Pria 500 Juta

Pria 500 Juta
Bab 165. Menyusun Rencana


"Apakah kamu menyembunyikan sesuatu dariku, Arumi?" tanya Fahri sembari menyipitkan matanya.


Arumi menghembuskan napasnya lalu kemudian berucap, " Aku menyewa seorang pengacara untuk Indra."


"Apa?!" Fahri langsung terkejut saat mendengar kalimat yang keluar dari mulut istrinya itu.


"Aku menggunakan Indra untuk memancing Dewi, Mas. Sampai kapan kita harus menunggu? Dia sudah membunuh papa, dia juga telah membunuh bayi kita secara tak langsung. Apakah kamu hanya akan diam saja dan menunggu satu nyawa lagi yang melayang karenanya?" tanya Arumi.


"Tapi tidak dengan cara seperti itu, Arumi. Kita harus ...."


"Harus apa, Mas? Menunggu lagi? Sampai kapan?" tukas Arumi.


Di samping itu, pelayan yang merupakan kaki tangan Dewi tengah mengintip pertikaian keduanya di teras. Terlihat jelas, wanita itu kembali mengembangkan senyum iblisnya saat melihat Arumi dan Fahri bertengkar. Namun, ia tak bisa mendengarkan dengan jelas apa yang diucapkan oleh kedua pasangan suami istri itu.


Alasan ia menyanggupi untuk melakukan perintah dari Dewi, mencoba diam-diam menyamar sebagai pelayan yaitu juga karena wanita tersebut menyukai Fahri.


"Terus saja bertengkar, bila perlu aku akan membantu supaya rumah tangga kalian hancur," gumam wanita itu.


"Rumah tangga siapa yang akan hancur, Vera?" terdengar suara dari belakang, membuat pelayan tersebut mendesak sebal.


Wanita itu langsung menoleh, lalu kemudian tersenyum pada sosok yang ada di belakangnya. Yang tak lain adalah kepala pelayan, yaitu Siti.


Vera hanya menyunggingkan senyumnya menatap wanita paruh baya yang ada di belakangnya. "Tidak apa-apa, Bu Siti."


"Kamu jangan macam-macam, Vera. Saya akan selalu mengawasi setiap gerak-gerikmu," tukas kepala pelayan.


Wanita itu hanya mengangguk, lalu kemudian menunduk sembari berlalu dari hadapan kepala pelayan tersebut.


Arumi melihat kepala pelayan yang baru saja berlalu sembari memberikan kode menggunakan kontak mata.


"Ayo Mas, ikut aku!"


Arumi menarik tangan suaminya. Wanita itu mengajak Fahri untuk masuk ke dalam mobil. Fahri hanya menuruti ucapan istrinya itu.


Tak lama kemudian, Arumi pun membawa mobil tersebut untuk melaju ke jalanan.


"Ada apa?" tanya Fahri heran.


"Ada salah satu pelayan yang berbahaya," ujar Arumi sembari sesekali menatap ke arah kaca spionnya.


"Pelayan berbahaya? Maksudmu siapa?" tanya Fahri lagi.


"Nanti aku akan jelaskan setelah kita sampai," timpal Arumi yang kembali mempercepat laju kendaraannya.


Arumi memberhentikan mobilnya di depan cafe milik Elena. Wanita itu mengajak suaminya untuk masuk ke dalam Cafe tersebut.


Mereka menempati salah satu meja yang letaknya di ujung. Tak lama kemudian, Fahri melihat Elena dan Samuel datang menghampiri mereka.


"Ada apa ini? Kalian sudah membuat janji sebelumnya?" tanya Fahri yang tampak kebingungan.


Samuel dan Elena pun menimpali ucapan Fahri dengan sebuah anggukan. Begitu pula dengan Arumi. Fahri hanya tercengang, ia tak tahu jika semua rencana ini sudah diatur.


"Mas, aku ingin menyewa pengacara untuk Indra, aku juga sudah berunding dengan Samuel dan Elena. Aku sengaja untuk sementara menyembunyikannya padamu karena kamu pasti akan melarang ku," papar Arumi.


"Lantas bagaimana jika Indra berkhianat. Kamu tahu, pria itu tidak pantas untuk dipercayai," ujar Fahri.


"Aku sudah memeriksanya, Indra dikhianati oleh tantenya sendiri. Semua aset yang dimiliki oleh Indra tiba-tiba jatuh ke tangan Bu Dewi. Saat ini Indra tak memiliki apapun. Dan bisa dipastikan, jika kita mengeluarkan Indra, maka pria itu akan membalas dengan hal yang setimpal," jelas Samuel.


Memang benar, setelah menemui Indra, Arumi tidak langsung pulang ke rumah. Wanita itu memilih untuk menemui Elena terlebih dahulu, meminta agar Elena memberitahukan pada Samuel, tentang keputusan Arumi. Karena sejauh ini, Samuel lah yang mengetahui segalanya dibandingkan Fahri. Dan bertemunya ia dengan Elena, supaya tidak terjadi kesalahpahaman nantinya.


Fahri tampak berpikir sebelum meng-iyakan ucapan Arumi. Pria tersebut menatap ke arah Samuel, dan Samuel pun mengangguk seolah ia yakin pada keputusan Arumi.


"Tapi bagaimana jika nanti Bu Dewi menyakitimu? Aku tidak ingin hal itu terjadi," ujar Fahri, keraguan tampak jelas terlihat di wajahnya.


"Tapi kamu harus janji padaku, bahwa kamu tidak akan menutupi apapun lagi dariku. Dan satu lagi, ku harap kamu tidak melepaskan kalung itu kemana pun kamu pergi. Karena aku bisa tahu lokasimu ada dimana saat itu juga. Aku seperti ini bukan karena aku ingin mengekangmu, akan tetapi aku takut jika kamu dalam bahaya," papar Fahri panjang lebar.


"Iya, aku janji." Arumi tersenyum menatap suaminya.


"Oh iya, aku mendapatkan memo dari kepala pelayan. Salah satu pelayan yang bekerja dengan kita, namanya Vera. Kepala pelayan mengatakan bahwa wanita itu berbahaya. Entah mengapa, firasatku mengatakan bahwa dia adalah utusan Dewi untuk memata-matai kita," ucap Arumi sembari memicingkan matanya.


"Bukankah dia yang menegur Bu Dewi saat itu? Bahkan Bu Dewi memaki dia habis-habisan karena memegang teguh amanatmu," ujar Fahri heran.


"Mungkin itu adalah trik mereka," celetuk Elena.


"Bingo! Bisa saja mereka juga memasang umpan dan kalian telah terkena umpan dari wanita itu.


Fahri pun menganggukkan kepalanya. "Ternyata jadi orang kaya itu rumit, musuh ada dimana-mana. Harus mempunyai kekuatan yang cukup untuk menghadapinya. Jika menyerah, maka sebuah jurang sudah siap terbuka untuk menelan manusia yang hanya sekedar duduk dan pasrah," batin Fahri.


Fahri menatap istrinya, "Arumi, tampaknya ia sudah kebal dengan semua ini. Bahkan dia nekat menyerahkan dirinya demi memancing musuhnya agar keluar."


"Bagaimana jika aku saja yang menjadi umpan untuk Bu Dewi. Aku masih takut terjadi sesuatu denganmu nanti," ujar Fahri kembali memberikan usulan.


Arumi langsung berdecak kesal karena suaminya ini masih saja takut dan ragu. "Mas, yang dikejar oleh wanita itu adalah aku. Jadi, jika aku tidak maju, maka dia juga tidak akan muncul. Tolong bekerja samalah untuk mempercayaiku kali ini." Arumi kembali membujuk suaminya.


"Baiklah, tapi kamu harus ingat pesanku tadi."


"Iya, Mas."


Selanjutnya, mereka berempat pun membahas rencana yang akan disusun sedemikian rupa. Masalah Indra juga tak luput dari perbincangan mereka. Membantu Indra keluar dari penjara merupakan suatu keputusan yang sudah bulat. Hanya saja, Arumi akan lebih banyak bertanya terlebih dahulu pada pengacara yang hendak ia sewa besok.


...****************...


Keesokan harinya, Arumi menuju ke kantor hukum pengacara yang hendak ia sewa. Wanita tersebut memarkirkan mobilnya di depan. Ia pun langsung memasuki gedung tersebut.


"Apakah Pak Ramanya ada?" tanya Arumi pada salah satu orang yang berada di ruangan tersebut.


"Ada, mari saya antar," ucap wanita itu dengan ramah.


Arumi pun di bawa ke sebuah ruangan khusus, yang tak lain adalah ruangan milik pengacara tersebut.


"Pak, ada salah satu klien yang ingin bertemu dengan anda," ujar wanita itu.


"Silakan duduk," ujar Pak Rama dengan ramah.


Arumi pun menjatuhkan bokongnya di salah satu sofa yang ada di ruangan tersebut.


"Apakah benar ini Bu Arumi, yang menelepon saya semalam?" tanya Pak Rama.


"Iya benar." Arumi menganggukkan kepalanya.


"Kalau begitu bisa anda jelaskan apa masalah yang anda alami?" tanya pengacara tersebut.


Arumi pun langsung menjelaskan niatnya yang hendak membebaskan Indra dari hukuman kurungannya.


"Begini Bu Arumi, saya bisa saja membebaskan saudara Ibu, akan tetapi dengan hukuman bersyarat atau pembayaran denda kurungannya. Apakah beliau ini hanya pemakai atau pengedar juga?" tanya Pak Rama.


"Dia hanya pemakai, Pak." Arumi menimpalinya dengan tegas.


"Baiklah, kalau begitu kita minta pengajuan bersyarat dengan jaminan dan tentunya Bu Arumi harus siap mengeluarkan uang dendanya," ujar Pak Rama.


"Berapapun akan saya bayar, Pak. Asalkan dia bisa bebas secepatnya," ucap Arumi dengan mantap


Bersambung ....