Pria 500 Juta

Pria 500 Juta
Bab 117. Sikat Gigi


"Baiklah, sekarang ceritakan semuanya. Semua yang kamu ketahui tanpa ada satu pun yang kamu sembunyikan," ujar Samuel kembali menjatuhkan bokongnya ke kursi.


Sugeng mulai menceritakan satu persatu yang diketahui oleh pria tersebut. Samuel pun mendengarkan setiap kalimat yang keluar dari mulut Sugeng dengan seksama.


Setelah selesai, Samuel menepati janjinya. Ia memberikan sejumlah uang yang diminta eh Sugeng kemarin.


"Setelah ini, kamu jangan mengganggu Arumi. Kalau tidak, aku juga akan menjebloskan mu ke penjara," ancam Samuel pada Sugeng.


Sugeng terkekeh. "Aku tidak takut jika hanya dijebloskan ke penjara saja. Kamu tahu, alasanku memberitahukan semuanya bukan karena bayaran ini saja. Aku merasa terbebani karena terlalu lama menyimpan rahasia ini. Aku juga bisa mati kapan saja di tangan Dewi. Dan jika hal itu terjadi, setidaknya rahasia itu sudah sampai ke telingamu," ujar Sugeng.


"Sialan! Kenapa bajingan ini membuatku sedikit terenyuh," gerutu Samuel dalam hati.


"Jika kamu berpikiran seperti itu, mengapa kamu masih sempat ingin memerasku?" tanya Samuel sembari mendecih.


"Aku tidak memerasmu, kamu lah yang menawarkan uang kepadaku," tukas Sugeng.


"Kalau begitu ... eheemm ... bisakah kamu memberikan setengahnya kepadaku? Aku mendapatkan uang itu dari pinjaman," ujar Samuel sembari mengusap tengkuknya.


Sugeng membuang muka mendengarkan ucapan yang baru saja di lontarkan oleh Samuel. "Apakah kamu sedang bernegosiasi denganku?" tanya Sugeng.


"Ya, anggap saja seperti itu. Ayo sini, kembalikan setengahnya saja. Setidaknya ini bisa meringankan hutangku nanti," ujar Samuel.


Sugeng berdecih, ia pun mendengkus kesal sembari mengembalikan setengah dari uang yang diberikan oleh Samuel barusan.


"Ternyata kamu miskin juga," cecar Sugeng.


"Ini ... aku sudah mentransfer kembali setengah uangmu tadi," lanjut pria tersebut sembari memperlihatkan bukti transfer yang ada di layar ponselnya.


"Terima kasih. Setidaknya uang tersebut pernah singgah di rekeningmu walaupun itu hanya lima menit saja," ujar Samuel.


Samuel beranjak dari tempat duduknya. Lalu mengulurkan tangannya, mengajak pria yang ada di hadapannya itu agar saling berjabat.


Sugeng bak kena hipnotis oleh Samuel. Ia pun menjabat tangan pria tersebut.


"Ku harap, untuk selanjutnya kamu akan merubah sikapmu itu. Dan setelah ini, mari bekerja sama."


Samuel melepaskan jabatan tangannya. Lalu kemudian pria itu pun pergi dari cafe tersebut. Samuel memanggil seorang pelayan yang ada di cafe tersebut.


"Mbak, yang itu meja saya tadi. Saya pesan latte macchiato satu, tolong bill nya nanti berikan pada pria itu saja. Dia yang mentraktirku," ujar Samuel menunjuk ke arah Sugeng sembari mengerlingkan matanya.


Sugeng yang mendengar hal tersebut langsung membulatkan matanya. "Kau, ..."


Samuel mengacuhkan Sugeng, ia melenggang pergi begitu saja bak tanpa dosa. "Benar-benar kurang ajar! Apakah dia baru saja memerasku?" gumam Sugeng yang sadar telah memberikan setengah uangnya, lalu kemudian ia juga yang membayar minuman dipesan oleh Samuel tadi.


....


Mobil yang dikendarai Fahri baru saja tiba di depan rumahnya. Pria itu segera turun dengan membawa makanan yang diminta oleh istrinya tadi.


Saat berjalan masuk, Fahri berpapasan dengan salah satu pelayan yang bekerja di rumahnya. "Mana istriku?" tanya Fahri pada wanita yang umurnya kisaran tiga puluh tahun.


"Nyonya masih di ruang tengah, Tuan." Pelayan tersebut menjelaskan.


Fahri pun langsung melangkah masuk. Dengan perasaan yang senang, ia membawa kantong yang berisi pempek dengan berbagai aneka ragam.


Pria itu menemui sang istri yang tengah berada di ruang tengah. Televisi yang masih menyala, serta tampak dari belakang istrinya itu sedang duduk di sofa.


"Astaga ... istriku, kenapa kamu tidur di sini?" gumam Fahri. Pria itu memanggil pelayan yang ada di sana, meminta pada pelayan tersebut untuk menyimpan pempek yang ia beli tadi.


"Tolong simpan yang ini, dan yang satu lagi, kalian boleh memakannya. Saya membelikannya untuk kalian," ujar Fahri memberikan kantong plastik tersebut pada pelayan itu.


"Terima kasih, Tuan." pelayan itu pun meraih kantong plastik yang disodorkan oleh Fahri.


"Oh iya, kalau mau makannya, lebih baik digoreng lagi terlebih dahulu. Lebih enak jika disantap saat hangat," ucap Fahri.


"Baik, Tuan. Sekali lagi terima kasih, Tuan."


Fahri hanya menganggukkan kepalanya. Pria itu meraih remote yang ada di atas meja, lalu kemudian mematikan televisi tersebut.


Fahri menggendong tubuh istrinya. Ia tersenyum karena tampaknya bobot tubuh sang istri sudah sedikit lebih berat dari biasanya. Pria itu membawa sang istri menuju ke kamar. Lalu kemudian merebahkan Arumi di atas kasur king size-nya.


"Apakah kamu menungguku terlalu lama hingga kamu ketiduran saat menonton televisi?" gumam Fahri.


Pria itu mengusap puncak kepala Arumi dengan lembut. Entah mengapa, ia merasa sangat takut kehilangan Arumi. Bahkan ia tak bisa membayangkan jika sesuatu hal terjadi pada istrinya itu.


Fahri mengecup kening Arumi dengan lembut. Pria itu menatap wajah sang istri dengan begitu lekat. Ada rasa senang dalam dirinya berada di samping Arumi sembari memandangi wajah cantik istrinya itu. Entah lah, mungkin karena ia sudah jatuh cinta pada istrinya, atau memang ia merasa Arumi pantas menerima kasih sayang itu karena saat ini wanita yang ada di hadapannya tengah mengandung anaknya.


Mata Fahri beralih pada perut Arumi yang masih rata. Ia pun mengusap perut Arumi, sembari membisikkan sesuatu di sana.


"Sayang, jagoan papa atau cantiknya papa. Yang kuat ya nak. Sehat-sehat di perut mama. Jangan membuat mama kelelahan. Cepat besar supaya kelak jadi kebanggaan mama dan papa. Kami menantikan kehadiranmu, Nak."


Setelah mengucapkan serentetan kalimat untuk anak yang ada di dalam perut Arumi, Fahri pun mencium perut sang istri dengan lembut.


Pria tersebut beranjak dari tempat duduknya, melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Aku harus kembali ke kantor. Rasanya waktu cepat sekali berjalan," gumam Fahri.


Pria itu melangkah menuju pintu keluar, meninggalkan sang istri yang masih tertidur pulas. Fahri tak enak jika membangunkan istrinya. Ia membiarkan Arumi beristirahat.


Baru saja Fahri menutup pintu kamarnya, tak lama kemudian ponselnya pun berbunyi. Fahri merogoh benda pipih tersebut di dalam saku jasnya. Ia menatap layar ponselnya sejenak, lalu kemudian menerima panggilan telepon itu.


"Ada apa, Sam?" tanya Fahri.


"Bisakah aku minta tolong padamu, Kawan?" tanya Sam dari seberang telepon.


"Minta tolong apa?" ujar Fahri balik bertanya.


"Bisakah kamu mencuri sikat gigi milik mertuamu dan juga milik Arumi? Aku ingin memastikan sesuatu."


Fahri langsung mengernyitkan keningnya saat mendengar ucapan Samuel. "Apakah kamu ingin melakukan tes DNA?" tanya Fahri mengecilkan volume suaranya.


"Hmmm ... Aku membutuhkan benda itu untuk melakukannya."


"Baiklah. Kebetulan saat ini aku sedang ada di rumah. Nanti temui aku di kantor," ujar Fahri yang langsung memutuskan sambungan teleponnya.


Pria itu pun langsung melancarkan aksinya, yaitu mengambil kedua sikat gigi milik Arumi dan mertuanya untuk dijadikan sampel pemeriksaan.


Bersambung ....