Pria 500 Juta

Pria 500 Juta
Bab 113. Bukan Pria Lemah


Fahri menuntun Arumi masuk ke dalam mobil. Setelah itu ia pun menghampiri Samuel dan Dewi yang sedari tadi memperhatikan keduanya.


"Pulanglah! Aku juga akan pulang setelah ini," ujar Samuel.


"Bu Dewi, apakah ingin ikut dengan mereka?" pancing Samuel yang sengaja menanyai Dewi terlebih dulu.


"Ah ... tidak. Kalian pulanglah, lagi pula ibu akan kembali ke rumah Mama. Lagi pula mama takut jika Arumi akan semakin kurang nyaman jika ada mama di rumah itu. Arumi kan kurang suka dengan mama," ujar Dewi berbicara pada Fahri.


"Kenapa tinggal terpisah? Bukankah seharusnya ibu sebagai orang tua mendampingi anaknya yang saat ini sedang syok supaya cucu Bu Dewi juga aman," sela Samuel.


"Dasar anak setan! " batin Dewi kesal akan ucapan Samuel yang seolah memberikan kata-kata yang selalu menyudutkannya.


"Kamu jangan sok tahu, Samuel. Lagi pula sudah ku katakan Dengan jelas, Arumi tak nyaman jika saya ada di rumah itu," ujar Bu Dewi menatap Samuel dengan mendelik.


"Sudah ... sudah ...." Fahri mencoba melerai pertikaian keduanya.


"Tidak apa-apa jika mama ingin memilih untuk kembali ke rumah Mama. Kalau begitu, kami permisi dulu. Sam, pulanglah!" ujar Fahri sedikit mendorong Samuel.


Samuel pun hanya pasrah. "Ku peringatkan lagi, sebaiknya hati-hati dengan wanita itu," bisik Samuel saat Fahri mendorong tubuhnya hingga berhenti tepat di depan motornya.


"Iya, aku mengerti."


Fahri kembali menghampiri Dewi setelah berhasil membawa Samuel menaiki kendaraannya.


"Mama, mau aku antar?" tanya Fahri yang masih mencoba bersikap baik pada mertuanya.


"Tidak usah. Kalian pulanglah! Mama akan naik taksi saja," timpal Dewi yang masih berwajah masam. Wanita paruh baya itu pun berlalu dari hadapan Fahri.


Fahri masuk ke dalam mobilnya. Ia melihat sang istri yang menatapnya sembari mengulas senyum. "Biarkan saja jika mama tidak ingin pulang," ujar Arumi.


Pria itu menimpalinya dengan sebuah anggukan. Ia pun mulai menghidupkan mesin mobilnya, dan melajukan kendaraan tersebut menuju ke jalanan.


....


Samuel sedari tadi mengikuti taksi yang membawa Dewi. Pria tersebut tak main-main dengan ucapannya. Ia benar-benar ingin menyelidiki Dewi dan menemukan fakta apa saja yang tidak diketahui oleh orang banyak.


Taksi yang dinaiki oleh Dewi pun terhenti di sebuah bangunan yang cukup besar. Wanita itu turun dari taksi tersebut, lalu kemudian masuk ke dalam rumah itu.


Dari kejauhan, Samuel menghentikan motornya. Ia melihat Dewi bersama dengan pria yang tak lain adalah kekasih dari wanita tua itu. Karena beberapa kali Samuel sempat melihat pria tersebut saat mengunjungi Arumi di rumahnya sewaktu itu.


Setelah melihat Dewi menghilang dari balik pintu, Samuel pun segera pergi dari tempat itu dan kembali menuju ke rumahnya.


.....


Di kamar, Fahri masih terjaga padahal waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Sejak kejadian dimana Arumi menjerit, ditambah lagi dengan ucapan Samuel yang seakan menjadi nasihat untuknya, membuat Fahri bertambah khawatir pada sang istri.


Fahri mengelus puncak kepala Arumi dengan lembut, seakan tak ingin wanitanya kembali tersakiti lagi. Tak lama kemudian, Arumi membuka matanya. Usapan di kepalanya membangunkan Arumi dari tidurnya.


"Kenapa belum tidur? Hmmm ... bukankah besok kamu akan bekerja?" tanya Arumi dengan suara yang serak.


"Aku tidak bisa tidur," ucap Fahri sembari merapikan anak rambut yang menutupi wajah cantik istrinya.


"Kamu tidak perlu khawatir,Mas. Aku tidak apa-apa kok. Sebaiknya lekaslah tidur, kamu pasti kelelahan seharian ini di kantor," tutur Arumi lembut.


Mendengar ucapan dari Arumi, Fahri kembali teringat akan perdebatannya tadi. Pria itu belum bercerita masalah kerja sama yang dibatalkan oleh Fahri.


"Istriku, ...."


"Hmmm ... ada apa, Suamiku?" tanya Arumi.


"Jika kamu ingin marah padaku, silakan kamu marah. Aku telah melakukan kesalahan yang fatal," ujar Fahri.


"Kesalahan? Kesalahan apa?" tanya Arumi sembari mengernyitkan keningnya.


"Aku membatalkan kerja sama dengan DS Grup. Mungkin sedikit kekanak-kanakan, akan tetapi aku merasa ini masalah harga diri. Aku tidak mau kamu dipandang rendah oleh orang lain hanya karena bisnis," jelas Fahri.


"Jadi Mas Fahri membatalkan kontraknya?" tanya Arumi memastikan.


Fahri hanya menimpalinya dengan sebuah anggukan pelan. Ia merasa bersalah karena bagaimana pun juga, sebelumnya Arumi berusaha untuk mendapatkan kerja sama itu. Namun, akibat emosi yang tak bisa dibendung lagi, Fahri memilih untuk mengurungkan kerja sama tersebut.


Tak lama kemudian, Arumi menarik kedua sudut bibirnya, membentuk sebuah senyuman yang begitu manis.


"Kenapa kami tersenyum?" tanya Fahri sedikit heran. Sungguh di luar dugaannya melihat Arumi tersenyum seperti ini. Ia kira gadis tersebut akan mengomelinya habis-habisan.


"Aku bersyukur Mas Fahri mengambil tindakan yang tegas. Dengan Mas Fahri membatalkan kontrak itu karena orang tersebut sudah menginjak harga diri Nas Fahri, itu tandanya Mas Fahri sudah mengambil keputusan yang tepat," tutur Arumi.


"Aku ingin Mas Fahri selalu bersikap seperti ini. Tidak mudah diremehkan oleh orang lain. Aku justru marah jika Mas Fahri tidak ada perubahan sama sekali, membiarkan orang-orang memarahi Mas, membentak Mas sesuka hati, padahal saat itu apa yang dilakukan oleh Mas Fahri tidak salah," papar Arumi.


Fahri tersenyum, hatinya terenyuh setiap mendengar kalimat yang keluar dari mulut istrinya itu. Pria tersebut mengecup bibir Arumi dengan begitu lembut, lalu kemudian berpindah ke puncak kepala Arumi.


"Aku masih tak percaya, Tuhan memberikanku wanita pendamping sebaik dirimu," ucap Fahri.


"Aku tidak sebaik yang mas pikirkan," ujar Arumi tertunduk. Ia mengingat bagaimana caranya mendapatkan Fahri yang terkesan sangat licik.


"Aku lah penyebab hancurnya rumah tangga Mas Fahri kemarin. Ku harap, rahasia yang satu ini tak pernah terungkap. Jika sampai kamu tahu, aku yakin kamu sangat menyesal karena telah menikah denganku, Mas." Arumi berkata dalam hati.


"Ada apa istriku? Apa yang mengganggumu hingga kamu mendadak murung seperti ini?" tanya Fahri melihat ekspresi Arumi yang langsung berubah.


"Tidak apa-apa, Mas. Aku hanya tidak ingin kamu kembali tersakiti lagi. Jadilah pria yang tegas dan mampu mengambil keputusan yang tepat. Jangan menjadi pria yang lemah lagi," ujar Arumi yang mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Selagi kamu masih baik-baik saja, berada di sampingku seperti ini. Aku akan selalu menjadi seorang pria seperti yang kamu inginkan," ucap Fahri.


"Sekarang, ayo kita tidur! Mas sudah mulai mengantuk. Dan kamu juga tidak boleh kelelahan. Ingat, ada calon penerus di dalam sini," ujar Fahri sembari mengusap perut Arumi yang masih rata.


Arumi tersenyum sembari menganggukkan kepalanya. Mereka pun mulai mengatur posisi tidur yang nyaman, yaitu memeluk satu sama lain.


Tak lama kemudian, mata Arumi mulai merasa berat, begitu pula dengan Fahri. Hingga akhirnya, mereka pun langsung terlelap dan larut dalam mimpinya.


Bersambung ...


Jangan heran ya guys kenapa akhir-akhir ini bakalan rajin lagi updatenya. Harap maklum karena udah Deket akhir bulan jadi kudu kejar target🤣