
Baru saja Arumi menancapkan flashdisk tersebut ke laptop. Seketika keningnya langsung berkerut. Melihat peringatan bahwa laptop tersebut memiliki sisa baterai yang tinggal sedikit lagi.
"Mas Fahri memang kebiasaan. Sehabis memakai laptop tidak pernah mau mengisi dayanya," gerutu Arumi.
Wanita itu pun mencabut flashdisk tersebut. Lalu mengambil charger untuk mengisi daya laptop tadi. Baru saja ia menghubungkan charger tersebut ke soket listrik, sesaat kemudian pandangan Arumi tertuju pada layar ponselnya yang kini tengah menyala dan berdering. Arumi pun langsung mengangkat panggilan yang tak lain dari sang suami.
"Ada apa, Mas?" tanya Arumi sembari menempelkan benda pipih itu ke salah satu telinganya.
"Sayang, coba kamu lihat berkas yang ada di atas meja kerja," ujar Fahri dari seberang telepon.
"Iya, ini ada berkas dengan map berwarna coklat." Arumi memperhatikan berkas yang ada di atas meja tersebut.
"Tolong berikan berkasnya dengan Pak Rahmat, suruh dia untuk antarkan berkas itu ke kantor. Mas tadi lupa membawanya," ucap Fahri.
"Ya sudah, nanti aku akan berikan pada Pak Rahmat."
Arumi langsung menutup panggilannya. Ia beranjak dari tempat duduknya, lalu mengambil berkas yang ada di atas meja itu. Namun, Arumi tak sadar bahwa ia tanpa sengaja telah menjatuhkan flashdisk yang ada di atas meja tersebut.
Arumi melangkah pergi, turun ke bawah untuk menemui Pak Rahmat. Sesampainya di bawah, Arumi pun langsung memanggil Pak Rahmat, lalu kemudian memberikan map berwarna coklat tersebut kepada Pak Rahmat.
"Pak Rahmat, tolong antarkan berkas ini ke kantor. Berikan pada Mas Fahri," ucap Arumi.
"Baik, Nyonya." Pak Rahmat langsung meraih map yang diberikan oleh Arumi, lalu kemudian langsung masuk ke dalam mobil, untuk mengantarkan berkas tersebut ke kantor.
Setelah melihat mobil yang dikendarai oleh Pak Rahmat melaju ke jalanan, Arumi pun kembali menuju ke kamarnya. Wanita itu sedikit terengah-engah, karena beberapa kali naik turun tangga.
"Fiuhh ... hamilanku belum terlalu besar, tapi aku sangat mudah merasa kelelahan," gerutu Arumi sembari berjalan menuju ke kamar.
Arumi kembali duduk di tempat semula. Matanya kesana dan kemari mencari flashdisk yang ia letakkan di atas meja tadi tak kunjung terlihat juga. Arumi menyingkirkan beberapa peralatan yang ada di atas meja, mencoba untuk mencari flashdisk yang tak kunjung ia temukan.
"Aishhh ... dimana flashdisk tadi? Aku meletakkannya di atas meja. Aku masih mengingatnya dengan jelas," gerutu Arumi.
Karena merasa kesal mencari flashdisk yang tak ia temukan, membuat Arumi pun mengurungkan niatnya untuk memindahkan file tersebut.
"Sudahlah! Aku terlanjur badmood, mau tidur saja!" ketus Arumi sembari mencebikkan bibirnya.
Wanita itu bak anak kecil, ia menutup wajahnya dengan bantal, mencoba untuk menghilangkan rasa kesal yang sedari tadi tak kunjung reda.
.....
Di lain tempat, Samuel dan Elena tengah berada di ruang tengah. Saat ini yang ada di hadapannya adalah Pak Beni dan Bu Ani.
"Jadi ... kamu itu pengangguran?" tanya Pak Beni yang merasa sedikit frustasi.
"Emmm ... bisa dikatakan seperti itu, Pak." Samuel mengusap tengkuknya, mencoba untuk menepis rasa malu akan pertanyaan yang dilontarkan oleh sang mertua.
"Panggil papa, bukan pak." Elena menyenggol lengan Samuel sembari berbisik pelan.
Terdengar helaan napas berat dari pria tua yang ada di hadapannya itu. Membuat Samuel berada dalam mode kalem, tidak berani berkata apa-apa dan langsung diam seketika.
"Pa, Samuel biar bantu pekerjaan El di Cafe saja," ujar Elena mencoba memberikan usulan. Namun, Pak Beni langsung menatap ke arah putrinya dengan tatapan tajamnya.
"Papa tidak setuju!" seru Pak Beni.
"Kamu ... bekerja di kantor denganku. Urus perusahaan dan berhenti bermain-main. Aku ingin melihat kinerjamu. Jika buruk, maka kamu akan ku pecat menjadi menantuku!" ancam Pak Beni.
Samuel bersusah payah menahan salivanya. Melihat tatapan tajam dari Pak Beni membuat nyalinya seketika menciut.
"Baru kali ini aku mendengar menantu dijadikan seperti profesi," batin Samuel.
"Kenapa kamu saja, bukan kah kamu kemarin sangat berani menjawab ucapanku?!" seru Pak Beni.
"B-baik, Pa. Aku akan membuktikan pada papa bahwa aku mampu," timpal Samuel yang sedikit terbata-bata.
"Bagus, aku akan lihat cara kerjamu besok," tukas Pak Beni.
"Jangan besok, Pa. Setidaknya berikan waktu dulu untuk kami berbulan madu," ujar Elena.
"Setelah lulus kualifikasi, baru kalian boleh menikmati bulan madu!" tukas Pak Beni.
Samuel hanya bisa pasrah dengan keputusan mertuanya. Dalam hati ia berucap," Menjadi menantu sama seperti mengikuti tes CPNS, harus melalui beberapa tahap supaya bisa menjadi kriteria yang diinginkan," batin Samuel.
Setelah berbincang di ruang tengah tadi, Elena mengajak Samuel untuk duduk di halaman belakang. "Sam, maafkan sikap papa yang terlalu keras padamu,"ujar Elena tertunduk lesu.
"Tidak apa-apa, El. Aku bisa menghadapi papa, kamu tenang saja." Samuel mengembangkan senyumnya menatap wanita yang ada di sampingnya.
"Lagi pula, aku bekerja dengan papa supaya bisa lebih mendekatkan diri dengan beliau. Siapa tahu, nanti aku bisa mengambil hatinya." Samuel terkekeh.
"Kamu bisa saja!" Elena memukul pelan lengan Samuel.
"Lah memang benar. Selain pandai mengambil hati anaknya, kita juga harus pandai mengambil hati orang tuanya. Jangan suka dengan anaknya saja tetapi tidak menyukai orang tuanya. Itu adalah prinsip yang salah," tutur Samuel.
Elena tersenyum menatap suami tampannya itu. Samuel pun membalas senyuman Elena dengan memberikan usapan lembut pada puncak kepala wanita yang ada di sampingnya itu.
"Asal kamu tahu, Sam. Aku serasa tengah bermimpi bisa menikah denganmu seperti sekarang ini. Sungguh! Ini diluar dugaan ku," ucap Elena.
"Bukankah kamu selalu berharap agar aku bisa membalas cintamu? Dan inilah hadiah dari buah kesabaranmu. Maafkan aku karena terlambat menyadarinya," ujar Samuel.
"Tidak apa-apa." Elena menggelengkan kepalanya pelan. Wanita itu langsung merangkul lengan kekar suaminya. Seakan ia tak ingin melepaskannya saat itu juga.
Dari kejauhan, Bu Ani dan Pak Beni memperhatikan keduanya. Mereka saling berpandangan lalu kemudian mengulas senyumnya.
"Bukankah sudah terlihat dengan jelas, bahwa mereka memang saling mencintai?" tanya Bu Ani seraya melemparkan pandangannya pada Pak Beni.
"Sedari awal, aku menyukai keberaniannya. Hanya saja, aku ingin dia ikut terjun ke perusahaan bersamaku. Aku tidak tahu sampai berapa lama lagi waktuku akan tiba. Setidaknya aku sudah yakin, menitipkan putriku pada pria yang tepat," ucap Pak Beni sembari terbatuk-batuk.
"Pa, ayo kita ke kamar. Minum obat dan setelah ini beristirahat. Jangan terlalu banyak pikiran yang akan membuat kondisi papa semakin memburuk." Bu Ani memapah suaminya berjalan menuju ke kamar.
Pak Beni mendesak agar Elena dapat menikah secepatnya, karena beliau memiliki penyakit yang cukup serius. Ia tidak ingin setelah kepergiannya, putri semata wayangnya itu masih melajang.
Saat di pesta pernikahan yang terancam gagal, Pak Beni saat itu sudah merasakan nyeri pada bagian dadanya. Untung saja ia tidak tumbang.
Penyakitnya ini memang sengaja ia sembunyikan dari putrinya, karena Pak Beni tidak ingin Elena bersedih karena penyakit yang di derita oleh ayahnya.
Bersambung ....
Gengs, aku mau rekomendasiin bacaan yang bagus karyanya temanku kak Anggika15. Mampir dan tinggalkan jejaknya ya~