Pria 500 Juta

Pria 500 Juta
Bab 27. Panggilan Dari Fahri


Setelah mencuci piring bekas ia makan tadi, Fahri pun mengambil kain lap kering yang di gantung tak jauh dari wastafel. Ia mengeringkan tangannya menggunakan kain lap.


Fahri berjalan menuju ke kamar. Ia membuka pintu kamarnya, melihat Sifa yang sudah berbaring di atas tempat tidur dengan mata yang tertutup.


Pria tersebut menghampiri istrinya. Fahri hendak merebahkan dirinya di samping Sifa, akan tetapi ia mengurungkan niatnya karena rasa sesak akan sikap Sifa tadi.


Ia mengarahkan pandangannya pada obat yang ada di atas nakas. Obat yang pernah diberikan oleh Arumi saat dia sakit waktu itu. Fahri meraih obat tersebut, lalu kemudian berjalan keluar dari kamarnya. Ia teringat akan ucapan Arumi saat di atap kantor.


Fahri mengambil obat tersebut, lalu kemudian berjalan keluar dari kamar. Ia menjatuhkan bokongnya di kursi yang ada di ruang tengah. Perlahan, Fahri membuka kotak obat dalam bentuk sirup tersebut.


Setelah mengeluarkan botol obatnya, Fahri mengintip kotak obat tersebut. Ia mengeluarkan secarik kertas yang ada di dalam kotak obat itu. Dan benar saja, di sana tertulis sebuah nomor telepon.


Fahri mengeluarkan ponselnya dari dalam saku. Pria tersebut mengetik nomor itu, lalu menekan tombol dial. Ia pun meletakkan ponselnya ke telinga.


Panggilan tersambung, tak lama kemudian terdengar suara wanita mengangkat panggilan telepon itu.


"Halo."


Setelah mendengar suara dari seberang telepon, Fahri langsung menutup panggilan itu dengan segera, tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


Fahri merobek secarik kertas yang bertuliskan nomor Arumi, lalu kemudian beranjak dari tempat duduknya dan membuangnya ke dalam kotak sampah.


Fahri kembali ke kursinya. Ia meraih ponsel tergeletak di atas meja dengan layar yang masih menyala. Pria tersebut hendak mengeklik delete pada layar ponselnya. Namun, ia merasa ragu akan pilihannya. Alhasil, Fahri pun mengurungkan niatnya menghapus kontak tersebut. Dan keadaannya kini menjadi terbalik. Justru ia menyimpan kontak Arumi yang ia beri nama dengan 'Bu Arumi'.


Fahri merebahkan tubuhnya di atas sofa. Ia menaruh tangannya ke kening, sembari memikirkan hal yang membuatnya merasa sedikit tenang. Tetapi tetap saja, rasa sakit itu masih terasa. Ucapan istrinya benar-benar tak terduga.


....


Sementara di lain tempat, Arumi baru saja terbangun dari tidurnya karena ada nomor yang tiba-tiba saja meneleponnya. Dengan mata yang sedikit menyipit, gadis itu menarik sudut bibirnya.


"Sudah ku duga, kamu akan menelepon ku. Tapi sepertinya kamu masih malu-malu untuk mengakuinya," gumam Arumi mengembangkan senyumnya. Gadis itu sangat cantik meski tanpa make up sekalipun.


Ia menyimpan kontak tersebut. Memberikan nama pada kontaknya hanya dengan emotikon hati, lalu kemudian kembali meletakkan benda pipih itu. Menarik tidurnya dan memejamkan matanya lagi.


"Kamu sudah membuat keputusan yang tepat, Fahri. Sekarang, datanglah kepadaku. Aku akan membantumu dan dengan begitu, kamu bisa dengan mudah untuk ku miliki," gumamnya dengan mata yang terpejam.


.....


Keesokan harinya, Fahri terbangun dari tidurnya. Ia mengubah posisinya menjadi duduk, meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Ia merasa pegal karena posisi tidurnya yang tak nyaman.


Terdengar suara pintu kamar yang baru saja di tutup. Fahri mengarahkan pandangannya ke arah pintu kamar tersebut. Ia melihat Sifa yang telah rapi bersiap untuk pergi bekerja.


Istrinya hanya berlalu dari hadapannya tanpa mengucapkan sepatah katapun. Fahri menghela napasnya, lalu kemudian bangkit dari posisinya.


"Sifa, ..."


Sifa yang merasa namanya di panggil pun berbalik, menatap wajah Fahri yang masih kusut karena baru saja bangun tidur.


"Apakah kamu benar mencintaiku? Aku merasa selama ini, aku bukanlah pria yang kamu cintai. Sikapmu, sangat berbeda jauh dari sebelumnya. Apakah jika aku melunasi semua hutangmu, kamu akan benar-benar mencintaiku?" ucap Fahri dengan bibir yang bergetar. Ia cukup menahan unek-unek yang ada di dalam dirinya. Dan kali ini Fahri melontarkan semuanya tanpa ia tahan lagi.


"Tolong jawab aku!" bentak Fahri.


Wanita itu berbalik menatap Fahri dengan tatapan yang tajam. "Aku akan mempertimbangkannya!" ujarnya tak kalah lantang.


Sifa berusaha melepaskan cengkraman Fahri. Namun, Fahri semakin menguatkan genggamannya.


"Lepaskan aku!" ujar Sifa.


Fahri pun menuruti ucapan istrinya. "Baik, aku akan membayar semua hutangmu hingga lunas. Dan setelah itu, kamu harus mencintaiku!" titah Fahri dengan tatapan tajam, penuh kemarahan. Pria itu meninggalkan Sifa. Berjalan memasuki kamar.


Sepeninggal Fahri, mata Sifa berkaca-kaca. Ia kembali melihat pergelangan tangannya yang sedikit memerah. Ini adalah pertama kali melihat Fahri yang bersikap kasar pada dirinya. Entah mengapa, Sifa merasa sakit akan sikap Fahri padanya. Fahri yang biasanya selalu lembut menghadapi kemarahannya, kini kelembutan Fahri seakan hilang.


Sifa pun memilih untuk pergi dan melanjutkan langkahnya yang sempat dihentikan oleh Fahri. Ia sengaja berangkat begitu pagi, karena enggan berpapasan dengan suaminya tentang kejadian semalam. Namun, tak disangka suaminya bangun begitu cepat, hingga adu mulut pun tak terelakan pagi ini.


Di waktu yang bersamaan, Fahri mengusap wajahnya dengan kasar. Pria itu meraih ponselnya, lalu kemudian menelepon kontak yang semalam sempat ia telepon. Awalnya panggilan Fahri di tolak. Namun, ia tak menyerah. Fahri kembali menelepon nomor Arumi hingga akhirnya panggilan itu pun diterima oleh Arumi.


"Halo, ..."


"Selamat pagi, Bu Arumi."


"Iya, selamat pagi."


"Saya Fahri, yang kemarin pernah berbincang dengan anda di atap kantor."


"Iya, saya ingat. Kamu pria sombong itu kan?"


"Maafkan saya atas perilaku yang tidak mengenakan kemarin, Bu Arumi."


"Panggil saya Arumi saja."


"Baiklah, Arumi. Bisakah kita bertemu sebentar nanti?" tanya Fahri pada gadis yang ada di seberang telepon.


"Oke, mari kita bertemu pagi ini. Aku akan mengirimkan alamatnya padamu."


"Baik. Terim ...." Belum sempat Fahri menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba Arumi memutuskan panggilannya terlebih dahulu.


Di waktu yang bersamaan, Arumi terkekeh saat mendapatkan telepon dari Fahri pagi ini. Ia begitu bahagia, apalagi saat Fahri meminta untuk bertemu dengannya, bertanda bahwa dirinya selangkah lebih maju untuk mendapatkan hati Fahri.


Arumi sengaja, menolak panggilan Fahri sedari tadi. Gadis itu bersikap seakan jual mahal ketika pria itu kembali meneleponnya.


"Apakah bertemunya denganku hanya untuk meminta bantuan ku?" gumam Arumi seraya menyantap sarapannya dengan anggun.


"Apa ini karena masalah hutang yang ku baca di dokumen semalam? Ternyata Tuhan memberikanku jalan yang cukup mudah untuk menjadikanmu milikku," ucapnya lagi.


"Baiklah. Apapun itu, aku akan membantumu asalkan kamu benar-benar menjadi milikku. Dengan begitu, aku mendapatkan keuntungan dua sekaligus. Yang pertama adalah hatimu, dan yang kedua adalah perusahaan," gumam Arumi tersenyum licik.


Bersambung ...