
Fahri tengah berjaga di toserba. Mencari sesuap nasi untuk memenuhi kehidupannya. Setelah lewat beberapa hari perceraiannya dengan Sifa, pria itu memilih untuk menyibukkan dirinya dengan pekerjaan. Mencoba untuk tidak meratapi nasibnya yang ditinggal oleh wanita yang ia cintai hanya karena uang.
Perekonomiannya memang sulit, setidaknya dia sudah berusaha kemarin-kemarin untuk mencukupi kebutuhan istrinya, ia bahkan rela bekerja tanpa rasa lelah. Namun, dengan teganya Sifa menghancurkan hatinya bermain di belakangnya. Dengan alasan tidak bisa hidup jika kekurangan uang.
Sebenarnya, hidup itu tidak lah mahal. Yang mahal adalah gengsi dari wanita itu sendiri. Tak ingin kalah saing dengan orang disekitarnya, menggunakan uang yang berlebihan dan mengesampingkan kebutuhan pokok dalam rumah tangganya. Sehingga sang suami pun tidak terurus. Bahkan Sifa pun menolak untuk mempunyai anak walaupun usia pernikahan mereka sudah dua tahun lamanya. Dengan alasan, bahwa uang Fahri masih kurang untuk mencukupi kebutuhannya.
Fahri menyusun beberapa barang-barang yang akan dipajang di rak. Pria tersebut sesekali memeriksa tanggal kadaluarsa pada produk yang sudah cukup lama berada di susunan tersebut.
Tak lama kemudian, terdengar suara pintu dibuka. Fahri menyimpan barang-barangnya kembali, dan melihat siapa yang baru saja datang.
Pria itu mengernyitkan keningnya saat melihat seorang wanita yang khas dengan setelan nyentriknya, berjalan memasuki area toko. Fahri pun langsung menghampiri gadis tersebut.
"Ada apa?" tanya Fahri.
"Apakah kamu sedang sibuk?" tanya Arumi.
"Seperti yang kamu lihat, aku sedang bekerja," ujar Fahri.
Arumi mengangguk paham. Ia pun menyodorkan paper bag yang berisi makanan kepada Fahri.
"Apa ini?" tanya Fahri.
"Ambil saja. Aku sedang mencari udara segar sekaligus hendak makan di luar. Lalu aku membelikannya juga untukmu, karena aku tahu kamu pasti jarang makan sejak tinggal sendirian," papar Arumi.
"Aku baru saja makan di sini. Ada roti dan susu kotak yang sebentar lagi akan kadaluarsa. Pemilik toko memperbolehkan untuk aku memakannya," ujar Fahri.
"Ckckck, kamu tidak takut akan kesehatanmu sendiri. Berhenti mengkonsumsi makanan yang akan kadaluarsa. Itu akan mempercepat proses kematianmu!" tukas Arumi.
Gadis itu mengambil tangan Fahri dengan paksa, lalu kemudian memberikan paper bag yang ia bawa untuk pria tersebut.
"Ambil ini dan makanlah! Kamu juga perlu makanan yang bergizi dari pada harus memakan makanan yang hampir kadaluarsa itu," ujar Arumi menatap Fahri dengan tajam. Seakan tengah mengomeli anak kecil.
Setelah memberikan makanan tersebut, Arumi melangkah pergi dari tempat itu. Tak lama kemudian, ia menghentikan langkahnya lalu berbalik.
"Jika kamu tidak ingin memakannya karena sungkan, anggap saja aku memungutnya di jalanan," ucap gadis itu lagi, lalu kemudian meninggalkan Fahri seorang diri di sana.
Fahri menatap makanan yang ada di tangannya. Jujur saja, ia tidak ingin terlalu diperhatikan seperti itu pada gadis tersebut.
Di waktu yang bersamaan, Arumi menggerutu kesal karena Fahri selalu saja menolak pemberiannya. "Kenapa dia masih jual mahal? Seharusnya sah-sah saja jika dia menerima makanan yang ku belikan tadi. Lagi pula sekarang dia adalah pria yang lajang, bukan beristri lagi." Arumi mengoceh sedari tadi seraya masuk ke dalam mobilnya.
Gadis itu pun melajukan kendaraannya menuju ke jalanan untuk pulang ke rumah. Di perjalanan, Arumi memutar musik untuk mengusir rasa sepi karena dirinya yang berada sendirian di dalam mobil.
Cukup lama ia menempuh perjalanan, hingga akhirnya gadis itu pun tiba di rumah. Arumi turun dari mobilnya, langsung masuk ke dalam rumah.
Ia melihat suasana di rumahnya tampak sepi, karena di sini hanya dirinya dan beberapa pelayan rumah yang tinggal di hunian tersebut.
Arumi berjalan menaiki tangga menuju kamarnya. Namun, saat ia hendak masuk ke dalam kamar, ia menatap ke arah ruang kerja mendiang papanya dahulu. Entah mengapa Arumi merasa ada kejanggalan dari ruangan itu.
Yang pertama, posisi pintu sedikit terbuka padahal tak ada satu pun pelayan rumah tersebut yang berani masuk ke dalamnya, kecuali jika Arumi suruh.
Arumi memberanikan dirinya untuk mendekati ruangan tersebut. Ia mengendap-endap, mencari tahu siapa yang berani masuk ke dalamnya.
Saat Arumi membuka pintu ruangan itu dengan tiba-tiba. Ia melihat seorang pria mengenakan topeng tengah mencari sesuatu di meja kerja mendiang papa Arumi.
"Siapa kamu?!!" seru Arumi. Tubuh gadis itu sedikit gemetar karena ketakutan.
Pria itu tak bersuara. Ia mencoba untuk kabur dari tempat itu. Namun, Arumi langsung mengambil tongkat golf yang ada di ruangan tersebut, lalu menodongkan tongkat golf itu pada bertopeng tersebut, menghalangi jalanan untuk mengetahui siapa pria itu sebenarnya.
"Siapa kamu? Apa yang kamu cari di ruangan ini?!" Arumi kembali berseru. Pria itu masih mengambil ancang-ancang untuk berlari. Namun, Arumi memukul kepala pria tersebut dengan tongkat golf.
Pria bertopeng itu langsung mendorong Arumi, hingga dia menabrak sudut meja dan menimbulkan suara yang keras.
Arumi merasa kesakitan. Ia memegangi perutnya yang terkena sudut meja itu. Pria bertopeng masih berjalan mendekati Arumi. Seakan ia ingin membalas yang lebih lagi saat Arumi tengah merasakan kesakitan.
Arumi yang saat itu menggunakan sanggulan dengan tusuk konde. Ia pun melepas tusuk konde nya, lalu kemudian menodongkannya pada pria bertopeng itu.
"Jangan mendekat!! Atau aku akan menusukmu dengan ini?!" seru Arumi.
Tampaknya ancaman dari Arumi tak mempan bagi pria bertopeng itu. Ia semakin melangkah maju mendekati Arumi, sementara gadis itu beringsut mundur. Hingga akhirnya, Arumi pun terhenti karena tubuhnya yang sudah menabrak tembok.
Tubuh gadis itu bergetar, peluhnya mengucur di keningnya karena ketakutan. Tak lama kemudian terdengar suara teriakan minta tolong dari salah satu pelayan yang melihat kejadian tersebut.
Pria bertopeng itu melihat ke arah pintu, pelayan yang saat itu tengah meneriakinya maling. Arumi melihat pria tersebut lengah, tak menyia-nyiakan kesempatan untuk menusuk tulang kering pria bertopeng itu dengan rusuk konde yang ada di tangannya.
"Arghhh ...," ujar Pria itu kesakitan.
Ia hendak kabur dari tempat itu. Namun, sebelumnya ia tak melepaskan Arumi karena telah berani menyakiti dirinya. Pria itu pun menghampiri Arumi, menarik rambut panjang milik gadis tersebut.
Pria bertopeng itu menyeret Arumi dengan menjambak rambut gadis tersebut. Lalu kemudian membenturkan kepala Arumi di tembok berkali-kali hingga kepala gadis itu mengalami luka.
Di rasa sudah tak aman lagi, pria bertopeng itu pun memilih untuk kabur melalui jendela yang ada di ruang kerja tersebut.
Arumi mencoba menahan kaki pria itu. Akan tetapi, lagi-lagi gadis tersebut mendapatkan serangan. Pria bertopeng menendang Arumi, membuat gadis itu tersungkur.
Pelayan yang melihat hal itu pun berteriak. Ia segera menghampiri tubuh majikannya yang tampak lemas. Ia melihat pencuri itu masih berusaha turun.
Pelayan itu pun segera mengambil vas bunga yang ada di atas meja, lalu kemudian melemparkannya pada pencuri yang baru saja berhasil turun dan melompat dari jendela tersebut.
Lemparan pelayan itu mengenai kepala pencuri tersebut. Namun, pria bertopeng itu tetap saja memaksakan dirinya untuk berlari meskipun merasakan kesakitan.
Pelayan rumah melihat Arumi yang sudah tergeletak pingsan. Ia pun memanggil majikannya dengan histeris sembari berteriak untuk meminta bantuan.
Bersambung ....
Jangan lupa untuk memberikan dukungannya ya❤️