
Singkat cerita, hari ini merupakan hari bebasnya Indra. Setelah melakukan beberapa prosedur dengan pembebasan bersyarat, akhirnya Indra pun terbebas dari jeruji besi itu.
Indra keluar dari tempat yang selama ini membuat ia menderita. Saat sudah berada di luar, Indra langsung menghirup oksigen dengan rakusnya. Pria itu menengadahkan kepalanya menatap langit dengan kedua tangan yang direntangkan.
"Akhirnya aku memiliki stok oksigen yang begitu melimpah di luar setelah aku merasakan betapa sempit dan sesaknya berada di dalam tahanan," ujar Indra mengulas senyum.
Tak lama kemudian, Indra melihat sebuah mobil terhenti tepat di hadapannya. Sang pengemudi sedikit membukakan jendela kaca, lalu kemudian memberikan kode agar Indra segera masuk ke dalam mobil.
Indra mengangguk paham. Ini adalah sebuah rencana yang dijelaskan sebelumnya. Pria itu pun langsung memasuki mobil tersebut. Mobil itu pun melaju, membelah jalanan siang itu.
Indra menatap ke luar jendela, pria itu membuka sedikit kaca jendela tersebut. Namun, pria yang saat ini tengah mengemudi langsung menegurnya.
"Sebaiknya anda segera menutup jendela kaca itu," tegur pria bertubuh kekar itu.
Indra langsung menutup jendela kaca tersebut. Pria itu menatap ke arah jalanan sembari sesekali melirik orang yang ada di sampingnya.
"Kira-kira kita akan kemana?" tanya Indra.
"Sebaiknya anda diam dan ikuti saja," tukas pria tersebut.
Indra tersentak mendengar jawaban dari pria yang ada di sebelahnya. Sejak tidak memiliki apapun, Indra lebih menurut dari sebelumnya. Yang biasanya pria itu memarahi orang lain, kini dialah yang dimarahi oleh pria yang berprofesi hanya sebagai bodyguard itu.
"Ya ... roda sudah mulai berputar dan sekarang aku mulai merasakan di posisi yang tidak memiliki apapun," batin Indra.
Mobil pun terhenti di sebuah apartemen. Supir tersebut langsung mengajak Indra untuk turun dari kendaraan tersebut.
Beberapa pasang mata melihat Indra sedikit heran. Bukan karena mereka mengenali Indra, melainkan memang Indra terlihat sedikit aneh seusai keluar dari penjara. Tubuh pria itu lebih kurus, dengan wajah yang ditumbuhi bulu, sangat tak terawat.
Kedua orang tersebut berdiri di salah satu unit. Pria bertubuh kekar itu pun langsung menekan bel berulang kali, yang tak lama kemudian seorang wanita paruh baya pun membuka pintu.
Indra pun di bawa masuk oleh pria bertubuh kekar itu. Mata Indra menangkap Arumi dan beberapa orang yang ada di sana, diantaranya Fahri, dan Samuel yang memang Indra kenali, sedangkan Elena ia tak mengenal wanita tersebut sama sekali.
"Hei ... welcome Indra!" Samuel langsung beranjak sembari bertepuk tangan menyambut kedatangan Indra.
Indra hanya mengangguk kikuk, ia bingung hendak melakukan apa diantara orang-orang kelas atas sedangkan dirinya sendiri tak memiliki apa-apa lagi Entah mengapa, Indra merasa minder seketika.
"Silakan duduk," ujar Arumi tersenyum, mempersilakan untuk Indra agar menempati kursi yang kosong.
Indra menjatuhkan bokongnya.
"Tinggallah di sini. Ini adalah hunian barumu," ucap Arumi.
"Terima kasih," ujar Indra singkat.
"Sepertinya kamu banyak berubah setelah keluar dari penjara. Rasa angkuhmu seakan menguap begitu saja," celetuk Samuel yang memang tidak bisa mengontrol ucapannya. Indra hanya tersenyum menanggapi ucapan Samuel tadi.
"Aku akan memberikanmu seperti fasilitas kendaraan dan yang lainnya. Asalkan kamu bisa menepati janjimu yang kemarin," tutur Arumi.
"Aku tidak akan melupakan janji ku," ujar Indra.
"Baguslah! Setelah ini kabarilah Dewi, akan tetapi jangan mengungkapkan padanya bahwa kamu ... aku yang bantu keluarkan," ucap Arumi.
"Baiklah."
Mereka pun memasang rencana selanjutnya untuk mengelabui Dewi. Namun, menggunakan Arumi sebagai umpan. Arumi tidak keberatan, asalkan nantinya Dewi mendapatkan hukuman yang setimpal. Ia terlalu sakit hati karena selalu menjadi korban, kematian ayah dan anaknya yang merupakan ulah dari ibu tirinya itu.
.....
Dewi sedang sibuk bersantai sembari membaca majalah yang ada di tangannya. Tak lama kemudian, perhatiannya teralihkan pada ponsel yang berdering.
Dewi mengernyitkan kening, setahunya nomor ponsel tersebut adalah khusus untuk orang-orang tertentu saja.
"Siapa yang menelepon ku dengan nomor baru?" gumam Dewi.
Awalnya Dewi ragu untuk mengangkat panggilan tersebut. Namun, saat nomor itu tak berhenti meneleponnya, ia pun langsung mengangkat panggilan itu tanpa berbicara.
Kening Dewi langsung berkerut, " Indra? Bagaimana kamu bisa menelepon? Bukankah kamu sedang ada di dalam tahanan?" tanya Dewi.
"Tante, bisakah untuk membantuku? Kali ini saja. Aku ingin memberikan Arumi pelajaran. Karena dia lah aku mendekam di penjara. Aku tidak memiliki apapun untuk menyuruh seseorang menangkapnya. Apakah Tante bisa melakukannya untukku?" tanya Indra.
Dewi langsung menarik segaris senyum licik di wajahnya. Wanita itu terkekeh sejenak, lalu berucap," Apakah kamu sedang ingin meminta bantuan padaku?"
"Anggaplah seperti itu, Tante. Tidak ada lagi yang aku punya selain Tante. Tolong aku."
"Baiklah, karena kita memiliki tujuan yang sama, aku akan menangkap Arumi untukmu."
Dewi langsung memutuskan panggilan teleponnya. Wanita tersebut mengetikkan nomor kontak seseorang, lalu kemudian mendial-nya.
"Vera, lakukan malam ini. Kita akan menangkap ikan yang besar!" titah Dewi. Setelah mengatakan hal tersebut, Dewi pun langsung memutuskan panggilan teleponnya.
Wanita itu tertawa terbahak-bahak, karena merasa ia mendapatkan dukungan satu lagi yaitu dari keponakannya.
"Indra ... Indra ... aku tahu setelah terbebas kamu pasti akan mencariku. Untung saja kita memiliki tujuan yang sama, jikalau tidak mungkin aku tidak akan sudi untuk membantumu," gumam Dewi tersenyum karena merasa bahwa dirinya akan menang. Ia tidak tahu, sebenarnya Indra baru saja memasang umpan untuk tantenya itu supaya Dewi segera tertangkap.
.....
Malam itu, Vera yang merupakan kaki tangan Dewi yang menyamar sebagai pelayan pun langsung melancarkan aksinya.
Wanita tersebut menaruh obat tidur di hidangan makan malam, yang tentunya tidak hanya Arumi dan Fahri saja yang memakannya, tetapi juga seluruh orang yang ada di sana. Termasuk penjaga serta pelayan yang lainnya.
Vera diam-diam melakukan hal tersebut, tentunya tanpa sepengetahuan dari ketua pelayan. Setelah kedapatan beberapa kali oleh ketua pelayan kemarin, Vera lebih berhati-hati lagi untuk melakukan sesuatu.
Setelah selesai menaruh obat tidur di dalam makanan atau minuman, Vera langsung keluar dari dapur. Wanita itu memilih untuk menyediakan alat makan di meja makan.
Semua makanan telah tersaji di atas meja. Arumi dan Fahri pun mulai menyantap makan malamnya itu.
"Mas, bagaimana dengan keadaan anak perusahaan? Apakah sudah ada perkembangan?" tanya Arumi sembari menyantap makanannya.
"Ya, perlahan sudah terlihat perkembangannya. Orang yang kamu tunjuk itu cukup kompeten untuk mengelolanya," timpal Fahri.
"Baguslah jika begitu." Arumi tersenyum lalu kembali melanjutkan makannya.
Setelah menghabiskan makanannya, Arumi terlalu sering menguap. Begitu pula dengan Fahri yang sedari tadi mencoba untuk menahan rasa kantuknya.
"Sepertinya aku kebanyakan makan tadi, tiba-tiba mataku berat." Arumi kembali menutup mulutnya karena menguap.
"Sepertinya Mas juga," ujar Fahri.
"Apakah kita terlalu kelelahan ya," ucap Arumi terkekeh.
"Bisa jadi. Sebaiknya kita ke kamar, Sayang. Mas benar-benar mengantuk," ajak Fahri.
"Ya sudah, Mas. Ayo!"
Sepasang suami istri itu pun memilih untuk pergi ke kamarnya. Obat ngantuk itu memang tidak langsung menyerang secara spontan. Mereka akan dibuat mengantuk secara perlahan seakan rasa kantuknya hanya karena kelelahan.
Setelah Arumi dan Fahri ke kamar. Para pelayan serta penjaga pun langsung menikmati hidangannya. Saat itu, Vera memang memilih untuk menyantap makan malamnya terakhir saja. Wanita itu menyibukkan dirinya dengan mencari piring kotor lalu mencucinya.
Saat melihat semua orang mulai memakan makanan yang mengandung obat tidur itu, wanita tersebut tersenyum samar karena misinya berhasil.
Beberapa orang yang telah menyelesaikan makan malamnya pasti mulai terserang kantuk secara perlahan. Hingga akhirnya, secara tak sadar semua pelayan dan penjaga mulai tertidur.
"Ini saatnya aku melancarkan aksiku," ujar Vera.
Vera langsung menelepon majikannya, memberitahukan keadaan terkini di rumah tersebut.
"Bu Dewi, semua sudah saya laksanakan dan misi sudah berhasil. Sekarang waktunya untuk membawa Nyonya Arumi untuk pergi dari sini."
Bersambung ....