Pria 500 Juta

Pria 500 Juta
Bab 93. Aku Akan Melindungimu!


Dewi mengambil tas jinjing di dalam kamarnya. Setelah itu, ia pun melangkah pergi dari ruangan itu. Wanita itu melihat kekasihnya yang masih terduduk di ruang tengah sembari memegangi kakinya yang sakit.


"Mau kemana?" tanya Roy.


"Kemana pun aku mau. Lagi pula, aku tak sudi jika harus tinggal serumah dengan manusia yang tak tahu rasa berterima kasih seperti dirimu. Jika kamu membunuhku, silahkan! Aku yang akan lebih dulu membunuhmu!" ketus Dewi yang kemudian melangkahkan kakinya keluar dari rumah tersebut.


Dewi menghadang taksi yang lewat. Lalu kemudian menaiki taksi tersebut untuk mengantarkan dirinya ke rumah utama.


"Ini alasanku kenapa tidak ingin terikat pada pria manapun. Mereka hanya mengambil keuntungan dariku. Setidaknya aku memanfaatkan mereka terlebih dahulu," batin Dewi.


Setelah cukup lama menempuh perjalanan, Dewi pun tiba di rumah utama. Wanita itu langsung melenggang masuk ke dalam hunian tersebut.


Setibanya di sana, beberapa asisten rumah tangga menyambut kedatangan wanita paruh baya tersebut. Dewi mengedarkan pandangannya, menatap sekeliling rumahnya.


"Dimana Arumi dan Fahri? Apakah mereka masih di kantor?" tanya Dewi.


"Hari ini tuan dan nyonya muda tidak ke kantor. Mereka sedang berada di halaman belakang," timpal salah satu asisten rumah tangga tersebut.


Dewi berjalan ke kamarnya sejenak, untuk meletakkan tas jinjingnya di kamar. Lalu kemudian wanita itu pun menuju ke halaman belakang, dimana tempat Arumi dan Fahri berada.


Di waktu yang bersamaan, Arumi dan Fahri tengah disibukkan dengan menanam bunga di halaman belakang. Keduanya tampak sibuk memasukkan bibit bunga mawar tersebut ke dalam pot, lalu menimbunnya dengan sedikit tanah.


Tak lama kemudian, Arumi mendengar suara langkah kaki mendekat ke arah mereka. Wanita tersebut langsung mengarahkan pandangannya ke sumber suara. Ia melihat Dewi yang tengah menghampiri keduanya.


"Mama, ..." Fahri langsung menyalami mertuanya. Pria itu melihat Arumi yang tampak mengacuhkan ibunya. Fahri pun langsung menghampiri istrinya, menuntun wanita itu untuk berdiri, lalu kemudian diajari untuk menyalami Dewi.


"Biarlah, tidak usah di paksakan. Lagi pula mama sudah terbiasa dengan sikap Arumi," ujar Dewi.


Arumi memutar bola matanya dengan malas. Entah mengapa, ia merasa benar-benar membenci ibunya setelah sang ibu memiliki pria lain selain ayahnya.


"Istriku, bukankah tadi kamu sudah berjanji kan akan merubah sikap masa bodo mu pada mama. Sekarang, bersikap lah yang hangat. Bukankah kita ingin membangun keluarga yang harmonis?" bisik Fahri menasihati istrinya.


"Iya, Mas ." Arumi menimpali suaminya dengan lembut. Bagaimana pun juga, Fahri mengajarinya dalam hal yang baik, setidaknya ia dapat menerima masukan dari pria itu.


"Sedang apa kalian?" tanya Dewi.


"Ah ini ... kami sedang menanam bunga mawar. Arumi tiba-tiba ingin menanam mawar di halaman belakang, untuk di taruh ke rumah kaca, karena di bunga-bunga di sana sudah banyak mati tak terawat," papar Fahri.


"Sudah lama sekali bunga-bunga di sana tak di rawat. Dulu, Arumi dan papanya lah yang selalu saja mengurus bunga-bunga di rumah kaca itu," ujar Dewi.


Fahri tersenyum sembari mengangguk paham. Sementara Arumi, wanita itu sibuk dengan pekerjaannya. Ia tak terlalu meladeni Dewi yang ada di tempat itu juga.


Fahri melihat Arumi mengambil teko untuk menyirami bibit-bibit bunga tersebut. Pria itu pun langsung mengambil alih tugas itu.


"Biar aku saja, kamu beristirahat lah dulu," ucap Fahri yang langsung mengambil teko di tangan istrinya. Bukan tanpa alasan ia menyuruh Arumi untuk beristirahat. Hal itu bertujuan agar keduanya saling melempar pembicaraan karena sedari tadi yang meladeni Dewi hanyalah Fahri.


"Nanti kamu kelelahan. Sebaiknya beristirahat lah di samping ibu," ucap Fahri.


Arumi menatap ke arah Dewi sejenak. Wanita paruh baya itu mengembangkan senyumnya. Lebih tepatnya sebuah senyum kepalsuan.


Melihat Fahri yang tampaknya sangat kekeuh menyuruhnya untuk beristirahat, akhirnya wanita itu pun memutuskan untuk mengalah dan mengikuti ucapan dari suaminya.


Arumi melangkahkan kakinya, lalu kemudian duduk tepat di samping Dewi. " Ada apa? Kenapa tiba-tiba datang lalu kemudian kembali lagi menemui jallang itu," cecar Arumi dengan pelan, ia takut jika Fahri mengetahuinya, maka dirinya akan dimarahi oleh suaminya itu.


"Ada apa? Sepertinya kamu sangat tidak senang jika mama pulang ke rumah. Mama merindukanmu, apakah itu alasan yang cukup?" tanya Dewi sembari terulur mengusap kepala Arumi.


Arumi terkejut, langsung menepis tangan Dewi dari kepalanya. "Sejak kapan mama merindukanku? Bukankah selama ini mama hanya sibuk mengurus pria yang menjadi teman ranjang mama?" balas Arumi, menatap Dewi dengan nanar.


"Susah sekali meluluhkan hati anak haram ini," batin Dewi yang mulai merasa kesal. Namun, ia tak ingin memperlihatkan kejahatannya langsung pada Arumi. Jalan yang ia tempuh masih cukup panjang untuk mencapai apa yang ia inginkan.


"Mama memutuskan untuk kembali ke rumah. Mama akan pastikan untuk tidak menemui pria itu lagi," tutur Dewi sembari mengulas senyummya.


Arumi hanya tersenyum miring mendengar ucapan ibunya yang sedikit membosankan itu. Ia pun memilih untuk beranjak dari tempat duduknya.


"Aku tak begitu peduli apa yang ingin mama lakukan di luar sana. Jika aku berbaik hati, karena itu semua keinginan dari suami ku," ujar Arumi yang kemudian melangkah pergi dari hadapan Dewi.


Wanita itu langsung menghampiri suaminya, membantu untuk mengangkat pot-pot kecil tersebut untuk diletakkan di rumah kaca.


Dewi menatap interaksi keduanya sembari bersedekap. "Sepertinya, kamu telah nyaman bersama pria itu. Terlihat sangat jelas, jika Arumi menganggap Fahri sebagai pengganti papanya, yang mampu menjaga dan melindunginya. Lantas ... bagaimana? Apakah aku harus memiliki target baru?" gumam Dewi pelan. Matanya masih sibuk melihat anak dan menantunya yang tengah membawa beberapa pot bunga tersebut sembari melemparkan senyuman.


Setelah memindahkan semua pot-pot tersebut sembari dibantu oleh beberapa ART, keduanya pun memilih untuk duduk di kursi kayu panjang yang ada di dalam rumah kaca itu. Sembari di temani es jeruk yang di bawakan salah satu ART yang bekerja di sana.


"Semoga saja bunga-bunga yang ditanam hari ini bisa tumbuh sempurna," ujar Arumi. Ia meraih es jeruknya, lalu menyesap minuman berwarna orens itu .


"Aku yakin akan tumbuh dengan sempurna. Bunga-bunganya kelak akan bermekaran dengan warna yang sangat cantik, secantik orang yang menanamnya," ucap Fahri disertai dengan sedikit gombalan.


"Berarti aku seperti setangkai mawar. Meskipun cantik, tetapi berduri."


Fahri mengangguk, menyetujui ucapan istrinya. "Aku harap kamu layaknya setangkai mawar, memiliki duri yang menjadi pelindungmu, agar siapapun yang hendak memetikmu dengan sembarang, akan terluka karena terkena durimu."


Fahri meraih tangan Arumi, menggenggamnya dengan sangat erat. "Istriku, aku harap kamu juga bisa menjaga dirimu ketika sedang sendirian. Aku tahu, seorang pebisnis pastinya akan memiliki banyak musuh. Aku harap kamu bisa menjaga dirimu nantinya. Namun, jika masih ada aku, kamu tenang saja. Karena aku yang akan melindungimu," papar Fahri panjang lebar.


Pria itu mengkhawatirkan Arumi. Apalagi dengan hasutan yang dibuat oleh Indra semalam. Jika Fahri tidak membuktikannya sendiri, maka ia akan terkena hasutan itu.


Mendengar ucapan Fahri yang terdengar begitu tulus, membuat Arumi menarik kedua sudut bibirnya, membentuk sebuah lengkungan yang indah, menghiasi wajah cantiknya.


"Terima kasih, Suamiku." Arumi berucap dengan lembut sembari menatap manik mata sang suami dengan begitu dalam.


Bersambung ....