Pria 500 Juta

Pria 500 Juta
Bab 129. Kemarahan Fahri


Aldo mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Pria tersebut merasa kesal, karena dia selalu terhina di mata istrinya.


Aldo tengah dalam perjalanan menuju ke perusahaan, tempat Fahri. Ia ingin memberi pelajaran pada pria tersebut, dan meminta untuk tidak muncul di hadapan istrinya, karena itu akan sangat mengganggunya.


Citttt ....


Aldo mengerem kendaraan tersebut secara mendadak. Hingga terdengar gesekan antara ban mobil dengan jalan yang cukup terdengar nyaring.


Aldo bergegas turun dari mobilnya. Saat di lobby, ia melihat beberapa pegawai kantor yang tengah berlalu lalang. Pria itu pun menghampiri salah satu pegawai tersebut dan bertanya letak ruangan CEO.


Setelah mendapatkan informasi, Aldo langsung ke atas menggunakan lift.


Tinggg ...


Pintu lift terbuka, Aldo melangkahkan kakinya keluar dari ruangan sempit itu. Pria tersebut berjalan menuju ke ruangan Fahri. Ia melihat salah seorang yang meja kerjanya berada menghadap pintu ruangan Fahri. Pria itu adalah Doni, sekretaris Fahri.


Saat melihat Aldo berjalan menuju ruangan Fahri. Doni pun langsung beranjak dari tempat duduknya, lalu kemudian menanyai pria dengan langkah yang tergesa-gesa itu.


"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Doni pada Aldo.


"Fahri nya ada?"


"Apakah bapak sudah membuat janji sebelumnya?" pertanyaan yang diajukan oleh Aldo dilempar pertanyaan lagi oleh Doni.


"Saya ingin bertemu dengan Fahri," ujar Aldo.


"Tunggu sebentar, Pak. Saya menghubungi beliau terlebih dahulu," ucap Doni.


Doni baru saja meraih phone table, tiba-tiba Aldo langsung masuk melenggang begitu saja. Doni pun mengurungkan niatnya, pria tersebut menepuk keningnya, lalu kemudian menghampiri Aldo yang sudah terlebih dahulu masuk ke ruangan atasannya itu.


Saat Aldo sudah masuk ke dalam, ia melihat Fahri dan Arumi tampak memeriksa beberapa dokumen yang ada di atas meja. Arumi spontan langsung membelalakkan matanya saat melihat kemunculan Aldo yang secara tiba-tiba.


Doni melihat ekspresi keterkejutan dari Arumi, serta Fahri yang langsung memasang wajah masamnya, membuat Doni merasa serba salah sembari mengusap tengkuknya.


"Maaf, Pak. Saya sudah menahannya, akan tetapi beliau menerobos masuk begitu saja," jelas Doni.


"Lanjutkan saja pekerjaanmu. Biarkan dia di sini," ucap Fahri.


Doni pun menundukkan kepalanya, pamit undur diri dari hadapan Fahri dan Arumi. Sementara Aldo, kilat kemarahan terpancar jelas di matanya.


Fahri beranjak dari tempat duduknya, Arumi juga langsung beranjak, dan mencoba untuk menahan Fahri. "Mas, ...." Arumi menggelengkan kepalanya, ia sedikit bergidik melihat Aldo yang sepertinya telah diselimuti amarah.


"Tidak apa-apa. Kamu duduklah di sini saja," ujar Fahri mencoba menenangkan sang istri.


Pria itu pun berlalu dari hadapan Arumi, lalu berjalan menghampiri Aldo.


"Duduklah!" ujar Fahri mempersilahkan untuk pria tersebut duduk di sofa. Aldo menjatuhkan bokongnya di sana, begitu pula dengan Fahri.


"Apa maksud kedatanganmu kemari?" tanya Fahri yang mencoba bersikap sopan pada pria yang telah merebut istrinya terdahulu.


"Jauhi istriku, berhenti menghubunginya atau aku akan memberikan pelajaran padamu," tukas Aldo.


"Istrimu? Aku tidak pernah mengganggu atau pun mencoba merebutnya darimu seperti yang pernah kamu lakukan dulu kepadaku," sindir Fahri.


Aldo menggeram kesal, lalu sesaat kemudian ia pun melemparkan tatapan tajamnya pada Arumi. "Benarkah hanya aku saja yang di salahkan di sini?" gumam Aldo.


Arumi berusaha keras menghindari kontak mata langsung dengan Aldo. Fahri mengikuti arah pandang Aldo, lalu menautkan kedua alisnya.


"Jangan menatap istriku seperti itu!" tukas Fahri yang langsung memberi peringatan pada pria yang ada di hadapannya itu.


Aldo terkekeh melihat Arumi yang seakan takut jika rahasianya di bongkar. Setelah mendapatkan peringatan dari Fahri, pria itu pun langsung mengalihkan pandangannya pada Fahri.


"Istrimu, sepertinya dia sangat takut melihat keberadaanku di sini," celetuk Aldo.


"Apakah dia melakukan kesalahan?"pancing Aldo yang membuat Arumi merasa sedikit panik.


"Ada apa dengan ekspresi yang ditunjukkan oleh istriku. Mengapa dia begitu terlihat ketakutan saat melihat Aldo," batin Fahri.


"Jika kedatangan mu kemari hanya untuk memperingatiku agar menjauhi istrimu, sebaiknya lupakanlah. Karena aku memiliki kerjaan yang lebih penting dari pada mengusik rumah tangga kalian," cecar Fahri.


"Jika kamu sudah selesai, silakan pergi dari sini," ucap Fahri mengusir Aldo.


Aldo terkekeh geli, ia pun beranjak dari tempat duduknya. Lagi-lagi pria itu melemparkan pandangannya pada Arumi.


"Awasi suamimu. Bukankah kamu telah membayar mahal untuk membuat mereka bercerai?" tukas Aldo dengan seringaian iblisnya.


Arumi langsung membelalakkan matanya, sementara Fahri tampaknya masih mencerna apa yang diucapkan oleh pria yang ada di hadapannya ini. Lalu kemudian Fahri menatap istrinya yang begitu terkejut.


"Apa maksudmu?" tanya Fahri yang ingin mendapatkan penjelasan lebih.


"Tanyakan sendiri pada istrimu," ujar Aldo menimpali ucapan Fahri.


Aldo pun kembali mengarahkan pandangannya pada Arumi. "Mobilnya sangat nyaman ku kendarai. Berkatmu, aku tidak perlu membeli mobil lagi. Terima kasih," ucap Aldo. Pria itu langsung pergi dari ruangan tersebut.


Sementara Arumi, wanita itu terhenyak. Aldo mengungkap semuanya tepat di depan Fahri. Arumi menatap Fahri dengan berkaca-kaca, sembari menggelengkan kepalanya.


Fahri menatap Arumi dengan lekat. "Apakah benar yang diucapkan oleh Aldo. Kamu ... ikut andil dalam menghancurkan pernikahanku terdahulu?" tanya Fahri.


"Mas, aku bisa jelasin semuanya sama kamu, Mas." Arumi langsung beranjak dari tempat duduknya. Pria tersebut langsung menghampiri suaminya dan menggenggam tangan Fahri.


"Berarti semua itu benar," gumam Fahri. Gurat kekecewaan terpatri di wajah tampannya. Ia benar-benar tidak menyangka jika Arumi berbuat demikian.


"Mas, aku melakukan itu semua karena aku mencintaimu, Mas. Aku tidak ingin kamu mengejar wanita yang jelas-jelas menyakitimu dan berselingkuh di belakangmu," jelas Arumi dengan bibir yang bergetar.


"Tetap saja itu tidak dibenarkan!!" bentak Fahri.


Arumi tersentak, saat mendengar suara menggelegar yang keluar dari mulut suaminya itu. Biasanya Fahri selalu bertutur kata dengan lembut, akan tetapi kali ini pria itu sepertinya sudah benar-benar marah besar.


"Mas, ...." cicit Arumi.


"Kamu menganggap aku pria seperti apa, Arumi? Kamu membayarku senilai uang lima ratus juta, lalu kemudian kamu juga menyuruhku untuk menikahimu demi melunasi hutang itu. Aku ... aku seperti pria bodoh yang menjadi boneka mu," tukas Fahri.


Arumi hanya bisa menggelengkan kepalanya dan menangis. Ia memang salah karena telah berusaha mengambil Fahri dengan cara yang licik. Akan tetapi, Arumi melakukan semua itu demi kebaikan Fahri sendiri.


"Mas, tolong jangan marah padaku, Mas." Arumi menangkupkan kedua tangannya, meminta agar Fahri dapat memaafkannya.


"Kamu telah mengecewakanku, Arumi. Aku tidak habis pikir," ujar Fahri yang kemudian memilih pergi dari ruangan itu.


Arumi mencoba menahan Fahri. Namun, tangan Arumi langsung ditepis oleh Fahri. Wanita itu menatap punggung Fahri yang mulai pergi meninggalkannya. Dengan pandangan yang mengabur, dipenuhi genangan air mata.


Arumi pun menangis sesegukan. Wanita itu langsung mengambil ponselnya, lalu kemudian menghubungi Samuel agar pria itu dapat membantunya membujuk Fahri.


Tak lama kemudian, Samuel pun mengangkat panggilannya.


"Halo ..."


"Sam, ...." Arumi tak bisa menahan tangisnya saat mendengar suara Samuel.


"Ada apa Arumi? Apakah ada yang menyakitimu?" tanya Samuel dari seberang telepon. Pria itu terdengar sangat mengkhawatirkan Arumi.


"Aldo datang ke sini, pria itu memberitahu Fahri bahwa akulah yang merusak pernikahannya dulu. Tolong aku ... Sam. Tolong bantu aku membujuk Mas Fahri," ujar Arumi sesegukan.


"Baiklah. Aku akan segera ke sana. Kamu tidak perlu khawatir, kemarahan Fahri akan segera mereda. Sekarang, kamu pikirkan kesehatanmu."


"Hmmm ...." Arumi mengangguk pelan. Wanita itu pun mengakhiri panggilan teleponnya. Ia berharap, kemarahan Fahri akan segera mereda, karena Arumi takut jika ia akan kembali kehilangan Fahri.


Bersambung ....