Pria 500 Juta

Pria 500 Juta
Bab 84. Kebohongan Aldo


Setelah melalui drama yang cukup panjang. Saling berdiaman setelah itu menumpahkan air mata. Kini Sifa dan Aldo tengah terbaring tanpa busana, hanya selimut yang menutupi tubuh polos mereka.


Keduanya saling memeluk satu sama lain. Sifa saat itu masih terlelap di lengan Aldo, dengan tangan yang berada di atas perut kotak-kotak milik suaminya.


Tak lama kemudian, ponsel Aldo berbunyi. Pria itu pun terbangun dari tidurnya. Ia sedikit mengangkat lengannya, lalu kemudian mengganti bantal yang menjadi penyangga kepala istrinya.


Aldo meraih ponselnya yang ada di atas nakas. Pria itu mengernyitkan keningnya saat melihat siapa yang tengah memanggilnya saat itu juga.


Aldo pun perlahan beranjak dari kasur. Ia mengambil bathrobe, lalu kemudian memasangnya ke tubuh kekarnya. Pria itu melihat ponselnya yang tak lagi berdering.


Ia pun berjalan menuju balkon, lalu kemudian kembali mendial nomor yang tadi sempat meneleponnya. "Ada apa?" tanya Aldo pada seseorang dari seberang telepon.


"Apakah masih ada barangnya?"


"Ada. Tapi untuk hari ini, aku tidak bisa mengantarkannya," timpal Aldo.


"Kalau begitu, aku akan menyuruh anak buahku saja untuk mengambilnya di sana."


"Kapan?"


" Sore ini."


"Baiklah. Aku akan menunggu," ucap Aldo yang sesaat kemudian langsung mematikan sambungan teleponnya. Pria itu pun menatap ke dalam, melihat istrinya yang masih tertidur dengan sangat pulas.


Aldo pun memilih masuk. Lalu kemudian berjalan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Sepeninggal Aldo, Sifa membuka matanya. Wanita tersebut sudah terbangun sejak mendengar dering dari ponsel Aldo tadi. Hanya saja, ia memilih untuk masih memejamkan matanya, akan tetapi telinganya ia pasang untuk mendengarkan percakapan setelah telepon itu di angkat.


Sifa cukup lama menunggu, akan tetapi Aldo seolah membiarkan telepon tersebut terus berdering. Saat Aldo melangkahkan kaki keluar, menempelkan benda pipih itu di salah satu telinganya, Sifa memicingkan mata, mencoba melihat apa yang dilakukan oleh pria itu. Dan sialnya, Aldo justru berbicara di luar membuat Sifa tak bisa mendengar apapun percakapan pria tersebut.


Selang lima belas menit kemudian, Aldo pun keluar dari kamar mandi dengan kondisi yang lebih segar. Pria tersebut menghampiri istrinya yang masih terpejam. Lalu kemudian mengecup bibir Sifa singkat.


Sifa mengerjapkan matanya, merasakan sesuatu yang lembut dan dingin menyentuh bibirnya. Ia membuka mata, melihat Aldo dengan rambut yang masih basah, menatap dirinya sembari mengulas senyum.


"Sayang sudah mandi," ujar Sifa yang mulai memainkan aktingnya seolah ia baru saja bangun dari tidurnya.


"Hmmm ... Ayo bangun! Setelah itu kita siapkan sesuatu untuk makan malam nanti," bujuk Aldo.


"Aku tidak bisa masak," rengek Sifa.


"Bangun saja dulu, dan langsung mandilah. Urusan masak, ada pembantu yang bekerja di rumah ini. Kamu hanya perlu menyiapkan bahan-bahannya saja," titah Aldo.


Melihat istrinya tak kunjung bangun dari tidurnya, membuat Aldo menggendong tubuh Sifa dan langsung membawanya ke dalam kamar mandi.


"Mau mandi sendiri atau aku yang mandikan?" goda Aldo.


"Jika aku yang memandikanmu, maka akan ku pastikan kamu akan keluar setelah satu jam kemudian," lanjut pria itu lagi.


"Aku akan mandi sendiri saja," ujar Sifa.


Aldo terkekeh, lalu kemudian mengusap wajah istrinya pekan. Pria itu pun melangkah keluar dari kamar mandi tersebut. Lalu kemudian berbalik untuk menutup pintu kamar mandi, dan tersenyum sekilas ke arah Sifa sebelum pintu tersebut benar-benar tertutup sempurna.


Sifa menatap pintu yang sudah tertutup rapat. "Apakah ada sesuatu dibalik sikap manis yang ia perlihatkan?" gumam Sifa.


"Ah ... sudahlah! Aku sebaiknya berpikiran positif saja. Memikirkan hal-hal yang negatif tentangnya lama-lama jadi penyakit juga nantinya," ucap gadis itu selanjutnya.


.....


Setelah menyuruh sang istri untuk mandi, Aldo pun langsung turun ke bawah. Pria itu mencari keberadaan asisten rumah tangganya yang saat ini tengah berada di dapur.


"Bi, nanti ajak Sifa keluar buat belanja bulanan," titah Aldo.


"Baik, Tuan."


"Ah iya. Satu lagi... kalau Sifa bertanya apapun tentang gudang yang ada di belakang, bibi sebaiknya diam saja atau jawab tidak tahu sama sekali," ucap Aldo.


"Baik,.Tuan."


Setelah berunding dengan asisten rumah tangganya, Aldo pun kembali ke kamar. Pria tersebut duduk di atas kasurnya, lalu kemudian menyalakan televisi yang ada di kamar tersebut.


Selang beberapa saat kemudian, Sifa baru saja keluar dari kamar mandi dengan kondisi yang lebih fresh. Aldo tersenyum menatap sang istri yang tampak lebih segar dari sebelumnya.


"Ku kira, kamu sudah keluar dari kamar ini," celetuk Sifa seraya berjalan menuju ke lemari pakaian. Ia membuka koper yang masih terletak di samping lemari tersebut. Lalu mengambil salah satu pakaian yang hendak di kenakannya.


"Aku belum menyusun pakaianku ke dalam lemari," gumam Sifa.


"Lakukan nanti saja. Pakailah bajumu, dan kita keluar dari kamar ini. Apakah kamu tidak bosan berada di sini terus sedari tadi,"ucap Aldo.


"Baiklah."


Sifa menuruti ucapan Aldo. Ia tak ingin jika Aldo nantinya akan mengulangi kemarahannya seperti pagi tadi.


Setelah memakai pakaian, Aldo pun membawa istrinya ke dapur. Seorang wanita paruh baya yang tak lain adalah seorang ART yang bekerja di rumah Aldo. Wanita itu pun datang menghampiri kedua orang tersebut


"Tuan, bahan makanan yang ada di kulkas sudah habis," ucap ART tersebut.


Aldo langsung melemparkan pandangannya pada Sifa. "Sayang, kamu mau kan temani bibi keluar untuk membeli bahan makanan," ujar Aldo.


"Loh, terus kamu bagaimana?" tanya Sifa sembari mengernyitkan keningnya.


"Aku akan menunggu di sini saja. Kamu bisa kan nyetir mobil?" Aldo balik bertanya kepada istrinya.


Perlahan Sifa pun menganggukkan kepalanya. Aldo menyerahkan kunci mobil yang telah ia kantongi sedari tadi.


"Dan ini ....uang untuk kamu belanja nanti," ujar Aldo seraya memberikan uang dengan jumlah yang lumayan banyak.


Sifa pun langsung mengajak ART tersebut menuju ke halaman rumah, dimana sudah ada mobil yang sering digunakan Aldo tengah terparkir di sana. Mobil yang ia dapatkan melalui kesepakatan bersama dengan Arumi sewaktu itu.


Saat berada di dalam mobil, pandangan Sifa kembali menatap gudang yang sedikit gelap itu. Ia pun langsung menanyakan apa yang ada di dalam unek-unek nya pada wanita paruh baya yang ada di sampingnya..


"Bibi tahu apa isi di dalam gudang tersebut?" tanya Sifa dengan polosnya.


ART tersebut dengan cepat langsung menggelengkan kepalanya. Ia teringat akan ucapan Aldo sebelumnya.


"Bibi juga kurang tahu. Masalahnya di sini, bibi hanya fokus bekerja," jelas ART tersebut berbohong karena sudah di suruh oleh Aldo sebelumnya.


Sifa pun mengangguk paham. Tak lama kemudian, ia pun membawa kendaraan roda empat tersebut menuju ke pasar swalayan.