Pria 500 Juta

Pria 500 Juta
Bab 154. Hadiah Untuk Arumi


Mentari pagi mulai menyapa. Perlahan Elena mengerjapkan matanya. Ia sempat terkejut saat melihat Samuel berbaring di sampingnya. Namun, sesaat kemudian Elena pun tersadar bahwa dirinya dan Samuel telah menikah. Sungguh! Pernikahan kemarin bak mimpi bagi Elena.


Ia menatap wajah tampan suaminya. Alis yang sedikit tebal, dengan rahang yang tegas terpampang nyata di hadapannya.


Tangan Elena menyentuh rahang tegas milik Samuel. Tak lama kemudian, Pria itu pun terbangun dari tidurnya, menatap wajah cantik Elena yang polos tanpa riasan.


"Selamat pagi, Istriku."


Deg ...


Seketika jantung Elena berdegup dengan kencang. Hatinya menghangat karena panggilan yang disematkan oleh Samuel kepadanya.


"Pagi juga, Suamiku." Elena menimpali ucapan suaminya sembari tersipu malu. Di tambah lagi saat ia mengingat kejadian semalam, membuat kedua pipinya memerah.


"Ada apa dengan wajahmu? Kenapa kamu menjadi merona seperti itu?" tanya Samuel sembari menangkup sebelah sisi wajah Elena yang terasa sedikit panas.


Elena mengulum senyumnya, lalu kemudian menggeleng pelan. "Tidak ada apa-apa," ujar wanita itu.


Samuel menjengit, menatap Elena penuh curiga. "Apakah kamu mengingat tentang kejadian semalam?" pancing Samuel.


Wajah Elena kembali memerah bak kepiting rebus. Wanita itu menutupi wajahnya dengan selimut karena merasa malu. Samuel pun mengembangkan senyum iblisnya. Ia kemudian ikut masuk ke dalam selimut dengan tangan yang menggelitik tubuh istrinya itu.


"Sam, hentikan!"


"Samuel, jangan lakukan itu!" tukas Elena sembari terkekeh karena merasa kegelian. Namun, tampaknya Samuel tak mengindahkan ucapan istrinya. Pria itu pun kembali mengulang aktivitas panasnya di pagi hari.


....


Di lain tempat, Sifa yang tengah mengenakan apron berwarna biru, sibuk berkutat di dapur. Kemampuan memasaknya sudah mulai meningkat. Bahkan Sifa juga belajar untuk membuat makanan seperti desert atau pun camilan. Jika ia sudah berhasil menguasainya, ia berencana ingin menjual makanannya melalui media sosial.


Selain itu, Sifa dibantu oleh Kartika yang selalu setia menemani putri semata wayangnya. Kartika membantu Sifa karena takut jika nanti akan kelelahan dan membahayakan cucu yang masih bersemayam di rahim sang putri itu.


"Bu, coba cicipi dulu ini," ujar Sifa menyuapi ibunya dengan menu yang baru saja ia selesaikan.


Kartika menerima suapan dari anaknya itu. Wanita tersebut mengacungkan ibu jarinya. "Rasa masakannya sudah jauh lebih baik dari sebelumnya,"ucap Kartika.


Melihat ibunya berkata demikian, Sifa pun akhirnya menyendokkan kembali masakan yang ada di piring, lalu kemudian menyuapi dirinya sendiri.


"Hmmm ... ibu benar. Ini jauh lebih baik dari yang kemarin,"ujar Sifa.


"Bu, aku berencana memposting makanan yang ku buat di media sosial. Aku akan berjualan kecil-kecilan, setidaknya menambah penghasilanku di rumah. Bagaimana pun juga, mustahil aku akan mendapatkan pekerjaan dengan kondisiku yang saat ini tengah mengandung."


"Lagi pula, disamping itu aku bisa beristirahat sesuka hatiku tanpa harus takut akan dimarahi oleh atasan," tutur Sifa panjang lebar.


Wajah Kartika kembali menyendu. Ia meratapi nasib malang putri semata wayangnya ini. Harus berusaha untuk tetap kuat dengan kandungannya yang tanpa di dampingi oleh seorang suami.


"Maafkan ibu, Nak. Jika kemarin, uangmu yang diberikan Fahri sebelum bercerai tak ibu pakai, mungkin kamu bisa sedikit bersantai karena masih ada uang itu. Namun, ibu terlalu boros. Ibu tak memikirkan kedepannya akan bagaimana karena dibutakan oleh sebuah gengsi yang berlebihan," ucap Kartika.


Sifa mengulas senyumnya, lalu kemudian merangkul wanita yang sudah membesarkannya itu.


"Bu, ... ibu tidak usah merasa bersalah akan hal itu. Rejeki tidak akan kemana dan aku masih memiliki tubuh yang sehat untuk mengais rejeki sedikit demi sedikit," tutur Sifa lembut.


Kartika merangkul tubuh ramping putrinya sembari menangis tersedu. "Oh putriku yang malang. Kenapa kamu harus menjalani kehidupan seperti ini, Nak."


Sifa langsung melepaskan pelukan dari Kartika. Wanita itu menyeka air mata di wajah ibunya. "Bu, mulai sekarang mari untuk tidak terlalu banyak mengeluh. Jika ibu seperti ini terus menerus, maka aku juga akan merasa manusia yang paling hina sedunia. Maka dari itu, demi bayi yang ada di dalam rahimku, bisakah untuk kita jalani saja semua ini dengan semestinya," tutur Sifa.


"Kalau begitu, ayo kita makan. Aku sudah mulai merasa lapar," ucap Sifa sembari mengulas senyum.


Kartika pun mengangguk. Keduanya langsung menarik kursi yang ada di hadapannya, lalu kemudian memilih untuk menyantap sarapannya dengan tenang.


....


Fahri dan Arumi baru saja menyelesaikan sarapannya. Pasangan suami istri itu pun beranjak dari tempat duduknya untuk menuju pintu keluar.


Fahri dan Arumi berjalan beriringan. Hingga Fahri menghentikan langkahnya, lalu kemudian mengambil sesuatu dari dalam saku celananya.


"Sebentar, mas lupa ingin memberikan ini," ujar Fahri yang masih merogoh sesuatu dari dalam sakunya.


"Apa?" tanya Arumi.


Tak lama kemudian, pria itu pun membuka kotak merah yang berisikan sebuah kalung dengan liontin yang sangat indah. Arumi terpukau hingga menutup mulutnya tak percaya.


Fahri meletakkan tas kerjanya sejenak, lalu kemudian memasangkan kalung tersebut untuk istri tercintanya itu. Arumi terlihat sangat senang, tampaknya ia begitu menyukai kalung pemberian dari suaminya.


"Ini sangat cocok sekali di lehermu. Apakah kamu menyukainya?" tanya Fahri.


"Tentu saja, Mas. Mas Fahri jarang sekali memberikanku hadiah. Argghh ... aku sangat menyukai hadiah dari Mas Fahri," ujarnya kegirangan sembari sedikit berteriak kecil.


"Syukurlah kalau kamu menyukainya. Tolong jangan dilepas barang sedetikpun. Anggap saja itu adalah Mas. Mas akan selalu bersamamu meskipun kita sedang berjauhan," tutur Fahri.


"Mas bisa saja!" ujar Arumi yang langsung merangkul lengan Fahri. Wanita itu juga memberikan satu kecupan singkat di bibir suaminya.


"Terima kasih, Mas. Aku sangat menyukai hadiahnya," sambung Arumi.


Fahri hanya merespon ucapan Arumi dengan tersenyum, sembari memberikan usapan kecil pada puncak kepala sang istri.


"Ya sudah, kalau begitu ... Mas berangkat kerja dulu. Kamu tetap di rumah saja. Jika ingin keluar, minta izin dulu sama Mas, jangan seperti kemarin," ucap Fahri memberikan peringatan pada istrinya.


"Baiklah, Mas. Aku tidak akan kemana-mana karena telah mendapatkan hadiah dari Mas Fahri," ujar Arumi sembari memegangi liontin kalungnya.


Arumi meraih punggung tangan suaminya, lalu kemudian menciumnya. Sementara Fahri, pria itu mengecup kening Arumi.


Setelah berpamitan, Fahri pun langsung masuk ke dalam mobilnya. Arumi melambaikan tangannya seiring mobil yang dikendarai oleh Fahri melaju keluar dari gerbang rumahnya.


Fahri tersenyum, pria itu kembali mengecek ponselnya. Hadiah untuk Arumi bukanlah sekedar hadiah biasa. Fahri meletakkan alat penyadap di dalam liontin itu. Bertujuan jika Arumi meninggalkan ponselnya, Fahri akan tetap bisa memantau kemana perginya Arumi.


Demi Arumi dan anak yang ada di dalam kandungannya. Fahri harus terus menjadi suami siaga, memasang ancang-ancang jika terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan.


Arumi kembali ke kamarnya. Ia mengecek ponselnya, lupa memindahkan file penting yang ada di dalam ponsel tersebut, tentu saja berhubungan dengan perusahaan.


Arumi pun berjalan menuju meja kerja yang ada di dalam kamar itu, yang sering dipakai oleh sang suami. Ibu hamil itu menghidupkan laptop yang ada di atas meja kerja tersebut. Tangannya membuka laci meja, mengambil salah satu flashdisk yang ada di dalam laci tersebut.


Flashdisk berwarna merah, yang pernah Fahri gunakan untuk menyimpan salinan video kejahatan yang dilakukan oleh Dewi. Dan flashdisk tersebut saat ini tengah dipegang oleh Arumi.


Arumi menancapkan flashdisk tersebut, sesaat kemudian keningnya berkerut.


Bersambung ...


Kira-kira kenapa tuh kening Arumi berkerut?🤔