
Keesokan harinya, Fahri bangun dari tidurnya. Pria tersebut melihat jam digital yang ada di atas nakas telah menunjukkan pukul 05:30. Ia pun beranjak dari tempat tidur, meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku.
Fahri menatap ke luar jendela. Di mana ia dapat melihat suasana pagi di sekitar hunian tersebut. Beberapa pelayan ada yang membersihkan halaman, ada juga yang menyiram bunga. Dan beberapa pria bertubuh tegap, tengah menikmati kopinya di pagi hari sebelum memulai pekerjaan mereka.
"Banyak sekali penjaga di rumah ini," gumam Fahri.
Pria itu melangkah menuju ke kamar mandi, untuk membersihkan tubuhnya. Selang lima belas menit kemudian, ia pun keluar menggunakan kain handuk yang melilit di pinggangnya. Fahri mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil, lalu kemudian berjalan menuju ke lemari pakaian.
Pria tersebut melihat ada banyak pakaian yang ada di dalamnya. Mulai dari pakaian santai, hingga pakaian untuk pergi-pergi ke acara formal.
Pria itu pun mengambil salah satu pakaian santai yang ada di sana. Kaos berwarna hitam yang dipadukan dengan celana chino pendek berwarna cream.
Setelah menggunakan setelannya, Fahri berjalan di depan meja rias. Arumi tampaknya mempersiapkan banyak hal untuk pria tersebut. Mulai dari Pomade, bahkan parfum dengan aroma yang sering ia gunakan.
"Dia mengetahui aroma parfum yang sering ku pakai," gumam Fahri seraya menyemprotkan parfum tersebut di beberapa titik bagian tubuhnya.
Setelah semuanya selesai, Fahri pun melangkah pergi dari kamarnya.
Fahri menuruni anak tangga. Beberapa pelayan yang melihatnya pun langsung menyapa tuan barunya itu. "Tuan, adakah yang anda butuhkan?" tanya kepala pelayan.
Fahri menggelengkan kepalanya. "Aku tidak membutuhkan apapun. Aku hanya ingin melihat-lihat sekitar," timpal Fahri.
"Apakah anda ingin sarapan terlebih dahulu?" tanya pelayan itu lagi.
"Nanti saja. Apakah Arumi sudah bangun?" tanya Fahri.
Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki menuruni anak tangga. Fahri pun mengarahkan pandangannya pada sumber suara tersebut. Ia melihat Arumi yang masib setengah mengantuk, menuruni anak tangga.
Wanita itu masih mengenakan piyamanya yang sedikit terbuka itu. Namun, kali ini Arumi menutupi bagian lengannya yang terbuka tersebut dengan menggunakan sebuah cardigan rajut. Entah karena memang cuaca pagi itu agak dingin hingga ia menutupi bagian yang terbuka, atau memang ia tahu jika Fahri merasa tak nyaman saat melihat Arumi berpakaian yang sedikit terbuka.
"Ada apa mencariku?" tanya gadis itu dengan suara yang sedikit serak. Ia berjalan menuju ke dapur, menuang segelas air putih untuk membasahi tenggorokannya yang kering.
Arumi menghampiri Fahri. Melihat pria tersebut dari atas hingga ke bawah. "Kamu sudah rapi. Mau kemana?" tanya Arumi melihat penampilan Fahri yang berbanding terbalik dengan penampilannya.
"Tidak kemana-mana. Hanya ingin melihat-lihat saja sekitar sini," timpal Fahri.
Arumi menyipitkan matanya. "Apakah kamu akan langsung pergi untuk mengambil barang-barang yang tertinggal?" tanya Arumi lagi.
"Rencananya memang seperti itu. Tapi aku memutuskan untuk pergi ke sana saat siang hari saja. Lagi pula, aku tidak ada kerjaan selain berada di rumah. Dan itu membuatku sedikit merasa bosan," tutur Fahri.
Arumi tampak berpikir sejenak. "Aku yang akan mengantarmu ke kontrakan," ujar Arumi.
"Bukankah kamu harus ke kantor?" tanya Fahri.
Arumi menggelengkan kepalanya pelan. "Siapa yang langsung bekerja setelah resepsi pernikahan? Setidaknya meskipun kita tidak berbulan madu, jangan terlalu diperlihatkan bahwa kita menikah hanya karena saling meraih tujuan masing-masing," ucap Arumi.
"Lagi pula, ada Samuel yang mengurus semuanya," lanjut Arumi.
"Baiklah. Kalau begitu, aku akan keluar dulu untuk melihat-lihat. Rumah ini sangat luas, aku bisa tersesat jika tak menghapalnya," ucap Fahri.
Arumi terkekeh mendengar ucapan pria yang sudah sah menjadi suaminya itu. "Baiklah. Lakukan sesukamu."
Fahri menatap Arumi yang kembali menaiki anak tangga. Pria itu kembali melanjutkan langkahnya yang tertunda, berjalan keluar dari rumah untuk melihat hunian yang akan menjadi tempat tinggalnya.
.....
Siang harinya, Arumi sudah tampak cantik mengenakan dress berwarna merah bermotif. Gadis itu menorehkan lipstik pada bibir tipisnya, lalu kemudian menggesek kedua bibirnya untuk merapikan lipstik yang ia kenakan.
Setelah semuanya siap, Arumi pun langsung keluar dari kamar. Gadis itu menuruni anak tangga, melihat sang suami yang sedang menunggu di ruang tengah.
"Ayo kita berangkat!" ajak Arumi.
Fahri pun mengangguk, lalu kemudian beranjak dari tempat duduknya. Ia mengikuti langkah Arumi yang lebih dulu berjalan di depannya. Keduanya masuk ke dalam mobil, lalu kemudian Arumi menghidupkan kendaraannya, melajukan roda empat itu menuju ke jalanan.
Setelah cukup lama menempuh perjalanan, keduanya pun tiba di tempat tujuan. Fahri dan Arumi turun dari mobil, berjalan masuk melalui gerbang yang ada di kontrakan itu.
Beberapa tetangga yang ada di kontrakan Fahri, menyadari kedatangan pria itu. Mereka pun memberikan selamat pada keduanya atas pernikahan mereka.
"Wah selamat ya atas pernikahan kalian. Si Fahri sehari menghilang, eh tiba-tiba muncul berita pernikahan kalian," ucap salah satu tetangga yang memberikan selamat.
"Iya. Terima kasih," timpal Fahri dan Arumi disertai dengan senyuman tipis.
Setelah berbincang-bincang dengan beberapa orang yang memberikan ucapan selamat, Fahri pun langsung berjalan menuju ke kontrakannya. Ia merogoh kunci yang ada di dalam sakunya, lalu membuka pintu menggunakan kunci tersebut.
"Ayo masuk!" ajak Fahri.
Arumi pun masuk ke dalam kontrakan suaminya itu. Ia tampak tercengang melihat isi dalam kontrakan tersebut.
"Tunggu dulu!" sergah Arumi.
Gadis itu melangkahkan kakinya, melihat-lihat isi dalam kontrakan Fahri. Ia memeriksa barang-barang mulai dari tengah hingga ke dapur. Bahkan Arumi juga sudah berani membuka kamar Fahri.
"Apakah kamu merasa kehilangan? Atau barang-barang yang ku pesan tidak dikirim semuanya?" oceh gadis itu.
Arumi langsung mengambil ponsel yang ada di dalam tasnya. "Ini tidak bisa dibiarkan! Aku membayarnya langsung dengan cash tanpa cicilan!" protes Arumi.
Melihat Arumi yang hendak menghubungi pemilik toko, membuat Fahri langsung menghentikan aksi sang istri.
"Tunggu! Bukan begitu! Aku bisa jelaskan semuanya," tukas Fahri.
Arumi menaikkan alisnya sebelah. Ia pun langsung menyimpan kembali ponselnya di dalam tas. "Apa yang ingin kamu jelaskan?" tanya Arumi penuh selidik .
"Sebenarnya, aku mengembalikan separuh dari barang yang kamu pesan," jelas Fahri.
"Dikembalikan? Kenapa dikembalikan? Apakah barangnya memiliki kerusakan?" tanya Arumi lagi.
"Bukan. Bukan seperti itu. Aku sengaja mengembalikan separuh dari barang yang kamu pesan, karena menurutku itu sangat berlebihan. Aku tidak membutuhkan peralatan selengkap itu. Aku meminta uangnya kembali dan aku menggantikannya dengan sesuatu," papar Fahri.
"Sesuatu? Apa itu?"
"Tunggu sebentar!" Fahri berjalan menuju ke kamarnya. Tak lama kemudian, pria itu pun keluar sembari membawa kotak berukuran kecil berwarna merah tua.
"Aku sadar, mungkin aku adalah pria yang tidak memiliki banyak uang untuk membalas kebaikanmu. Tapi, uang tersebut aku gunakan untuk membelikanmu hadiah ini."
Fahri mengambil tangan Arumi, lalu kemudian meletakkan kotak kecil tersebut di genggaman gadis itu.
"Harganya tak seberapa, karena uang yang ku pakai adalah hasil dari barang yang aku kembalikan," tutur Fahri.
Arumi membuka kotak tersebut. Sebuah cincin dengan model yang sederhana namun tetap terlihat cantik. Arumi pun tersenyum senang, lalu kemudian menyematkan cincin itu di jari manis kirinya.
"Dasar bodoh! Aku sangat menyukai ini!"
Bersambung ....