Pria 500 Juta

Pria 500 Juta
Bab 36. Bukti


Mobil Arumi yang dikendarai oleh Samuel tiba di depan gedung perusahaan. Keduanya turun dari mobil, lalu kemudian berjalan beriringan memasuki gedung tersebut.


Beberapa pegawai yang berpapasan dengan kedua orang tersebut langsung menundukkan kepalanya. Arumi membalas setiap sapaan dengan mengulas senyum. Berbanding terbalik dengan atasan mereka saat ini yaitu Indra. Bahkan dari raut wajah pun tak ada ramahnya sama sekali.


Arumi sengaja menuju ke ruangan Indra, karena gadis itu hendak melirik ke arah meja yang ditempati oleh Fahri seperti biasanya.


Namun, saat ia mengarahkan pandangannya, Fahri tidak ada di meja kerjanya. Arumi pun mengerutkan kening. "Apakah ia tidak masuk bekerja?"batin gadis tersebut.


Samuel sedikit mendekatkan wajahnya pada telinga Arumi sembari berbisik, " Sepertinya dia sedang tidak ada di mejanya," ucap Samuel pelan.


Arumi hanya mengangguk sembari mencebikkan bibirnya. Gadis itu pun berjalan lebih dulu, masuk ke ruangan Indra tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Wow!!" seru Arumi saat melihat apa yang terjadi di dalam sana. Dengan cekatan ia pun mengambil ponselnya dan ...


Cekrek ... Cekrek ...


Arumi mengambil beberapa gambar atas apa yang dilihatnya. Gadis itu pun tersenyum penuh arti sembari memeriksa hasil jepretannya.


"Sialan!!" umpat Indra.


Indra dengan cepat membenahi pakaiannya, menaikkan resletingnya. Sementara wanita berambut pendek, yang merupakan sekretaris dari pria tersebut, langsung terlonjak kaget. Melompat di pangkuan Indra, lalu kemudian membenahi penampilannya.


"Luar biasa!! Pegawai mu di luar tengah mati-matian mengerjakan laporan dan hal yang lainnya. Sementara bosnya sibuk bermesraan dengan sekretarisnya," ujar Arumi seraya bertepuk tangan.


Indra menatap Arumi dengan tajam. "Lancang sekali kamu masuk ke dalam tanpa mengetuk pintu!" cecar Indra.


Pria tersebut melirik ke arah sang sekretaris, mengerjapkan matanya untuk memberi kode pada wanita itu untuk keluar dari ruangannya.


Sekretaris itu pun menundukkan kepala sejenak, lalu kemudian pamit undur diri. Ia berjalan melalui Arumi tanpa berani mengangkat kepalanya.


"Wajar jika ibuku mempercayakan perusahaan ini denganmu. Ternyata kalian adalah spesies yang sama. Sama-sama maniak!!" cecar Arumi.


Samuel berusaha menahan tawanya saat mendengar ucapan Arumi. "Apakah kamu tidak sadar, yang kamu katakan itu adalah ibumu sendiri?" bisik Samuel yang masih menahan tawanya.


"Jangan berisik!!" tandas Arumi.


Samuel pun langsung terdiam, meskipun ia sangat ingin tertawa keras akan tetapi pria tersebut mencoba untuk menahannya.


"Apakah kamu tidak memiliki pekerjaan lain selain menggangguku?" tanya Indra dengan penuh penekanan.


"Sejak posisiku kamu ambil, aku menjadi pengangguran. Jujur saja ini sangat membosankan," timpal Arumi sembari menjatuhkan bokongnya di kursi walaupun tanpa dipersilahkan oleh Indra.


"Dasar wanita gila!!" cecar Indra.


"Hmmm ... sayang sekali kamu baru menyadarinya," celetuk Arumi duduk dengan melipat kakinya.


"Bisakah kamu memberikannya secara sukarela, atau kamu ingin aku jatuhkan secara paksa?" tanya Arumi membuat pilihan.


Indra tersenyum miring mendengar ucapan Arumi. Bagi pria itu, ucapan yang dilontarkan oleh Arumi hanyalah lelucon belaka.


"Kamu sedang mengancam ku? Hahaha yang benar saja!!" tawa Indra membahana mendengar ucapan dari Arumi.


"Aku tak merasa takut sedikit pun berhadapan denganmu. Bagiku, kamu adalah orang yang sangat mudah aku singkirkan. Jadi, dengan kamu mengancamku, akan menghabiskan tenaga mu saja. Sampai kapan pun perusahaan akan tetap memilihku," papar Indra.


"Sepertinya setelah ini kamu harus memeriksakan kejiwaanmu. Bisa saja akar kanker yang kemarin sudah merusak saraf otakmu hingga kamu tidak bisa berpikir lebih jeli lagi," ketus Indra.


"Sudahlah! Biarkan saja! Nanti kita tunggu tanggal mainnya. Sepertinya misi kita sudah selesai untuk membuat pria yang tengah menikmati singgasananya merasa kesal. Aku juga menemukan beberapa bukti yang akan aku jadikan untuk melawannya. Tinggal kita cari bukti yang lain, dan semuanya kembali seperti semula," ucap Arumi panjang lebar seraya tersenyum miring.


"Mulai sekarang, bersiaplah untuk turun jabatan." Lanjut Arumi tertawa keras.


Indra hanya terdiam sembari mengepalkan tangannya. Matanya tak luput dari gadis yang menjadi rivalnya itu. Saat ini tengah melenggang pergi dari ruangannya.


"Kamu lihat saja, Arumi. Aku tak akan mudah kamu kalahkan!" ucapnya dengan tekad yang kuat.


Arumi kembali melirik meja kerja Fahri yang sampai sekarang masih juga kosong. Samuel hanya memperhatikan gerak-gerik wanita tersebut tanpa berani melayangkan protes sedikitpun. Ia takut jika nanti Arumi enggan dekat dengannya lagi.


Arumi memanggil salah satu staf yang ada di ruangan itu. Staf tersebut merasa bahwa yang dimaksudkan adalah dirinya, ia pun langsung berdiri dan menghampiri Arumi.


"Apakah salah satu dari kalian ada yang tidak masuk? Aku melihat ada meja yang kosong," tanya Arumi berbasa-basi. Ia tidak ingin langsung to the point menanyakan keberadaan Fahri.


"I-iya, Bu. Salah satu rekan kerja saya tidak masuk hari ini," timpal pegawai tersebut dengan sedikit gugup.


Arumi tersenyum melihat ekspresi gugup dari wanita yang menjadi lawan bicaranya itu. "Santai saja, jangan terlalu gugup seperti itu," ucap Arumi memberikan saran.


Wanita itu hanya tersenyum sembari menundukkan pandangannya.


"Ya sudah, kalau begitu silakan lanjutkan pekerjaanmu!" titah Arumi.


Wanita tersebut pamit undur diri, dan kembali menuju meja kerjanya.


Sementara Arumi, gadis itu bertanya-tanya di dalam hati. Mengapa dan apa alasan Fahri tidak datang ke kantor hari ini.


...****************...


Malam pun tiba, Sifa baru saja pulang dari kerja diantar oleh Aldo. Wanita tersebut tampak tersenyum sembari melambaikan tangannya pada pria tersebut saat mobil Aldo mulai melaju ke jalanan.


Setelah Aldo tak terlihat lagi, Sifa melangkahkan kakinya memasuki gedung apartemen tersebut. Wanita itu menaiki lift yang mengantarkannya ke unit tempat dia tinggal. Setelah pintu lift terbuka, Sifa pun berjalan menuju ke huniannya. Memasukkan kode akses untuk membuka pintu, lalu kemudian mendudukan dirinya di atas sofa ruang tengah.


Ceklek ...


Sifa terkejut saat mendengar suara pintu kamarnya yang baru saja terbuka. Ia melihat bahwa sang suami baru saja keluar dari kamar itu.


"Kamu tidak bekerja?" tanya Sifa.


Fahri tak menjawab pertanyaan sang istri. Pria tersebut berjalan menghampiri Sifa, lalu kemudian melemparkan sesuatu yang membuat mata Sifa terbuka lebar.


"Sudah berapa kali kalian melakukannya?!" tanya Fahri.


Sifa benar-benar panik. Ia tak bisa menjawab pertanyaan dari suaminya itu.


"Aku tanya, berapa kali kalian berhubungan badan dengan pria itu!!" bentak Fahri yang mengulangi ucapannya.


"Aku sudah lama tidak melakukannya denganmu. Setiap aku memintanya, kamu selalu saja mengelak dan berkata bahwa dirimu mengantuk ataupun lelah. Tapi ... bagaimana bisa kamu melakukannya dengan pria lain. Kalian berzinah, kamu tahu itu, hah?!" papar Fahri yang sudah tersulut emosi. Sedari tadi ia menahannya, menunggu Sifa hingga pulang bekerja dan membicarakannya secara baik-baik.


Namun, saat ia melihat Sifa di antar lagi oleh pria yang sama seperti yang ia lihat tadi pagi, membuat Fahri kembali naik pitam.


"Biasanya kamu mengkonsumsi obat penunda kehamilan itu saat kita sehabis berhubungan. Dan obat ini ... bahkan hampir habis satu strip. Mustahil jika kamu mengkonsumsi ini secara cuma-cuma tanpa melakukan apapun," cecar Fahri sembari menunjuk obat penunda kehamilan yang ia lemparkan di atas meja tadi.


Bersambung...