
Matahari belum sepenuhnya menampakkan sinarnya. Pagi ini, Arumi sudah bangun. Wanita tersebut telah rapi dengan memakai pakaian santainya. Tak lupa, ia juga menyiapkan pakaian yang akan dikenakan oleh Fahri ke kantor nanti.
Sejak kejadian kemarin, Arumi mulai membiasakan diri untuk melupakan segala sesuatu yang membuatnya sakit. Ia juga hanya ingin berpikiran selalu positif supaya anak yang ada di dalam kandungannya tidak terjadi apa-apa. Jika Arumi merasa banyak pikiran yang pasti akan berimbas juga pada sang janin yang ada di dalam kandungannya.
Arumi melihat jam digital yang ada di atas nakas telah menunjukkan pukul enam pagi. Wanita itu pun duduk di sisi ranjang, mengusap wajah sang suami untuk membangunkannya.
"Mas, bangun Mas. Hari sudah siang," ujar Arumi berbisik tepat di depan telinga Arumi sembari sedikit menggoncang tubuh pria tersebut.
Perlahan Fahri pun menggeliat, ia membuka matanya, melihat pemandangan indah yang terpampang di hadapannya. Wajah cantik Arumi yang tersenyum sembari menatap ke arahnya.
"Bangun Mas, nanti kesiangan," ucap Arumi lagi.
Fahri meraih tangan Arumi, lalu kemudian menciumnya dengan begitu lembut. "Kamu bangun lebih awal," ujar Fahri dengan suara yang serak, khas baru bangun tidur.
"Iya, Mas. Mas Fahri bangunnya terlambat karena semalam tidurnya sudah terlalu larut," tutur Arumi.
"Mas mengkhawatirkan kamu. Bagaimana jika Mas bekerja dari rumah saja, supaya Mas bisa sekalian mengawasi kamu," ujar Fahri memberikan usul.
"Mas, ... jangan membuatku kembali merasa takut. Sekarang Mas bangunlah dan berangkat ke kantor. Untuk saat ini aku tidak ingin memikirkan apapun yang menjadi beban pikiran nantinya, Mas."
"Baiklah," ucap Fahri diiringi dengan helaan napas. Pria itu pun bangkit dari pembaringannya, lalu kemudian langsung menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setibanya di ambang pintu kamar mandi, Fahri berbalik menatap Arumi. "Sayang, kamu juga jangan sampai kelelahan," ucap Fahri memberi peringatan pada sang istri.
"Iya, Suamiku."
Setelah mendengarkan jawaban dari Arumi, Fahri pun kembali melanjutkan langkahnya. Ia menutup pintu kamar mandi itu, hingga tak lama kemudian terdengar suara air yang berjatuhan.
Lima belas menit kemudian, Fahri keluar dari kamar mandi dengan kondisi lebih segar. Ia mengedarkan pandangannya, melihat sang istri sudah tidak berada di dalam kamar lagi.
Pria itu segera memakai setelan kantor yang di siapkan oleh istrinya itu. Setelan berwarna abu-abu, serta dasi berwarna hitam memiliki motif garis-garis kecil berwarna gold menjadi pilihan Arumi kala itu.
Di waktu yang bersamaan, Arumi dibantu oleh beberapa ART tengah menyiapkan sarapan. Dikarenakan Arumi tidak bisa memasak, selain memasak mie instan saja, ia pun hanya memilih untuk menyiapkan peralatan untuk sarapan dan menatanya di atas meja.
Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki yang menuruni anak tangga. Ia pun mengarahkan pandangannya ke ruang tengah. Arumi melihat sang suami yang saat itu sedang berjalan menuju ke dapur.
"Sayang, bukankah sudah ku peringatkan sebelumnya. Kamu sebaiknya duduk di sini," ujar Fahri menarik salah satu kursi yang ada di meja makan. Lalu kemudian menuntun istrinya untuk duduk di tempat tersebut.
"Tapi Mas, ..."
"Jangan membantah! Jika kamu tetap kekeuh seperti ini, Mas tidak akan berangkat ke kantor," ujar Fahri.
Arumi pun langsung duduk manis. Ia tak ingin suaminya lagi-lagi membolos kerja hanya karena menjaga dirinya.
Fahri menarik kursi yang berseberangan dengan sang istri. Lalu kemudian menjatuhkan bokongnya di sana. Ia mulai menikmati sarapannya begitu pula dengan Arumi.
"Sayang, maaf jika sikapku terlalu berlebihan. Aku hanya tidak ingin kamu kenapa-kenapa," tutur Fahri mencoba menjelaskan sikapnya yang semakin posesif pada istrinya itu. Apalagi dengan adanya peristiwa kemarin, membuat Fahri sedikit takut sesuatu yang tidak diinginkan kembali terjadi.
"Iya, Mas. Aku bisa mengerti kok. Terima kasih karena telah memperhatikan ku dengan begitu baik, meskipun terkadang aku sedikit nakal karena tidak menurut ucapanmu," ujar Arumi dengan kekehan kecil.
Setelah menyelesaikan sarapannya, Fahri pun berpamitan untuk berangkat ke kantor. Namun sebelumnya, Pria itu mengumpulkan para ART serta beberapa pria yang bertugas bagian keamanan yang berjaga di rumah tersebut.
"Tolong kalian benar-benar awasi Arumi, jangan sampai kejadian kemarin terulang lagi. Kalian paham?!" tegas Fahri.
"Paham, Tuan."
"Jangan menerima tamu sembarangan. Jika ada hal yang mencurigakan segera hubungi saya!"
"Baik, Tuan."
Mendengar Fahri berucap demikian, membuat Arumi langsung menggandeng lengan pria tersebut. "Sudah, Mas. Lagi pula yang kemarin, mereka tidak tahu apa-apa. Bukan salah mereka juga," papar Arumi.
"Tidak apa-apa, Sayang. Mas hanya memberikan peringatan kecil pada mereka. Kalau begitu Mas berangkat kerja dulu ya. Kamu di rumah saja, tidak usah kemana-mana. Tidak usah berpikiran yang macam-macam, dan tidak boleh terlalu kelelahan," ujar Fahri panjang lebar.
Mendengar rentetan kalimat Fahri yang semuanya berisi peringatan, membuat Arumi mengangguk sembari tersenyum.
"Iya, Mas. Iya ...."
Arumi meraih punggung tangan suaminya lalu menciumnya. Setelah itu, Fahri mengecup kening sang istri. Pria itu pun mulai masuk ke dalam mobilnya, melajukan kendaraan tersebut menuju ke jalanan.
Arumi melambaikan tangannya, menatap kepergian suaminya hingga mobil itu semakin lama semakin menjauh. Ia pun kembali masuk ke dalam rumah saat mobil tersebut sudah menghilang dari pandangannya.
...****************...
Aldo berjalan menuju gudang. Sudah beberapa hari ia mengurung istrinya di dalam. Ada rasa kasihan saat melihat Sifa yang memanggil namanya, meminta untuk di keluarkan dari tempat tersebut. Namun, Aldo tak bisa membendung rasa kesalnya karena Sifa yang terlalu membandingkan dirinya dengan Fahri.
Aldo berdiri tepat di depan gudang tersebut. Ia pun membuka pintu itu dengan kunci yang ada di tangannya. Setelah pintu terbuka, ia melihat Sifa yang menatap ke arahnya dengan tatapan nyalang.
"Keluarkan aku dari sini, bajingan!" ketus wanita tersebut mengeluarkan kata-kata kasarnya.
"Kamu lah yang membuatku menjadi bajingan seperti ini, Sifa. Andai kamu tidak membanding-bandingkan aku dengan pria itu, mungkin aku tidak akan membuatmu seperti ini. Aku bisa saja membahagiakanmu asal kamu lebih menjaga lisanmu itu!" balas Aldo yang tak ingin kalah.
Sifa menitikkan air matanya. Peluh serta debu membuat wajahnya tampak kotor. Serta rambut yang sudah lepek karena beberapa hari tidak keramas.
"Sayang, lepaskan aku. Ku mohon!" raung Sifa dengan bahu yang bergetar.
Aldo memperhatikan kondisi sang istri. Wanita itu tampak kotor bermandikan peluh bercampur debu. Membuat Aldo menjadi tak tega. Ada rasa bersalah dalam dirinya telah membuat Sifa menjadi tersiksa seperti ini.
Pria itu berjongkok di hadapan sang istri. Melepas satu persatu ikatan istrinya di mulai dari kaki hingga tangan.
Tak jauh dari tempat tersebut, ponsel Sifa telah hancur karena dibanting oleh Aldo saat ketahuan wanita itu diam-diam menelepon di dalam gudang.
"Ayo kita keluar sekarang," ujar Aldo melembut. Ia pun menggendong tubuh sang istri, lalu kemudian berjalan keluar dari gudang tersebut.
Bersambung ....