
Suara lenguhan terdengar tampak berisik. Malam itu, Aldo dan Sifa tengah bermandikan peluh sembari menikmati permainan ranjang mereka.
Lenguhan Sifa semakin lama semakin menjadi seiring dengan gerakan Aldo yang semakin memacu laju permainannya. Dan akhirnya, kedua orang itu pun terkulai lemas setelah mencapai pelepasannya.
Aldo terbaring lemas di samping Sifa. Sementara wanita itu, ia memilih untuk pergi ke kamar mandi terlebih dahulu, membersihkan tubuhnya seusai permainan mereka tadi.
Aldo menunggu Sifa, sembari mengecek beberapa pesan yang masuk di ponselnya. Seperti biasa, pesan-pesan tersebut tentu saja dari langganannya yang memesan barang kepada pria tersebut.
Selang beberapa lama kemudian, Sifa keluar dari kamar mandi. Aldo pun beranjak dari kasur tanpa mengenakan apapun. Pria tersebut memungut celana yang ia kenakan tadi sudah berserakan di bawah. Lalu kemudian meletakkan beberapa kunci yang ada di dalam sakunya di atas nakas.
"Sayang, kamu sudah ingin tidur?" tanya Aldo menatap istrinya yang telah berganti pakaian, lalu kemudian menarik selimutnya.
"Iya. Aku merasa tidak enak badan," ucap Sifa.
Aldo menghampiri Sifa, lalu kemudian meraba kening sang istri. "Tidak panas," gumamnya.
"Ya sudah. Kalau begitu beristirahat lah. Aku mau mandi dulu," lanjut Aldo yang kemudian melangkahkan kakinya, berlalu dari hadapan Sifa.
Sifa melirik Aldo yang telah masuk ke dalam kamar mandi. Terdengar suara air yang berjatuhan dari kamar mandi, pertanda bahwa pria memang sudah melangsungkan kegiatannya tadi.
Sifa melirik ke arah kumpulan kunci-kunci yang diletakkan Aldo di atas nakas. Matanya menemukan kunci yang selama ini ia cari. Kunci yang memiliki mainan berupa kepingan puzzle. Dengan perlahan, ia pun mengambil sesuatu dari laci nakas tersebut. Lalu kemudian mengeluarkan satu buah sabun mandi batangan yang memang sudah ia persiapkan sebelumnya.
Perlahan, Sifa meraih kunci tersebut. Dengan cepat ia pun menempelkan kunci itu di sabun yang telah ia sediakan. Hingga bentuk dari kunci itu pun sudah tercetak sempurna.
Setelah selesai melakukannya, Sifa langsung mengambil tisu untuk membersihkan sisa sabun yang menempel di kunci tersebut. Lalu kemudian ia meletakkan kunci seperti semula, dan langsung menyembunyikan sabun yang ada di tangannya ke dalam laci.
Sifa kembali menarik selimut, dengan mata yang terpejam. Seolah wanita itu sudah tertidur sedari tadi, supaya Aldo tak menaruh curiga padanya.
Tak lama kemudian, Aldo pun keluar dari kamar mandi sembari bersenandung. Pria tersebut menunju lemari pakaian, memakai setelan santainya dan kemudian ikut bergabung dengan sang istri di atas ranjang.
Saat itu Sifa tengah membelakangi suaminya. Ia bersyukur karena Aldo tak menaruh curiga apapun pada dirinya.
"Bau sabun. Harum sekali ... apakah kamu baru saja memegang sabun?" tanya Aldo.
DEGGG ...
Sifa langsung panik. Ia mencari cara untuk menjawab pertanyaan Aldo dengan tepat, agar pria tersebut bisa mempercayainya.
"Ah ini ... aku tadi mencuci tanganku dengan sabun," timpal Sifa.
"Tapi aromanya agak berbeda," ujar Aldo.
"Berbeda bagaimana, Sayang?"
"Sudahlah! tidak usah dipermasalahkan. Ayo kita tidur, lagi pula aku sudah mengantuk. Kamu juga harus istirahat yang cukup," ucap Aldo.
Sifa tak menjawab ucapan suaminya. Tak lama kemudian, ia pun merasakan sebuah tangan kekar yang melingkar di pinggang rampingnya. Sifa pun membalasnya dengan sedikit mengelus tangan kekar sang suami.
"Maafkan aku, Aldo. Aku harus terpaksa melakukan hal ini karena aku mencurigaimu. Berapa banyak kebohongan yang kamu sembunyikan padaku," batin Sifa sembari memejamkan matanya.
....
Di lain tempat, Fahri beralih menghadap ke arah sang istri. Ia meraba tempat tidur yang ada di sampingnya, sudah kosong tak berpenghuni.
Fahri langsung membuka matanya. Lalu kemudian terbangun dari tidurnya karena tak menemukan keberadaan Arumi di dekatnya.
"Di mana dia?" gumam Fahri kebingungan.
Fahri pun memilih melangkah keluar dari kamar. Mencari keberadaan Arumi. Pria tersebut menuruni anak tangga, melihat terdengar sedikit kebisingan di area dapur.
Fahri melangkahkan kakinya menuju ke tempat tersebut. Ia melihat Arumi yang tampak sibuk tengah memasak sesuatu.
Fahri melirik jam dinding yang ada di ruang tengah. Saat itu waktu telah menunjukkan pukul satu dini hari.
Arumi yang sibuk dengan kegiatannya, mendengar suara langkah yang datang menghampiri. Wanita itu pun langsung menoleh, mendapati sang suami dengan rambut yang masih acak-acakan, mendekat ke arahnya.
"Mas Fahri ...."
"Kamu sedang apa?" tanya Fahri.
"Ini Mas, aku sedang memasak mie instan. Tiba-tiba aku merasa sangat lapar," tutur Arumi.
"Bangunkan saja aku. Biar aku yang memasakkannya untukmu," ujar Fahri mengelus rambut Arumi dengan penuh kasih sayang.
Arumi menggelengkan kepalanya dengan pelan sembari menekuk bibirnya ke dalam. "Tidak, Mas. Aku tidak mau mengganggu tidurnya Mas Fahri. Lagi pula Mas Fahri sangat lelah. Tadi menemaniku berkeliling belanja bulanan, dan sekarang harus menyiapkan sesuatu untuk aku makan," tolak Arumi.
Fahri mengulas senyumnya. Lalu kemudian menarik hidung istrinya dengan gemas. "Bukankah sudah berapa kali aku katakan. Jangan merasa tidak enak padaku. Aku adalah suamimu, sudah sepantasnya jika aku merawat dan menjagamu," tutur Fahri.
"Kalau begitu, kamu tunggulah di meja makan. Biar aku yang memasak untukmu," ujar Fahri.
"Tapi Mas, aku sudah merebus air untuk memasak mie nya," ucap Arumi.
Fahri langsung meletakkan telunjuknya tepat di bibir sang istri. Seakan memberikan kode pada istrinya untuk tidak memprotes.
"Baru merebus airnya saja. Lagi pula kamu juga belum membuka bungkus mie nya," ujar Fahri.
"Biar aku memasakkan sesuatu untukmu. Junk food terus tidak bagus untuk kesehatanmu," lanjut Fahri.
Ia pun berjalan menuju ke toilet yang ada di dapur. Mencuci wajahnya terlebih dahulu sebelum membuatkan makanan untuk sang istri.
Arumi pun menuruti ucapan suaminya. Ia memilih duduk di salah satu kursi yang ada di meja makan. Memperhatikan punggung suaminya yang tengah sibuk memasakkan sesuatu untuknya.
Fahri tampak begitu telaten, pria itu sangat pandai memasak. Bahkan aroma makanannya sudah sangat menusuk di indera penciuman hingga ber-efek pada lambungnya. Cacing-cacing yang ada di perut Arumi bahkan telah berdemo untuk minta segera di isi.
Tak lama kemudian, Fahri pun datang dengan sepiring nasi goreng yang ada di tangannya. Pria tersebut meletakkan masakannya tepat di hadapan Arumi.
Asap dari nasi goreng tersebut masih terlihat, bahkan Arumi yang sudah sangat antusias pun langsung menyantap nasi goreng buatan suaminya itu.
"Istriku, pelan-pelan. Nasinya masih panas," ujar Fahri.
"Enak, Mas. Aku sangat suka masakanmu," ucap Arumi yang kembali melahap nasi goreng tersebut.
"Mas, sepertinya aku harus belajar memasak. Kamu selalu saja memasak sesuatu untukku. Sesekali, aku juga ingin memasakkan sesuatu untukmu," ujar Arumi sembari mengunyah makanannya.
"Baiklah, aku akan sangat menantikan masakan yang dibuat oleh tangan-tangan cantikmu ini," ucap Fahri yang langsung meraih tangan Arumi, mengecupnya dengan lembut.
"Mas, akhir-akhir ini kamu sangat mahir menggombal," celetuk Arumi.
Fahri pun terkekeh. Begitu pula dengan Arumi. Pria tersebut mengambil sendok yang ada di tangan Arumi. Menyendokkan nasi goreng hangat itu, dengan sedikit meniupnya, lalu kemudian menyuapi Arumi.
"Ini nasi goreng rasa cinta," ujar Arumi. Mereka pun langsung terkekeh
Bersambung ....