin.


Entah mengapa, ucapan dari Arumi tadi membuat Dewi merasa sedikit tersinggung. Akan tetapi wanita paruh baya itu berusaha memainkan aktingnya, menjadi ibu yang baik dan bijaksana tanpa harus meladeni sang anak yang terkesan kurang menyukainya.


"Wah ... mama sangat senang! Berarti sebentar lagi Mama akan menimang seorang cucu," ujar Dewi sembari tersenyum palsu.


Arumi tak menggubris ucapan ibunya. Ia memilih memalingkan wajahnya.


"Ya sudah, kalau begitu kamu minum obatnya. Mama akan keluar dulu," lanjut Dewi yang kemudian beranjak dari tempat duduknya.


Wanita paruh baya itu melangkah pergi keluar, membelakangi Arumi dengan memutar kedua bola matanya.


"Apakah dia pikir aku senang? Tentu saja tidak! Adanya anak itu semakin membuatku kesusahan saja," batin Dewi.


Wanita itu menutup pintu kamar Arumi. Lalu kemudian menatap ke arah ruang kerja yang sangat di jaga oleh Arumi.


"Sebaiknya aku harus bergerak cepat dan mencari cara untuk menemukan dokumen penting itu," lirih Dewi.


Bersambung ...