Pria 500 Juta

Pria 500 Juta
Bab 171. Lingkungan Pertemanan


Malam harinya, Indra datang berkunjung ke kediaman Arumi. Indra tidaklah sendirian, ia datang bersama Samuel dan juga Elena.


Kedatangan mereka disambut hangat oleh kepala pelayan. Kepala pelayan juga mempersilahkan ketiga orang tersebut duduk. Ia pun langsung menuju ke atas untuk memanggil kedua majikannya yang tengah berada di kamar.


Di waktu yang bersamaan, Arumi dan Fahri sibuk bergumul di atas ranjang. Mereka berencana membuat garis keturunan lagi setelah kemarin sempat keguguran.


Fahri terus memberikan gempuran pada istrinya. Arumi pun terus saja mengerang nikmat mendapatkan serangan dari suaminya itu, yang membuat tubuhnya bak tersengat listrik.


TOKKK... TOKKK...


Belum juga mereka mencapai puncaknya, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar. Hal tersebut tentunya membuat fahri berdecak sebal.


"Nyonya, Tuan, ada rombongan Pak Samuel di ruang tengah," ujar kepala pelayan dari luar.


"Mas, cukup Mas, tidak enak dengan mereka yang menunggu kita," ucap Arumi yang mencoba menghentikan suaminya.


Fahri tak mengindahkan ucapan istrinya itu. Pria tersebut masih sibuk dengan aktivitasnya saat itu juga. Saat Arumi hendak kembali menegur suaminya, Fahri justru membungkam bibirnya dengan sebuah pagutan, membuat Arumi kembali mengeluarkan suara-suara yang membuat Fahri lebih bersemangat lagi.


Sementara kepala pelayan sedari tadi menunggu jawaban dari dalam majikannya yang ada di dalam kamar.


"Tuan, ..." kepala pelayan tersebut kembali mengetuk pintunya.


"Ah iya, maafkan aku bibi karena aku sempat melupakan keberadaanmu," gumam Fahri.


"Katakan saja pada teman-temanku untuk menunggu sebentar karena masih tanggung," seru Fahri.


Arumi langsung menutup wajahnya karena merasa malu akan ucapan suaminya barusan. "Lain kali jangan seperti itu, Mas."


"Maaf, aku terlalu bersemangat sampai keceplosan," timpal Fahri.


Sementara kepala pelayan tersebut hanya menelengkan kepalanya mencoba mencerna ucapan dari majikannya itu. Ia pun memilih untuk pergi dari depan pintu dan kembali turun ke ruang tengah.


Kepala pelayan tersebut langsung menghampiri ketiga orang yang sedari tadi menunggu Arumi dan Fahri di bawah.


"Pesan tuan untuk menunggu sebentar," ujar kepala pelayan tersebut.


"Memangnya mereka sedang apa?" tanya Samuel.


"Saya kurang tahu, Pak. Tapi kata Tuan masih tanggung," timpal kepala pelayan tersebut.


Elena hanya bisa tertunduk malu, wanita itu tahu maksud dari ucapan itu. Sementara Samuel, ia menggigit bibirnya yang telah siap mengucapkan sumpah serapah untuk Fahri.


"Baiklah, Bi. Terima kasih," ujar Samuel sembari tersenyum.


Pelayan itu pun menunduk, lalu kemudian meninggalkan ketiga tamu majikannya itu.


Setelah memastikan pelayan tersebut pergi, Samuel pun langsung mengumpat. "Fahri, ... jika dalam tiga menit kalian tidak turun juga, akan ku dobrak pintu kamarmu itu," seru Samuel.


Mendengar hal tersebut, Indra hanya tersenyum simpul. Hanya dirinya lah yang lajang diantara teman-teman yang lainnya. Namun, meskipun lajang, bukan berarti dia pria yang polos dan masih perjaka, karena dulunya Indra juga seorang pemain. Bahkan dulu dirinya pernah menghamili sekretarisnya sendiri, Jessy. Kini wanita itu tidak tahu keberadaannya dimana.


Tak lama kemudian, Fahri dan Arumi baru saja keluar dari kamarnya. Pasangan suami istri itu menuruni anak tangga.


Samuel dan yang lainnya pun mendongak ke atas, saat mendengar langkah kaki yang mulai menuruni anak tangga. Keduanya datang menghampiri teman-temannya itu.


Wajah Fahri begitu terang benderang bak matahari menyambut pagi. Bahkan Samuel tak sengaja melihat bekas tanda kepemilikan yang ada di leher Arumi.


"Aku baru saja berencana untuk mendobrak pintu kamarmu," gerutu Samuel.


"Bagaimana bisa kamu mengajak istrimu bermain kuda-kudaan sementara luka lebam di wajah Arumi saja belum hilang," protes Samuel.


Dengan cepat Elena menyenggol lengan suaminya karena terlalu mengurusi hidup orang lain.


"Ada apa, El? Nanti, tunggu di rumah jika ingin melakukannya," celetuk Samuel yang mencoba menggoda istrinya. Padahal ia tahu tujuan Elena menyenggol lengannya tadi.


Kening Elena langsung berkerut. Wanita itu pun menggerutu, "Dasar otak mesum."


Semua yang ada di sana hanya tertawa melihat tingkah Samuel dan Elena yang selalu saja adu mulut dan setelah itu kembali berbaikan.


Melihat teman-temannya telah hidup berbahagia bersama pasangannya, membuat Indra sedikit iri melihat kebahagiaan mereka. Entah mengapa ia tiba-tiba terpikirkan untuk memiliki sebuah keluarga kecil dalam hidupnya. indra merasa sedikit lelah karena hidup sendirian tanpa ada penghibur seperti Fahri dan Samuel.


"Ada apa, Ndra? Kenapa kamu tiba-tiba merenung seperti itu," tanya Samuel yang sadar akan tatapan kosong dari temannya yang satu itu.


Seketika lamunan Indra pun langsung buyar. Pria itu hanya mengusap tengkuknya sembari tersenyum kikuk.


"Tidak apa-apa, aku hanya memikirkan sedikit hal yang tidak penting saja," timpal Indra.


Malam itu, mereka pun saling berbagi cerita.. Terdengar sesekali gelak tawa yang memenuhi ruangan tersebut. Tidak ada lagi pengganggu di kehidupan Fahri dan Arumi. Mungkin hanya akan ada segelintir masalah ringan yang mengusik kehidupan mereka pada saat itu.


Namun, dalam hati Arumi menginginkan sebuah keharmonisan seperti ini. Dimana mereka bisa memiliki waktu luang tanpa harus takut akan serangan dari luar. Menjalin perdamaian yang lebih indah seperti saat ini.


Setelah waktu dirasa sudah hampir larut malam, ketiga orang tersebut langsung berpamitan untuk pulang ke rumah.


Fahri mengantarkan kepergian teman-temannya sampai ke depan. Mereka pun melambaikan tangan saat mobil satu persatu mulai melaju meninggalkan pekarangan rumah.


Fahri menatap wajah istrinya dengan seksama setelah ketiga temannya tadi pulang. Arumi menyadari tatapan sang suami, membuat wanita tersebut mengerutkan keningnya.


"Ada apa? Apakah ada sesuatu di wajahku?" tanya Arumi.


Fahri menggelengkan kepalanya. Ia pun mengecup kening sang istri dengan begitu lembut. "Ayo kita masuk dan mengobati lebam yang ada di wajahmu. Lalu setelah itu tidur," ajak Fahri.


Arumi pun menganggukkan kepalanya. Fahri langsung merangkul pinggang ramping istrinya, kembali ke kamar untuk beristirahat.


.....


Indra baru saja tiba di apartemen. Pria tersebut membuka pintu dengan malas. Melihat ke dalam rumah tersebut sepi tak berpenghuni.


Indra berjalan menuju ke kulkas. Ia mengambil bir dalam kemasan kaleng, lalu kemudian membuka tutup bir tersebut. Saat pria itu hendak menenggak minumannya, tiba-tiba ia mengurungkan niatnya untuk meminum minuman beralkohol tersebut.


Indra berjalan menuju ke wastafel, lalu kemudian menumpahkan bir yang ada di dalam kaleng tersebut. Ia menghidupkan keran air sejenak, lalu kemudian membuang kaleng bir itu ke kotak sampah.


Indra kembali berjalan mendekati mesin pendingin tersebut. Ia pun memilih mengambil air mineral dan menenggaknya beberapa tegukan.


Sejak bergaul dengan Fahri dan Samuel, perlahan Indra meninggalkan hal-hal negatif yang menjadi kebiasaannya dulu. Memang benar, lingkungan pertemanan sangat berpengaruh besar. Contohnya saja Indra, yang tiba-tiba saja terpikir ingin menikah karena melihat teman-temannya yang sudah memiliki pasangan. Padahal, dulunya ia bahkan tak memikirkan untuk memiliki pasangan seumur hidup.


Fahri dan Samuel banyak menularkan hal-hal yang positif pada Indra, hingga pria itu saat ini sudah berubah banyak dengan perubahan yang menjadikannya manusia yang lebih baik dari sebelumnya.


Indra meletakkan sisa air minum yang ada di botol tersebut ke atas meja. Ia pun berjalan mendekati tempat tidur, merebahkan dirinya di tempat yang paling nyaman tersebut.


Matanya menatap langit-langit kamar. Tiba-tiba saja dia terpikirkan akan Jessy, sekretaris yang pernah ia campakkan saat mengandung benih darinya.


"Apakah kamu benar-benar telah menggugurkan anak kandunganmu saat itu, Jessy?" gumam Indra.


Bersambung ....