Pria 500 Juta

Pria 500 Juta
Bab 179. Kejutan Untuk Sifa


"Bantu? Bantu apa? Kamu sudah banyak membantu kami, Arumi." Sifa terkekeh.


"Aku akan membantu mengeluarkan Aldo dari penjara, agar dia bisa menemani persalinanmu nanti."


Sifa tertegun mendengar kata-kata yang baru saja dilontarkan oleh Arumi.


"A-apakah bisa seperti itu?" tanya Sifa yang seakan tak percaya jika Arumi bisa menolong suaminya.


"Iya. Aku akan menyewa pengacara hebat nantinya untuk membantu pengajuan untuk pengalihan menjadi tahanan kota," ucap Arumi.


Sifa tak bisa membendung air matanya. Ia pun langsung memeluk Arumi sembari tersedu.


"Terima kasih ... terima kasih karena kamu sudah banyak menolongku," ujar Sifa sesegukkan.


Arumi tersenyum, lalu kemudian membalas pelukan dari ibu hamil tersebut. "Doakan aku, supaya diberikan kembali, pengganti yang kemarin," bisik Arumi seraya terkekeh.


"Pasti, aku berharap semoga kamu segera diberikan keturunan yang lucu dan kalau bisa mereka anak kembar," celetuk Sifa seraya menghapus jejak air matanya.


"Wah anak kembar? Aku akan sangat bersyukur jika memang itu menjadi sebuah kenyataan," ucap Arumi dengan mata yang berbinar.


Setelah berbincang mengenai anak kembar, Arumi pun langsung berpamitan pada Sifa dan Bu Kartika. Wanita itu masuk ke dalam mobil, membunyikan klaksonnya sebelum melajukan mobil tersebut menuju ke jalanan.


Di sepanjang perjalanan, Arumi memikirkan tentang ucapan Sifa yang berdoa bahwa kelak Arumi akan diberikan anak kembar.


Arumi melihat lampu lalu lintas tersebut berwarna merah, ia pun memberhentikan mobilnya. Wanita itu menggigit jarinya, sembari membayangkan jika nanti ia benar-benar mendapatkan anak kembar. Satu orang laki-laki dan satu orang perempuan.


"Kami akan menggendong masing-masing satu. Oh sungguh indahnya. Apalagi saat mereka sedang lucu-lucunya, berumur tiga tahun. Berceloteh dan banyak bertanya, dan disini pasti kami akan sedikit kewalahan dalam menjawabnya."


"Berlarian ke sana dan kemari. Salah satu dari mereka ada yang menangis, ada yang tertawa, dan suasana rumah akan semakin ramai. Tentunya aku akan menyibukkan diriku untuk mengasuh mereka, dan mengantarkan mereka ke sekolah saat mereka masuk taman kanak-kanak," ujar Arumi yang masih sibuk dengan khayalannya.


Tinnn ... Tinnn ...


Seketika lamunan Arumi pun buyar saat mendengar teriakan klakson bersahutan dari arah belakang. Ia lupa jika saat ini dirinya tengah menunggu lampu lalu lintas berubah menjadi berwarna hijau. Dan lampu lalu lintas tersebut telah berganti sedari tadi.


Arumi menurunkan jendela kaca mobilnya, meminta maaf, lalu kemudian melajukan kembali kendaraan roda tersebut.


Mobil yang dikendarai oleh Arumi pun tiba di kantor. Seperti biasa, ia akan memanggil satpam yang berjaga, meminta untuk membagikan makanan yang ia beli.


Arumi berjalan menuju ruang kerja suaminya. Ia melihat Fahri saat itu baru saja hendak masuk ke dalam ruangannya, seusai mengadakan rapat bersama salah satu partner bisnisnya.


"Mas!" panggil Arumi.


Fahri pun menoleh, ia tersenyum melihat istrinya yang baru saja tiba di kantor. "Bawa makan siang lagi?" tanya Fahri.


Arumi mengangguk, mengangkat kantong plastik yang berisi makan siang untuk sang suami, yang dibelinya dari Sifa tadi.


Fahri merangkul pinggang istrinya, lalu kemudian mengajak istrinya itu masuk ke dalam ruangannya itu.


"Makan siangnya kamu beli dari Sifa lagi?" tanya Fahri menjatuhkan bokongnya di samping istrinya.


"Iya, Mas. Hitung-hitung membantu dia untuk menambah penghasilannya," timpal Arumi.


"Wanita yang baik," ujar Fahri sembari mengusap kepala istrinya.


"Jangan kuat-kuat, Mas. Nanti wig-nya lepas," tegur Arumi. Fahri langsung terkekeh. Pria itu pun menyentuh kepalanya yang juga memakai rambut palsu.


"Oh iya Mas, aku berencana ingin membantu Aldo, membuat dia keluar dari penjara," ucap Arumi.


Fahri langsung mengernyitkan keningnya menatap sang istri dengan tatapan heran. "Kenapa kamu suka sekali mengeluarkan orang-orang yang sedang dalak masa tahanan?" ujar Fahri.


"Mas, aku mengeluarkan Aldo itu bukan berarti membebaskan. Aku berencana ingin mengajukan pengalihan menjadi penahanan kota saja. Kasihan si Sifa, sebentar lagi dia akan melahirkan. Aku tidak tega melihatnya melahirkan tanpa di dampingi oleh sang suami," papar Arumi mencoba menjelaskan maksud dan tujuannya pada sang suami.


"Bagaimana? Apa Mas setuju?" Arumi kembali bertanya pada suaminya. Ia tidak ingin melakukan sesuatu tanpa persetujuan Fahri.


"Selagi itu dalam hal yang baik, kenapa tidak? Mas setuju-setuju saja. Asalkan kamu tidak memberikan bantuan pada orang yang salah. Jika Aldo benar-benar ingin berubah dan tidak mengulangi kesalahannya, tidak ada salahnya untuk kita membantunya." Fahri berkata dengan lembut, memberikan jawaban yang bijak pada istrinya.


Arumi tersenyum, lalu kemudian menghadiahkan suaminya sebuah kecupan singkat di pipi Fahri. Fahri menggelengkan kepala, lalu kemudian menunjuk bibirnya.


"Di sini saja." Pria tersebut berusaha menawar pada istrinya.


"Baiklah." Arumi pun memberikan kecupan di bibir sang suami. Saat Arumi hendak melepaskannya, Fahri langsung menahan tengkuk Arumi, memagut bibir merah jambu tersebut cukup lama.


Arumi memukul lengan suaminya, meminta agar Fahri melepaskannya. "Ini kantor,Mas. Nanti kamu kebablasan," ujar Arumi memperingati suaminya.


......


Setelah berunding dengan Fahri, Arumi pun langsung bergerak menghubungi pengacara yang pernah disewa saat mengeluarkan Indra dulu. Pak Rama pun siap membantu Arumi, dengan meminta pengajuan pengalihan menjadi tahanan kota.


Arumi pergi ke kantor polisi bersama dengan pengacaranya. Ia juga telah mengkonfirmasi hal ini sebelumnya dengan Aldo, dan Aldo pun sangat berterima kasih pada Arumi.


Setelah mengumpulkan beberapa berkas dan mematuhi berbagai prosedur yang telah diberikan. Permintaan pengajuan itu pun disetujui.


Tibalah hari ini, Aldo resmi menjadi tahanan kota. Arumi menjemput Aldo, karena memang pria itu pasti belum tahu tempat tinggalnya yang baru.


Saat bertemu dengan Arumi, Aldo langsung berlutut di hadapan Arumi, dengan tak henti-hentinya mengucapkan rasa terima kasihnya pada wanita itu.


"Jangan seperti ini, Aldo." Arumi mencoba ikut berjongkok, mensejajarkan dirinya dengan Aldo. Ia tidak ingin memandang rendah pria yang ada di hadapannya itu.


"Terima kasih banyak, karena sudah membantuku. Aku akan berjanji, untuk menjadi manusia yang lebih baik mulai dari sekarang. Aku tidak akan menyia-nyiakan waktuku lagi untuk hal-hal yang tidak berguna," ucap Aldo.


Arumi tersenyum, lalu kemudian mengangguk. "Syukurlah jika kamu sudah memiliki niat yang baik seperti itu. Sekarang, bangunlah! Aku akan mengantarkanmu ke rumah," ujar Arumi.


Aldo beranjak dari posisinya. Arumi mengajak Aldo untuk masuk ke dalam mobil, mengantarkan pria tersebut menuju ke rumahnya.


Jika dulu, Aldo masuk ke penjara gara-gara Arumi, sekarang Arumi lah yang membebaskan Aldo. Bukan Arumi yang menjebloskan Aldo ke penjara, melainkan Samuel yang geram pada Aldo saat itu, karena telah membeberkan rahasia Arumi pada Fahri. Dan saat itu, Samuel pun langsung melaporkan Aldo karena memang pria tersebut juga mengetahui rahasia terbesar Aldo.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, mobil yang dikendarai oleh Arumi pun terhenti di depan gang, tempat biasanya ia memarkirkan mobilnya.


Arumi mengajak Aldo untuk turun. Aldo sempat terkejut, karena dulu mereka tinggal di rumah yang besar, dan kini ia terpaksa harus membuat istrinya tinggal di sebuah rumah kontrakan yang ukurannya agak sempit.


Arumi mengetuk pintu, tak lama kemudian seorang wanita dengan perut buncitnya langsung membukakan pintu.


"Aku memiliki kejutan untukmu," ucap Arumi sembari tersenyum.


Aldo yang berada di belakang Arumi langsung menampakkan dirinya. Sifa langsung berteriak kegirangan. Air matanya tumpah seketika melihat sang suami sudah keluar dari jeruji besi.


Tak membutuhkan waktu yang lama begi Aldo untuk segera memeluk istrinya. Memberikan kecupan-kecupan singkat di wajah sang istri.


"Sayang, syukurlah kamu sudah keluar, Sayang. Aku sangat menantikan hal ini," ujar Sifa sembari tersedu.


"Aku pulang, Sifa. Aku pulang!" ucap Aldo sembari memeluk tubuh istrinya. Keduanya menangis tersedu. Rasa rindu yang sudah menggunung akhirnya tersalurkan juga.


Arumi memandangi pasangan suami istri itu. Ia tak dapat menahan air matanya, karena terharu akan pertemuan mereka.


Kartika mendengar suara tangisan dari luar, wanita paruh baya itu pun langsung berjalan ke luar untuk memastikan apa yang sedang terjadi.


Ia terkejut melihat menantunya pulang. Kartika pun langsung bergabung pada anak dan menantunya itu, ikut memeluk satu sama lain.


Ketiga orang tersebut melerai pelukannya. Sifa langsung berlutut, dan berterima kasih pada Arumi karena telah banyak membantu mereka.


"Terima kasih, Arumi. Aku tidak akan melupakan kebaikanmu. Aku benar-benar berterima kasih kepadamu. Bahkan aku merasa, ucapan terima kasih saja tidak cukup untuk membalas semua kebaikanmu," ujar Sifa.


Arumi menggelengkan kepalanya, lalu kemudian membantu ibu hamil itu untuk berdiri. "Jangan berlebihan seperti ini, ayo bangunlah!"


Arumi menghapus air mata Sifa. Lalu kemudian ia pun menarik segaris senyuman di wajah cantiknya itu.


"Mulai sekarang, kamu bisa berbahagia. Suamimu sudah pulang, kalian tidak perlu menunggu sampai belasan tahun lamanya," tutur Arumi.


"Sekarang saatnya untuk kamu berbahagia!"


Sifa menganggukkan kepalanya, lalu kemudian memeluk Arumi. "Terima kasih banyak, Arumi."


"Sama-sama," balas Arumi.


Setelah mengantar Aldo, dan melihat kebahagiaan dari mata mereka, Arumi pun berpamitan pulang. Aldo, Sifa, dan Kartika mengantarkan kepergian wanita itu masuk ke dalam mobilnya.


Arumi ikut senang, menyaksikan satu keluarga itu berbahagia. Wanita itu menekan klaksonnya, lalu kemudian melajukan mobilnya menuju ke jalanan.


Ia kembali mengulas senyum, entah mengapa hatinya ikut merasa lega setelah semua yang ia lakukan. Ia merasa tidak ada lagi permusuhan, yang membuat dirinya menjadi lebih tenang tanpa harus merasa was-was lagi.


"Semuanya sudah selesai, sekarang waktunya aku yang menunggu kabar baik, dengan kehadiran sang buah hati yang kembali mengisi rahim ini," gumam Arumi sembari mengulas senyumnya.


Bersambung ....


Guys, akhir bulan novelnya bakalan tamat nih. Sebagai tanda perpisahan, jangan lupa untuk memberikan dukungannya ya♥️