Pria 500 Juta

Pria 500 Juta
Bab 25. Sikap Yang Manis


Tubuh Sifa bergetar saat mendengar ucapan Elena. Wanita itu tak main-main dengan ancamannya, bukan hanya gertakan semata.


"B-baiklah. Aku akan melunasinya. Beri aku waktu," ujar Sifa dengan bibir yang bergetar.


"Aku beri waktu kamu satu bulan," tukas Elena seraya menyimpan kembali ponselnya ke dalam tas.


"Hah? Sa-satu bulan?" tanya Sifa.


"Iya, satu bulan. Kenapa? Apa kamu merasa tidak menyanggupinya? Kalau begitu siap-siap saja aku akan mengirimkan ini semua ke suamimu," ujar Elena dengan santai.


"Ba-baiklah. Aku akan melunasi hutangku selama satu bulan. Tolong jangan beritahukan pada suamiku tentang foto yang kamu ambil itu," pinta Sifa memelas, menangkupkan kedua tangannya ke depan. Memohon agar Elena menuruti permintaannya.


"Selama kamu menepati janji, maka aku akan menepati janjiku juga," ujar Elena.


Elena maju selangkah lebih dekat pada Sifa. Ia menepis sedikit bahu Sifa seakan ada debu yang menempel di pakaian wanita tersebut.


"Semangat cari uangnya. Jangan lupa untuk segera melunasinya," lanjut Elena tersenyum licik. Wanita tersebut langsung pergi meninggalkan Sifa.


Sepeninggal Elena, Sifa langsung menghembuskan napasnya dengan kasar. Elena yang sedari tadi mengintimidasi dirinya, membuat Sifa kesulitan untuk bernapas.


Sifa mencoba menenangkan dirinya. Mencari cara bagaimana melunasi hutangnya beserta bunga dari hutang tersebut.


Wanita itu kembali menatap pantulan dirinya di cermin. Mencoba menormalkan ekspresinya seakan tak terjadi apapun. Karena bagaimana pun juga, saat ini Sifa berada di tempat kerja. Dan dia harus bersikap profesional.


....


Samuel keluar dari kantor dengan langkah yang gontai. Pernyataan Arumi beberapa waktu lalu cukup membuat hatinya teriris.


Pria itu menuju ke parkiran. Saat hendak ke sini, Samuel mengendarai sepeda motornya. Pria tersebut memakai helm, lalu kemudian menunggangi Kawasaki Z800 berwarna hitam tersebut.


Samuel menghidupkan mesin kendaraannya, lalu kemudian melajukan kendaraan roda dua tersebut menuju ke jalanan.


Saat di perjalanan, Samuel kembali mengingat percakapannya dengan Arumi tadi.


"*Apakah aku hanya pesuruh bagimu?"


"Iya. Apa kamu sudah puas dengan jawaban yang ku berikan*."


Untaian kalimat yang menjadi jawaban dari Arumi masih begitu terngiang di telinganya. Samuel mempercepat laju kendaraannya, seakan ingin lari dari kenyataan pahit itu.


Setelah cukup lama di perjalanan, kini Samuel berhenti tepat di depan pekarangan sebuah bangunan bertingkat dua. Pria itu turun dari motornya, lalu kemudian berjalan menuju pintu.


Samuel berulang kali memencet bel rumah tersebut. Tak lama kemudian, sosok pria berwajah datar membuka pintu tersebut.


"Ada perlu apa kamu kemari?" tanya Aldo tanpa berbasa-basi menyambut tamunya tanpa senyuman hangat.


"Setidaknya biarkan aku masuk terlebih dahulu. Apakah kamu sangat marah padaku hingga bersikap kasar seperti ini?" tanya Samuel.


Aldo mendecak. Lalu kemudian membuka pintu tersebut lebar-lebar. Membiarkan Samuel masuk ke dalam rumahnya.


"Rumahmu bagus. Padahal kamu tidak bekerja sama sekali," celetuk Samuel seraya menjatuhkan bokongnya di sofa.


"Sebaiknya katakan apa tujuanmu kemari dan setelah itu lekaslah pergi," ujar Aldo dengan sinis.


Samuel menatap Aldo. Mencoba tetap menyunggingkan senyumnya atas perilaku kasar yang ditunjukkan oleh pria tersebut.


Aldo tersenyum sinis. Pria itu berdecak kesal. Ia bangkit dari tempat duduknya, mengambil sesuatu dari dalam lemari, tempat penyimpanan mainan-mainan antik yang menjadi hobinya untuk mengoleksi benda tersebut. Lalu kemudian kembali ke tempat duduknya semula.


"Ini ...." Aldo sedikit melemparkan kunci mobil ke atas meja.


"Aku mengembalikan mobil wanita itu. Dan berhenti untuk mengusik kehidupanku," ketus Aldo.


Samuel menghembuskan napasnya dengan kasar. Pria itu mencoba menahan amarahnya yang sedikit meledak-ledak. Bagaimana pun juga, Samuel lebih tua daripada Aldo. Seharusnya pria itu bersikap sedikit sopan padanya, akan tetapi yang ditunjukkan oleh Aldo adalah kebalikannya.


"Jika kaku ingin mengembalikannya, silakan kembalikan pada pemiliknya langsung. Aku hanya ingin kamu tidak menuruti permintaan dari Arumi," ujar Samuel.


"Aku telah berniat mengembalikannya tadi pagi, tapi dia menolaknya. Meskipun dia tidak meminta hal itu dariku, aku tetap akan merebut Sifa dari suaminya. Tak peduli orang lain menganggap ku apa, karena aku mencintai Sifa."


BRAKKK ...


Amarah Samuel tak dapat terbendung lagi. Ia menatap Aldo dengan penuh emosi. Pria tersebut langsung beranjak dari tempat duduknya.


Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Samuel langsung keluar dari rumah Aldo. Baik Arumi ataupun Aldo memang sama-sama keras kepala. Keputusan keduanya sudah bulat dan tak dapat diganggu gugat.


Samuel pun sedikit mengegas motornya, sebelum melajukan kendaraannya. Suara bising yang cukup memekakkan telinga terdengar oleh Aldo. Namun, pria tersebut tak menanggapinya. Ia hanya tersenyum miring mendengar kekesalan Samuel.


...----------------...


Malam itu, Arumi tengah duduk di meja kerjanya sembari menikmati secangkir kopi. Gadis itu menatap layar laptopnya, melihat dokumen tentang Fahri yang dikirimkan oleh suruhannya tadi dalam bentuk pdf.


Mata Arumi terpaku membaca file tersebut. Ia terus menggulir layar laptopnya hingga halaman terakhir dokumen itu.


"Istrinya memiliki hutang? Ini menarik!" gumam Arumi.


Gadis itu meraih secangkir minuman yang mengandung kafein tersebut. Lalu kemudian menyesapnya dengan gerakan yang anggun. Ia menarik kedua sudut bibirnya setelah membaca semua isi dokumen itu.


"Istrinya bernama Sifa, sebelumnya memiliki hubungan dengan pria bernama Aldo. Dan setelah Sifa menikah dengan Fahri, Aldo kembali datang. Sifa meminjam uang dalam jumlah yang cukup besar, sedangkan Fahri bekerja dengan gaji yang tak seberapa. Mereka tinggal di apartemen, dan penghasilan Fahri tak sesuai dengan pengeluaran istrinya. Di tambah lagi wanita ini, berselingkuh dengan mantan kekasihnya," papar Arumi.


"Jika ku pikirkan secara matang, aku bisa saja dengan mudah masuk ke dalam kehidupan Fahri. Dan tentu saja melalui jalur istrinya. Pasti perempuan ini akan membujuk suaminya jika aku menawarkan sejumlah uang untuk membantu membayar hutang mereka?" lanjut gadis itu.


Arumi tertawa keras, lalu kemudian menutup mulutnya dengan satu tangan. "Sepertinya takdir memang berpihak padaku. Fahri, aku akan menyelamatkanmu dari wanita yang seharusnya tidak untuk diperjuangkan," gumamnya.


.....


Hari ini, Sifa memilih untuk tidak pergi ke luar bersama Aldo. Wanita itu menunggu kepulangan sang suami.


Sifa menatap jam yang tertera di layar ponselnya. Waktu telah menunjukkan pukul 23:30, yang berarti tak lama lagi Fahri akan tiba di rumah.


Wanita itu menunggu suaminya di ruang tengah. Ia tak mengalihkan pandangannya ke arah pintu. Tak sabar menunggu Fahri pulang dari bekerja dan meminta sang suami untuk mencari cara agar bisa melunasi hutangnya dengan Elena.


Tak lama kemudian, terdengar suara pintu terbuka. Dengan cepat Sifa bangkit dari tempat duduknya. Ia menyambut kedatangan Fahri dengan memperlihatkan senyum terbaiknya.


"Mas Fahri pasti sangat lelah," ujar Sifa yang langsung mengambil tas kerja yang dipegang Fahri.


Fahri tersentuh akan sikap yang ditunjukkan oleh sang istri. Sifa malam ini begitu perhatian padanya. Bahkan wanita itu dengan sigap mengambil tas kerjanya dan menyiapkan air hangat untuk Fahri mandi.


Sifa juga menyiapkan secangkir teh dan memasakkan mie instan untuk suaminya. Sikap Sifa malam ini benar-benar sangat manis, membuat Fahri begitu bersyukur dan berharap bahwa Sifa akan seperti ini selamanya. Ia tak sadar jika ada maksud tertentu dibalik sikap manis sang istri.


Bersambung...