
Fahri POV:
Selangkah demi selangkah aku menyeret kakiku untuk keluar dari rumah ini. Rumah yang menjadi tempat berlindungku, rumah yang tidak hanya memberikan kenangan pahit di dalamnya. Kami juga memiliki kenangan manis yang masih melekat di dalam ingatan.
Aku merasa semakin lama langkahku semakin berat. Namun, tetap ku paksakan kakiku untuk terus melangkah tanpa henti.
Cukup sudah semuanya yang pernah ku terima. Baik pahit dan manisnya, aku sungguh menikmati masa itu. Tak ada penyesalan sedikit pun bagiku menempuh jalan yang telah ku lalui. Hanya saja, takdir yang berkata lain. Aku tidak berjodoh dengan wanita yang kuingini.
Kembali ku tolehkan kepala ini, menatap tempat yang akan menjadi kenangan untuk yang terakhir kalinya. Tanpa sadar, air mata ini lolos begitu saja.
Aku memang pria yang lemah jika menyangkut masalah hati. Aku memang pria yang bodoh, menangisi yang tak seharusnya ku tangisi. Namun, inilah kenyataannya. Aku mencintainya, bahkan lebih dari diriku sendiri.
Memilih jalan untuk berpisah memang sangat sulit bagiku. Ingin aku berteriak dan memohon untuk tetap berada di sisinya. Namun, itu mustahil untuk dilakukan. Berapa banyak nantinya dosa yang akan ia tanggung jika aku menuruti egoku sendiri. Maka dari itu, aku memilih untuk melepaskanmu. Ku harap kamu akan lebih berbahagia dari pada aku.
...----------------...
Saat ini Fahri tengah berada di dalam taksi. Ia hendak menuju ke kontrakan yang ia kunjungi tadi siang. Fahri membuka jendela kaca mobil. Menghirup udara dengan rakus lalu membuangnya secara perlahan.
Setelah cukup lama menempuh perjalanan, ia pun tiba di kontrakan tersebut. Setelah ia sibuk bertanya-tanya tadi siang, Fahri memutuskan untuk kembali ke kontrakan tersebut dan langsung membayar uang sewanya dimuka.
Berjalan menuju ke salah satu kontrakan yang menjadi tempat tinggalnya. Pria itu mengeluarkan kunci yang ia simpan di dalam saku.
Ceklek ....
Pintu terbuka setelah Fahri memutar handle pintu tersebut. Di dalamnya masih kosong melompong tanpa peralatan apapun.
Pria tersebut kembali mengunci pintunya. Ia berjalan beberapa langkah dari pintu tersebut. Lalu kemudian memilih untuk luruh ke lantai. Merebahkan dirinya secara tiba-tiba sembari menatap langit-langit.
"Bahkan dinginnya lantai pun aku tak merasa sedikit pun nyilu. Lantai ini sama dinginnya dengan di sini," ujar pria itu seraya menyentuh dadanya.
Hatinya telah mendingin. Cinta yang menghangatkan dirinya seakan hilang bagaikan di telan bumi.
"Sanggupkah aku menjalani semuanya kelak? " gumam Fahri. Ia memilih untuk memejamkan matanya beberapa saat, lalu kemudian kembali membuka matanya lagi.
"Aku terlalu berharap bahwa ini semua adalah mimpi," lirih Fahri.
....
Matahari mulai menampakkan sinarnya. Siara kicauan burung serta ayam yang berkokok secara bersahutan. Fahri mengerutkan keningnya akan suara yang sedikit bising itu. Perlahan ia pun membuka matanya, menatap semua yang ada di sekelilingnya.
Awalnya Fahri bingung, karena ia tergeletak begitu saja di sebuah ruangan. Namun, sesaat kemudian ia sadar. Bahwa dirinya memang sudah memilih untuk pergi dari apartemen tersebut.
Fahri bangun dari pembaringannya. Pria tersebut menarik kopernya, lalu kemudian melihat-lihat ruangan yang akan menjadi kamarnya kelak.
Ruangan tersebut benar-benar kosong tanpa satu perabot pun. Karena memang Fahri datang kemari hanya membawa barang-barangnya.
Fahri berjalan menuju ke kamar mandi. Pria tersebut mengambil air segayung lalu kemudian membasuh wajah tampannya itu menggunakan air yang ada di dalam bak tersebut.
Tempat itu memang sangat berbeda dari apartemen yang pernah ia tinggali bersama Sifa. Namun, hidup dalam kesederhanaan tak akan membuat Fahri merasa tercekik. Ia sudah terbiasa akan hal ini.
Di lain tempat, Sifa tengah menatap dirinya di cermin. Wanita itu menutupi matanya yang membengkak akibat menangis semalaman menggunakan make up.
Setelah selesai merias diri, Sifa bersiap untuk segera pergi bekerja. Saat membuka pintu, ia teringat akan bayangan dimana Fahri memasakkan sarapan untuknya.
Senyuman Fahri, sapaan pria itu setiap pagi, bahkan sampai saat ini masih terngiang di telinganya. Sofa kembali menangis mengingat itu semua. Ia memilih untuk lekas meninggalkan apartemen tersebut dan berangkat menuju ke tempat kerja.
Jika terlalu lama berada di rumah, maka bayang-bayang Fahri akan selalu bergentayangan di setiap sudut rumah.
Baru saja Sifa hendak memberhentikan taksi, tiba-tiba Aldo datang. Pria tersebut langsung menurunkan jendela kaca mobilnya, menyuruh Sifa untuk segera masuk. Sifa menuruti ucapan Aldo. Ia masuk ke dalam mobil mewah itu.
"Ada apa dengan wajahmu?" tanya Aldo memperhatikan wajah kekasihnya dengan seksama.
"Apakah kamu menangis semalaman karena merindukanku?" ujar Aldo selanjutnya.
Sifa tersenyum, lalu kemudian menganggukkan kepalanya dengan pelan. Ia bukan menangis karena rindu pada Aldo, melainkan menangisi bahwa sebentar lagi ia dan Fahri akan segera berakhir.
Aldo mengusap kepala Sifa dengan lembut. Lalu kemudian menggenggam jemari lentik milik kekasihnya itu.
"Aku sangat tidak sabar ingin menikah denganmu, Sayang." Aldo memberikan kecupan singkat pada tangan Sifa.
"Bersabarlah," ujar Sifa menimpali Aldo. Membuat pria itu menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu, ayo kita berangkat! Nanti aku telat," ucap Sifa.
Aldo pun langsung memacu kendaraannya menuju ke tempat Sifa bekerja. Sesekali ia melihat ke samping, dimana Sifa yang hanya diam tak seperti biasanya.
Wanita itu mengabaikan Aldo, menatap ke luar jendela kaca tanpa berucap apapun.
"Kamu sudah sarapan?" tanya Aldo yang mulai membuka suara.
"Aku sedang tidak berselera," timpal Sifa.
"Sebenarnya ada apa denganmu? Mengapa kamu menjadi pendiam seperti ini. Tak seperti biasanya," ucap Aldo.
"Aku tidak apa-apa, Sungguh!" ujar Sifa menatap Aldo seraya mengembangkan senyumnya. Aldo tidak mengetahui tentang Fahri yang sudah pergi dari rumah. Jika Aldo mengetahui hal itu, dan melihat Sifa yang sedikit kacau, tentu saja pria tersebut akan dibalut oleh api cemburu.
Aldo adalah tipe pria yang sangat posesif. Bahkan saat keduanya tengah keluar untuk makan ataupun jalan-jalan. Aldo langsung menunjukkan kecemburuannya pada Sifa saat wanitanya di tatap atau pun menatap pria lain selain dirinya.
Bukan tanpa alasan Aldo mengirimkan banyak foto pada Fahri, yang seakan sebuah jepretan paparazi dan kemudian mengirimkannya pada Fahri.
Hal itu ia lakukan karena Aldo merasa cemburu dengan Fahri. Tak peduli dengan status Aldo yang benar-benar suami sah dari Sifa, tidak seperti dirinya yang hanya kekasih gelapnya saja.
Maka dari itu, Aldo mengirimkan banyak foto pada Fahri agar keduanya cepat berpisah. Dan Aldo dapat memiliki Sifa seutuhnya, tanpa ada hambatan lagi.
Bersambung ...