
Sifa menatap sekeliling rumah. Ia tak menemukan keberadaan suaminya. Ia pun pergi ke ruang tengah, lalu kemudian keluar, memastikan jika Aldo benar-benar tidak ada di sana.
Dan benar saja, mobil sering dikendarai oleh pria itu memang sudah tidak terparkir lagi di depan rumah. Yang berarti, Aldo memang tengah pergi keluar.
Sifa kembali ke kamar. Ia meraih ponselnya, mencoba menghubungi ibunya. Cukup lama ia menunggu panggilannya mendapat respon, hingga akhirnya terdengar suara wanita dari seberang telepon.
"Halo ...."
"Halo Bu, Ibu sedang apa?" tanya Sifa.
"Oh ini ... ibu sedang di salon menata kembali rambut ibu. Ada apa?" tanya Kartika dari seberang telepon.
"Bisakah ibu kemari untuk menjengukku? Aku takut. Aldo berubah menjadi sedikit menyeramkan akhir-akhir ini," ucap Sifa.
"Menyeramkan bagaimana? Mungkin hanya perasaanmu saja. Aldo adalah menantu yang baik, tidak mungkin dia akan menyakitimu."
"Sungguh, Bu! Kemarin dia mengurungku, memperlakukanku dengan kasar," ujar Sifa mencoba untuk menjelaskan.
"Sudah ... sudah! Ibu paling malas mendengarmu merengek seperti ini. Seharusnya kamu bersyukur, telah memiliki suami seperti Aldo. Masih saja protes akan hal itu. Hidupmu terlalu banyak mengeluh!"
Tak lama kemudian, sambungan telepon pun terputus secara sepihak. Mata Sifa berkaca-kaca, melihat ibunya yang tak mempedulikan dirinya sama sekali.
"Mengapa Ibu tak mempercayaiku," lirih Sifa.
Tak lama kemudian, terdengar suara mobil yang baru saja memasuki pekarangan rumah. Sifa pun segera berjalan menuju ke meja rias. Ia langsung menghapus air matanya, mencoba untuk menormalkan lagi wajahnya saat sang suami tiba di rumah.
Sifa kembali menyimpan ponselnya. Ia berjalan keluar rumah untuk menghampiri Aldo. Gadis itu berusaha untuk tersenyum, meskipun ia merasa berat karena perlakuan Aldo kepadanya kemarin cukup membuatnya syok.
"Sayang, kamu dari mana saja?" tanya Sifa mencoba selembut mungkin pada Aldo.
"Menemui seseorang," timpal Aldo singkat, sembari berjalan masuk ke dalam rumah.
"Seseorang? Siapa?" tanya Sifa lagi.
Aldo berbalik, lalu kemudian menatap istrinya yang penuh dengan seribu pertanyaan yang ada di dalam kepalanya itu.
"Bisakah untuk berhenti bertanya? Kepala ku pusing karena kamu terlalu banyak bertanya," tukas Aldo yang terkesan sedikit kasar. Sikap lembut yang pernah ditunjukkan pada Sifa seakan menguap begitu saja.
Sifa hanya diam, sembari memandangi punggung suaminya yang semakin lama semakin menjauh. "Dulu, Fahri memperlakukanku layaknya seorang ratu, dia menerima semua kesalahan dan kekuranganku. Namun, sekarang aku baru sadar. Jika Aldo sangat berbeda dengan Fahri. Ia bersikap manis di awal saja, setelah menikah memperlakukanku dengan sangat kasar," batin Sifa.
....
Arumi baru saja selesai mandi. Langkahnya masih terlihat sedikit kaku karena perbuatan Fahri semalam dan pagi ini. Rambutnya tampak basah, tergerai begitu saja.
Wanita tersebut melihat suaminya yang tengah duduk di dekat jendela. Wajah pria itu terkena pantulan sinar matahari, yang membuat Fahri terlihat lebih tampan berkali-kali.
Menyadari sang istri menatap ke arahnya, membuat Fahri pun mengalihkan pandangannya pada Arumi. Pria itu mengulas senyumnya, sembari menghampiri istrinya yang saat ini tengah mengeringkan rambutnya menggunakan handuk.
"Sini biar ku bantu," ujar Fahri.
Pria itu pun berjalan menuju ke meja rias, mengambil hair dryer yang ada di atas meja rias tersebut. Fahri menarik kursi meja rias tersebut, lalu kemudian mempersilahkan untuk istrinya duduk di sana.
"Kemarilah!" ujar Fahri sembari menepuk kursi tersebut.
"Aku tahu, aku tampan. Tapi bisakah kamu menatap lurus ke depan? Aku ingin mengeringkan rambutmu," ucap Fahri dengan lembut.
Arumi pun mengarahkan pandangannya ke depan, sesuai dengan instruksi yang diberikan oleh Fahri. "Mas, aku sangat senang. Kamu tahu, aku tidak pernah merasa sebahagia ini," ujar Arumi.
Fahri tersenyum, ia masih sibuk mengeringkan rambut sang istri tanpa menjawab ucapan yang dilontarkan oleh Arumi tadi.
Arumi memejamkan matanya, membiarkan Fahri mengeringkan rambutnya terlebih dahulu. Selang beberapa lama kemudian, rambut Arumi pun sudah kering. Fahri pun mengembalikan hair dryer tersebut pada tempatnya. Lalu kemudian berjongkok tepat di depan istrinya.
"Apakah kamu benar-benar bahagia bersamaku?" tanya Fahri memastikan.
"Hmmm ...," timpal Arumi sembari menganggukkan kepalanya.
Fahri tersenyum, tangannya terulur membelai wajah Arumi dengan lembut. "Terima kasih karena telah tulus mencintai pria yang memiliki serba kekurangan ini," ujar Fahri.
"Aku juga memiliki banyak kekurangan. Tapi semoga nanti aku bisa melengkapi kekurangan yang kamu punya. Bersama dan saling melengkapi, bukankah itu adalah rumus mencapai suatu keharmonisan dalam keluarga?" tanya Arumi.
Fahri mengangguk pelan. Pria itu meraih punggung tangan Arumi, lalu kemudian mengecupnya dengan lembut.
"Tapi ada satu hal yang aku inginkan darimu," ujar Fahri.
"Apa itu?" tanya Arumi.
"Bisakah kamu untuk tidak terlalu kasar pada ibumu? Bagaimana pun juga, dia adalah wanita yang melahirkanmu dan membesarkanmu," tutur Fahri.
Senyuman di wajah Arumi perlahan memudar saat Fahri mengatakan hal tersebut. "Entahlah, kenapa aku menjadi sejauh ini pada mama. Dulu, saat papa masih hidup, kami adalah keluarga yang utuh. Semua berantakan setelah papa tiada. Mama berubah drastis, dan kami menjadi sedikit memiliki jarak," jelas Arumi.
"Apapun itu, berbaikanlah pada mama mertua. Bukankah kamu bilang, keluarga yang harmonis itu mereka yang bisa melengkapi kekurangan dan kelebihan masing-masing? Mulai sekarang, belajarlah untuk tidak saling menjaga jarak," papar Fahri memberikan sedikit nasihat pada istrinya itu.
Arumi terdiam sejenak, lalu kemudian ia pun menganggukan kepalanya. "Baiklah, aku akan mencobanya," sahut Arumi, menyetujui ucapan sang suami.
Fahri pun tersenyum, ia mengusap kepala istrinya dengan penuh kasih sayang. "Terima kasih, karena kamu mau berusaha," ujar Fahri. Arumi menimpali ucapan Fahri dengan sebuah anggukan.
....
"Lihatlah! Karena ulah anakmu itu, aku menjadi cacat seperti ini!" ujar pria berperawakan tinggi, menatap nanar ke arah lawan bicaranya.
"Kenapa kamu menyalahkan ku? Itu salahmu sendiri kenapa tak bisa menghindar darinya. Seharusnya kamu kabur tanpa meladeninya," balas Dewi yang tak kalah ketus dari pria yang menjadi kekasihnya itu.
"Aku menjalankan perintah mu. Aku melakukan ini dan itu sesuai apa yang kamu inginkan. Lantas, kamu mengatakan aku bodoh?" ujar pria tersebut. Ia bangkit dari tempat duduknya, lalu kemudian mencoba untuk mencekik Dewi.
"Roy, apa yang kamu lalukan?!" ucap Dewi dengan sedikit tercekat, bersuara dengan napas yang tersengal akibat dari cekikan pria tersebut.
"Berhenti mengatai ku bodoh dan tidak berguna. Aku bisa saja melenyapkan nyawamu dan juga nyawa putrimu itu. Kau paham!"
Tak lama kemudian, pria tersebut berteriak kesakitan saat Dewi menendang tulang kering bekas luka yang ditusuk dengan konde oleh Arumi pada malam itu.
"Awww ... dasar jallang!" tukas Roy sembari meringis kesakitan.
"Kamu ingin membunuhku? Tidak semudah itu Roy! Aku yang bisa membunuhmu terlebih dahulu!" tukas Dewi yang kemudian melangkahkan kakinya, memilih pergi dari hadapan pria tersebut.
Bersambung ...