Pria 500 Juta

Pria 500 Juta
Bab 75. Obat Penyembuh


Tettt .... Tettt ....


Terdengar suara bel berbunyi. Dewi pun langsung berjalan keluar untuk membukakan tamunya saat itu.


Dewi menarik handle pintunya, melihat Indra yang sudah berdiri di balik pintu tersebut. Pria itu mengulas senyum liciknya, lalu masuk ke dalam rumah Dewi tanpa di persilahkan terlebih dahulu oleh pemilik rumah tersebut.


"Sepertinya Tante sangat nyaman tinggal di sini," ujar Indra menyeringai.


"Mau apa kamu datang kemari?" tanya Dewi dengan sarkasme.


"Aku? Kesini? Tentu saja untuk menemui tanteku yang cantik jelita ini. Jika tidak, buat apa aku kemari," timpal pria itu bagai tak berdosa.


"Berhubung pemilik rumah tidak mempersilakan aku duduk, maka aku akan dengan lancang duduk di sini," lanjut Indra menjatuhkan bokongnya di salah satu kursi yang ada di ruang tengah.


Dewi mendengkus kesal. Ia sedikit menghentakkan kakinya, lalu kemudian ikut duduk di kursi yang lainnya.


"Bagaimana Tante? Kok bisa Arumi mengambil alih semuanya. Apakah Tante tidak berusaha untuk merebutnya dari gadis itu? Gadis yang bukan anak kandung Tante," ujar Indra.


"Lantas kenapa kamu menanyakannya padaku? Bukankah seharusnya kamu lah yang mempertahankannya? Kenapa dengan mudahnya Arumi bisa merebut posisi itu darimu? Seharusnya kamu yang berpikir!" tukas Dewi.


Indra tertawa keras mendengar perkataan Dewi. Tak lama kemudian, ia pun menggebrak meja sembari menatap tajam ke arah Dewi.


Dewi langsung terkejut karena perbuatan Indra itu. Wanita itu memilih untuk mengalihkan pandangannya ke arah lain saat Indra menatap ke arahnya dengan tatapan yang menusuk.


"Apa Tante lupa? Aku bisa saja menghancurkan Tante dengan sekejap," tukas pria itu tertawa keras.


"Rebut kembali bagaimana pun caranya, atau aku akan membuat Tante menyesal nantinya," ancam pria tersebut.


Setelah berucap demikian, Indra langsung pergi dari rumah Dewi. Pria itu mengigit bibirnya, lalu kemudian tersenyum smirk karena merasa ancamannya itu akan berhasil dan membawa keberuntungan untuk dirinya nanti.


Sementara Dewi, wanita tersebut mendengus kesal setelah mendapatkan ancaman dari Indra. Matanya memerah, melihat ke arah pintu yang masih terbuka.


"Arghhh .!!" teriak Dewi merasa frustasi.


...****************...


Saat ini Arumi tengah memeriksa beberapa email yang dikirimkan oleh Samuel padanya. Dengan kacamata yang bertengger di batang hidungnya, Arumi tampak terlihat lebih manis. Gadis itu membaca satu persatu email yang masuk.


Terdengar suara ketukan pintu. Arumi menyuruh masuk karena ia tahu bahwa yang mengetuk pintu tersebut pastinya salah satu pelayan yang ia suruh membuatkan coklat panas untuknya.


Coklat panas itu diletakkan di atas meja. "Terima kasih," ujar Arumi tanpa menatap siapa yang ada di hadapannya.


"Apakah ada yang bisa ku bantu? Sepertinya kamu sangat sibuk sekali." terdengar suara bariton yang mengucapkan kalimat tersebut.


Arumi langsung membulatkan matanya dengan sempurna. Ia pun mendongak, menatap siapa yang ada di hadapannya saat ini.


"Fahri, ..." gadis itu bergumam.


"Bahkan kamu baru menyadari bahwa yang datang adalah aku," ujar Fahri terkekeh.


Beberapa menit yang lalu, Arumi memang menyuruh salah satu pelayannya untuk membuatkan dirinya coklat panas. Gadis itu mengecek beberapa email yang masuk sembari menunggu coklat panasnya tiba.


Saat itu Fahri baru saja keluar dari kamarnya. Ia melihat pelayan yang lewat di depannya dengan membawa nampan.


"Untuk Arumi?" tanya Fahri.


"Iya Tuan," timpal pelayan tersebut.


"Sini biar aku saja yang memberikannya," ujar Fahri.


"Baiklah, ini Tuan." pelayan tersebut langsung menyodorkan nampannya kepada Fahri.


"Maaf jika merepotkan Tuan Fahri," lanjut pelayan tersebut.


"Tidak apa-apa. Lagi pula kan aku yang memintanya dari bibi," ujar pria tersebut sembari mengulas senyum.


Setelah memberikan nampan tersebut, si pelayan pun langsung pamit undur diri dari hadapan Fahri. Pria itu menatap kamar Arumi seraya mengulas senyumnya. Alhasil, ia pun mengantarkan coklat panas tersebut kepada sang istri.


....


Saat ini Fahri dan Arumi tengah duduk di depan teras. Keduanya menikmati minuman yang ada di hadapannya masing-masing.


Setelah Fahri mengantarkan coklat panas untuknya. Arumi pun bertekad untuk membuatkan sang suami minuman yang serupa.


Keduanya menatap hamparan langit malam itu. Sesekali Arumi memejamkan matanya, menghirup udara malam tersebut dengan sangat rakus dan mengeluarkannya secara perlahan.


"Stress yang ku alami berangsur menghilang," gumam Arumi.


"Apakah kamu merasa stres?" tanya Fahri.


"Iya sedikit. Namun, cara penyembuhannya sesederhana ini," timpal wanita itu.


Fahri mengulas senyumnya, lalu kemudian kembali melemparkan pandangannya ke depan. "Dulu, aku juga merasakan hal yang sama. Aku sempat stress berat karena terjebak diantara mempertahankan atau harus melepaskan." Fahri memulai ceritanya.


"Namun, obatku hanyalah satu, yaitu kamu. Awalnya aku mengira bahwa di pernikahanku kali ini, tanpa adanya rasa cinta, akan lebih buruk dari sebelumnya. Akan tetapi aku salah, adanya kamu membuatku sedikit melupakan masa laluku yang kelam," ucap Fahri sembari tersenyum menatap Arumi.


"Aku teringat ucapanmu saat kita sedang ziarah di makam kedua orang tuaku. Kamu seakan tengah meyakinkan mereka bahwa pernikahan ini tidak akan gagal. Yang jadi pertanyaanku adalah satu. Apakah kamu yakin? Kita menikah hanya saling menguntungkan saja. Tidak untuk mencintai. Apakah kamu bisa?" tanya Fahri menatap ke dalam manik mata Arumi.


"Apakah cinta itu tidak akan tumbuh seiring berjalannya waktu?" kini Arumi lah yang balik bertanya pada Fahri.


"Anggaplah saja pernikahan ini adalah coba-coba. Jika beruntung maka kamu akan mendapatkan hadiah yang cukup memuaskan. Tetapi jika tidak beruntung, maka kamu harus menerima kekalahan itu," papar gadis itu.


"Tetapi kali ini aku ingin kita dalam posisi beruntung. Kamu beruntung mendapatkan aku, dan aku juga beruntung mendapatkan kamu. Bukan saling menguntungkan dalam segi uang atau pun bisnis. Melainkan dari segi rasa nyaman yang tak pernah kamu dapatkan sebelumnya. Aku ingin menjadi sesuatu yang sedikit bermakna dalam hidupmu walaupun itu adalah hal yang mustahil bagimu. Aku ingin mencobanya, aku ingin melakukannya," papar Arumi panjang lebar.


Fahri yang hendak menyesap minumannya pun langsung mengurungkan niatnya. Entah wanita seperti apa Arumi ini, ia pun tak mengetahuinya. Namun, banyak hal yang membuat Fahri terlihat berbeda dari sebelumnya.


Cara Arumi yang selalu memperhatikannya. Dimana gadis itu tak pernah sedikit pun meremehkan Fahri meskipun mereka yang berbeda bak langit dan bumi. Bahkan Arumi membuat Fahri terlihat setara dengannya tanpa harus menjatuhkan harga diri pria itu. Ia seolah mengangkat derajat Fahri yang sebelumnya bak tak memiliki harga diri sama sekali.


"Aku adalah sesuatu yang kamu pungut dari jalanan. Kamu menjadikan aku sesuatu yang indah. Kamu juga yang mengangkat derajat ku hingga saat ini. Kamu adalah keberuntungan bagiku. Akan tetapi, bisakah kita mewujudkan keberuntungan itu dalam hal yang berbeda?" tanya Fahri menatap Arumi dengan wajah yang serius.


Bersambung ....