Pria 500 Juta

Pria 500 Juta
Bab 168. Gudang Kosong


Arumi saat ini tengah didudukkan di sebuah kursi. Tangan dan kaki Arumi diikat, dan mulut gadis itu juga di tutup agar tak terlalu berisik nantinya.


"Berikan satu suntikan lagi padanya. Aku ingin melakukan sesuatu dan dia tidur lebih lama lagi," titah Dewi pada pelayan tersebut.


Pelayan itu mengangguk. Ia pun mengambil suntikan yang telah diisi dengan obat bius. Lalu kemudian wanita itu pun menyuntikkannya pada Arumi.


Setelah pelayan tadi selesai menyuntikkan obat bius pada Arumi untuk lebih memperpanjang waktu tidur anak tirinya itu. Dewi langsung beranjak dari tempat duduknya. Ia meraih gunting yang letaknya tak jauh dari jangkauannya. Lalu kemudian menghampiri Arumi dengan mengembangkan senyum iblisnya.


"Setelah kamu membuka mata nanti, kamu akan melihat dengan jelas mahakarya yang telah ku buat untukmu. Anggap saja itu sebagai hadiah dariku, Putriku Sayang." Dewi berucap tepat di depan telinga Arumi.


Wanita itu pun melancarkan aksinya. Ia tersenyum sembari membuat mahakarya yang akan dihadiahkan untuk putrinya itu.


.....


Fahri bersama dengan Indra berada dalam satu mobil . Sementara Samuel satu mobil dengan istrinya. Samuel beberapa kali melarang Elena untuk ikut, tetapi wanita itu bersikukuh ingin membantu Arumi yang sedang dalam bahaya saat ini.


Kedua mobil tersebut beriringan, dan dibelakang mereka terdapat beberapa mobil polisi yang mengawal kedua mobil di depannya itu. Memang saat itu, polisi tengah mengincar Dewi untuk dijebloskan ke dalam penjara.


Cukup lama mereka menempuh perjalanan, hingga mobil yang dikendarai oleh Indra pun terhenti di lokasi tersebut.


Indra dan Fahri langsung turun dari mobil, yang lain pun melakukan hal yang sama.


"Kalian tunggu sebentar di sini. Biar aku yang masuk untuk memastikan. Aku tidak ingin Dewi curiga nantinya," ucap Indra.


Fahri menimpali ucapan Indra dengan sebuah anggukan pelan. Ia pun menatap Indra yang mulai masuk ke dalam gudang kosong tersebut.


Indra menerobos pintu, pria itu terlihat celingak-celinguk karena memang suasana di dalam sana tidak ada apapun. Hanya ada sebuah layar monitor yang memperlihatkan aksi dari Dewi.


Indra terkesiap melihat apa yang dilakukan oleh Dewi pada Arumi. Fahri yang tak sabar sedari tadi menunggu di luar pun langsung menerobos masuk begitu saja. Yang lainnya juga ikut masuk mengikuti Fahri.


Mata Fahri membola saat melihat sebuah monitor yang memperlihatkan bagaimana Dewi memperlakukan Arumi. Pria itu mengepalkan tangannya dengan kuat.


"Kamu bilang, bahwa ini adalah tempatnya. Lantas ... kenapa tempat ini kosong dan hanya ada monitor saja," geram Fahri.


"Aku akan mencoba menghubunginya." Indra mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya. Pria tersebut menempelkan ponselnya ke salah satu daun telinganya.


Panggilan tersambung, tak lama kemudian terdengar suara wanita dari seberang telepon. Indra langsung menekan tombol pengeras suara, agar semua orang dapat mendengarkan ucapan Dewi.


"Hai keponakanku. Tampaknya kamu kemari hanya untuk merencanakan sesuatu," ujar Dewi dari seberang telepon.


Fahri yang memang sudah tersulut emosi langsung merebut ponsel Indra dari tangannya. "Di mana istriku?!" tanya Fahri yang tampak ketus.


"Menantuku? Bagaimana kabarmu?" tanya Dewi dengan suara cekikikan.


"Tidak usah mengalihkan topik pembicaraan. Di Mana Arumi?!" Fahri melemparkan pertanyaan yang sama seperti sebelumnya.


Tawa Dewi semakin keras. Fahri melihat ke arah layar monitor. Di saat yang bersamaan, Dewi juga menatap ke arahnya.


"Haruskah aku membangunkannya? Sepertinya istrimu sangat terlelap," ujar Dewi.


Fahri melihat Dewi yang melangkah mendekati Arumi, dan ...


Plakkk ...


Satu tamparan mendarat di wajah Arumi. Membuat Arumi langsung terbangun dari tidurnya.


Fahri kembali mengepalkan tangannya. Melihat Arumi yang tersakiti seperti itu membuat emosi Fahri semakin meningkat pada level tertinggi.


Di saat Fahri sibuk berbincang dengan Dewi dari seberang telepon. Elena pun mendekat pada salah satu polisi yang ada di ruangan tersebut.


"Minta untuk melacak lokasi panggilan yang dilakukan oleh Dewi," ujar Elena.


Polisi tersebut mengangguk. Ia menghubungi salah satu rekannya yang sedang berada di kantor untuk melacak lokasi panggilan tersebut.


Mereka menunggu sekitar lima menit, lalu kemudian mendapatkan telepon lagi bahwa lokasi panggilan tersebut berada di titik yang sama. Artinya, saat itu Dewi juga berada di sana.


"Baiklah, coba kita berpencar untuk melihat-lihat sekitar," ujar polisi yang memberikan komando pada anggotanya. Beberapa polisi pun langsung memeriksa lokasi sekitar sana.


Dewi mematikan panggilan ponselnya. Wanita itu menyeringai, lalu kemudian membuka penutup mulut Arumi dengan sedikit menariknya.


Akibat perekat yang dibuka secara paksa, membuat Arumi memejamkan matanya karena menahan perih pada area bibirnya.


"Putriku ... lihatlah! Ini adalah hadiah dari mama," ujar Dewi dengan cermin yang ada di tangannya.


Arumi terkejut, matanya berkaca-kaca. Bahkan Arumi hampir tak mengenali dirinya sendiri. Dewi memotong rambutnya, menyisakan hanya sekitar dua centi saja.


Arumi sangat menyayangi rambut panjangnya. Begitu pula dengan sang ayah yang tidak pernah mengizinkan putrinya untuk memotong rambutnya pendek.


Mata Arumi berkaca-kaca, ia melihat rambut panjang indah miliknya sudah berjatuhan di lantai. Arumi menatap nyalang ibu tirinya itu.


"Ku harap kamu akan segera pergi ke neraka!" tukas Arumi dengan bibir yang bergetar akibat amarah yang sudah tak dapat dibendung lagi.


"Entah itu aku, atau kamu yang lebih dulu aku kirim ke neraka," ujar Dewi tertawa terbahak-bahak.


Cuihhh ....


Arumi spontan langsung meludahi wajah ibu tirinya itu. Dewi terdiam, lalu kemudian menyeka kotoran yang diberikan Arumi padanya.


Wanita itu langsung menampar kembali wajah Arumi dengan sangat keras, hingga membuat sudut bibir Arumi mengeluarkan darah.


"Begini saja. Cepat katakan dimana dokumen penting perusahaan tersebut. Dan alihkan atas namaku!" tukas Dewi.


"Hah?! Sangat tidak tahu malu sekali. Setelah kamu membunuh papa, kamu kira aku akan menyerahkannya begitu saja? Tidak akan!" balas Arumi yang tak kalah kasar.


Arumi mendapatkan pukulan berulang kali. Meskipun dalam kondisi tak berdaya, Arumi masih tetap menimpali ucapan Dewi dengan kata-kata yang sarkasme.


Fahri yang menyaksikan secara langsung merasa sesak seketika. Pria itu melemas, melihat Arumi yang disiksa oleh Dewi melalui layar monitor tersebut.


Fahri mencoba mencari cara. Meskipun sangat menyakitkan, Fahri masih menatap layar monitor tersebut dengan seksama. Barang kali ia menemukan sebuah petunjuk dari rekaman Dewi tersebut.


Sesekali Fahri memejamkan matanya, saat melihat Dewi yang berulang kali memukuli istrinya. Tak juga mendapatkan petunjuk, membuat Fahri menggeram kesal. Pria itu berteriak frustasi karena tak bisa menyelamatkan istrinya itu.


Namun, sesaat kemudian Fahri tertegun. Samuel dan Indra pun saling melempar pandangan. Di dalam monitor tersebut, terlihat sekilas bahwa saat itu Dewi mendongakkan kepalanya.


"Suaraku ...." Fahri sempat menghentikan ucapannya.


Pria itu yang semula terduduk di lantai, langsung beranjak dari duduknya dan kembali bersemangat.


"Sekarang, aku tahu dimana kamu," gumam Fahri yang langsung memeriksa di berbagai penjuru ruangan.


Bersambung ....