
"Hahaha ... kamu ini benar-benar lucu, Mas. Obat ini aku konsumsi bukan hanya sedang berhubungan saja. Kalau kamu tidak percaya, boleh kamu tanya dokter sekalian," ujar Sifa yang masih mengelak. Ia tak ingin Fahri mengetahui tentang hal tersebut. Sebisa mungkin, Sifa mencoba untuk mencari alasan, seakan Fahri menuduhnya begitu saja.
Fahri mengusap wajahnya. Ia benar-benar tidak percaya jika istrinya masih mengelak tentang perbuatan kejinya itu.
Fahri mengeluarkan ponselnya. Lalu menunjukkan beberapa foto yang dikirim oleh nomor yang tak dikenal kepadanya kemarin.
"Jika memang yang tadi adalah praduga ku saja, lalu bagaimana kamu menjelaskan semua foto-foto ini?" ujar Fahri meletakkan ponselnya di atas meja.
Dengan layar yang menyala, memperlihatkan beberapa gambar yang diambil. Saat Sifa dan Aldo berciuman di bar, saat keduanya mulai masuk ke dalam sebuah penginapan.
"Apa yang ingin kamu katakan tentang foto ini? Penginapan? Ck, aku baru tahu jika kamu semurah itu!" ujar Fahri yang mencecar istrinya habis-habisan.
Sungguh, ini menyakitkan bagi Fahri. Namun, pria itu mencoba untuk menahan laju air matanya. Beberapa kali Fahri terlihat menengadahkan kepalanya agar air matanya tak jatuh saat itu juga.
"Jika kamu ingin cerai dariku, katakan saja! Paksa aku agar bisa melepaskanmu saat itu juga. Maka aku akan segera menceraikan mu tanpa harus kamu melakukan zinah terlebih dahulu," tukas Fahri.
Sifa hanya tertunduk. Ia kehabisan kata-kata untuk menjawab ucapan sang suami. Bukti kali ini tak bisa terelakkan. Entah siapa yang mengirimkan gambar itu pada Fahri.
"Apakah ini perbuatan Elena?" batin Sifa.
Sifa terkejut saat melihat Fahri yang menatap tajam ke arahnya. Pria itu tak berkedip seakan hendak memakan Sifa bulat-bulat.
"Wajar jika kamu membuang ku. Dia lebih kaya dibandingkan diriku yang hanya pegawai rendahan ini. Jangankan mobil, bahkan menghidupimu saja aku selalu kekurangan," lirih Fahri.
"Sekarang, apa yang kamu inginkan? Jika kamu meminta kita bercerai, maka akan aku urus perceraian kita saat ini juga," lanjut Fahri.
Bibir Sifa hendak menjawab, akan tetapi terasa begitu berat. Pernikahannya memang sudah tak bisa lagi diselamatkan. Namun, Sifa takut jika hutangnya pada Elena, Fahri tidak mau membayarnya.
"Apakah kamu tetap ingin bercerai denganku?" tanya Fahri lagi.
Ia menghembuskan napasnya dengan kasar, "Jika ini adalah tentang hutangmu itu, aku tetap akan membayarnya. Tolong jawab pertanyaanku," lanjut Fahri.
Perlahan tapi pasti, Sifa pun menganggukkan kepalanya. Fahri memejamkan mata, berusaha untuk menerima kenyataan pahit ini.
"Baik, jika itu keputusan yang kamu ambil, aku akan menuruti permintaanmu sebelum kalian berulah yang tambah parah lagi. Mulai besok, aku akan mengurus semua perceraian kita. Semoga kamu merasa puas setelah ini," ujar Fahri yang kemudian beranjak dari tempat duduknya.
Fahri memilih untuk keluar dari rumahnya. Ia membutuhkan udara segar untuk mengisi rongga dadanya yang terasa sesak.
Pria itu duduk di depan gedung apartemennya. Ia menyalakan pemantik untuk membakar sebatang rokok yang diapit oleh bibirnya.
Ia berusaha baik-baik saja, meskipun ini sangat menyakitkan. Berusaha menerima kekalahan, meskipun dirinya tak ingin semua ini usai. Istrinya telah membuangnya, berlari mengejar pria yang lebih banyak memiliki harta dibandingkan melihat perjuangan yang Fahri lakukan selama ini.
Terlintas kembali dipikirannya tentang hutang pada Elena. Fahri pun mengambil ponselnya, pria tersebut mencoba mencari nomor telepon yang hendak ia hubungi, lalu kemudian menempelkan benda pipih itu di telinganya.
"Baiklah. Aku akan menemuimu di tempat kemarin," lanjut pria tersebut yang kemudian memutuskan sambungan teleponnya.
Fahri kembali menghisap benda bernikotin itu dengan mengeluarkan kepulan asap. Ia hendak menenangkan pikirannya yang kacau, harapan yang ia susun rapi sedemikian rupa, sirna seketika.
.....
Di lain tempat, Aldo tengah memandangi ponselnya. Layar dari ponsel tersebut menyala. Menandakan bahwa ada pesan yang masuk karena ia mengaktifkan mode silent pada ponselnya itu.
Sebenarnya kamu siapa? Dan apa tujuanmu mengirimkan semua foto-foto itu padaku?"
Setelah membaca rentetan pesan tersebut, Aldo menyunggingkan senyumnya. Pria tersebut mengabaikan pesan dari pria yang tadinya ia kirimi foto tentangnya dan Sifa.
Bukan Elena pelakunya, melainkan Aldo. Pria itu tidak suka, Sifa yang terlalu lama mengambil keputusan padahal kemenangan sudah di depan mata. Maka dari itu, Aldo mencoba memprovokasinya dengan mengirimkan foto yang ia dapatkan melalui temannya.
Aldo sengaja, menyuruh salah satu temannya untuk diam-diam mengambil foto saat dirinya bersama dengan Sifa. Sebagai bukti kuat jika suatu saat Sifa lebih memilih berpaling darinya.
....
Sifa, saat ini tengah berusaha memejamkan matanya. Namun, tetap saja mata itu enggan untuk terpejam. Entah mengapa ia masih memikirkan tentang pernikahan yang kandas dengan mudahnya.
Bukan karena kesalahan dari suaminya, melainkan kesalahan dari dirinya sendiri. Setelah berucap hendak berpisah dengan Fahri, Sifa melirik ke arah samping. Di mana tempat yang biasanya Fahri memberikan pelukan hangatnya dan rela mengorbankan lengannya hanya untuk menjadi pengganti bantal tidurnya, hingga tangan Fahri kebas di keesokan harinya.
Tanpa sadar, air mata jatuh menetes membasahi pipinya. Sifa menangis saat mengingat semua yang telah ia lalui bersama dengan Fahri. Meskipun ja memilih untuk memutuskan berpisah dengan pria itu, akan tetapi kenangan yang pernah mereka jalani tak bisa hilang begitu saja di dalam ingatannya.
"Ada apa denganku? Bukankah seharusnya aku senang karena keinginanku terwujud. Kenapa aku harus menangis? Kenapa air mata ini mengalir semakin deras," gumam Sifa yang mencoba untuk menyeka air matanya yang tertumpah begitu saja.
....
Keesokan harinya, Sifa terbangun dari tidurnya. Wanita tersebut meregangkan otot-ototnya, sementara matanya masih sembab akibat menangis semalaman.
Ia melirik ke samping tempat tidurnya, akan tetapi dirinya tak menemukan keberadaan Fahri. Setelah mengingat kejadian semalam, Sifa pun tersadar jika yang Fahri lakukan itu memanglah wajar. Pria itu mungkin tidak akan Sudi satu ranjang dengan wanita yang telah dikotori oleh pria lain, apalagi memang keduanya berencana untuk berpisah.
Sifa mencoba melihat Fahri di ruang tengah. Biasanya, jika tidak berada di kamar, pria tersebut memilih untuk tertidur di sofa yang ada di ruang tengah. Namun, Sifa masih tak menemukan keberadaan suaminya itu.
Sifa kembali ke kamarnya untuk mengambil ponselnya . Ia mencari kontak Fahri, akan tetapi saat dirinya hendak menekan tombol dial, Sifa ragu. Wanita tersebut mengurungkan niatnya untuk menghubungi Fahri dan menanyakan keberadaan pria tersebut.
"Lagi pula aku sudah tidak ada hak lagi untuk menanyai keberadaannya," gumam Sifa yang berusaha untuk menyadarkan dirinya sendiri.
Bersambung ....