
Hari mulai merangkak malam. Arumi merapikan dokumen-dokumen yang ada di atas meja kerjanya. Ia melirik ke arah sang suami yang masih sibuk mempelajari beberapa dokumen yang akan menjadi bekalnya untuk ke depan nanti.
"Apakah terasa sangat sulit untukmu?" tanya Arumi menghampiri meja kerja suaminya yang tepatnya berseberangan dengan meja Arumi. Sebelumnya, ia meminta pada Samuel untuk menyiapkan dua meja kerja di dalam ruangannya. Karena mulai hari ini Fahri akan ikut bergabung bersamanya untuk menangani perusahaan.
"Tidak terlalu sulit jika benar-benar ditekuni," timpal Fahri seraya mengulas senyumnya. Arumi pun membalas senyuman sang suami.
"Kalau begitu, cukup untuk hari ini. Besok di lanjutkan lagi. Sekarang sudah waktunya pulang," tutur gadis itu dengan lembut.
Fahri pun mengangguk pelan. Ia merapikan semua dokumen yang ada di atas meja kerjanya. Arumi juga ikut membantu membereskan semua yang ada di sana. Tanpa sengaja, saat Arumi hendak mengambil salah satu dokumen yang ada di sana, Fahri juga meraih dokumen yang sama. Hingga tangan mereka pun saling bersentuhan.
Fahri menatap Arumi. Begitu pula dengan gadis itu yang menatap wajah suaminya. Cukup lama keduanya berada di posisi ini. Arumi membeku dengan wajah yang memerah.
Mata keduanya saling bersitatap, membuat debaran di dada Arumi menjadi semakin tak karuan. Gadis itu langsung menarik tangannya kembali. Ia merasa gugup akan tatapan Fahri yang begitu lekat.
"Be-bersiaplah! Aku menunggumu di luar," ujar Arumi yang langsung melangkah menuju ke meja kerjanya. Ia mengambil tas jinjing yang masih terletak di tempat tersebut dan ponsel pintarnya. Arumi pun memilih keluar lebih dulu. Ia mengibas-ngibaskan tangannya, dengan semburat kemerahan di wajahnya bak kepiting rebus.
"Ayolah Arumi! Jangan gugup! Kembali normal seperti semual dan jangan terlalu terlihat bahwa jantungmu saat ini berdebar dan ingin meloncat dari tempatnya," gumam wanita itu yang masih mengibas-ngibaskan tangannya.
Fahri tertawa. Ia mengusap keningnya atas apa yang baru saja ia perbuat tadi. Pria itu tertawa sembari merutuki dirinya.
"Kelakuan konyol apalagi yang kamu perbuat, Fahri."
Fahri kembali merapikan dokumen yang masih tersisa, yang belum ia bereskan. Setelah semuanya selesai, pria itu pun langsung melangkah keluar, menemui istrinya yang sudah lebih dulu berada di luar.
Arumi tersenyum saat melihat Fahri. Keduanya pun berjalan beriringan menuju ke parkiran. Arumi tampaknya hanya tertunduk, tersipu malu. Sedangkan Fahri mengulum senyumnya saat mencuri pandang menatap sikap Arumi.
Saat di perjalanan menuju ke rumah, kedua orang tersebut tampak canggung. Tidak ada perbincangan seperti biasanya, hanya diam sembari menatap jalanan yang sudah gelap.
"Bisakah kamu menyanyikan sebuah lagu untukku? Aku merasa sedikit kikuk dengan suasana ini," ujar Fahri yang memulai perbincangan. Ia merasa tidak nyaman dengan suasana seperti ini.
"Menyanyi? Aku tidak pandai menyanyi. Bukankah sudah ku katakan kemarin kalau suaraku itu sumbang," sahut Arumi terkekeh geli.
"Tapi aku menyukainya," celetuk Fahri.
Wajah Arumi langsung kembali bersemu merah. Sementara Fahri kembali menekuk bibirnya ke dalam. Ia sungguh merutuki ucapannya yang membuat Arumi merasa sedikit sensitif.
"Ah, maksudku ... aku menyukai suaramu. Menurutku suaramu tidak sumbang sama sekali, dan aku menyukainya," jelas Fahri yang merasa tidak enak pada Arumi.
"Hahaha ... tidak apa-apa. Meskipun tidak kamu jelaskan, aku bisa mengerti." Arumi menimpali ucapan suaminya.
Dan pada akhirnya, perjalanan pulang itu pun tidak ada perbincangan sama sekali. Hanya ada rasa canggung dari kedua pasangan suami istri itu.
....
Sifa baru saja pulang dari bekerja. Saat tiba di apartemennya, ia melihat Kartika yang sudah berada di rumah itu.
"Sejak kapan ibu ada di sini?" tanya Sifa seraya melepaskan sepatu yang ia kenakan, dan menggantinya dengan sendal rumahan.
"Waktu kalian juga tidak akan lama lagi, tapi ibu harap kalian bersabar sebentar lagi. Jika kamu menyerahkan tubuhmu terlebih dahulu pada Aldo, bagaimana nantinya kalau kamu hamil dan tiba-tiba Aldo menghilang?" lanjut Kartika.
Sifa hanya menunduk patuh. Ia tak berani menimpali ucapan ibunya itu karena terlalu malu atas perbuatannya kemarin. Apalagi mereka kedapatan melakukan hal yang tidak senonoh itu.
Sifa melangkahkan kakinya menuju ke kamar. Wanita tersebut merebahkan tubuhnya yang terasa lelah di atas kasur empuk miliknya.
Tak lama kemudian, ponselnya berdering. Ia melihat nama yang tertera di layar tersebut. Sifa pun mengangkat panggilan tersebut.
"Sayang, apakah kamu sudah sampai di rumah?" terdengar suara seseorang dari seberang telepon.
"Hmmm ... sudah. Ibu ada di apartemen. Sepertinya untuk sementara kita saling bersambut suara melalui telepon saja. Aku dijaga ketat oleh ibuku," ujar Sifa.
"Tidak apa-apa. Aku bisa mengerti. Maaf, karena aku sudah membuatmu kesulitan. Nanti setelah kita menikah, aku akan berjanji untuk membahagiakanmu. Apapun yang kamu inginkan, aku akan mewujudkannya," ucap Aldo.
"Janji ya ...."
"Iya, sayang aku janji. Ya sudah kalau begitu kamu isirahatlah, sepertinya kamu sangat kelelahan."
Tak lama kemudian panggilan pun terputus. Sifa mengembangkan senyumnya saat mendengar janji Aldo yang akan mewujudkan semua yang ia inginkan.
"Baiklah. Aku akan membuktikan nantinya, bahwa kehidupanku lebih terpenuhi dan lebih bahagia saat bersama Aldo. Dan aku akan memperlihatkannya di depanmu, Mas. Aku juga bisa seperti mu," gumam wanita itu tersenyum miring.
....
Aldo baru saja mematikan panggilan teleponnya. Pria itu pun kembali masuk ke dalam club malam, bergabung bersama teman-teman judinya untuk melanjutkan permainan mereka.
Di sana, Aldo diapit oleh dua wanita penghibur yang menemaninya malam ini. Sesekali Aldo memberikan sentuhan tipis pada kedua wanita itu secara bergantian.
"Sepertinya kamu memang pemain handal. Baru saja keluar menelepon kekasihmu, tetapi sekarang justru bermain nakal dengan kedua wanita itu," ujar salah satu temannya.
Aldo menenggak minuman yang ada di hadapannya. Lalu kemudian ia membuka kartu remi yang baru dibagikan oleh seorang pengocok kartu tersebut.
"Kamu tahu, yang ku lakukan satu ini adalah tidak menyia-nyiakan bonus. Dan seperti sekarang ini, keberuntungan sedang berpihak kepadaku," ujar Aldo seraya memperlihatkan kartu yang ada di tangannya.
"Sial!" ucap ketiga pria yang merupakan lawan main dari Aldo. Mereka satu persatu menghempaskan kartu yang ada di tangannya, memperlihatkan bahwa saat itu keberuntungan bukan milik mereka.
Aldo pun tertawa keras, ia mengambil semua chip yang ada di depannya dengan penuh semangat.
"Keberuntungan sedang berpihak kepadaku," seru Aldo seraya tertawa keras. Salah satu wanita yang ada di samping Aldo, menuangkan minuman untuk pria tersebut.
"Thanks baby," ujar Aldo tersenyum, lalu kemudian meraih gelas minumannya dan menenggaknya hingga tandas.
Bersambung ....