Pria 500 Juta

Pria 500 Juta
Bab 86. Terlalu Positif


Malam pun berganti pagi. Arumi mendengar suara alarm dari ponselnya berbunyi. Perlahan, mata Arumi pun mengerjap. Sedikit memicing karena sinar yang masuk dari jendela kamarnya.


Gadis itu bangun, lalu kemudian meregangkan otot-ototnya. "Cepat sekali sudah pagi," gumamnya pelan.


Dengan mata yang sedikit terbuka, Arumi pun mencoba turun dari tempat tidurnya. Gadis itu menggaruk-garuk menggaruk-garuk kepalanya dan mulutnya terbuka lebar karena memguap. Namun, saat ia menatap ke arah pintu, matanya terbuka sempurna ketika melihat sosok pria tampan sudah mematung di bibir pintu.


"Selamat pagi," ujar Fahri sembari mengulas senyumnya. Pria itu bersandar di bibir pintu dengan tangan yang dilipat ke depan.


Arumi kembali merebahkan tubuhnya, menutupi wajahnya dengan selimut. "Bahaya! Ini sangat berbahaya. Dia melihat diriku seperti tadi. Menggaruk-garuk bak seekor monyet. Argghhh ... aku sangat malu," rutuk Arumi di balik selimut seraya memukul-mukul kepalanya dengan pelan.


"Ada apa? Mengapa kamu tiba-tiba bersembunyi seperti itu?" tanya Fahri mencoba menghampiri Arumi.


"Aku malu," cicit gadis itu dari balik selimutnya.


Fahri mengulum senyum. Berusaha menahan tawanya karena ucapan Arumi. "Kamu tetap cantik meskipun dengan rambut yang sedikit acak-acakan," ujar Fahri mencoba membujuk Arumi.


"Cantik apanya! Katakan saja jika aku seperti seekor monyet," tukas Arumi yang masih bersembunyi di balik selimutnya.


Kali ini Fahri terkekeh. Ia tak bisa menahan tawanya lagi saat mendengar ucapan istrinya barusan. "Kamu itu bukan seekor monyet! Kamu adalah istriku, istriku yang cantik," ucap Fahri.


Setelah mendengar kalimat yang baru saja dilontarkan oleh Fahri, membuat Arumi tersenyum. Gadis itu pun hendak keluar dari selimutnya, akan tetapi sebelum itu, ia mengoreksi pinggiran matanya. Takut masih ada kotoran yang menempel di tempat itu.


Perlahan Arumi pun keluar dari balik selimutnya. Gadis.itu masih membelakangi sang suami. Mencoba merapikan rambut dan penampilannya. Setelah selesai, barulah ia berani berbalik dan menatap suami tampannya itu.


Arumi tertunduk sembari menekuk bibir bawahnya ke dalam. Ia tampak malu-malu setelah mendengar perkataan Fahri tadi.


"Benarkah?" tanya Arumi.


Fahri menjengit, ia seakan melupakan ucapannya tadi. "Apanya?" tanya Fahri.


"Itu ... Aku cantik," cicit Arumi malu-malu.


Fahri mengulas senyumnya. Lalu kemudian pria itu pun menghampiri istrinya yang masih tertunduk malu sembari memainkan baju piyamanya.


Cup!!


Mata Arumi membulat sempurna saat mendapat ciuman dari suaminya secara tiba-tiba.


"Bukankah ini adalah sebuah pembuktian atas ucapanku tadi?" ujar Fahri.


"Tapi ...."


Cup!!


Fahri kembali mencium singkat bibir Arumi, membuat gadis itu semakin terkejut akan perlakuan Fahri pagi ini.


"Aku ...."


Cup!!


Fahri kembali mencium Arumi bertubi-tubi. Tanpa malu-malu lagi setelah insiden ikan gosong kemarin.


"Stop!!" ucap Arumi sembari mengangkat sepuluh jarinya mencoba untuk menghindari serangan Fahri yang selanjutnya.


"Aku belum sikat gigi. Jangan membuatku semakin malu," lanjut gadis itu seraya memegang pipinya yang sudah bersemu merah.


Melihat Arumi yang masih malu-malu seperti itu, membuat Fahri semakin gemas terhadap istrinya. "Kalau sudah sikat gigi tidak apa-apa?" goda Fahri.


"Bukan seperti itu maksudku," bantah Arumi.


"Terus?!"


Arumi melirik Fahri sejenak, lalu kemudian langsung berlari dari hadapan pria tersebut, dan masuk ke dalam kamar mandi. Dengan cepat, Arumi pun menutup rapat pintu kamar mandinya.


Fahri yang menyaksikan tingkah Arumi yang sedikit kekanakan itu pun langsung terkekeh geli. Ia sedikit terkejut atas tindakan yang diambil oleh sang istri, yaitu berlari untuk menghindarinya.


"Baiklah." Fahri menimpali ucapan istrinya.


Pria itu pun berjalan keluar, lalu kemudian menutup pintu kamar Arumi dengan rapat.


Sementara Arumi, gadis itu memegangi dadanya yang sedari tadi berdebar dan hampir loncat dari tempatnya.


"Apa itu tadi? Setan apa yang merasuki dirinya," gumam Arumi.


Tak lama kemudian, gadis itu pun menyentuh bibirnya . "Mendapatkan morning kiss di pagi hari sungguh manis sekali," ujarnya sembari tersipu malu.


"Sadar Arumi! Kamu baru saja mempermalukan dirimu sendiri. Apa itu tadi? Menggaruk-garuk dengan mulut yang ternganga lebar. Benar-benar memalukan!" tukas Arumi mencerca dirinya sendiri.


Gadis itu pun memilih untuk menghidupkan air shower. Menikmati air yang membasahi setiap inchi tubuhnya.


Berselang sekitar lima belas menit kemudian, Arumi pun keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih segar. Ia mengenakan bathrobe, berjalan menuju kemari pakaiannya untuk mengambil setelan ke kantor yang akan ia kenakan hari ini.


Setelah menjatuhkan pilihan pada terusan berwarna maroon. Arumi berjalan menuju meja riasnya. Memoleskan make up yang tipis, terlihat natural. Serta rambut yang dicepol.


Arumi kembali menatap dirinya di pantulan cermin. Setelah semua dirasa cukup, gadis itu pun mengambil tas jinjingnya, lalu kemudian melangkah keluar dari kamarnya.


Arumi menuruni anak tangga. Melihat Fahri yang saat itu sudah berada di meja makan. Menyadari suara ketukan sepatu dari sang istri, membuat Fahri pun langsung mengalihkan pandangannya ke sumber suara.


Ia melihat istrinya melangkah dengan anggun menuruni anak tangga, dengan senyum yang selalu menghiasi wajah cantiknya.


Arumi berjalan menuju meja makan. Gadis itu pun menarik salah satu kursi yang ada di sana. Tepatnya berhadapan dengan sang suami.


Saat istrinya sudah datang, Fahri pun mulai menikmati sarapannya. Sosis bakar, telur setengah matang, dan sedikit potongan roti yang tersaji di atas piring keduanya. Mereka pun memakan sarapan tersebut dengan tenang.


"Apakah lukamu masih terasa sakit?" tanya Fahri.


"Sudah tidak lagi. Lagi pula ini sudah mulai mengelupas dan kering," ujar Arumi yang selesai menikmati sarapannya. Gadis itu menyeka mulutnya dengan tisu.


Tiba-tiba gadis itu menutup mulutnya, menyadari akan sesuatu. "Aku baru ingat. Semalam apakah kamu memindahkan ku ke kasur?" tanya Arumi.


Fahri mengangguk, mengiyakan ucapan sang istri.


"Seharusnya kamu membangunkan ku saja. Biar aku yang berjalan sendiri ke kamar ku," ucap Arumi.


"Aku tidak tega membangunkanmu. Lagi pula tubuhmu tidak berat. Aku masih bisa menggendongmu," tandas Fahri.


"Menggendongku?" tanya Arumi memastikan, sembari menutup mulutnya tak percaya.


"Iya. Kamu bahkan tak tahu jika semalam aku mengobati lukamu kan?" Fahri balik bertanya.


Gadis itu menggelengkan kepalanya perlahan. "Hanya itu saja yang tidak aku ketahui?" tanya Arumi penuh selidik.


"Iya. Hanya itu. Apakah kamu berharap sesuatu yang lebih dari pada itu?" tanya Fahri.


"A-apa? Ah ... mana mungkin! Mas Fahri jangan mengada-ada," ucap Arumi sembari memegangi wajahnya yang mulai memerah.


"Ya ... seperti mematikan lampu, atau menarikkan selimut untukmu," ujar Fahri.


"Oh itu ... ya maksudku seperti itu," ucap Arumi sembari tertawa menutupi rasa malunya karena telah berpikiran yang tidak-tidak.


"Ternyata dia terlalu positif untuk aku yang selalu berpikiran negatif," batin Arumi.


Bersambung ...