
Fahri tengah berdiri di depan cermin untuk memeriksa penampilannya. Seelah di rasa cukup, pria itu pun berjalan menuju ke dapur. Imut bergabung sarapan bersama dengan istri dan mertuanya.
"Berapa penghasilanmu bekerja di toserba? Ibu dengar dari Sifa, kamu bekerja di sana?" tanya Kartika.
"Tidak besar, Bu. Tapi lumayan buat tambahan belanja Sifa," jelas Fahri.
Sifa hanya mencebikkan bibirnya. Seolah ia merasa bahwa gaji Fahri masih terlalu kecil dan belum bisa memenuhi kebutuhannya sehari-hari.
"Ada apa, Sifa? Mengapa wajahmu seperti itu?" tanya Kartika.
"Tidak apa-apa, Bu. Hanya saja, aku masih merasa kurang meskipun Mas Fahri sudah memiliki dua pekerjaan sekaligus. Jadi kasir di toserba tidak memadai gajinya, Bu. Ibu kan tahu sendiri, sekarang apa-apa serba mahal," papar Sifa.
"Iya. Benar juga apa yang kamu katakan. Sekarang, harga cabai saja sudah selangit, belum lagi bahan-bahan yang lain," ujar Kartika yang ikut membenarkan ucapan anaknya.
"Tapi kan kamu tidak pernah beli bahan-bahan dapur, Sayang." Fahri mencoba membela diri. Yang ia katakan benar adanya. Sang istri bahkan hampir tidak pernah memasak.
Sifa melepaskan sendok yang ada di tangannya. Wanita itu memberengut melihat Fahri yang seakan menyudutkan dirinya.
"Ibu bisa lihat sendiri kan? Selalu saja ada pembelaan untuk dirinya sendiri. Dia bahkan tidak mau mengalah sedikitpun. Mas, kalau seperti ini terus-menerus, aku merasa benar-benar muak, Mas." Sifa pergi meninggalkan suami dan ibunya di meja makan.
Sementara Kartika, menatap tajam sang menantu. "Kamu, ... kenapa diam saja? Kejar istrimu dan minta maaflah padanya! Apakah kamu selalu seperti ini jika menghadapi istrimu?"ujar Kartika menatap menantunya dengan malas.
Fahri bahkan belum menyentuh sarapannya. Ia harus menuruti sang mertua untuk mengejar istrinya. Jika tidak? Ia pasti kembali di cap sebagai menantu yang payah.
Fahri keluar dari rumahnya. Ia melihat Sifa yang baru saja memasuki lift, hendak menuju ke lantai dasar. Dengan cepat, Fahri langsung menahan pergelangan tangan Sifa.
"Bisakah kamu jangan bersikap seperti ini di depan ibumu?" ujar Fahri.
"Kenapa? Apa kamu takut?" tantang Sifa menatap suaminya nyalang.
"Sifa, aku mohon. Jika ibu sedang di sini, bisakah kita tidak bertengkar? Bisakah kamu sedikit mengalah dengan sikap egoismu? Tolong Sifa. Ibu selalu saja mencercaku dengan mengataiku menantu yang payah dan tidak dapat diandalkan. Bisakah kita akur di depan ibu?" bujuk Fahri.
Mendengar ucapan Fahri, membuat Sifa memutar bola matanya dengan malas. Sungguh ia merasa benar-benar bosan dengan kehidupan pernikahannya. Di dekat Fahri, ia selalu saja beradu argumen. Lain halnya jika ia bersama dengan Aldo.
Aldo selalu menuruti permintaannya. Aldo sangat pandai mengambil hatinya ketika ia sedang merasa sedih ataupun jenuh. Sangat berbanding terbalik dengan Fahri.
"Mas, aku rasa ... kita sudah tidak sejalan lagi. Berulang kali aku memikirkan hal ini, tapi ... tetap saja, mau dipaksakan bagaimana pun juga, pada akhirnya salah satu diantara kita akan merasa tersakiti," jelas Sifa yang masih mencoba melepaskan cekalan tangan suaminya.
"Apa maksudmu, Sifa? Apa maksud dari ucapanmu yang mengatakan bahwa kita sudah tak sejalan?" tanya Fahri dengan mata yang mulai memerah menahan air mata yang tertumpah.
"Aku sudah lelah, Mas. Aku ingin kita pisah saja!" lirih Sifa.
Seakan mendengar gemuruh di siang hari. Seketika cekalan tangan yang sedari tadi masih mencengkram tangan istrinya, kini telah terlepas begitu saja.
Fahri tertegun. Ia benar-benar tak menyangka jika istrinya bisa berkata seperti itu.
"Tolong pikirkan lagi, Istriku. Aku sungguh tidak sanggup jika harus kehilanganmu. Ku mohon tarik kembali ucapanmu," bujuk Fahri, meminta pada istrinya untuk menarik kembali ucapannya.
Sifa tak berkata apapun. Wanita itu hanya diam sembari menunduk. Seakan memberitahu pada sang suami bahwa pernikahan mereka sudah tak bisa diselamatkan lagi.
"Aku tidak akan menceraikanmu. Aku akan tetap mempertahankan pernikahan ini!" tegas Fahri yang kemudian kembali masuk ke dalam rumah.
Pria tersebut mengambil tas kerjanya yang tergeletak di salah satu sofa yang ada di ruang tengah. Ia pun memilih untuk berangkat bekerja tanpa mengisi perutnya terlebih dahulu.
Fahri berjalan cepat, menyusul Sifa yang sudah tak terlihat lagi. Namun, saat ia sudah di luar, Fahri melihat Sifa bersama dengan seseorang, menaiki mobil mewah menuju ke tempat kerjanya.
Fahri berlarian mengejar istrinya. Tak peduli beberapa pasang mata memandang ke arahnya atau pun menilai bahwa ia adalah pria yang bodoh.
Sifa melihat Fahri dari kaca spion. Wanita itu memejamkan matanya, ia mencoba untuk tidak menghiraukan Fahri yang berlarian mengejar dirinya dan Aldo.
"Suamimu sudah tahu tentang kita?" tanya Aldo.
"Cepat atau lambat ia akan mengetahuinya," timpal Sifa yang masih memejamkan matanya.
"Bisakah kamu menambah kecepatan mobilmu? Aku tidak ingin dia mengejar kita sampai ke tempat kerjaku nanti," sambung Sifa.
Sesuai permintaan kekasihnya, Aldo menginjak pedal gas mobil untuk menambah laju kecepatan kendaraannya itu.
Kini jarak Fahri semakin menjauh. Pria yang sedari tadi mengejar mobil tersebut pun akhirnya menyerah. Fahri tersengal, tanpa sadar air mata jatuh begitu saja di pipinya.
Mobil yang membawa Sifa pun semakin tak terlihat. Pandangan mata Fahri menyendu. Pria itu berusaha keras untuk membahagiakan Sifa, bekerja tanpa mengenal lelah berusaha untuk mencukupi kebutuhan sang istri.
Namun, yang ia dapatkan adalah pengkhianatan dari istrinya. Sifa memilih pergi bersama pria dengan mobil mewahnya, dibandingkan bertahan hidup dengan Fahri yang berjuang keras, mati-matian untuk membahagiakan dirinya.
"Apakah harta adalah sumber kebahagiaanmu? Mengapa kamu sangat tega melakukan hal ini, Sifa? " lirih Fahri.
Ia menyusuri jalanan dengan langkah yang gontai. Bagi Fahri, Sifa adalah segalanya. Namun, bagi istrinya, Fahri hanyalah seorang pria yang tak bisa ia andalkan.
Fahri merasa benar-benar lelah. Ia tak bisa lagi membendung kesedihannya. Pria itu kembali ke apartemennya, mengurungkan niatnya untuk pergi bekerja.
Selangkah demi selangkah ia berjalan kembali menuju rumah, ini terasa seperti sebuah mimpi bagi Fahri. Bukankah ia sudah berjuang sangat keras selama ini? Apakah istrinya masih tidak bisa melihat perjuangannya?
Fahri sangat mencintai istrinya. Bahkan lebih dari mencintai dirinya sendiri. Maka dari itu, kata berpisah yang keluar dari mulut Sifa, sangat berpengaruh besar baginya.
"Kenapa kita menjadi seperti ini? Aku bahkan tak berharap jika kamu akan membalas cintaku. Tapi setidaknya bertahanlah denganku. Biar aku tunjukkan seberapa besar cintaku padamu. Tapi aku mohon, untuk tidak bersama dengan pria lain selain diriku," lirih Fahri.
Bersambung ....