Pria 500 Juta

Pria 500 Juta
Bab 97. Berhenti Bekerja


Setelah melalui perbincangan di resto sembari mengisi perut, Samuel dan Fahri pun kembali ke kantor. Keduanya kini tengah berada di dalam lift, yang mengantarkan mereka ke lantai yang hendak di tuju.


"Apakah kamu yakin, keputusanmu itu sudah bulat?" tanya Fahri memastikan.


"Aku sangat yakin. Ku harap kamu bisa menjaga Arumi dengan baik," timpal Samuel sembari menepuk pundak Fahri.


Fahri menekuk bibirnya ke dalam sembari mengangguk. "Untuk menjaganya itu sudah menjadi tugasku, karena aku adalah suaminya," ujar Fahri.


Tinggg ...


Lift pun terbuka. Fahri dan Samuel langsung keluar dari ruangan sempit itu, lalu menuju ke meja kerjanya masing-masing.


"Jika suatu saat nanti kamu ingin kembali bekerja, silahkan datang ke sini. Arumi dengan terbuka akan menerima kedatangan mu," ujar Fahri.


"Iya. Terima kasih atas tawarannya," ucap Samuel yang kemudian langsung menjatuhkan bokongnya ke kursi, sementara Fahri pria tersebut langsung masuk ke dalam ruangannya.


Arumi yang ada di dalam sana langsung beranjak dari tempat duduknya. Wanita itu menanyakan tentang ucapan Samuel pada sang suami, dan berharap bahwa Samuel tak serius mengatakan berhenti bekerja.


"Bagaimana, Mas? Samuel tidak akan berhenti bekerja bukan? Dia hanya mempermainkan aku kan?" tanya Arumi dengan penuh harap.


Fahri menghela napasnya sejenak. Lalu kemudian membawa sang istri untuk duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut.


"Istriku, Samuel juga memiliki kehidupannya. Kita tidak bisa memaksakan kehendak kita. Bisa jadi, dia berhenti bekerja karena ingin fokus mencari tambatan hati," tutur Fahri dengan lembut, mencoba menjelaskan dan memberi pengertian pada sang istri.


"Berarti ... Samuel serius dengan ucapannya? Dia benar-benar akan berhenti bekerja?" tanya Arumi memastikan. Guratan kekecewaan sudah tercetak jelas di wajahnya.


Fahri membingkai wajah sang istri, lalu kemudian mengelus rahang Arumi dengan lembut. "Istriku, biarkan saja jika itu sudah menjadi keputusannya. Aku sudah katakan padanya, jika suatu hari nanti dia membutuhkan pekerjaannya lagi, aku menyuruhnya untuk datang ke sini," papar Fahri mencoba untuk menjelaskan. Sesekali tangannya menyibak anak rambut yang mengganggu di sekitar wajah sang istri.


Mendengar penjelasan dari Fahri, membuat Arumi langsung merengkuh tubuh kekar suaminya itu. "Maafkan aku, Mas. Seharusnya aku tidak bertindak seperti ini. Aku sangat kekanak-kanakan sekali," ujar Arumi di dalam pelukan Fahri.


Fahri mengusap surai panjang Arumi, lalu kemudian sesekali menghirup aroma Arumi yang sudah menjadi candunya.


"Tidak apa-apa, Sayang. Wajar jika kamu merasa kehilangan, karena Samuel sudah cukup lama menjagamu. Mulai sekarang, kamu harus mempercayakannya padaku, ya ... Aku juga bisa menjaga dan melindungimu dengan baik," ujar Fahri.


Arumi pun mengangguk, mencoba untuk mengerti dengan keputusan dari Samuel.


Di waktu yang bersamaan, Samuel masih sibuk menatap layar komputernya. Pria itu benar-benar ingin menyelesaikan semua tugasnya dan setelah itu langsung keluar dari tempat kerjanya.


Bukan karena tidak nyaman, melainkan ada hal lain yang harus dia urus. Jika pria itu tetap berada di sini, Samuel tak bisa leluasa untuk melakukan hal tersebut.


Bagi Samuel, ini adalah tugas penting. Bukan untuk dirinya saja, melainkan juga baik untuk Arumi. Ia tak ingin munafik, dirinya masih memiliki rasa untuk Arumi. Dan rasa itu susah untuk hilang begitu saja meskipun Samuel sudah berusaha semaksimal mungkin.


...****************...


Keesokan harinya, Samuel telah mengerjakan semua tugasnya. Ia melirik surat yang ada di meja kerjanya. Surat pengunduran diri yang akan ia berikan hari ini karena memang tugasnya sudah selesai dengan baik.


Pria itu menghela napasnya sejenak, ini juga berat baginya. Namun, mau tak mau ia harus melakukan ini. Ada hal yang lebih penting lagi yang harus ia lakukan setelah ini.


Samuel beranjak dari tempat duduknya, lalu kemudian ia pun meraih surat pengunduran diri yang tergeletak di atas mejanya.


Pria itu membenahi setelan kantornya sejenak, menghirup napas dengan dalam lalu mengeluarkannya secara perlahan.


Samuel pun telah siap, ia mengetuk pintu ruangan sang atasan. Lalu memutar kenop pintu tersebut. Dilihatnya Arumi dan Fahri yang berada di mejanya masing-masing.


Fahri berdiri dari tempat duduknya, lalu mempersilakan Samuel duduk di sofa. Arumi pun beranjak dari tempat duduknya, ikut bergabung dengan suami dan sang asisten.


Samuel menyodorkan surat pengunduran diri pada Fahri. Kedua pasutri itu pun saling bertatapan, lalu kemudian melemparkan pandangannya pada sang asisten.


"Itu adalah surat pengunduran diriku. Ku harap kalian bisa menerima keputusanku," ujar Samuel.


"Kenapa kamu mengambil keputusan secepat itu?" celetuk Arumi yang langsung memberikan pertanyaan pada Samuel.


"Aku sudah menyelesaikan semua tugasku dengan baik. Jadi, menurutku ini adalah waktu yang tepat untukku melepaskan pekerjaan ini," tutur pria tersebut.


"Tapi ...."


Fahri langsung menggenggam tangan Arumi. Lagi-lagi istrinya ini terbawa emosi meskipun sudah di jelaskan sebelumnya.


Arumi terdiam saat suaminya menggenggam jemarinya. Fahri berusaha menahan Arumi untuk menghormati keputusan yang telah dibuat oleh Samuel.


"Baiklah. Kami akan mencoba mengerti dengan keputusanmu kali ini. Tapi ingat kata-kata ku kemarin. Jika kamu membutuhkan pekerjaan, langsung lah datang kemari, tidak perlu sungkan. Kamu adalah bagian dari keluarga kami," ujar Fahri dengan sangat bijak.


"Baiklah. Terima kasih karena telah menerima keputusanku," ucap Samuel.


"Kalau begitu, aku pamit dulu. Teruntuk kamu, Arumi. Jaga kesehatan, jaga diri, jangan mempersulit suamimu," sambung Samuel sembari beranjak dari tempat duduknya.


Kedua pasutri itu pun juga ikut berdiri. Arumi mengangguk pelan dengan mata yang berkaca-kaca. Fahri menghampiri Samuel, memberikan sebuah pelukan untuk pria yang telah menjaga istrinya selama ini.


"Terima kasih, sekali lagi aku ucapkan karena kamu telah banyak membantu," ujar Fahri sembari menepuk punggung Samuel.


Samuel mengangguk. Lalu kemudian ia pun menatap wanita yang saat ini namanya masih terukir indah di dalam hatinya. Wanita itu menatap Samuel dengan bulir air mata yang berangsur menetes.


Tangan Samuel terulur hendak menjabat tangan Arumi. Wanita itu pun menyambut jabatan tangan sang asisten. Samuel menatap Arumi, lalu kemudian menggelengkan kepalanya.


"Kamu sudah setua ini, masih saja cengeng," cecar Samuel sembari terkekeh.


Pria itu melepaskan jabatan tangannya. Fahri pun langsung merangkul Arumi, mencoba untuk menenangkan sang istri.


"Kalau begitu, aku pamit. Terima kasih karena telah menerimaku bekerja di sini," ujar Samuel.


"Biar aku antar sampai ke depan," tawar Fahri.


"Tidak usah. Sebaiknya kamu tenangkan istrimu yang cengeng ini," tolak Samuel sembari terkekeh geli melihat Arumi yang seperti anak berusia lima tahun.


"Dasar pria jahat!" umpat Arumi di sela tangisnya.


Samuel pun tersenyum sejenak, lalu kemudian keluar dari ruangan tersebut. Ia berjalan menuju meja kerjanya, mengambil beberapa barang miliknya yang ada di meja itu, lalu berjalan keluar gedung tersebut.


Setelah di luar, pria itu mengambil ponselnya, lalu kemudian menghubungi seseorang, menempelkan benda pipih tersebut tepat di telinganya.


"Apakah mobilnya sudah siap?" tanya Samuel dengan seseorang yang ada di seberang telepon.


"Jemput aku sekarang. Hari ini aku tidak membawa motor," lanjut pria itu.


"Misi?" Samuel menatap kembali ke pintu masuk gedung perusahaan.


"Mulai besok, kita jalankan misinya," ujar pria itu sembari tersenyum penuh arti.


Bersambung ....