Pria 500 Juta

Pria 500 Juta
Bab 31. Berbaikan Dengan Samuel


Setelah memata-matai Sifa dan Aldo, Arumi pun melajukan mobilnya menuju ke rumah. Cukup lama menempuh perjalanan, gadis itu pun tiba di kediamannya.


Arumi turun dari mobilnya. Ia melihat sebuah kendaraan roda dua yang terparkir di halaman rumahnya. Gadis itu sangat tahu, siapa pemilik dari kendaraan tersebut.


Arumi berjalan masuk ke dalam rumahnya. Beberapa asisten rumah tangga yang ada di ruang tengah, menunggu kedatangan dirinya.


"Nona, Pak Samuel saat ini sedang menunggu nona di halaman belakang," ujar kepala pelayan yang bekerja di rumah tersebut.


"Biarkan saja," ucap Arumi yang kemudian melenggang pergi, masuk ke dalam kamarnya.


Gadis itu membaringkan tubuhnya di atas kasur. Hari ini ia berkeliling-berkeliling tak jelas. Mengantarkan Fahri, lalu kemudian memata-matai istri dari pria yang di dambakan olehnya.


"Sepertinya aku memang sudah kehilangan akal," gumam wanita tersebut.


Arumi bangkit dari pembaringannya. Memilih untuk melucuti semua pakaian yang ia kenakan, lalu kemudian menggunakan pakaian renang. Gadis itu memutuskan untuk berendam di kolam renang, menyehatkan sedikit otaknya yang mulai terasa lelah.


Dengan menggunakan bathrobe, Arumi keluar dari kamarnya. Ia berjalan menuju ke kolam renang tanpa menemui Samuel yang saat ini tengah menunggu dirinya di halaman belakang.


Saat berjalan menuju ke kolam renang, ia berpapasan dengan salah satu pelayan yang bekerja di rumahnya.


"Bik, tolong antarkan minuman untuk saya ke kolam renang ya," perintah Arumi.


"Baik, Nona."


Pelayan tersebut menundukkan kepalanya, laku kemudian segera menuju ke dapur, menyiapkan minuman sesuai dengan yang diperintahkan oleh majikannya tadi.


Samuel yang sudah menunggu sangat lama di halaman belakang pun memilih untuk pergi dari tempat itu. Tanpa sengaja, ia berpapasan dengan pelayan yang disuruh oleh Arumi untuk membuatkan minuman tadi.


"Bik, Aruminya sudah pulang?" tanya Samuel.


"Iya, Pak."


"Di mana dia sekarang?" tanya Samuel lagi.


"Nona Arumi saat ini sedang berada di kolam renang, Pak." Pelayan tersebut kembali menimpali.


"Baiklah kalau begitu. Terima kasih ya, Bik."


"Sama-sama, Pak."


"Emmm ... begini. Kalau bisa jangan memanggilku dengan sebutan 'Pak'. Panggil saja Sam," ucap Samuel.


"Bibi memanggilku seperti itu, serasa setengah dari ketampananku berkurang," lanjut Samuel.


Pelayan tersebut berusaha menahan tawanya saat mendengar ucapan Samuel. "Baiklah. Nak Sam mau minum apa? Nanti sekalian bibi buatkan untuk Nak Sam," ucap pelayan tersebut.


"Ah ... si bibi paling mengerti. Aku minta teh tawar saja. Soalnya saat ini aku sedang mengurangi yang manis-manis," ujar Samuel mengulas senyum.


Setelah itu, Samuel pun berjalan menuju ke kolam renang. Dari jauh, melalui pintu kaca, Samuel dapat melihat Arumi yang saat itu tengah menyelam lalu kembali muncul ke permukaan.


Pria tersebut membuka pintu kaca yang tertutup itu. Lalu kemudian duduk di kursi yang ada di sana. Bersantai sembari menunggu gadis yang saat ini tengah asik sendiri menyelami kolam itu.


Arumi masih berenang tanpa menyadari keberadaan Samuel yang saat ini tengah menunggunya di kursi santai. Saat gadis itu muncul ke permukaan, mengambil napas dengan rakusnya, ia sedikit tersentak melihat keberadaan Samuel di tempat itu.


"Sejak kapan kamu berada di sana?" tanya Arumi.


Samuel yang saat itu tengah merebahkan tubuhnya di atas kursi santai tersebut, langsung mengubah posisinya menjadi duduk saat mendengar Arumi berucap demikian.


Tak lama kemudian, pelayan datang membawa nampan yang berisi dua gelas minuman dengan jenis yang berbeda. Segelas jus jeruk segar milik Arumi, dan segelas teh tawar milik Samuel.


"Terima kasih," ujar Samuel saat pelayan rumah tersebut meletakkan minumannya di meja.


Pelayan tersebut hanya menimpalinya dengan sebuah anggukan pelan, lalu kemudian berlalu dari hadapan Samuel.


Samuel melihat Arumi yang sibuk dengan aktivitasnya. Pria tersebut hanya tersenyum getir, lalu kemudian meraih cangkir teh dan menyesapnya.


"Sepertinya kamu masih marah padaku," ujar Samuel yang mencoba membuka pembicaraan.


"Jika kamu datang hanya untuk memberikan ceramah panjang lebar padaku, sebaiknya kamu pulang saja," ucap Arumi yang kembali menyelami kolam tersebut.


Saat Arumi muncul ke permukaan air, Samuel kembali melanjutkan ucapannya. "Aku tidak akan memberikan ceramah apapun padamu. Kamu tenang saja!" seru Samuel.


Pria itu beranjak dari tempat duduknya. Mengambil bathrobe yang ada di atas kursi satunya lagi. Samuel pun berdiri di pinggir kolam sembari menunggu Arumi naik ke permukaan dan menghampirinya.


Perlahan, Arumi menuju ke tepian. Ia menyambar tangan Samuel yang sedari tadi terulur. Pria tersebut memalingkan wajahnya saat Arumi sudah sepenuhnya keluar dari air. Lalu kemudian menyerahkan bathrobe tersebut masih dengan pandangan ke arah lain.


Arumi menerima bathrobe tersebut. Gadis itu dengan cepat membalutkan jubah handuk berwarna hitam itu ke tubuhnya.


Arumi berjalan menuju ke salah satu kursi santai yang ada di sana. Setelah menyadari bahwa Arumi menunggunya di kursi tersebut, Samuel pun juga menuju ke salah satu kursi yang tadinya ia tempati.


"Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Arumi tanpa berbasa-basi.


"Aku ingin minta maaf karena telah membuatmu kesal kemarin. Maukah kamu memaafkanku?" Samuel bertanya balik.


"Bagaimana jika aku tidak mau memaafkanmu?" ujar Arumi sembari menyesap jus jeruknya.


"Maka aku akan selalu mengganggu sampai kamu benar-benar memaafkanku," sahut Samuel.


"Baiklah. Aku akan memaafkanmu asalkan kamu berada di pihakku," pancing Arumi.


"Oke. Aku tidak akan melarang apapun keinginanmu itu. Lakukan apapun yang ingin kamu lakukan," ujar Samuel.


Setelah saling memaafkan, keduanya pun berbincang-bincang seperti biasanya. Samuel memilih untuk mengalah. Ia membiarkan Arumi berbuat sesuka hatinya. Ia tidak ingin Arumi menyuruhnya pergi menjauh. Samuel hanya ingin tetap berada di dekat Arumi. Untuk menjaga gadis itu, menjadi tameng agar Arumi tidak terluka.


.....


Malam harinya, Fahri sudah standby di toko. Menyusun beberapa barang yang datang sementara tidak ada pelanggan.


Fahri menyusun minuman botol. Memasukkannya ke dalam mesin pendingin.


Jika kamu selalu bersikap seperti ini, maka orang-orang akan selalu menginjak kepalamu! Kamu adalah seorang pria lemah yang membiarkan dirimu ditindas sesuka hati.


Tiba-tiba saja Fahri kembali teringat akan ucapan Arumi tadi pagi. Entah mengapa ucapan Arumi masih saja terngiang di telinganya.


Fahri menggelengkan kepalanya. Berusaha untuk fokus pada pekerjaannya tanpa harus memikirkan hal-hal yang pada akhirnya membuat dirinya pusing sendiri.


Setelah selesai menyusun bagian yang kosong, terdengar suara dari arah pintu yang terbuka. Fahri pun langsung berjalan menuju ke arah pintu masuk.


"Selamat da ...." suara Fahri tercekat saat melihat siapa yang datang kepadanya.


Bersambung ....