Pria 500 Juta

Pria 500 Juta
Bab 71. Perdebatan


Fahri dan Arumi saat ini sedang menuju perjalanan untuk pulang ke rumah. Pria itu menatap lurus ke arah jalanan. Sementara Arumi, gadis itu telah menutup matanya, tertidur pulas karena merasa kelelahan.


Fahri sesekali melihat Arumi yang sudah dalam alam mimpinya. Ia kembali mengingat ucapan gadis itu saat mereka berada di pusara kedua orang tuanya.


"Aku yakin ibu dan ayah tidak akan marah karena Fahri memilih bercerai dari istri pertamanya. Mungkin Fahri mengalami kegagalan dalam pernikahan yang pertama, akan tetapi kali ini, Fahri tidak akan gagal di pernikahannya yang kedua. Maka dari itu, tolong restui pernikahan kami."


Masih terngiang-ngiang di telinga Fahri ucapan yang Arumi lontarkan tadi. Membuat Fahri menjadi bertanya-tanya, mengapa Arumi begitu yakin jika pernikahan mereka tak akan gagal. Bukankah keduanya menikah hanya karena kesepakatan?


Terdengar suara Arumi menggeliat kecil, bangun dari tidurnya. Gadis itu menatap sekelilingnya, dimana jalanan saat ini sudah mulai gelap.


"Sini ... biar aku yang menggantikanmu menyetir," tawar Arumi.


Fahri menatap Arumi sejenak seraya mengembangkan senyumnya. "Kamu tidur saja, biar aku yang menyetir," tolak Fahri.


"Kamu pasti lelah, sedari tadi kamu yang memegang setir sementara aku hanya duduk santai," ujar Arumi.


"Tidak. Aku tidak lelah. Sebaiknya kamu lanjutkan tidurmu," kekeh Fahri.


Arumi menarik kaca spion ke arah dirinya sejenak. Hanya untuk memastikan apakah dia masih tetap cantik walaupun baru bangun tidur. Setelah selesai, ia pun mengembalikan posisi kaca spion tersebut ke posisi semula.


"Kalau begitu, aku lebih baik menemanimu bercerita saja. Takutnya kamu akan mengantuk saat menyetir," ujar Arumi.


Kali ini Fahri tak menolak alasan Arumi. Pria tersebut membiarkan istrinya untuk menemaninya agar ia tidak mengantuk.


Arumi menghidupkan pemutar musik yang ada di mobilnya. "Supaya kamu tidak merasa bosan," ucap Arumi sembari terkekeh.


Fahri pun mengangguk sembari mengulas senyumnya. Ia mendengar lagu yang diputar oleh Arumi. Sesekali istrinya itu ikut menyanyi seiring dengan lagu yang ia dengarkan.


"Maaf jika suaraku sedikit sumbang," tandas Arumi.


"Tidak. Aku lebih menyukai suaramu dari pada suara penyanyi aslinya," gurau Fahri.


"Kamu bisa saja!" tukas Arumi seraya menutup wajahnya, seakan memperagakan bahwa dirinya tengah tersipu malu.


.....


Hari ini Dewi pulang ke rumah utama. Kedatangannya di sambut oleh beberapa pelayan rumah. Dewi mengendarakan pandangannya. Di rumah tampak sepi karena wanita itu tidak melihat keberadaan Arumi beserta menantunya.


"Dimana Arumi dan Fahri?" tanya Dewi.


"Nyonya Arumi bersama Tuan Fahri sedang keluar, Nyonya." salah satu dari mereka menjawab pertanyaan dari Nyonya besarnya.


"Sudah lama?" tanyanya lagi.


"Iya, Nyonya."


"Kapan mereka akan pulang?" tanya Dewi lagi.


"Kami kurang mengetahuinya, Nyonya."


Setelah mendengar jawaban dari ketiga pelayan tersebut. Dewi pun memilih melanjutkan langkahnya. Ia menaiki tangga dan berjalan menuju ke kamarnya.


Cukup lama Dewi berada di dalam kamar tersebut. Ia melirik jam yang ada di ponselnya sudah hampir menunjukkan waktu tengah malam.


"Apakah mereka memang tidak akan pulang malam ini?" gumam wanita perih baya itu.


Dewi kembali ke atas, melangkahkan kakinya menuju ke kamar. Namun, belum sampai di kamarnya, Dewi melihat ruang kerja yang ia lewati.


Wanita paruh baya itu menghentikan langkahnya. Ia pun melihat-lihat sekitarnya, lalu kemudian mengambil sebuah kunci yang ada di dalam sakunya untuk membuka pintu tersebut dengan sangat berhati-hati. Dewi mencoba memutar kenop pintu itu, akan tetapi tiba-tiba saja ...


"Nyonya ...," tegur seseorang dari arah belakang. Tentu saja hal tersebut langsung membuat Dewi terperanjat kaget.


"Tidak sedang apa-apa. Aku hanya ingin melihat-lihat ruang kerja papanya Arumi. Entah mengapa, aku tiba-tiba merindukannya," kilah Dewi.


"Maaf, tapi saya dipesankan oleh Nyonya Arumi untuk melarang siapa pun yang masuk ke dalam sana tanpa persetujuan dari Nyonya Arumi," ujar pelayan tersebut.


Mendengar hal itu, membuat raut wajah Dewi berubah masam. "Kalau begitu telepon Arumi sekarang juga! Katakan bahwa mamanya ingin masuk ke ruang kerja papanya!" ketus Dewi meninggikan nada bicaranya.


"Papanya Arumi itu suamiku, sedangkan Arumi itu anakku. Bisa-bisanya kalian mencurigaiku seperti ini!" ketus Dewi.


"Ada apa ini?" terdengar suara Arumi dari bawah melihat ibunya dan salah satu pelayannya itu beradu mulut.


Arumi melangkahkan kakinya menuju ke atas. Dan Fahri mengikuti Arumi dari belakang. Gadis itu menghentikan langkahnya tepat di depan kedua orang itu.


"Ada apa?" tanya Arumi.


"Katakan padanya sekarang. Dan laporkan aku pada Arumi," ketus Dewi.


"Ma-maafkan saya Nyonya. Saya menegur Nyonya Besar untuk membuka ruang kerja. Saya hanya menjalankan apa yang diperintahkan oleh Nyonya Arumi saja, tidak lebih." Pelayan tersebut sedikit terbata-bata memberikan penjelasan pada Arumi.


Arumi mengarahkan pandangannya pada ibunya. "Apa alasan mama ingin masuk ke dalam sana?" tanya Arumi pada ibunya.


"Apakah harus mama membuat alasan untuk merindukan papamu, Nak? Mama berniat masuk ke dalam sana, tak lebih hanya ingin mengenang kembali masa-masa dimana papamu masih hidup. Mama benar-benar sangat merindukan papamu," ujar Dewi memberikan penjelasan pada putrinya.


Arumi mengamati ibunya sejenak, ia menatap wanita paruh baya yang ada di hadapannya dengan begitu seksama.


Fahri mencoba menyentuh bahu Arumi. Pria itu mengerjapkan matanya beberapa kali seolah memberikan kode agar membiarkan Dewi masuk ke dalam sana.


"Aya sudah. Biarkan mama masuk." Arumi mengizinkan ibunya untuk masuk ke dalam ruangan tersebut.


"Mama, jangan lagi memarahi dia. Karena di sini, dia bekerja denganku, jadi wajar jika dia menuruti semua ucapanku," ujar Arumi.


"Baiklah. Maafkan mama karena tidak meminta izin padamu terlebih dahulu," ucap Dewi pada anak gadisnya.


Arumi tak menghiraukan apa yang dikatakan oleh Dewi. Ia memilih melenggang pergi begitu saja dari hadapan ibunya.


Fahri menyusul langkah Arumi. Setelah keduanya berada di depan pintu kamar masing-masing, Fahri pun berbicara pada Arumi.


"Bisakah kamu untuk tidak terlalu kasar pada mama? Bagaimana pun juga, ia adalah wanita yang melahirkanmu ke dunia ini," tutur Fahri mencoba memberikan nasihat pada Arumi.


"Aku akan mencobanya," ujar Arumi tersenyum simpul. Gadis itu pun langsung masuk ke dalam kamarnya.


"Baguslah. Setidaknya dia bisa diberi sedikit masukan," gumam Fahri. Pria itu pun juga langsung masuk ke dalam kamarnya.


Arumi berjalan ke meja kerjanya. Gadis itu melihat layar monitor yang terhubung pada cctv ruang kerja milik ayahnya. Ia dapat melihat gerak-gerik ibunya yang berada di dalam ruangan tersebut.


"Benarkah mama merindukannya?" gumam Arumi yang terpaku pada layar monitor yang ada di depannya.