Pria 500 Juta

Pria 500 Juta
Bab 95. Ancaman Bertubi-tubi


"Apakah Nyonya sudah melupakanku?" ujar supir taksi tersebut. Pria itu membuka topinya, lalu kemudian menoleh ke belakang. Seketika Dewi pun langsung terkejut menyadari siapa supir taksi tersebut.


"Ka-kamu ...," ujar Dewi yang mulai panik.


"Iya, Nyonya. Aku adalah pria suruhan Nyonya yang menyabotase mobil tuan terdahulu," ujar pria itu sembari mengembangkan senyum liciknya.


"Bukankah aku sudah bilang, untuk tidak muncul di hadapanku lagi?!" ketus Dewi. Namun, tangannya gemetaran. Wanita itu mencoba untuk tetap tenang.


"Uang yang Nyonya berikan sewaktu itu, tidak cukup untuk menghidupiku," ujar pria tersebut.


"Hentikan omong kosongmu dan entahlah dari hadapanku!" tukas Dewi. Wanita itu mencoba untuk keluar dari mobil, akan tetapi supir tersebut langsung mengunci semua pintu, agar Dewi tak bisa lolos.


"Buka pintunya! Apa yang kamu lakukan!!" geram Dewi dengan tangan yang masih berusaha untuk membuka pintu mobil tersebut.


"Kemana pun Nyonya pergi, Nyonya tak akan lolos dariku. Aku telah melakukan kejahatan terhadap tuan, dan itu semua atas perintah dari nyonya," tukas pria itu.


Dewi hanya terdiam. Rasa takutnya semakin lama semakin mendominasi. Belum juga selesai masalah satu, sudah timbul lagi masalah yang lainnya. Membuat Dewi benar-benar frustasi saat ini.


"Baiklah, em ... begini saja. Aku akan mengirim jumlah uang yang kamu inginkan. Tapi tolong, untuk kedepannya kamu jangan dulu mengganggu ku," tutur Dewi yang mencoba bernegosiasi pada pria tersebut.


"Baik, aku setuju! Tapi jangan lupakan janji Nyonya. Jika tidak, Nyonya akan tanggung sendiri akibatnya," ujar supir taksi tersebut mengancam Dewi.


Dewi mengangguk, ia mengeluarkan ponsel yang ada di dalam tas jinjing nya. Lalu kemudian membuka M-banking yang ada di ponselnya.


"Sebutkan rekeningmu!" tukas Dewi.


Supir taksi itu pun mengembangkan senyum iblisnya. Dewi dapat melihatnya dari spion mobil. Lalu kemudian pria itu pun menyebutkan nomor rekening dan nominal yang dimintanya.


"Aku sudah mentransfernya di rekeningmu. Ku harap kamu segera enyah dari hadapanku dan jangan pernah muncul lagi!" geram Dewi.


"Tidak semudah itu, Nyonya. Aku tidak akan muncul setelah mendapatkan suntikan dana darimu. Tapi jika aku muncul, berarti aku butuh suntikan dana lagi," ujar pria itu sembari tertawa keras. Ia pun langsung membuka kunci mobil tersebut.


"Sepertinya kamu harus memeriksakan dirimu ke rumah sakit jiwa. Tampaknya otakmu bermasalah!" cecar Dewi yang kemudian langsung keluar dari mobil tersebut.


Setelah Dewi turun, taksi itu pun melaju dengan kecepatan yang sedikit tinggi. Dewi berjalan menuju ke kamar,wanita itu tampaknya tengah memijat-mijat keningnya.


Setibanya di rumah, Dewi melihat salah seorang pelayan yang masih sibuk mencuci piring di dapur. Pelayan tersebut langsung menghampiri Dewi, menunduk sejenak.


"Apakah Nyonya baik-baik saja?" tanya pelayan itu.


"Apakah aku terlihat baik-baik saja sekarang?" geram Dewi menimpali pertanyaan dari ART tersebut dengan sedikit kasar.


Seketika, Dewi pun memejamkan matanya. Ia kembali teringat tentang Arumi yang pernah menegurnya karena telah memarahi salah satu asisten rumah tangganya itu.


"Sudah! Tidak perlu menghiraukan aku. Sebaiknya kamu lanjutkan saja pekerjaanmu itu," tukas Dewi dengan gerakan tangannya seolah mengusir ART tersebut untuk segera pergi dari hadapannya.


ART itu pun menuruti ucapan Dewi. Ia menunduk sejenak, lalu kemudian pamit undur diri di hadapan Dewi.


Wanita itu berjalan menuju ke kamarnya. Sesampainya di kamar, Dewi langsung menghempaskan tubuhnya di atas kasur.


"Arrgghhh!!" seru Dewi sembari mengusap wajahnya dengan kasar. Ia benar-benar steres setelah mendapati kondisinya yang seperti ini.


Wanita itu mendapatkan berbagai macam ancaman. Yang pertama adalah dari Indra. Pria itu memiliki kartu as yang dapat ia buka begitu saja.


Yang ke dua, yaitu ancaman dari Roy, yang tak lain adalah kekasih yang ia tinggalkan beberapa hari yang lalu. Pria itu juga mengancamnya, demi mematuhi perintah dari Sifa, ia harus menjadi cacat akibat luka yang dilukis oleh Arumi di bagian tulang keringnya.


Dan sekarang, muncul juga pria suruhannya sewaktu itu. Yang memberikan perintah agar menyabotase mobil yang akan dipakai oleh Fian, mendiang suaminya, yang tak lain adalah ayah kandung Arumi.


Wanita tersebut memiliki cara licik untuk melenyapkan nyawa sang suami. Saat Fian mengantarkan Arumi ke bandara, pada hari itu juga pria suruhan Dewi mulai berencana. Sebelum keduanya pergi ke bandara, mereka masih terlihat masih baik-baik saja.


Namun, setelah mengantarkan kepergian Arumi, mobil yang dikendarai Fian pun tak bisa mengerem. Dan pada akhirnya, terjadilah kecelakaan yang menewaskan Fian.


Arumi kala itu tak bisa pulang. Tentu saja, semuanya telah dirancang sedemikian rapi oleh Dewi, dengan begitu, Arumi tak akan menaruh curiga apapun dan menganggap bahwa kecelakaan yang terjadi pada papanya kala itu murni kecelakaan biasa.


"Bagaimana bisa, aku diancam oleh tiga manusia sekaligus!" geram Dewi.


.....


Keesokan harinya, Arumi dan Fahri tengah bersiap memakai setelan untuk pergi ke kantor. Arumi berinisiatif untuk memasangkan dasi sang suami, meskipun Fahri menolaknya berkali-kali, akan tetapi Arumi tetap kekeuh dengan keinginannya.


"Aku bisa memasangnya sendiri, Istriku." Fahri memberikan teguran yang lembut pada istrinya. Ia tak ingin merepotkan Arumi sama sekali jika ia mampu melakukan hal tersebut.


"Biarlah aku saja! Lagi pula supaya kita terlihat lebih romantis," ujar wanita itu dengan semburat kemerahan di pipinya.


Arumi menyimpul dasi suaminya, lalu kemudian merapikannya setelah melakukan hal tersebut. "Sudah!!" ucap Arumi sembari tersenyum.


Fahri membalas senyuman sang istri. Lalu kemudian mengecup kening wanita yang saat ini mulai menghangatkan hatinya yang mendingin.


"Ayo kita turun untuk sarapan!" ajak Arumi.


Fahri mengangguk. Ia mengambil tas kerjanya, lalu kemudian merangkul pundak Arumi untuk keluar bersama dari kamar tersebut.


Setibanya di meja makan, Fahri pun melemparkan pandangannya ke segala arah. "Mama belum bangun?" tanya Fahri.


"Mungkin masih tidur. Sudahlah! Kita sarapan duluan saja," ujar Arumi.


Wanita tersebut memberikan sepiring nasi yang telah siap dengan beberapa sayurnya.


"Terima kasih," ucap Fahri sembari meraih piring yang diberikan oleh Arumi.


Arumi hanya menganggukkan kepalanya pelan. Lalu kemudian, mereka pun menikmati sarapannya dengan tenang.


.....


Dewi baru saja bangun dari tidurnya. Ia mengedarkan pandangannya, menyusuri area kamar. Wanita itu pun melihat baju yang sama dikenakannya semalam.


"Ternyata aku ketiduran semalam dan tidak berganti pakaian lagi," gumam Dewi.


Wanita itu pun beranjak dari kasurnya. Dengan menggeliat kecil, ia keluar dari kamar. Dari jauh, ia melihat Fahri dan Arumi yang tengah menyantap sarapan bersama.


"Apakah kebahagian yang kalian tunjukkan selama ini akan bertahan cukup lama?" gumam Dewi seraya memperhatikan keduanya.


Wanita itu pun memilih balik ke kamarnya. Lalu kemudian memilih untuk membersihkan tubuhnya terlebih dahulu.


Bersambung ....