Pria 500 Juta

Pria 500 Juta
Bab 147. Dukungan Dari Ibu


Setelah menghabiskan waktu selama empat hari berada di luar kota, Fahri dan istrinya pun bersiap untuk pulang kembali ke rumahnya. Fahri mengeluarkan dua koper yang berisi pakaiannya, lalu kemudian berjalan keluar dari kamar hotel tersebut.


Tak lama kemudian, Pak Rahmat datang. Pria itu membantu Fahri membawa salah satu koper yang ada di tangan majikannya itu menuju ke parkiran.


Setelah memberikan kunci kamar, Fahri dan Arumi pun keluar dari hotel tersebut menuju ke dalam mobil. Setelah memastikan majikannya itu sudah masuk ke dalam mobil, Pak Rahmat pun melajukan mobil tersebut menuju ke jalanan.


....


Di lain tempat, Samuel tengah berbaring sembari memandangi ponselnya. Ia melihat penanggalan yang ada di layar ponsel pintarnya itu. Hari demi hari telah terlewati begitu cepat. Tinggal bersisa satu Minggu lagi, pernikahan Elena akan segera dilangsungkan.


Samuel mengusap wajahnya dengan kasar. Luka pada kaki dan lengannya sudah mulai sembuh, akan tetapi Elena tak kunjung datang untuk menjenguknya.


Samuel kembali menatap layar ponselnya. Ia membuka galeri yang tersimpan di dalam benda pipih itu. Ada banyak foto dirinya bersama Elena saat itu. Dan semua foto mereka masih tersimpan rapi di dalam galeri pria tersebut.


"Entah mengapa, aku sangat berat melepaskanmu. Namun, aku tidak tahu apa yang hatiku inginkan. Seharusnya aku merelakanmu menggapai kebahagiaan mu bersama dengan pria lain. Toh, aku juga tak pernah membalas perasaanmu selama ini," gumam pria tersebut sembari mengusap layar ponsel yang memperlihatkan gambar Elena.


"Egois, ya memang itu aku. Aku tak ingin membalas rasamu, tapi aku juga tak rela jika kamu pergi dariku," lirih pria tersebut.


Ia memilih untuk menandai semua foto saat dirinya bersama dengan Elena. Lalu kemudian menghapus semua foto-foto Elena di dalam ponselnya hingga tak menyisakan satu buah pun foto gadis tersebut.


Samuel meletakkan kembali ponselnya ke atas nakas. Ia memilih untuk memejamkan matanya, bermalas-malasan untuk mengubur kegundahan yang tengah ia rasakan saat ini.


"Ya ... sudah seharusnya aku begitu. Menghapus semua tentangnya agar rasa sakit hatiku sedikit hilang," ujar Samuel dengan mata yang terpejam.


Tak lama kemudian, ia pun membuka matanya. "Tunggu sebentar!" gumam pria tersebut.


"Sakit hati? Yang benar saja. Bukankah aku tidak menyukai Elena. Aku lah yang tak menerima cintanya, mengapa aku harus merasakan sakit hati? Haha aneh sekali," ujar Samuel bermonolog. Pria itu merutuki kebodohannya sendiri.


"Ya ... aku sedikit merasa gundah karena Elena adalah temanku. Aku merasa sedih karena setelah ini aku tidak bisa berbagi cerita lagi dengan Elena. Hanya itu saja, bukan ada maksud lainnya," sambung pria itu yang berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa kegalauannya itu bukanlah karena putus cinta.


Samuel mengacak rambutnya frustasi. Pria itu pun memilih untuk menutup wajahnya dengan bantal.


....


Di waktu yang bersamaan, Elena tengah duduk bertopang dagu di dalam ruangannya. Hari ini ia tidak turun ke bawah seperti biasanya, melihat-lihat pengunjung yang datang ke cafenya. Semua itu tentu saja mengingatkannya pada sosok Samuel, dan selalu berharap bahwa pria itu akan datang nantinya.


Sejak ia memberitahukan pada Samuel bahwa dirinya akan menikah. Sejak hari itu pula Samuel sudah tak lagi terlihat. Pria itu benar-benar menjauh darinya. Mungkin karena Samuel mendukung pernikahan Elena dengam pria lain, itu yang ada dipikiran elena saat ini.


Elena menatap layar ponselnya. Ia cukup lama memandangi kontak Samuel, jemarinya sudah siap untuk men-tap dial yang ada di layar tersebut. Namun, Elena mengurungkannya. Ia meletakkan ponselnya begitu saja sembari menghela napasnya dengan berat.


"Baiklah, mulai saat ini aku harus benar-benar berhenti memikirkannya. Aku tidak akan menghubunginya lagi," gumam Elena yang mulai memasang tembok pertahanan untuk dirinya sendiri agar tak jatuh lagi untuk yang kedua kalinya.


Gadis itu memilih untuk menyibukkan dirinya. Ia membuka laptopnya, lalu memeriksa omset penjualannya yang sejak kemarin belum ia periksa.


Baru saja ia terpaku dengan layar laptop yang ada di hadapannya, tiba-tiba saja ia mendengar suara ketukan pintu. Elena pun mengalihkan pandangannya ke sumber suara, melihat siapa yang muncul dari pintu tersebut.


Pria berperawakan tinggi dengan kulit sawo matang, masuk ke dalam ruangan Elena. Pria itu tak lain adalah Tomi, pria yang akan menjadi suaminya dalam hitungan beberapa hari kedepan.


"Aku di suruh oleh Om dan Tante untuk menjemputmu," ujar Tomi yang langsung menjatuhkan bokongnya di salah satu kursi.


"Kemana?" tanya Elena.


Elena langsung menutup lembar kerja yang ada di layar laptop tersebut, lalu kemudian menutup laptopnya dan bersiap untuk pergi.


"Kita pergi sekarang?" tanya Tomi yang tampak keheranan.


"Lalu kapan? Apakah besok?" tukas Elena yang juga tak kalah malasnya menjawab ucapan calon suaminya itu.


"Sepertinya kamu memang benar-benar mengharapkan pernikahan itu. Tapi ... sudah ku peringatkan. Aku tidak menginginkan pernikahan ini, jika suatu saat nanti ada terjadi sesuatu, ku harap kamu tidak akan menyesalinya," ancam Tomi.


"Kamu tenang saja, aku mempunyai hati yang cukup lapang untuk memaafkan seseorang," ujar Elena yang berjalan lebih dulu keluar dari ruangannya.


Tomi pun beranjak dari tempat duduknya, lalu kemudian berjalan menyusul Elena yang sudah meninggalkannya lebih dulu.


.....


Di lain tempat, Sifa sibuk berkutat di dapur. Hampir setiap hari, ia selalu belajar memasak dari video online yang selalu ia tonton. Wanita itu tak main-main, ia benar-benar ingin berubah setelah ini. Seusai mendapatkan kabar baik, bahwa saat itu ia tengah mengandung, Sifa langsung perlahan berubah. Kesalahan yang pernah ia perbuat di masa lalu seakan menjadi pelajaran baginya.


Kartika baru saja pulang dari pasar untuk berbelanja sayuran. Ia mendengar suara bising dari arah dapur. Tak heran lagi bagi wanita itu, karena memang belajar memasak sudah mulai menjadi rutinitas Sifa.


Kartika datang sembari membawa keranjang belanjaannya. Sifa melihat ibunya pun langsung membantu wanita paruh baya itu membawakan belanjaan tersebut.


"Sini Bu, ..."


"Tidak usah! Biar ibu saja. Kamu selesaikanlah pekerjaanmu," ujar Kartika yang terkesan sedikit ketus. Namun, perlahan wanita paruh baya itu mulai menerima keputusan putrinya meskipun hal tersebut sedikit berat untuknya.


Akan tetapi, Sifa mengabaikan peringatan dari ibunya. Ia tetap mengambil alih keranjang dari tangan Kartika.


Kartika mendengkus. Ia melihat gorengan ikan putrinya yang mulai mengepul asap. Kartika pun langsung mematikan kompor tersebut.


"Bukankah sudah ibu bilang, kamu tidak usah menolong ibu. Sebaiknya kamu urusi saja pekerjaanmu saja!" tukas Kartika yang mengomentari kerjaan putrinya itu .


Sifa tersenyum, lalu kemudian memeluk ibunya dari belakang. "Aku lebih suka ibu mengomeliku seperti ini dari pada ibu mendiamiku seperti kemarin-kemarin," ucap Sifa.


Kartika membalas pelukan anaknya itu. "Mau bagaimana lagi, ibu tidak bisa memaksakan kehendak ibu, di lain sisi ibu juga kesal karena keputusan mu itu," ujar Kartika.


"Berarti ibu sekarang mendukung keputusan ku?" tanya Sifa.


"Ya ... mau bagaimana lagi," timpal Kartika sembari mengendikkan bahunya.


Sifa pun tersenyum, ia langsung menciumi wajah ibunya bertubi-tubi. "Terima kasih, Ibu."


"Sudahlah, tidak usah lebay seperti ini. Selesaikan masakanmu, ibu sudah merasa lapar," tukas Kartika.


"Baik, Bu." Sifa pun langsung kembali menyelesaikan kegiatan memasaknya agar bisa menikmati masakannya itu bersama dengan ibunya.


Bersambung ...


Yang nanya kemana Dewi, sabar ya say. Kalau si biang keroknya udah muncul, peran yang lainnya pasti bakalan mulai ketar-ketir. Jadi ... dimanisin dulu aja ya, konfliknya pasti bakalan diselesaikan kok, tenang saja😁