
Aldo tengah menunggu seseorang yang akan mengambil barang pesanan seperti yang telah dijanjikan sebelumnya. Tak lama kemudian, ia melihat sebuah mobil memasuki pekarangan rumahnya. Seorang pria turun dengan tongkat kayu setinggi pinggang, untuk membantunya berjalan.
Aldo langsung menemui pria tersebut. Ia pun mengajak pria itu menuju gudang belakang, tempat ia meletakkan barang haram itu.
"Ikut aku!" titah Aldo.
Pria itu pun mengikuti langkah Aldo. Setelah tiba di sana, Aldo menyuruhnya untuk duduk di depan gudang, sementara ia masuk ke dalam. Pria itu mengambil sesuatu yang ada di dalam gudang tersebut, lalu memasukkannya ke dalam saku.
Aldo kembali menghampiri pria itu, ia langsung menyerahkan barang tersebut kepada pria bertongkat itu.
"Ada apa dengan kakimu? Beberapa bulan yang lalu, aku melihatmu tampak baik-baik saja," tanya Aldo.
"Ah ini ... ada wanita gila yang membuat kakiku seperti ini," tukas pria tersebut.
"Lukamu sama seperti luka ku waktu itu. Hanya saja, lukaku sudah sembuh akibat kecelakaan saat mengendarai sepeda motor. Seorang wanita tengah menyebrang dan aku menabraknya," ujar Aldo sembari mengendikkan bahunya.
"Ya sudah. Kalau begitu, aku pulang dulu. Bos pasti menungguku," ucap pria tersebut menepuk pundak Aldo.
Aldo menganggukkan kepalanya. "Katakan padanya, jika menginginkan barang tersebut, langsung hubungi aku," ujar Aldo sembari membentuk jemarinya seperti tengah menelepon.
Pria itu pun mengangguk. Ia langsung kembali masuk ke dalam mobil. Aldo menyuruh anak buahnya untuk menutup gerbangnya lagi. Lalu kemudian berjalan masuk ke dalam rumah.
....
Sifa yang saat itu tengah berada di pasar swalayan. Gadis tersebut mendorong troli sembari mengedarkan pandangannya pada sekelilingnya.
"Apa lagi yang ingin dibeli, Bi?" tanya Sifa pada asisten rumah tangganya.
"Sepertinya sudah cukup, Nyonya." wanita paruh baya tersebut menimpali ucapan Sifa.
"Baiklah. Kalau begitu, kita bayar yang ini," ucap Sifa yang langsung menarik trolinya menuju ke meja kasir.
Antrian cukup panjang, Sifa pun terpaksa harus menunggu dengan sabar. Tiba gilirannya, wanita tersebut langsung meletakkan semua barang yang ada di dalam trolinya ke meja kasir, laku kemudian membayar semua belanjaannya itu.
Sifa membawa belanjaannya tersebut menuju ke parkiran. Saat semua belanjaan sudah masuk ke dalam mobil, Sifa pun menepuk keningnya.
"Duh, aku lupa. Aldo pasti tidak menyetok cemilan," gumamnya.
"Bi, aku masuk ke dalam dulu. Mau beli makanan ringan. Bibi mau tunggu di mobil atau ikut ke dalam?" tawar Sifa.
"Bibi menunggu di mobil saja, Nyonya."
"Ya sudah. Kalau begitu tunggu sebentar ya Bi."
"Iya, Nyonya."
Sifa langsung bergegas masuk ke dalam. Wanita tersebut kembali mengambil keranjang untuk meletakkan belanjaannya, lalu kemudian berjalan menuju ke susunan tempat berbagai macam makanan ringan.
Saat Sifa tengah memilih makanan yang ada di depannya. Tiba-tiba seseorang menepuk bahunya, membuat wanita tersebut langsung terkejut seketika.
"Hei!!" ucap suara wanita yang menepuk bahunya.
"Elena?!" gumam Sifa terkesiap.
"Lama tak bertemu. Kenapa kamu semakin kurus saja?" sindir Elena terang-terangan.
Sifa hanya mengulas senyumnya, wanita tersebut hendak mendorong trolinya, berencana untuk pergi dari hadapan Elena.
Sifa hanya diam, wanita itu memilih untuk tidak menjawab apapun.
"Tenang saja. Aku tidak akan menagih hutang lagi padamu. Lagi pula, bukankah suamimu yang telah membayar semua hutang-hutang itu?" tutur Elena.
"Uppsss ... ralat! Maksudku adalah mantan suamimu. Sekarang dia telah menikah dengan wanita kaya raya, sungguh beruntung hidupnya setelah berpisah darimu." Elena tak henti-hentinya melemparkan kata sindiran pada Sifa.
Sementara Sifa, wanita itu memegang trolinya dengan kuat karena merasa kesal akan semua ucapan Elena.
"Sepertinya kamu marah padaku. Wajahmu mulai memerah, apakah kamu kesal? Bukankah yang ku katakan semuanya adalah fakta," tukas Elena sembari menutup mulutnya.
Setelah puas menghujat Sifa habis-habisan Elena pun memilih pergi meninggalkan Sifa yang saat ini masih mematung di tempatnya.
Sifa tiba-tiba kehilangan mood-nya untuk berbelanja. Wanita itu pun meletakkan beberapa makanan yang sudah ada dalam trolinya dan memilih untuk langsung keluar dari tempat tersebut.
Sifa masuk ke dalam mobil. Ia melihat ART nya sudah berada di dalam mobil tersebut. Sifa memukul setir mobil itu berulang kali sembari mengucapkan berbagai sumpah serapahnya untuk Elena.
ART yang melihat kejadian itu pun sempat terkejut. Namun, dia memilih untuk tetap diam dan seolah tak melihat amukan dari istri majikannya itu.
.....
Di lain tempat, Fahri dan Arumi mengisi waktu malamnya untuk mempelajari beberapa dokumen. Fahri sesekali bertanya pada Arumi apa yang belum ia pahami. Dan Arumi pun dengan bijak memberikan penjelasan atas pertanyaan suaminya.
Keduanya tampak kompak, dengan mengenakan kacamata yang bertengger di batang hidung mereka. Sesekali Fahri dan Arumi tampak fokus. Namun, beberapa kali mereka terlihat saling melemparkan gurauan.
Suasana di rumah itu menjadi hangat. Dua insan yang awalnya terlihat dingin, kini dapat mampu kembali tersenyum. Arumi mampu mengembalikan senyum Fahri. Dan sebaliknya, Fahri juga mampu membuat Arumi tertawa lepas.
Waktu semakin larut, jam pun tak terasa berjalan begitu cepat. Arumi mulai mengantuk, akan tetapi ia berusaha untuk menahannya karena ingin menemani sang suami di meja kerja tersebut.
Namun, tampaknya ambisi yang dimiliki oleh Arumi tak mampu menahan rasa kantuknya. Gadis itu pun tertidur sembari memegangi dokumen yang ada di tangannya.
Fahri sempat terkejut, mendengar sesuatu yang jatuh. Saat ia melihat ke.atah sang istri, rupanya gadis tersebut sudah terlelap dalam alam mimpinya. Dan dokumen yang ia pegang pun terlepas, jatuh ke lantai.
"Ternyata dia sudah tertidur," gumam Fahri melihat Arumi sembari mengulas senyumnya.
Fahri pun meletakkan dokumen yang ia pegang, menumpuknya menjadi satu. Ia juga memunguti dokumen yang berserakan, yang sempat terlepas dari tangan Arumi. Lalu kemudian meletakkannya di atas meja.
Fahri menggendong istrinya ala bridal style, membawa tubuh ramping itu ke atas kasur. Pria tersebut membaringkan tubuh Arumi di kasur yang berukuran king size itu.
Pandangan Fahri tertuju pada luka bakar Arumi. Pria itu pun mengambil obat salep yang diletakkan di laci nakas, lalu kemudian mengoleskan salep tersebut di bagian luka.
Fahri tersenyum karena istrinya tertidur sangat pulas. Bahkan Arumi tak terbangun sedikit pun saat Fahri memindahkannya ke tempat tidur dan mengobati lukanya.
Fahri kembali meletakkan obat salep tersebut ke dalam laci. Ia menatap wajah cantik Arumi yang tengah terlelap dengan begitu lekat.
Tangan Fahri terulur, mengusap puncak kepala istrinya itu. Sementara matanya, tak beralih sedikit pun dari wajah istrinya.
"Terima kasih karena sudah hadir dalam hidupku," gumam Fahri.
Ia sedikit mencondongkan tubuhnya, lalu kemudian mengecup kening Arumi dengan begitu lembut. Ia pun menarik selimut untuk sang istri, menutupi tubuh Arumi hingga ke bagian leher.
Perlahan, Fahri pun membawa langkah kakinya untuk keluar dari kamar tersebut. Namun, sebelumnya ia mematikan lampu terlebih dahulu, menatap kembali sang istri sebelum menutup pintu kamar tersebut dengan rapat.
Bersambung ....