
Arumi baru saja keluar dari kamar mandi. Wanita itu tak henti-hentinya mengulas senyum sembari memegang benda yang ada di tangannya.
Arumi menghampiri suaminya yang baru saja bersiap untuk berangkat ke kantor. Wanita itu memeluk sang suami dari belakang.
"Mas, ..."
"Hmmm ...." Fahri menimpali sembari memasangkan jam tangan di pergelangan kirinya.
"Mas, aku mau memperlihatkan sesuatu padamu," ujar Arumi.
"Apa?" tanya Fahri yang langsung membalikkan badannya.
Arumi langsung mengacungkan sesuatu yang sedari dipegangnya. Fahri memicingkan matanya, mengambil test pack yang diperlihatkan oleh Arumi. Matanya berbinar saat melihat alat tes kehamilan tersebut menunjukkannya garis dua.
"Kamu hamil, Sayang?" tanya Fahri dengan sangat antusias.
"Hmmm ...." Arumi menganggukkan kepalanya.
Fahri langsung memeluk istrinya. Rasa bahagia langsung menyelimuti kedua pasangan suami istri itu. Fahri mencium istrinya bertubi-tubi, menyalurkan rasa bahagia yang ia rasakan saat ini.
"Kita harus menjaganya dengan baik ya, Sayang. Cukup satu kali saja kita kehilangan," ujar Fahri.
"Iya, Mas. Akan ku pastikan dia baik-baik saja. Dan aku berjanji untuk tidak bersikap ceroboh lagi," ucap Arumi.
Fahri langsung berjongkok,. mensejajarkan dirinya dengan perut sang istri. Fahri menempelkan telinganya pada perut Arumi yang masih rata. Lalu kemudian mengusap perut itu dengan begitu lembut.
"Sayang, sehat-sehat ya Nak. Mama dan Papa selalu menantikan kehadiranmu," ujar Fahri yang berbicara pada anak di dalam kandungan istrinya itu.
"Baik, Papa." Arumi menirukan suara anak kecil.
"Ya sudah, kalau begitu Mas berangkat bekerja dulu ya, Sayang." Fahri kembali berdiri. Pria tersebut meraih tas kerjanya, lalu kemudian mengecup kening istrinya.
"Kamu tidak sarapan dulu, Mas?" tanya Arumi.
"Tidak, Sayang. Nanti Mas sarapannya di kantor saja. Mas sudah terlambat ke kantor, lagi pula hari inias ada pertemuan penting," ujar Fahri.
"Ya sudah kalau begitu. Mas hati-hati bawa mobilnya," ucap Arumi memperingatkan hal tersebut pada sang suami.
"Iya, Sayang."
Kedua orang itu pun keluar dari kamar secara bersamaan. Setibanya di depan, Arumi menatap punggung suaminya yang mulai menjauh, berjalan mendekati mobilnya.
"Oh iya, untuk makan siang, sebaiknya tidak usah kamu yang mengambilnya ke sana. Suruh Pak Rahmat saja," ujar Fahri.
"Baiklah, Mas."
Fahri pun membuka pintu mobilnya. Pria tersebut menekan klakson sebelum benar-benar membawa mobil tersebut menuju ke jalanan.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, Fahri pun tiba di kantor. Saat pria tersebut hendak keluar dari mobilnya, ia melihat Indra yang juga baru saja tiba dan memarkirkan kendaraannya tepat di samping kendaraan milik Fahri.
"Maafkan aku yang sedikit terlambat, hatchimmm ...." Indra berucap diakhiri dengan bersin.
Pria itu terkena flu karena hujan-hujanan semalam. Namun, Jessy tak juga kunjung turun. Saat melihat jam tangannya yang telah memasuki waktu dini hari, Indra pun menyerah dan memutuskan untuk pulang. Akan tetapi, pulangnya pria itu bukan berarti dia menyerah untuk memperjuangkan Jessy dan anaknya. Ia pasti akan datang lagi tanpa merasa bosan, sampai Jessy dan keluarganya dapat menerima keberadaannya.
"Kamu flu?" tanya Fahri.
Indra hanya menganggukkan kepalanya. Sembari menggosok-gosok puncak hidungnya yang terlihat memerah.
"Sebaiknya kamu beristirahat saja di rumah," ujar Fahri.
"Tidak apa-apa, ini hanya flu ringan saja, nanti akan segera sembuh," tolak Indra.
"Kamu yakin tidak apa-apa bekerja dalam kondisi yang seperti itu?" tanya Fahri lagi mencoba memastikan.
Kedua pria tersebut langsung masuk k dalam gedung perusahaan secara beriringan. Staf yang berpapasan dengan keduanya langsung menunduk hormat. Fahri pun mengulas senyumnya saat berlalu dari hadapan mereka, begitu pula dengan Indra.
Saat kedua pria tampan itu telah benar-benar pergi, beberapa staf yang tengah menunggu lift selanjutnya pun langsung bergosip.
"Pak Indra sudah banyak berubah ya? Jika dulu dia sangat pelit tersenyum, tapi sekarang dia lebih murah senyum," ujar wanita berambut pendek.
"Iya, bahkan saat bekerja pun dia tak pernah berucap kasar seperti dulu," ucap wanita berambut panjang.
"Mungkin Pak Indra sudah mendapat pelajaran dari kesalahannya kemarin. Apalagi kabarnya yang membantu mengeluarkan Pak Indra dari tahanan adalah Bu Arumi." Wanita dengan rambut yang di kuncir ponytail ikut menimpali.
"Meskipun terlihat menyeramkan, Bu Arumi sangat baik ya. Awalnya aku sangat takut kepada beliau, tetapi setelah mengenal lebih dalam lagi, ternyata hanya wajahnya saja yang menyeramkan. Bu Arumi ternyata orangnya asik," ujar wanita berambut pendek itu.
"Ada pepatah mengatakan, jangan menilai orang lain hanya dari sampulnya saja," ucap wanita berambut panjang itu.
Tak lama kemudian, pintu lift di hadapan mereka terbuka, mengakhiri perbincangan dari ketiga orang tersebut.
.....
Siang itu, Aldo disibukkan dengan kegiatannya di dapur. Pria itu membantu sang istri untuk menyiapkan pesanan dari Arumi.
"Apakah arumi selalu memesan makanan sebanyak ini?" tanya Aldo.
"Iya, Sayang. Selama ini aku hanya mendapatkan pemasukan yang sangat kecil perharinya, tetapi setelah hari itu, dimana dia mulai memesan makanan, pemasukan yang ku dapatkan perharinya jauh ebih besar dari pada yang kemarin. Aku sangat bersyukur Tuhan mengirimkan orang bak seperti Arumi," tutur Sifa.
Aldo tersenyum, lalu kemudian menangkup wajah istrinya dengan kedua tangannya. "Kamu pasti sangat lelah sekali, Istriku."
Sifa menarik kedua sudut bibirnya, wanita itu menggelengkan kepalanya. "Mungkin awalnya memang sedikit kewalahan, Sayang. Tapi setelah lama-kelamaan, aku menjadi terbiasa," jawab Sifa.
"Setelah ini, aku tidak akan membiarkan kamu terlalu kelelahan. Aku yang akan membantumu. Kamu cukup memerintahkan apa yang harus ku kerjakan dan setelah itu bersantailah," papar Aldo.
Selang beberapa saat kemudian, Kartika menemui anak dan menantunya yang saat itu tengah berada di dapur.
"Nak, apakah pesanan Arumi sudah siap? Itu ada orang suruhan Arumi untuk mengambil pesanannya," jelas Kartika.
"Sudah, Bu." Aldo langsung membawa pesanan Arumi keluar. Kartika dan Sifa pun mengikuti Aldo sembari membantu membawakan pesanan yang masih tersisa.
Pak Rahmat langsung membuka mobil, dan ikut membantu membawakan makanan tersebut ke dalam mobil.
Setelah selesai, Pak Rahmat langsung memberikan uang yang dititipkan oleh Arumi tadi kepada Sifa.
"Aruminya mana, Pak?" tanya Sifa yang merasa heran karena biasanya Arumi sendirilah yang mengambil pesanannya itu.
"Nyonya ada di rumah. Beliau tidak di suruh kemana-kemana oleh Tuan karena saat ini nyonya sedang mengandung," jelas Pak Rahmat.
Sifa terkejut, ia pun menutup mulutnya yang menganga dengan kedua tangannya. "Benarkah? Syukurlah kalau begitu. Aku sangat senang mendengarnya," ucap Sifa dengan mata yang berbinar.
"Kalau begitu, sampaikan saja salam saya pada Arumi. Tidak melihatnya sehari saja membuatku rindu," ujar Sifa terkekeh geli.
"Kamu jangan cemburu ya, Sayang." Sifa menatap ke arah suaminya yang berada tak jauh darinya.
"Tentu saja tidak, Sayang." Aldo mengulas senyum.
"Baiklah nanti saya akan sampaikan nyonya, Kalau begitu, saya permisi dulu," ujar Pak Rahmat pamit undur diri.
"Terima kasih ya, Pak." Aldo mengucapkan terima kasih pada Pak Rahmat.
Pak Rahmat pun menganggukkan kepalanya. Pria itu pun kembali masuk ke dalam mobilnya, melajukan kendaran tersebut menuju ke kantor, untuk mengantarkan makan siang.
Bersambung ....
Arumi udah tekdung lagi nih, anaknya nanti mau kembar atau nggak nih?ðŸ¤