
Aldo menggendong Sifa. Mereka berjalan menuju ke kamar. Lalu kemudian Sifa di bawa ke dalam kamar mandi untuk Aldo bersihkan tubuh istrinya itu.
Sifa hanya diam, seolah menjadi patung yang bernyawa. Ia membiarkan Aldo melakukan apapun pada dirinya asalkan wanita itu tetap aman dan tidak lagi di kurung seperti kemarin.
Aldo melepas semua pakaian yang melekat di tubuh istrinya, lalu kemudian mulai menghidupkan shower, membasahi tubuh polos sang istri yang sudah sangat kotor.
Sifa menitikkan air matanya. Ia bingung, ia takut, menghadapi sikap suaminya yang berubah-ubah. Sebentar lembut, sebentar lagi akan kasar juga. Narkoba benar-benar menghancurkan pikiran manusia, bahkan Sifa seakan tidak percaya sikap kasar yang ditunjukkan oleh Aldo.
Aldo dengan telaten membersihkan tubuh Sifa, mencuci rambut istrinya itu menggunakan shampo, menggosok punggung Arumi dengan spons yang mengeluarkan busa sabun yang sering dipakai oleh wanita tersebut.
Setelah dirasa cukup bersih, Aldo pun mengeringkan tubuh Sifa dengan handuk, lalu kemudian menyelimuti tubuh polos Sifa menggunakan bathrobe.
Lagi-lagi Sifa hanya menurut. Ia tak berani melayangkan protes apapun karena memang kali ini Aldo memperlakukannya layaknya seorang ratu setelah kemarin melakukannya seperti seekor binatang.
Aldo mengeringkan rambut panjang Sifa menggunakan hair dryer, sesekali pria tersebut mengendus aroma yang menguar dari tubuh sang istri.
Sifa langsung bergidik ngeri saat merasakan hembusan napas Aldo sedikit menggelitik telinganya. "Ada apa? Apakah kamu merasa kurang nyaman karena aku melakukan hal ini?" tanya Aldo berbisik tepat di depan telinga Sifa.
"A-aku ...."
Aldo langsung menjauh dari istrinya. Pria itu memilih untuk melangkah pergi. Sebelum menutup pintunya rapat, Aldo pun kembali menatap sang istri.
"Bersiaplah! Pakai baju lalu kemudian turun lah ke bawah untuk sarapan bersama," ujar pria tersebut yang sesaat kemudian menutup pintu kamar itu dengan rapat.
Sifa menghembuskan napasnya dengan lega. Entah mengapa di saat berdekatan dengan suaminya sendiri, Sifa justru merasa terintimidasi. Seolah pria tersebut akan kembali menyakitinya setelah ini.
Perlahan, Sifa pun bangkit dari posisinya. Wanita itu segera mengambil pakaian yang ada di dalam lemari. Ia menuruti ucapan Aldo, jika memang ia ingin selamat.
Apalagi sekarang wanita itu sudah tidak memiliki ponsel lagi. Jika ingin menghubungi bantuan melalui telepon rumah, sama saja Sifa mengantarkan nyawanya pada Aldo.
Berselang beberapa saat kemudian, Sifa pun sudah mengenakan rapi. Wanita itu sedikit merias wajahnya agar tak terlihat pucat seperti sebelumnya. Setelah dirasa semuanya sudah cukup, Sifa langsung keluar dari kamarnya, menyusul Aldo yang sudah menunggunya sedari tadi di bawah.
"Duduklah!" ujar Aldo memperlakukan Sifa dengan manis. Menarik kursi untuk sang istri.
Sifa pun langsung menjatuhkan bokongnya sembari berucap terima kasih.
"Aku harap, kamu akan tetap seperti ini. Tidak banyak tingkah, dan lebih menjaga lisanmu dengan baik. Aku akan memperlakukanmu lebih baik dari Fahri, dengan syarat jika kamu tidak berulah kembali," kecam Aldo.
Benar saja bukan? Baru saja Aldo memperlakukannya dengan manis, akan tetapi sekarang pria itu kembali kumat lagi. Mengancam Sifa harus mematuhi semua ucapannya. Sifa menimpali ucapan Aldo dengan sebuah anggukan pelan.
"Bagus, aku menyukaimu yang seperti ini," ujar Aldo yang langsung meraih tangan Sifa, lalu kemudian menggenggamnya dengan erat.
"Setidaknya menuruti keinginanmu adalah solusi yang tepat jika ingin selamat. Ku harap kamu akan segera mendapatkan hukuman. Aku tidak tahan jika terus diperlakukan seperti ini," batin Sifa menjerit .
...****************...
Di lain tempat, Samuel tengah berada di salah satu cabang kedai kopi milik Elena. Seperti biasa, dirinya di tempat tersebut selain meminta bantuan pada gadis itu, ia juga merecoki Elena agar memberikannya kopi secara cuma-cuma.
"Sepertinya lain kali kita harus mengadakan pertemuan di lain tempat. Ya ... seperti di sebuah resto yang mewah," gerutu Elena.
"Karena jika dilihat-lihat, tujuanmu kemari bukan hanya membicarakan tentang misi yang sedang kamu jalankan itu," lanjut Elena sembari bersedekap.
Samuel yang baru saja menyesap kopi yang ada di hadapannya pun kembali meletakkan minumannya di atas meja. Pria itu membenahi posisi duduknya sejenak, lalu kemudian menatap Elena dengan wajah yang serius.
"El, tidak ada salahnya kamu sedikit bersedekah pada orang miskin sepertiku. Asal kamu tahu, setetes kopi yang membasahi tenggorokanku, akan menambah jumlah pahala yang kamu dapatkan nantinya. Kalau begitu ... sekalian berikan aku sepotong cake agar pahalamu semakin bertambah dan tokomu menjadi semakin ramai," papar Samuel panjang lebar yang ujung-ujungnya merayu Elena untuk mendapatkan gratisan lagi.
"Jangan harap!" tukas Elena yang langsung membuang wajahnya.
Elena langsung mendelik menatap Samuel dengan tatapan tajamnya.
"Kamu butuh berapa?" tanya Elena yang mencoba untuk berbaik hati. Ia tak tega melihat Samuel dengan wajah yang memelas seperti itu.
"Tidak banyak. Pinjamkan aku sekitar satu milyar saja," ujar Samuel.
Mata Elena langsung membulat sempurna. "A-apa? Ti-tidak banyak? Apakah kamu sadar dengan ucapanmu itu?!" cecar Elena.
"Aku sangat sadar sesadar-sadarnya. Hanya kamu lah yang bisa menolongku. Kamu wanita yang baik, yang dermawan dan juga sangat cantik," ucap Samuel yang mencoba merayu Elena supaya mendapatkan pinjaman dari wanita tersebut.
Blusshhh ...
Seketika pipi Elena langsung merah merona saat dikatakan cantik oleh Samuel. Baru kali ini Samuel mengucapkan hal itu untuknya.
"Memangnya untuk apa kamu membutuhkan uang sebanyak itu?" tanya Elena.
"Intinya aku ada keperluan. Sulit untuk menjelaskannya padamu. Namun, kamu tenang saja. Aku akan segera mengembalikan uangmu," ujar Samuel.
"Dengan cara apa? Bukankah kamu bilang bahwa kamu itu pria yang miskin?"
"Aku akan memeras orang kaya yang lainnya untuk mengembalikan uangmu," timpal Samuel sembari tertawa memegangi perutnya.
Elena hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, melihat Samuel yang ternyata benar-benar gila. Namun, pada akhirnya gadis itu pun meminjamkan uang tersebut pada pria yang tak pernah membalas cintanya itu.
.....
Flashback on:
Samuel berulang kali menghubungi nomor yang berhasil ia ambil di ponsel Arumi tadi. Panggilan Samuel tersambung, akan tetapi pemilik nomor tersebut rupanya enggan mengangkat panggilan dari Samuel.
Samuel tidak menyerah, ia bahkan sanggup menelepon puluhan kali hanya untuk mendapatkan informasi, siapa pemilik nomor yang masuk dalam daftar blokir di ponsel Arumi.
"Aku tidak akan menyerah begitu saja. Ayo angkat teleponnya," gumam Samuel.
Tak lama kemudian, terdengar suara dari seberang telepon. Samuel pun langsung melemparinya dengan banyak pertanyaan.
"Kamu siapa?"
"Apakah kamu yang mengirimkan pesan gambar itu pada Arumi?"
"Jawab aku!"
"Berapa Bu Dewi membayarmu?"
"Ehmmm ... begini saja. Aku akan membayarmu lebih mahal dari Bu Dewi asalkan kamu memberikan semua informasi yang kamu ketahui," ujar Samuel yang tak berhenti memberikan pertanyaan.
"Siapkan uang satu milyar, temui aku di cafe xx."
Tak lama kemudian panggilan itu pun terputus. "Sialan! Dari mana aku dapat uang segitu banyak?!" rutuk Samuel.
Falshback off
Bersambung ....