Pria 500 Juta

Pria 500 Juta
Bab 79. First Kiss


Fahri kembali lagi ke tempat di mana istrinya berada. Pria itu membawa kotak P3K yang ada di tangannya. Ia mendudukkan kembali punggungnya di posisi semula, lalu kemudian membuka kotak


P3K tersebut untuk mengobati luka Arumi.


Fahri membersihkan bagian luka Arumi dengan handuk basah, setelahnya ia lanjut mengoleskan salep di bagian luka bakar tersebut.


Arumi tersenyum. Selagi Fahri mengobati lukanya,.ia manfaatkan kesempatan itu untuk menatap wajah tampan pria tersebut.


Matanya yang sipit, hidungnya yang sangat menjulang tinggi, serta bibirnya yang mungil dengan rahang yang juga.tegas, membuat Arumi berkali-kali mengagumi ciptaan Tuhan yang satu itu.


Fahri selesai mengobati lukanya. Arumi pun dengan secepat kilat mengalihkan pandangannya, supaya pria.tersebut tidak menyadari bahwa Arumi menatapnya sedari tadi.


Arumi mengarahkan pandangannya pada satu cup mie instan yang ada di atas meja. Ia pun menghela napasnya menatap mie tersebut.


"Yang satu itu pasti sudah sangat mengembang," keluh Arumi.


Fahri mengikuti arah pandang Arumi. Ia pun melihat istrinya serta mie instan itu secara bergantian. Demi menyiapkan mie tersebut untuk dirinya, Arumi sampai terluka.


Pria itu pun langsung meraih mie instan tersebut, membuka penutup yang ada di atas cup nya, lalu kemudian menyantap mie yang mulai dingin itu.


"Tidak usah di makan! Lagi pula itu mungkin rasanya sudah tidak enak lagi. Minta buatkan saja lagi dengan bibi di dapur," ujar Arumi menatap sang suami yang langsung menyiapkan mie ke dalam mulutnya dengan satu suapan yang besar.


Fahri menggelengkan kepalanya, sementara mulut pria tersebut tampak penuh karena terisi oleh makanan yang baru saja di santapnya. Arumi mengangkat kedua sudut bibirnya, membentuk sebuah lengkungan indah. Melihat Fahri makan dengan sangat lahap.


Krukkk ...


Arumi mengernyitkan keningnya sembari memegang perutnya yang berbunyi. "Ini benar-benar memalukan! Aku rasanya ingin tenggelam di dasar kolam," batin Arumi. Gadis itu menahan rasa malunya.


Sungguh! cacing-cacing yang ada di dalam perutnya membuat Arumi kehilangan muka.


Fahri tertawa saat melihat wajah Arumi. Gadis itu pun tersenyum malu sembari berucap "Maaf."


"Kamu mau? Kalau mau, aku akan membuatkan yang baru untukmu. Kalau yang ini, mie nya sudah mengembang dan dingin," tutur Fahri.


"Tidak usah, aku minta yang itu saja sedikit," ucap Arumi sembari menjentikkan ujung kelingkingnya.


"Baiklah." Fahri pun menyuapi Arumi dengan mie instan yang ada di tangannya.


Arumi melahap mie yang diberikan oleh Fahri. Lalu kemudian tersenyum saat merasakan suapan dari tangan suaminya itu.


Arumi mengunyah habis mie instan yang diberikan oleh suaminya. "Bisakah aku memintanya sedikit lagi?" tanya Arumi yang mencoba bernegosiasi pada Fahri.


Pria itu terkekeh geli. Kemudian ia pun memberikan satu suapan lagi pada sang istri. Arumi menyambut suapan itu dengan sangat bersemangat. Bahkan ia tidak mempedulikan tekstur mie yang mengembang itu. Baginya, suapan dari tangan Fahri adalah sebuah nikmat yang tak terduga.


Fahri terus memberikan suapan hingga mie di dalam cup tersebut habis. Entah sadar atau tidaknya Arumi menerima terus menerus suapan darinya itu. Namun, ada kebahagiaan tersendiri di hati Fahri.


Jika Sifa, dulunya ia bahkan tak mau makan sedikit pun makanan Fahri apalagi itu mie instan. Wanita itu selalu menolaknya dengan alasan takut gendut. Akan tetapi, Arumi yang memiliki badan yang sangat proporsional bahkan tak mempermasalahkan hal itu.


"Apa yang ku lakukan? Aku menghabiskan semua makananmu?!" ujar Arumi membulatkan matanya, ia baru saja sadar bahwa sedari tadi mulutnya mengunyah tanpa henti.


"Tidak! Aku memakannya lebih banyak darimu," sanggah Arumi atas pernyataan yang diberikan oleh Fahri tadi.


Fahri melihat ada sesuatu di sudut bibir Arumi. Tangan pria itu tergerak untuk menyeka sudut bibir Arumi yang meninggalkan sisa bumbu mie instan di sudut bibirnya.


Mendapatkan perlakukan Fahri yang secara tiba-tiba membuat Arumi sedikit terkejut. Debaran jantungnya semakin hebat, mungkin pria yang saat ini menatapnya dengan lekat dapat mendengarkan suara debaran itu.


Fahri menatap Arumi dengan lekat. Arumi terlihat sangat cantik jika dipandangi seksama di bawah sinar rembulan malam. Pria tersebut mengunci pandangannya pada bola mata yang berwarna sedikit kecoklatan itu. Lalu kemudian pandangannya beralih pada bibir mungil merah jambu milik istrinya.


Tanpa sadar, pria itu terus bergerak maju, mengikis jarak di antara mereka. Wajah Fahri begitu dekat dengan Arumi, membuat jantung gadis itu kembali berdetak tak karuan.


Fahri semakin lama semakin mendekat. Pria itu pun menyentuh bibir mungil sang istri dengan bibirnya. Arumi yang baru pertama kali mendapatkan hal ini pun sedikit terkejut dengan mata yang membola.


Sementara ia melihat suaminya memejamkan matanya, menikmati sentuhan ringan dari kedua bibir mereka. Hanya sebuah sentuhan saja, tanpa melakukan hal yang lainnya.


Fahri sadar jika ini adalah pertama kali bagi istrinya melakukan hal tersebut, karena ia menikahi seorang gadis.


Fahri membuka kembali matanya, ia ingin melihat apakah Arumi akan marah saat mendapatkan perlakuannya seperti ini.


Melihat Arumi yang membeku dengan ekspresi keterkejutannya, membuat Fahri pun melepaskannya. "Maafkan aku karena telah berbuat lancang," ujar Fahri sembari mengusap tengkuknya, merasa tidak enak dengan perlakuannya barusan.


"Ti-tidak apa-apa," timpal Arumi gugup, berusaha menghembuskan napas yang sedari tadi sempat tertahan olehnya.


Keduanya pun saling melemparkan pandangan, lalu kemudian tersenyum kikuk. Jantung Arumi serasa ingin meloncat dari tempatnya, ia sadar ini adalah awal dari segalanya. Fahri yang berbuat seperti itu pertanda bahwa pria tersebut mulai membuka hatinya untuk Arumi.


...----------------...


Keesokan harinya, Sifa baru saja terbangun dari tidurnya. Perlahan ia mengerjapkan matanya, melihat Aldo yang saat ini tengah tertidur pulas di samping wanita tersebut.


Sifa mendekat tubuhnya pada tubuh milik suaminya itu. Ia merasa bersalah kepada pria itu, karena sikapnya yang kemarin, membuat Aldo menunda untuk meminta haknya malam itu.


Tangan Sifa terulur menyentuh wajah tampan milik pria yang sudah sah menjadi suaminya. Saat tangannya sudah menyentuh permukaan kulit wajah Aldo, tiba-tiba reflek tangan Aldo langsung menepis tangan Sifa dengan sangat kasar.


Sifa terkejut mendapatkan perlakuan tersebut dari Aldo. Pria itu terbangun dari tidurnya. Ia melihat Sifa yang sudah memegangi tangannya karena ditepis oleh Aldo tadi.


"Maafkan aku, Sifa. Aku sedikit terkejut tadi," ucap Aldo menatap Sifa.


Sifa memberengut kesal. Wanita itu langsung kehilangan semangatnya. Ia pun beranjak dari tempat tidur tersebut, lalu kemudian berjalan memasuki kamar mandi, dan menguncinya dengan rapat.


Ia memandang tangannya yang sedikit merah akibat perlakuan Aldo yang kasar kepadanya. Tak lama kemudian, terdengar suara teriakan Aldo dari luar, meminta maaf pada Sifa atas perbuatannya tadi.


Sifa seakan menulikan telinganya. Ia tak membukakan pintu untuk pria itu. Sifa sangat kesal karena perlakuan Aldo yang sangat kasar kepadanya meskipun itu hanya sebuah ketidaksengajaan.


Bersambung ...


Yang masih punya vote, yuk di vote biar akunya makin semangat. Yang mau kasih gift juga boleh kok😁