
Setelah mendapatkan pesan dari Arumi tentang lokasi yang menjadi pertemuan mereka, Fahri pun berjalan kaki menuju ke tempat tersebut. Sebenarnya tempat itu lumayan jauh dari kantor, akan tetapi demi meminta bantuan dengan wanita itu, Fahri rela dimarahi dengan atasannya jika nanti ia datang terlambat.
Cukup lama Fahri berjalan. Tak terasa tempat itu pun semakin dekat. Fahri mengeluarkan sapu tangan dari dalam sakunya. Menyeka keringat yang membasahi keningnya. Pria itu pun kembali melanjutkan langkahnya, memasuki sebuah restoran yang menjadi lokasi pertemuan mereka.
Saat berada di dalam resto, Fahri mengedarkan pandangannya. Ia belum melihat keberadaan Arumi di dalam resto itu. Pria itu pun memilih untuk menduduki salah satu kursi yang ada di sana. Salah seorang pelayan menghampirinya, membawa buku menu yang ada di tangannya.
"Bisakah aku memesan makanan nanti saja? Ada seseorang yang sedang aku tunggu," ujar Fahri.
Pelayan tersebut pun langsung mengangguk dan meninggalkan Fahri sendirian di sana.
Dari dalam mobil, Arumi menyunggingkan senyumnya melihat Fahri yang sudah menunggunya di dalam. Sebenarnya, Arumi sudah lebih dulu tiba sebelum Fahri. Namun, gadis itu memilih untuk menunggu pria tersebut di dalam mobil. Bahkan ia tahu saat Fahri menyeka keringatnya karena berjalan menuju ke tempat ini.
Ia melihat arloji yang ada di pergelangan tangan kirinya. Sudah lima belas menit Fahri menunggunya di dalam sana. Arumi pun bersiap untuk turun dari mobil. Dengan kacamata hitam yang bertengger di batang hidung mancungnya itu, ia keluar dari dalam mobil.
Gadis itu berjalan menuju pintu masuk. Ia langsung menghampiri Fahri, berjalan melenggang dengan begitu anggun dan tegas. Suara heels dari sepatunya mengiringi langkah Arumi menghampiri Fahri.
Fahri yang melihat kedatangan Arumi, langsung berdiri seraya membungkukkan tubuhnya. Ia menyambut kedatangan Arumi.
"Tak ku sangka kamu datang begitu cepat," ujar Arumi seraya meletakkan tas jinjingnya di kursi, lalu kemudian menjatuhkan bokongnya di kursi tersebut. Gadis itu melepaskan kacamatanya, lalu kemudian tersenyum simpul.
Ia berkata demikian, padahal Arumi lah yang lebih dulu tiba di tempat itu. Hanya saja ia pintar menyembunyikan dirinya dan berekspresi seolah bahwa Fahri lah yang lebih dulu berada di sana.
"Saya juga baru saja tiba di sini," ujar Fahri yang juga berbohong.
"Oh ...." Arumi menimpalinya seraya menganggukkan kepalanya dengan pelan. "Kita impas, karena kamu juga berbohong," batin Arumi.
"Apakah kamu tidak memesan makanan?" tanya Arumi.
"Pelayan!" seru Arumi.
Salah satu pelayan pun langsung menuju meja mereka sembari membawa daftar menu. Pelayan tersebut tersenyum ramah seraya menyerahkan buku menu yang ada di tangannya.
"Tolong, saya pesan makanan yang paling mahal di sini dua porsi," ujar Arumi tanpa mengambil buku menu yang diserahkan oleh pelayan tersebut.
"Saya tidak usah. Lagi pula saya tidak lapar," ucap Fahri berbohong.
"Berjalan menuju kemari pasti membutuhkan energi dan membuatmu lapar lagi. Pesan seperti yang saya katakan tadi," ujar Arumi.
Pelayan itu pun mengangguk paham, lalu kemudian meninggalkan keduanya untuk menyiapkan pesanan yang diminta oleh pelanggannya itu.
"Maaf, tapi bagaimana anda bisa tahu jika saya berjalan kaki menuju kemari?" tanya Fahri.
"Oh itu ...." Arumi sedikit gelagapan. Tanpa sadar ia berkata tanpa berpikir panjang lagi. Gadis itu pun merutuki kebodohannya.
"Aku tidak mengatakannya jika kamu berjalan kaki. Yang kukatakan hanyalah berjalan, yang berarti memiliki makna yang cukup luas. Entah itu menggunakan kaki ataupun kendaraan," jelas Arumi yang mampu mengatasi ucapannya tadi.
"Oh iya." Fahri tersenyum.
Melihat senyuman yang ditunjukkan Fahri kepadanya, membuat kesadaran Arumi sedikit hilang. Pria bermata sedikit sipit, berhidung yang tinggi menjulang bak menara Eiffel, serta senyumnya yang membuat ketampanan pria yang ada di hadapannya itu benar-benar terlihat sempurna.
Lamunan Arumi seketika buyar saat mendengar salah seorang yang juga berada di resto tersebut tengah memanggil pelayan. Ia kembali menormalkan ekspresinya, menjadi sedikit angkuh.
"Emmm ... begini, kedatangan saya kemari untuk meminta bantuan pada anda," ujar Fahri mencoba mengutarakan maksud dan tujuannya.
"Sebaiknya dibicarakan nanti saja. Nikmati saja dulu makanannya," ujar Arumi.
Fahri mengangguk. Pria itu langsung menyantap hidangan yang ada di depannya dengan lahap. Kebetulan ia memang belum makan apapun pagi ini, dan perutnya terasa sangat perih karena menahan lapar.
Arumi tersenyum samar saat melihat Fahri yang tengah menyantap hidangannya dengan begitu lahap. Mata gadis itu mencuri-curi pandang pada pria yang ada satu meja dengannya.
Tak lama kemudian, Fahri telah selesai menghabiskan makanannya. Pria itu mengambil tissue lalu menyeka mulutnya. Sementara Arumi, gadis itu sedari tadi hanya memakan makanannya sedikit karena memang sebelum berangkat kemari, ia sudah sarapan.
Ia memesan semua ini hanya sekedar formalitas saja. Fahri pasti menolak jika Arumi hanya memesan satu porsi hanya untuk pria itu saja.
Setelah keduanya menyudahi makannya, Fahri pun mulai berbicara mengenai maksud dan tujuannya kemari.
"Saya ingin meminta bantuan anda," ujar Fahri.
"Bantuan apa?" tanya Arumi.
"Emm ... begini, bisakah anda meminjamkan uang kepada saya. Akan saya bayar hutangnya dengan cara mencicil," jelas Fahri.
"Ternyata tebakanku sangat tepat sasaran," batin Arumi.
"Uang? Berapa yang kamu butuhkan?" tanya Arumi.
"Dua ratus juta. Saya berjanji akan membayarnya meskipun itu dengan cara mencicil," ujar Fahri.
Arumi melipat kedua tangannya ke depan. Ia cukup lama terdiam. Sementara Fahri sangat menantikan jawaban dari Arumi.
"Semoga saja dia bersedia membantuku," batin Fahri penuh harap.
Gadis yang ada di hadapannya masih terdiam, membuat ujung jemari Fahri menjadi dingin. Hanya Arumi lah yang bisa membantunya.
"Aku bisa memberikan uang yang lebih dari itu," ujar Arumi secara tiba-tiba. Mata Fahri langsung membola. Ia menyunggingkan senyumannya karena ucapan Arumi seakan memberikan harapan yang begitu besar untuk bisa menolongnya.
"Aku akan memberikanmu uang senilai lima ratus juta," lanjut Arumi.
Mata Fahri semakin berbinar. Ia benar-benar merasa sangat tertolong dan bersyukur karena Arumi bisa membantunya.
"Saya hanya perlu dia ratus juta saja," ujar Fahri.
Arumi menggelengkan kepalanya. "Tidak! Aku akan tetap memberimu uang senilai lima ratus juta tanpa harus kamu kembalikan," tutur Arumi dengan tegas.
Fahri terkejut dengan ucapan yang baru saja dilontarkan oleh Arumi. "Tanpa harus dikembalikan? Apa maksudnya?" tanya Fahri yang merasa bahwa kalimat itu sedikit ambigu.
"Aku memang tidak memberikannya padamu secara cuma-cuma," sahut Arumi.
"Lalu?"
"Jadilah suamiku, maka aku akan langsung memberikan uangnya padamu," ujar Arumi dengan sangat enteng.
"Apa?!" Fahri tak bisa menyimpan wajah keterkejutannya.
Bersambung...